Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 240 - Buah Lin Hua


Silakan Dibaca.


Lin Hua melebarkan matanya ketika mendengar laki-laki di sebelahnya menjawab ketika dirinya memanggil nama Xiao Fan. Tanpa sadar, ingatan terkait semalam tentang melawan dua pembunuh berantai terlintas. Lin Hua akhirnya sadar, bahwa detik terakhir sebelum pingsan. Dirinya menyebut nama Xiao Fan dan seutas benang emas menariknya ke atas.


“Apakah kamu benar-benar Xiao Fan?” Lin Hua bertanya dengan nada lirih. Tubuhnya gemetar, air matanya terbendung siap untuk menangis kapan pun dirinya mau.


Xiao Fan yang melihat wajah menyedihkan Lin Hua, hanya bisa menghela nafas tak berdaya dan mengangguk bahwa tebakannya benar. Hal ini membuat Lin Hua, tersenyum getir. Dia ingin bergerak untuk memeluk Xiao Fan, tetapi tubuhnya enggan untuk bergerak.


Xiao Fan yang menyadari gerakan Lin Hua. Perlahan mendekat dan memeluk perempuan tersebut, bahkan menggendongnya layaknya sang putri.


Lin Hua yang diperlakukan seperti itu, mengaitkan kedua tangannya di leher Xiao Fan. Berikutnya dia membenamkan kepalanya di perut laki-laki tersebut, sambil terisak tangis.


Xiao Fan yang melihat Lin Hua semakin menempel, dia segera duduk di pinggiran tempat tidur. Kemudian membelai punggungnya tersebut, benang-benang emas miliknya masuk ke dalam tubuh Lin Hua dan mulai memperbaiki struktur fisik Lin Hua.


Merasakan aliran nafas dan sesuatu tengah memperbaiki dirinya, Lin Hua merasakan perasaan aneh. Tubuhnya mulai menghangat dan pelukannya semakin mengerat. Entah mengapa dirinya merasa gesekan di dalam tubuhnya membuatnya ingin menge*rang.


“Ahn!”


Xiao Fan mengerutkan keningnya mendengar suara manis Lin Hua. Namun, selepas dia menyelesaikan penyembuhan. Nafas Lin Hua mulai patah-patah, tangannya terlepas dan posisi duduknya kini berganti.


Lin Hua kini menatap Xiao Fan dengan dua tangan memegang bahu kokoh laki-laki tersebut. Nafasnya mulai stabil, akan tetapi wajahnya perlahan-lahan mendekat ke arah Xiao Fan. Bibirnya segera menyatu dengan bibir laki-laki tersebut.


Xiao Fan sedikit terkejut, akan tetapi dirinya menuruti keinginan perempuan itu. Tangannya mulai melingkari tubuh Lin Hua. Berikutnya, dia menarik tali yang mengikat pakaian perempuan tersebut.


Tali terlepas dan pakaian hanfu mulai melonggar, selepas sesi pendekatan bibir. Xiao Fan memandang tubuh Lin Hua yang seindah batu giok, meski hanfu masih menutup setengah tubuhnya. Namun, Xiao Fan jelas tahu bahwa dibalik hanfu tersebut, sesuatu yang indah tengah bersembunyi.


Berikutnya, tangan Xiao Fan mulai bergerak. Perlahan-lahan, kain yang halus mulai dia singkirkan. Membelai kulit yang indah, tangannya bagaikan berselancar di es, sangat licin. Di tambah aroma yang menyegarkan, membuat binatang kulit tebal mulai mengeras dan berdiri tegak bagaikan tonggak kayu pusaka.


Lin Hua terkejut merasakan hal itu. Tubuhnya bergetar, tangannya mulai nakal. Menurun semakin menurun dan akhirnya menangkap binatang buas tersebut. Lin Hua turun dan mulai membelai dengan lembut, entah itu menggunakan mulut maupun tangan.


Xiao Fan memejamkan matanya, dia merasakan air terjun akan mulai turun dan membilah wajah perempuan di depannya. Merasakan bahwa waktunya terjun. Xiao Fan membuka matanya dan berkata dengan sedikit ketegasan.


“Muncul!”


Lin Hua sudah menyiapkan diri. Akhirnya air terjun seputih susu mulai membilah dirinya. Hangat dan menyegarkan, itu adalah filosofi yang kini memenuhi pikiran perempuan tersebut.


