
“Hehe….bukan itu maksudku Dante! Kalau yang itu aku juga tahu. Kau pasti masuk kekamarmu untuk bertemu dengan Bella iyakan?”
“Lalu, kau mau tanya apa?” Dante malas-malasan bicara.
“Tentang masalah yang tadi kita bicarakan. Apa rencanamu Dante?”
“Tidak ada!” jawab Dante menggelengkan kepalanya.
“Hah? Kau ribut dari tadi tentang semua masalah beruntun yang kita hadapi tapi kau tidak ada rencana?” Hans membelalakkan matanya dan hendak meninggalkan Dante setelahnya.
“Hmmm….tidak perlu terlalu banyak rencana. Cukup persiapkan saja dirimu Hans!”
“Aku mengerti. Aku akan mempersiapkan diriku.” ucap Hans lagi.
‘Tapi persiapan untuk apa? Apa mau perang lagi? Atau ada hal lain yang harus ku persiapkan? Ahhh nanti saja aku bicarakan hal ini dengan Nick!’ bisik didalam hatinya. Dia kadang tidak terlalu mengerti hal yang baru dijelaskan Dante. Tapi teman-temannya selalu menjelaskan padanya.
“Persiapkan saja dirimu untuksetiap penyerangan! Ini akan sangat sulit Hans. Karena serangan kali ini bukan dari orang-orang yang pernah berselisih dengan kita saja.”
“Ada pihak lain juga yang ingin membalas dendam padaku dari Jeff dan sekarang ditambah dengan kekuatan dari White! Belum lagi dari pihak federal dan pemerintah. Kondisi kita saat ini terhimpit dan butuh persiapan matang!” kata Dante menjelaskan kondisi yang harus mereka hadapi sekarang.
“Aku paham Dante!” Hans pun akhirnya pasrah tak lagi ingin membuat Dante marah-marah.
“Sekarang kau harus istirahat, buat tubuhmu fit.”
“Iya Dante!”
“Kau mau ke kamarmu kan? Aku akan melewati kamarmu ayo kita bareng saja!”
Hans yang tadi hendak pergi duluan akhirnya menunggu Dante.
“Aku sedang pusing sekali Hans!” ujar Dante sambil membalikkan badannya dan berjalan mendekat kearah Hans.
“Kau butuh istirahat Dante. Robot saja butuh di charger tenaganya apalagi kau. Kita ini hanya manusia, kau pasti belum tidur kan?” ujar Hans mengingatkan Dante. Dia melihat bagaimana sahabatnya itu tampak sangat kelelahan dan emosinya tidak terkontrol.
Hans memang teman yang paling enak diajak bicara kalau Dante sudah kelelahan. Karena Hans sahabatnya yang memiliki perasaan paling halus diantara mereka semua dan dia paling mengerti tentang emosi teman-temannya walaupun kadang dia suka bergosip dan menyebalkan.
“Entahlah!” hanya kalimat itu yang diucapkan Dante sambil menaiki tangga.
“Jangan terlalu dipaksakan Dante! Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku! Memang kondisinya sekarang sedang kacau tapi aku yakin kita pasti bisa menghadapi semua ini.” Hans mencoba menyemangati Dante dan dirinya sendiri. ‘Dante tidak pernah selemah ini sebelumnya. Dante sepertinya sangat kelelahan. Baiklah, aku akan mengingatkan Nick dan Eddie untuk tidak mengganggu Dante dulu.’ gumamnya didalam hati.
“Untuk saat ini kita harus lebih berhati-hati lagi.”
“Aku mengerti Dante.” Hans mengangguk ketika mereka sudah tiba diujung tangga dan Nick sudah melihat keduanya.
“Aku tahu Nick! Kau pasti ingin menanyakan masalah pakaianku bukan?” ujar Dante sebelum Nick mengatakan apapun padanya.
“Hahahaha kau pintar sekali menebak isi kepalaku Dante! Benar seekali, itu yang sedang kupikirkan.”
“Kau bisa tanyakan pada Hans. Sekarang pergilah! Kau juga butuh istirahat dan jangan lupa makan obatmu dan jangan lupa untuk mengecek kondisi lukamu pada dokter pribadiku. Minta Henry untuk memanggilnya. Aku tidak percaya dokter lain.”
“Baiklah. Aku mengerti Dante! Aku istirahat dulu kalau begitu.” Nick menepuk lengan Dante lalu menatap Hans, “Ayo Hans!”
