PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 93. PUAS KAU BERMAIN?


Tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa dipunggungnya karena Dante tiba-tiba mencambuknya. Bella yang meringkuk dilantai menahan rasa sakit. ‘Sakit sekali! Tapi kenapa sakit cambukan ini tidak sesakit hatiku? Hatiku rasanya sakit teriris tersayat! Kenapa dia mencambukku?’ airmatanya pun menetes tak tahan dengan rasa nyeri ditubuhnya. ‘Semua pria yang datang padaku belum pernah menyakiti tubuhku. Baru kau yang melakukan kegilaan ini bajingan!’ teriak hati Bella.


PLAAKKKK!!!


Dante kembali mencambuk punggung Bella. “Puas kau bermain dibelakangku ha? PUAS KAU?” lagi-lagi kalimat itu yang diucapkan Dante penuh kemarahan. Kamar itu kedap suara sehingga tak ada seorangpun yang bisa mendengar suara dari dalam kamar.


“JAWAB AKU! PUAS KAU SEKARANG?” teriak Dante dengan suaranya yang memekakkan telinga. “JAWAB AKU!!”


Dante yang sudah dikuasai emosi menginjak kepala Bella dengan satu kakinya.


‘Ya ampun, ada apa dengannya? Dia menginjak kepalaku dengan kakinya? Keras sekali sepatunya, apa dia berniat menghancurkan tengkorak kepalaku ya?’ bisik hati Bella. Dia yang meringkuk dilantai dengan posisi kepalanya diinjak oleh dante, bukan hanya dicambuk tapi Dante juga menginjak kepalanya. Meskipun hanya dengan satu kaki tapi rasa sakitnya tak tertahankan.


“Aakkkkkk….!”


“Masih belum mau menjawab? Puas kau bermain dibelakangku, ha?”


“Kau bertanya padaku apakah aku puas atau tidak sudah bermain dengan mereka dibelakangmu. Aku puas Tuan! Sangat puas sekali! Aku puas Tuan!” jawab Bella marah.


BUGGG! PLAKK!


“Agggggg!”


Satu tamparan di pipi dan tendangan tepat mengenai perut Bella sehingga darah segar keluar disudut bibirnya.


“Itu untuk kepuasanmu! Kau puas bermain dibelakangku dan aku pun sangat puas memukulimu! Lakukan itu setiap hari maka akupun akan memukulimu setiap hari dan siksaan akan terus menghampiri tubuhmu! Aku bukan orang yang punya belas kasihan asal kau tahu itu! Aku mau lihat apa kau masih ingin bermain dibelakangku besok atau lain kali!”


Braaakkk!


Suara dentaman pintu yang ditutup keras. ‘Aihhh….seluruh tubuhku sakit sekali! Untung saja dia sudah pergi dari hadapanku! Dasar orang gila tidak punya perasaan,’ucap hati Bella. Sebelum pergi Dante melemparnya ke dekat nakas dan panggulnya menghantam nakas hingga lebam biru. “Hah...dia sudah pergi. Akhirnya si brengsek itu pergi juga. Aku mengerti alasannya kenapa dia marah, tadi dia bicara sangat cepat dan otakku tidak fokus saking takutnya.”


Bella bicara sendiri dan menghapus airmatanya sambil menatap langit-langit kamarnya. Keningnya mengeryit melihat beberapa benda yang menempel dibeberapa tempat dikamarnya.


“Kemarin benda itu belum ada disini dan sekarang dia sudah memasangnya. Ada empat disetiap sudut kamar, apa tadi dia datang kesini untuk memasang cctv? Ah biarkan saja! Dia bisa berbuat sesuaknya disini, inikan propertinya.” Bella sengaja menaikkan intonasi suaranya karena dia ingat waktu itu Dante pernah bilang kalau dia akan memasang CCTV yang bisa merekam suara juga.


“Kenapa kau memukuliku, ha? Kau mau tahu apa aku puas atau tidak? Aku sangat puas, apa kau tahu itu? Apa kau marah karena aku bermain dengan pelayan? Dasar gila!” Lalu dia mencoba berdiri sambil menggelengkan kepalanya. “Apa ini?” Bella melihat sebuah kertas diatas nakas. [Aku bisa mendengar semua suara dikamar ini, semuanya sudah disadap].


