
“Anthony!”
Baru saja pria itu mau membuka pintu kamar Bella, seseorang memanggil namanya membuat Anthony menoleh kebelakang. “Anna? Kau datang lagi? Bukankah harusnya kau datang besok?” tanya Anthony ketika melihat sosok Anna yang sudah berdiri tak jauh darinya.
“Aku mau mengantarkan ini Anthony.” jawab Dokter Anna menunjukkan sebuah amplop ditangannya.
“Apa ini?” tanya Anthony mengerutkan dahinya dan tangannya terulur mengambil amplop yang diberikan oleh Dokter Anna.
“Itu hasil tes pemeriksaannya!”
Tak merespon pertanyaan yang didengarnya, Anthony langsung membuka amplop lalu membaca laporan tes, “Syukurlah tidak ada masalah!” dia merasa senang sehingga langsung tersenyum ketika melihat hasil yang dibawa Anna.
“Apa rencanamu sekarang Anthony? Kenapa kau ingin masuk ke kamarnya dengan pakaian seperti itu?” tanya Anna lagi.
“Oh!” Anthony melihat kearah pakaian yang dikenakannya sambil tersenyum lagi lalu menatap lawan bicaranya. “Aku baru saja memuaskan Irene untuk menyelamatkan wanita didalam sana!”
“Apa? Memuaskan Irene untuk menyelamatkanmu? Kau gila!" kata Dokter Anna mendengus. Dia sedikit merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Anthony.
“Ada masalah baru, ayahku! Dia datang kesini dan memintaku untuk mengambil pekerjaan di White House. Aku tidak bisa menolaknya kecuali memanggil anak presiden untuk datang kesini lalu Irene sendiri yang meminta pada ayahku untuk menggantikanku dengan orang lain.”
“Isss….kau ini ya! Kau memanfaatkannya Anthony? Aihhhh sudah seperti apa…..? Kau membayar dengan memuaskannya?” Dokter Anna menggelengkan kepalanya.
“Entahlah! Mau bagaimana lagi Anna? Hanya ini kesempatanku. Nanti kita bahas lagi pinggangku terasa pegal sekali!” dalih Anthony.
“Memangnya tadi berapa ronde?” sindir dokter Anna seraya tersenyum.
“Entahlah Anna! Aku tidak menghitungnya yang penting dia puas dan sekarang sudah tidur hehehe!”
“Dasar gila kau Anthony!” celetuk Dokter Anna lagi sambil menggelengkan kepalanya.
“Hahahaha….mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak ada pilihan lain yang bisa kulakukan.”
“Siapa yang memberimu ide gila ini? Apakah Vince?”
“Wah tebakanku tepat sekali Anna!” Anthony cengegesan.
“Kalian berdua memang gila!” ujar Anna sambil memicingkan matanya.
“Hanya dia yang ditakuti ayahku! Ayahnya adalah orang yang disegani oleh ayahku jadi sementara waktu aku harus menggunakannya dulu.” jelas Anthony.
“Sebaiknya aku segera pergi dari sini daripada aku semakin gila mendengar ucapanmu. Sepertinya kau akan memakainya beberapa kali lagi ya?” cibir Dokter Anna.
“Hehe….tunggu Anna. Aku masih butuh bantuanmu.”
“Bantuan apalagi?”
“Bisa kau cek darahku?”
“Kau mau cek golongan darahmu?” Anna mengeryitkan dahinya menatap Anthony.
Anthony menggelengkan kepala, “Bisa kau cek DNA ku? Sekalian periksa juga DNA ayahku.”
“Hah? Memangnya ada apa Anthony? Kau mencurigai ayahmu?”
“Aku hanya ingin tahu sesuatu,” jawab Anthony masih menunjukkan senyumnya sambil bicara pelan.
“Apa yang ingin kau cari tahu Anthony? Sampai mau cek DNA segala?”
“Tidak ada.”
“Oh, aku mengerti!” Anna menganggukkan kepalanya.
“Kau mau membantuku?”
“Tentu saja tapi bagaimana aku mendapatkan sesuatu dari ayahmu yang bisa kupakai untuk mengecek DNA-nya?” tanya Anna sambil berdecak.
“Mungkin kau bisa ambil sampel rambutnya?”
“Dimana aku bisa mengambilnya?”
“Apa? Kau menyuruhku masuk kedalam kamar Jenderal Robert? Aku tidak berani Anthony!” jawab Anna menggelengkan kepalanya dan bergidik ngeri.