Berikutnya, Xiao Fan mengangkat Lin Hua. Air terjun sudah keluar. Namun, terdapat batu yang menghalangi air yang lebih nyaman untuk keluar. Hal ini memerlukan perawatan khusus untuk memecahkan batu tersebut.


“Aku datang!”


Selepas Xiao Fan mengucapkan kata tersebut. Lin Hua tersentak dan dirinya menguatkan cengkeraman tangannya, menahan rasa sakit akibat binatang buas yang mulai mengenai titik fatalnya.


Pikirannya mulai kacau, binatang buas terus bergerak. Kecepatannya menyayat sangat cepat, membuat Lin Hua berteriak dengan keras.


“Terus, terus ... Hancurkan aku!”


Beruntung Xiao Fan mengisolasikan wilayah tersebut. Jika tidak, banyak orang yang akan datang dan mengeluarkan binatang buas mereka masing-masing ketika melihat Lin Hua yang begitu kacau.


Binatang buas semakin merajalela. Darah dan air penyembuh terus keluar dari diri Lin Hua. Qi murni keluar dan mulai memenuhi tempat pertempuran dirinya dengan binatang buas tersebut.


Lin Hua tidak bisa berpikir kembali, air terjun terus mengalir dan tubuhnya gemetar akibat dicabik-cabik oleh binatang buas. Dia ingin istirahat, akan tetapi hati dan tubuhnya menolak seketika.


“Mari kita mulai ronde kedua!”


Bisikan Xiao Fan membuat Lin Hua mengangguk tak berdaya. Binatang buas kembali beraksi, kali ini dirinya berjalan di dua gunung kembar. Perjalanan yang sangat singkat, sampai akhirnya menemukan gua yang penuh akan air lagi.


Xiao Fan mengarahkan binatang buas, untuk memasuki gua tersebut. Berikutnya, binatang buas mulai menyayat perlahan-lahan gua tersebut. Setiap sayatan, air murni mengalir membasahi lantai gua.


Lin Hua terus berteriak, akan tetapi air terjun terus mengalir membilah seluruh permukaan tanah. Binatang buas bergerak cepat, sampai akhirnya dia berubah menjadi cahaya dan melepaskan berbagai air memenuhi gua tersebut.


Nafas Lin Hua patah-patah. Pandangannya mulai mengabur, akan tetapi pengalaman yang barusan dirinya terima sangatlah berharga. Dalam hatinya, mengusik untuk membuatnya bangkit dan mulai kembali.


Pertarungan Ronde ketiga dengan binatang buas dimulai lagi. Namun, hanya butuh beberapa menit kemudian. Lin Hua terkapar dengan mata terpejam, dia benar-benar kelelahan akibat pertarungan tersebut.


Xiao Fan masih segar, dia memandang Lin Hua kembali dan dirinya tahu bahwa Lin Hua masihlah sadar. Meski hanya terlihat seperti orang pingsan.


Xiao Fan mengangkatnya kembali dan binatang buas beraksi lagi. Lin Hua tersentak, akan tetapi dia berkata dengan lirih. “Aku lelah, bisakah kita tunda dulu?”


Xiao Fan menatap dengan senyuman. Namun, dibalik senyuman tersebut, binatang buas sudah beraksi dengan kejam. Dia mencabik-cabik tanpa ampun, sehingga membuat Lin Hua berteriak tak berdaya.


Beberapa jam kemudian, Xiao Fan menghentikan aksinya melihat Lin Hua yang sudah benar-benar puas. Berikutnya, Xiao Fan duduk lotus dan mulai menyerap energi murni yang sudah diberikan oleh Lin Hua tersebut.


Perlahan-lahan bulan mulai menurun, digantikan sinar matahari yang muncul dari arah timur. Ayam yang siap untuk dibakar sudah mulai berkokok menandakan bahwa, hari sudah berganti menjadi pagi.


Para penghuni kediaman Lan mulai bangun satu persatu, mereka memulai menjalankan tugas dan kegiatan mereka masing-masing.


Berbeda dengan orang yang berada di ruangan lain. Satu orang tengah duduk lotus, sementara yang lainnya tidur pulas seakan-akan sudah tidak tidur selama tiga tahun.


To be Continued.