“Kami pergi dulu Dante.” ucap Hans sambil melambaikan tangannya.
“Aku tahu! Tapi lebih baik kalau kami berdua jadi bisa berbincang-bincang!”
“Hei aku menyuruh kalian untuk istirahat! Ingat itu!” Dante mengingatkan dua sahabatnya dengan rasa kahwatirnya.
“Tenang saja Dante! Kita masih kuat!” celetuk Nick walaupun kakinya tidak bisa berjalan sempurna dan membuat Dante tersenyum tipis.
“Demi mewujudkan semua yang aku rencanakan ini aku membuat teman-temanku dalam kondisi sulit. Aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini!” Dante berdecak lalu mengalihkan pandangannya pada pintu kamar lalu memegang handle dan membukanya.
“Belinda, kau tidak tidur?” tanya Dante saat melihat wanita itu masih terbangun.
“Dante!” Bella langsung tersenyum dan matanya berbinar menatap Dante.
“Apa? Kenapa kau tidak tidur?”
“Hmmm….aku...” Bella diam dan memandang Dante dengan tatapan manja dan penuh makna.
“Kau tidak mendengar apa yang kutanyakan padamu barusan? Apa yang kau lakukan? Kau tidak tidur?” tanya Dante lagi mengulangi pertanyaannya.
“Aku tidak mengantuk.” jawab Bella menggelengkan kepalanya.
“Tidak mengantuk? Hah!” Dante tersenyum tipis sambil membuang wajahnya tak menatap Bella sebelum ekor matanya memindai wanita itu.
“Kau juga tidak mengganti pakaianmu Belinda?” tanyanya saat melihat Bella masih mengenakan pakaian yang sama lalu dia memicingkan matanya saat dia melihat kesamping Bella. “Kau juga tidak memakan makananmu Belinda?”
Bella menjawab dengan anggukan kepalanya dan tersenyum manis pada Dante, membuat pria itu kehilangan akal sehatnya lagi.
‘Duh wanita ini. Apa bisa aku marah padanya? Kondisinya sekarang berbeda, aku tidak bisa sembarangan bicara padanya karena dia sedang hamil dan...haaah! Aku harus lebih sabar lagi menghadapinya.’ bisik hatinya Dante.
“Katakan padaku apa alasanmu kenapa tidak makan?” tanya Dante sambil duduk disamping Bella dengan satu tangannya memegang lembut tangan Bella dan mengelusnya.
“Makan...” Bella menggelengkan kepalanya dan menatap kearah makanan. “Aku tidak lapar.”
“Tapi kau sudah berjanji padaku kalau kau akan makan Belinda! Apa kau ingin membahayakan bayiku yang ada didalam sini?” tanya Dante sambil tangannya memegang lembut perut Bella yang masih rata.
“Dante! Ehmmmm. Aku tidak mau membahayakan baiku tapi aku tidak bisa makan itu.”
“Aku menyuruhmu makan bukan ingin melakukan yang lain! Jaga sikapmu.” ucap Dante mengingatkan. ‘Apa tidak jelas yang sudah kukatakan padanya? Jangan menggodaku tapi dia tetap saja menggodaku dan menunjukkan wajah menggodanya itu.’ ucap hati Dante. Hatinya masih bergumam kalau dia tidak suka dengan cara Bella menatapnya tapi entah kenapa senyum Bella itu membuat hati Dante sedikit tenang dan tidak sekacau tadi emosinya.
“Apa ada masalah dengan rasa makanannya?” Dante berdiri dan mendekat kearah makanan yang baru saja disajikan. Dia membuka tudung saji bening lalu mencicipi makanan yang masih enak. “Belinda, tidak ada yang salah dengan rasa makanannya. Semua baik-baik saja.” ucap Dante dengan menatap Bella dan dia masih mengunyah makanannya.
“Tapi aku tidak suka Dante.” Bella menggelengkan kepalanya dan bergidik ngeri melihat makanan itu.
“Kau mau makan apa?”
“Aku mau makan.” jawab Bella agak manja sambil menatap Dante.
“Iya aku tahu kau mau makan. Tapi apa yang mau kau makan?” tanya Dante pada Bella. Sebenarnya dia sudah sangat kelelahan dan melihat Bella belum makan dia pun merasa khawatir pada bayinya.
“Hmmm...” sambil tersenyum malu-malu Bella menggerakkan tubuhnya kedepan dan kebelakang seperti anak kecil yang sedang merajuk.