
[Chapter 43.]
[Amukan Liu Kai.]
[Silahkan Dibaca.]
Lembah Fengjian.
Zhu Lin melesat maju menuju ke arah lima orang berpakaian hitam dengan lambang tengkorak.
Wushhhh.
Kelima orang itu tidak tinggal diam, Musuh1 yang merupakan pemimpin kelompok, sedikit muram dan mulai memunculkan tulang keluar dari tubuhnya.
Krakk.
“Mode : Pelindung Tulang.”
Keempat orang lainnya juga melakukan hal sama. Mereka memasuki mode pelindung tulang tersebut.
Tulang hitam keluar dan menutupi seluruh tubuh kelima orang tersebut. Hanya mata yang tidak terlindungi, mereka benar-benar terlihat seperti prajurit tertutup.
Prajurit tertutup ialah sekelompok orang-orang memakai pakaian besi lengkap, bahkan pelindung kepalanya hanya menyisakan mata saja.
Zhu Lin tidak peduli akan hal itu, dia melompat dan mengayunkan duri yang sudah menyatu menjadi lebih padat.
Trinnngg.
Krakkkk.
Terdengar suara retakan dari bentrokan tersebut. Perlahan-lahan terlihat bahwa tulang hitam mulai retak dan melebar luas.
Kelima orang terkejut, akan tetapi nasib Musuh5 benar-benar buruk. Dia tidak bisa bereaksi, ketika Zhu Lin melesatkan sebuah duri ke arah retakan tersebut.
Jlebbbb.
Srkkkk.
Musuh5 terkena duri tersebut. Namun, hal selanjutnya benar-benar membuat semua orang melebarkan matanya.
Musuh5 yang terkena tusukan, seketika menumbuhkan berbagai duri yang menancap di dirinya sendiri.
“Ledakan Duri.” Zhu Lin berkata dengan pelan. Itu adalah kemampuan dirinya yang kedua, kemampuan paling mengerikan, sekali serang mati.
Musuh1 terkejut, akan tetapi segera sadar ketika melihat Zhu Lin melesat ke arah Musuh4. “Semuanya, waspada!”
Teriakan Musuh1 yang merupakan pemimpin kelompok terdengar. Tapi, sudah terlambat. Musuh4 sudah terlalap oleh duri milik Zhu Lin tersebut.
Jlebbbb.
Srkkkkk.
Zhu Lin menatap ke arah tiga musuh lainnya. Dia bergerak dengan cepat, ingin segera tiba di dekat Musuh3.
Namun, semua itu terhenti ketika Zhu Lin merasakan tubuhnya serasa sakit. Dia kemudian memegangi perutnya dan berteriak kesakitan.
Musuh1 melihat hal itu, seketika seringai di wajahnya muncul. “Hahaha, aku sudah menduga akan terjadi hal itu.”
Zhu Lin tersentak mendengar ucapan dari Musuh1. Akhirnya dia sadar bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang sudah di siapkan oleh musuhnya.
***
Xiao Fan menatap ke arah pertarungan tersebut dengan raut muka datar. Dia tidak menyangka bahwa Seniornya benar-benar terjebak oleh musuh.
“Zhu Lin / Lin’er.” Liu Kai dan Lin Hua berteriak bersamaan. Liu Kai melesat ke arah Zhu Lin, sedangkan Lin Hua tidak bisa bergerak menuju ke muridnya tersebut.
“Adik Fan, kenapa kamu menahanku?” Lin Hua bertanya dengan kesal. Muridnya dalam bahaya dan dia ditahan oleh orangnya sendiri.
Xiao Fan menggelengkan kepalanya, dia menatap ke arah Liu Kai yang menjemput Zhu Lin dan berkata, “Senior Lin, dia akan baik-baik saja. Biarkan Senior Kai yang mengurus hal itu, dirinya lebih dari cukup untuk mengatasi semut itu.”
Ning Shui yang berada di dekat Xiao Fan sedikit mengangguk. Dia antara setuju dan tidak setuju.
Lin Hua sendiri rumit, dia bingung dengan ucapan dari Xiao Fan tersebut dan memilih percaya bahwa juniornya ini benar, muridnya akan mengatasi musuh dengan mudah.
***
“Hahaha, Kakak. Lihat dia sudah mulai kesakitan.” Musuh2 tertawa melihat Zhu Lin terbaring sambil menahan rasa sakitnya.