“Sssstttt…..hanya itu kesempatannya,” bujuk Anthony lagi.
“Apa tidak ada cara lain lagi Anthony?” Anna menolak.
“Aku rasa ada kesempatan lain! Tiga hari lagi Robert pasti akan melakukan donor darah.”
“Ayahmu melakukan itu?” tanya Anna ulang dan dijawab Anthony dengan anggukan.
“Dia akan melakukan donor darah dan kau bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan mengambil sampel darahnya untuk cek DNA.”
“Bisa juga. Dimana ayahmu akan melakukannya?”
“Di kantor seperti biasa!”
“Baiklah! Aku akan pergi ke markas dan mengambil sampelnya.”
“Ya, mungkin kau bisa mengambil sedikit sampel darah dari sana tanpa ketahuan kan?”
“Aku coba Anthony! Tiga hari lagi aku akan bertugas, kalau memang ternyata waktunya pas ada ayahmu disana dan aku sendiri yang akan mengambil darah ayahmu. Aku akan memanfaatkannya sesuai dengan yang kau katakan tadi.”
“Terimakasih Anna!” ada senyum diwajah Anthony.
“Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu. Setelah aku mendapatkan sampel darah ayahmu, baru aku akan menagmbil sampel darahmu.”
“Terimakasih Anna! You’re the best!”
Wanita itupun pergi meninggalkan Anthony tanpa mengambil lagi berkas yang tadi ditunjukkannya pada Anthony. ‘Aiiissss…...kenapa Anthony senekat itu melakukannya? Hem….dia benar-benar gila, sampai-sampai memuaskan anak presiden! Heeh.’ Anna bergumam sendirian.
Klik….
“Hai Bella.”
“Anthony! Mana Dante?”
“Maaf ya tadi aku sedang sibuk, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan jadi aku baru bisa datang sekarang.” Anthony tersenyum lalu duduk disisi tempat tidur Bella dan menjaga jarak dengan wanita itu sebelum Bella berteriak histeris lagi seperti biasanya kalau Anthony terlalu dekat dengannya.
“Apa Dante sudah datang?” tanya Bella tidak mempedulikan penjelasan Anthony, yang diinginkannya hanyalah dante.
“Belum!” Anthony menggelengkan kepala.
“Apa? Dante tidak datang menjemputku?”
Anthony terdiam sejenak untuk memikirkan kalimat yang akan disampaikannya pada Bella.
“Aku yakin Dante pasti akan datang tapi aku tidak tahu pasti kapan. Tapi akan kuusahakan secepatnya. Tapi Dante bilang padaku kalau Sky mencarimu dan dia ingin bicara denganmu!”
“Oh, dia bilang begitu?” tanya Bella yang wajahnya langsung tersenyum lebar ketika bicara begitu.
“Iya. Kau ingin bicara denganny? Kalau kau mau bicara dengan Dante, aku akan meneleponnya.”
Bella pun langsung menganggukkan kepala dengan binar mata bahagia.
“Izinkan aku bicara dengannya ya. Aku merindukannya! Aku ingin dengar suaranya.” ucap Bella.
“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menghubungi Dante dulu.” Anthony mengambil handphone ditangannya dan dengan jahilnya dia bukannya menelepon biasa tapi justru menggunakan video call.
‘Hahaa….aku mau bermain-main sedikit dengan Dante! Kenapa ya rasanya sangat menyenangkan setiap kali aku membuatnya marah! Dia marah tapi seperti tidak bisa marah padaku.’ ucap Anthony yang hampir terkekeh memikirkan bagaimana wajah Dante yang sedang kesal.
“Kau memang menyebalkan! Tapi aku tidak tahu kenapa aku senang sekali menggodamu ya? Mumpung ada kesempatan saat kita belum bertemu, mungkin saja kau akan menyiksaku habis-habisn.” bisik hati Anthony sambil menunggu Dante mengangkat teleponnya.
“Ada apa kau menggunakan video call? Kau mau pamer wanitamu iya? Tidak tahu malu! Huh!” omel Dante yang membuat Anthony tertawa.
“Wah wah….jangan dingin begitu lah Dante. Kau harus bersikap baik padaku karena aku masih mau mengurus Bella dengan baik disini! Harusnya kau membayarku cukup mahal karena aku mngobati semua luka-lukanya, Kau tahu dibagian punggungnya itu lukanya sangat mengerikan! Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Kau mau aku tunjukkan padamu luka-luka itu?” Anthony mulai melancarkan kejahilannya.