“Kau ingin menjadikanku tawanan dirumah ini, iyakan? Atau kau mau mengurungku dikamar ini? Aku tidak tahu apa maumu! Kau menyiksaku dan membuat tubuhku sakit! Terserah kau mau melakukan apapun yang kau mau tapi aku tak peduli!” gerutunya. Sengaja dia mengumpat agar Dante mendengar.


“Ah lebih baik aku pikirkan tubuhku sendiri karena sakit akibat pukulanmu!” Bella bicara lagi dan berusaha berdiri dengan pelan dia melangkah ke kamar mandi.


“Ya, Tuhan. Banyak sekali darah dibibirku.” Bella meringis mengusap bibirnya dengan jari tangannya. “Panggulku yang terkena nakas juga sakit sekali. Dibagian ini juga biru lebam karena dia mencengkeramnya sangat kuat!” Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya dan mengacak rambutnya hingga tampak berantakan. “Sudahlah! Bagaimanapun sudah terjadi lebih baik aku bersihkan dulu luka-lukaku!” dia bicara lagi, ia berusaha membersihkan lukanya dengan air hangat.


‘Kalau kau memang mau memperlakukanku begini setiap hari, lakukan saja sesukamu! Biar kau puas, aku tidak bisa melawanmu dan melakukan apapun dirumahmu. Aku sama sekali tidak tahu apa kesalahanku, aku hanya bermain dengan para pelayan. Mana mungkin aku hanya berdiam dikamar saja dan terkungkung sendirian tak jelas mau melakukan apa? Lama-lama aku bisa gila toh? Lagipula anakmu juga tidak ada dan aku tidak punya pekerjaan lain selain mengurus anak.” Bella bicara dengan intonasi yang tinggi agar Dante bisa mendengarnya.


Bella mencibir dan mencoba menyemangati dirinya agar tetap kuat dan tidak menyerah. Dia berdiri dibawah shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. “Ahhh sudah agak segar.” ujar Bella setelah usai mandi lalu masuk kekamarnya mencari pakaian lalu kembali ke kamar tidur.


Tok tok tok tok


‘Siapa lagi sih yang datang kekamarku?’ tanya Bella dalam hatinya. Saat dia membuka pintu tampak Anthony berdiri didepan pintu kamarnya sambil tersenyum.


“Bella ayo turun, sudah waktunya makan malam.”


“Apakah kau mengetuk pintu kamarku dari tadi ya? Aku sedang mandi makanya aku tidak menyahut dan membukakakn pintu.”


“Iya Bella! Apa kau mau makan bersama lagi?” tanya Anthony.


Bella pun dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Terimakasih Anthony! Kau selalu mengingatkanku untuk makan, kadang aku lupa kapan aku harus makan!” Bella menjawab dengan perasaan kacau dan cemas.


“Sudah...sudah! Ayo turun, kita makan dulu.”


Bella pun mengangguk dan berjalan turun bersama Anthony. “Kau ini aneh!” ucap pria itu.


“Aneh kenapa?” tanya Bella melirik Anthony yang berjalan disampingnya.


“Kau berpakaian seperti pemilik rumah ini saja. Keluar hanya memakai pakaian tidur, pakai piyama saja?” ujar Anthony.


“Pas kau mengetuk pintuku, aku sudah bertukar pakaian dan memakai ini.” jawab Belal santai.


“Tapi, bukankah lebih baik kalau kau ganti baju dulu. Aku tadi ingin mengingatkanmu tapi kau sudah menutup pintu dan keluar.” ujar Anthony. Keduanya menuruni tangga.


“Apa dua manusia itu sedang makan malam?” bisik Bella.


“Manusia? Ha ha kau ini lucu juga. Tuan dan nyonya sedang makan. Memangnya kenapa? Kita tidak akan lewat dari sana, meskipun mereka masih bisa melihat kita.”


“Lalu anaknya ada dimana sekarang?” bisik Bella lagi sambil melirik sekilas keruang makan.


“Biasanya jam segini Tuan Alex sudah tidur. Kau ini kan pengasuh anaknya tapi kenapa kau tidak tahu dan malah bertanya padaku?”


“Apa aku tidak boleh nanya ya?”


“Boleh! Kau boleh menanyakan apapun padaku.” bisik Anthony tak ada niat apapun terlintas dibenaknya.


‘Apa tadi dia marah karena aku bersama Anthony ya?’ Bella mulai memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa membuat Dante semarah tadi. ‘Huh lihat itu tatapannya melihatku turun bersama dengan pelayannya. Ohhhh jadi dia cemburu pada Anthony? Baiklah! Mari kita tes, apakah kau cemburu!’