“Kita bawa dia dan nikmati di pondok.” Musuh1 menyeringai mesm, akan tetapi semua fantasi liar ketiga musuh terhenti ketika mendengar suara lain.
“Berhenti! Jika kalian menyentuhnya sehelai rambut saja, maka takdir kalian adalah Neraka.”
Liu Kai tiba di tempat, dia muram ketika mendengar ucapan dari ketiga musuh di depannya. Dirinya juga menatap ke arah Zhu Lin, dalam hati, ia benar-benar merasa kasihan dan khawatir.
“Aku harus membasmi mereka terlebih dahulu,” Pikir Liu Kai sambil memegang Roh Elemen pedang api miliknya.
Liu Kai mengayunkan pedangnya ke depan, seketika nyala api lurus melesat dan memisahkan musuh dengan Zhu Lin.
Bushhhh.
Api melingkari tempat Zhu Lin, api itu tidak membuat Zhu Lin panas. Namun, berbeda dengan ketiga musuh. Mereka benar-benar merasakan panas yang menyengat dari api tersebut.
Liu Kai benar-benar memahami cara mengubah suhu dalam api miliknya. Bagaimana cara mendinginkan api miliknya walaupun menyala mengerikan? Lalu bagaimana cara menstabilkan api dingin dan api panas? Semuanya sudah terpikirkan oleh dirinya sendiri.
Ketiga musuh mundur beberapa langkah untuk mengurangi rasa panas tersebut. Mereka memiliki ekspresi muram sekarang.
Liu Kai melesat ke arah Musuh3, dia mengayunkan pedangnya ke bawah membuat api menyala di rerumputan.
Wushhh.
Garis lurus api mengikuti jejak Liu Kai yang sudah tiba tepat di depan Musuh3. Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat ke depan.
Musuh3 menyadari akan hal itu, dirinya dengan cepat membuat pelindung dari tulang. Musuh2 juga ikut membantu memperkuat tulang tersebut.
Boooommm.
Pedang berhenti tepat pelindung. Terlihat di pelindung itu terdapat goresan vertikal yang dihasilkan oleh pedang Liu Kai tersebut.
Liu Kai tidak diam saja, dirinya mengayunkan pedang terus-menerus. Musuh3 dan Musuh2 benar-benar kesulitan dalam mempertahankan pelindung tulang tersebut.
Krakkkkkk.
“Nafas Api.”
Liu Kai mengayunkan pedangnya dengan cepat, ketika menggunakan kemampuan. Api menyala dari pedang dan memadat tepat di mata pedang.
Boooommmmmm.
Ledakan terjadi, ketika pedang mengenai pelindung tulang. Musuh3 dan Musuh2 terdorong ke belakang, tapi tubuh mereka terlalap oleh api merah.
Liu Kai merasakan bahaya dari sampingnya dan melihat Musuh1 menggunakan kemampuan pertamanya.
“Duri Tulang.”
Drrrrr.
Seketika tanah bergetar dan dari dalam tanah berbagai tulang hitam mencuat menuju ke arah permukaan.
Liu Kai segera melompat ke atas, dia melihat skala duri tulang luas. Dengan cepat, tatapannya menuju ke arah Zhu Lin.
Namun, hal yang dilihat adalah Zhu Lin terbang tanpa sadar. Liu Kai menyipitkan matanya dan melihat terdapat siluet-siluet benang di tubuh Zhu Lin.
Liu Kai tersenyum dan berterima kasih kepada Xiao Fan nanti. Dia merasa lega ada orang lain yang membantunya dalam menyelamatkan Zhu Lin.
Liu Kai tidak ingin Zhu Lin terjadi apapun, baginya lebih baik dia yang mati daripada Zhu Lin sendiri.
Liu Kai menatap ke arah Musuh1. Ekspresi wajahnya sekarang menghitam. Musuh di depannya berani melukai orang yang dicintainya.
Api di rerumputan menyala dengan kuat dan menyelimuti seluruh tulang hitam tersebut. Liu Kai tidak sadar bahwa api miliknya sedikit berbeda dari biasanya.
***
“Zhu Lin!” Lin Hua dengan cepat menangkap Zhu Lin yang di bawa oleh benang Xiao Fan ke tempatnya berada.
Lin Hua memeriksa keadaan Zhu Lin. Dia mengecek apa racun yang terdapat di tubuh muridnya tersebut.
Xiao Fan berkata, “Perut sakit mirip ditikam, Qi yang terganggu, itu sudah termasuk ciri-ciri racun tubuh hitam.”
Xiao Fan memberikan sebuah botol pil kepada Lin Hua dengan memakai benang miliknya. Botol pil tiba di dekat guru tersebut, Xiao Fan berkata, “Itu adalah obatnya.”
Lin Hua mengangguk dan mulai mengobati Zhu Lin. Sementara Xiao Fan menatap ke arah api Liu Kai yang berubah tersebut.
“Cinta benar-benar membawa kebencian. Namun, dengan kebencian melahirkan kekuatan tersembunyi,” pikir Xiao Fan mengingat kata-kata dari salah seorang Dewa dulu.
***
Liu Kai menatap ke arah Musuh1 atau pemimpin kelompok tersebut. Dia kemudian berkata dengan ringan dan dingin.
“Terimalah kematianmu.”
Api menyala dengan kencang dan berkumpul menjadi satu, Liu Kai melakukan hal itu tanpa sadar sama sekali. Dirinya sudah terlalap oleh emosi.
Api berkumpul dan membentuk sebuah Bola api yang sangat besar. Dengan ayunan pedang miliknya, bola api tertebas dan tertelan membuat proyektil tebasan api yang sangat padat dan panas.
Wushhhhhhh.
Musuh1 merasakan krisis hidup dan mati. Dia mengarahkan kedua tangannya ke arah depan. Kemudian, berbagai tulang hitam muncul dari tanah.
Boom Boom Boom Boom Boom.
Tulang hitam menyatu menjadi satu membentuk sebuah perisai yang sangat kuat. Aura hitam dalam tulang juga berkobar keluar siap melahap apapun yang mengenainya.
Proyektil tebasan tiba di depan perisai tulang tersebut. Keduanya saling bertemu dan saling bertabrakan satu sama lain.
Booooooommmmmmmmm.
Wushhhhhhhhh.
Api menyala di berbagai tempat rerumputan. Serpihan tulang berserakan di mana, tabrakan dua serangan tersebut benar-benar menciptakan sebuah kawah yang sangat besar.
Debu menutupi pandangan, akan tetapi dengan cepat menghilang karena lembah Fengjian terkenal akan angin kuatnya.
Terlihat Liu Kai yang masih tenang di udara, akan tetapi kesadarannya mulai perlahan-lahan menghilang.
Wushhhh.
Liu Kai tak sadarkan diri dan jatuh ke arah tanah, berbagai siluet benang dengan cepat terulur dan mengikat tubuh Liu Kai tersebut.
Sementara di sisi musuh, terlihat Musuh1 yang terbaring dengan berbagai darah di tubuhnya. Dia masih hidup, akan tetapi sebentar lagi Malaikat Maut akan datang.
“Seb—sebelum, aku mati. Ak—aku harus mengirim pesan.” Musuh1 memegang sebuah batu hitam dengan pola aneh. Dia memfokuskan energi terakhirnya masuk ke dalam batu tersebut.
Krakk pyarrr.
Batu hitam hancur tepat Malaikat Maut mencabut nyawa Musuh1 tersebut. Musuh1 tidak menyesal namun ekspresi dalam tubuhnya adalah senyuman yang lebar.
***
Di pinggiran lembah Fengjian, terlihat berbagai pohon menutupi sebuah bangunan yang memiliki dua lantai.
Bangunan itu adalah tempat Bandit Tengkorak berada. Bandit yang hanya menyergap di lembah Fengjian saja. Mereka menggunakan nama Tengkorak karena terinspirasi dari salah satu Sekte sesat.
Dalam bangunan tersebut, tepatnya sebuah ruangan di lantai dua. Terlihat duduk seorang pria berotot dengan tato lurus dari rambut melewati mata kiri menuju ke leher.
Pria itu sedang menatap ke arah Kristal yang pecah. Dirinya muram, melihat hal itu. Dengan teriakan yang tegas, dia memberikan perintah ke pada seluruh pasukan Bandit.
“Semuanya, mari kita ke Lembah Fengjian!” teriakan tersebut membuat seluruh bandit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.
Seluruhnya terlihat ganas dan bengis, wajah mereka menampilkan seringai tajam. Kemudian dari lantai dua terlihat sosok jatuh menuju ke tanah.
Booommmm.
“Mari kita pergi.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.