PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 255. SARAH BERTEMU OMERO


“Kau tidak menunggu Omero dulu Dante?” tanya Hans karena sepertinya Dante tidak peduli dan tidak mau menunggu ayah mertuanya itu. Pandangannya terus pada buggy yang akan dinaikinya seakan dia sudah tidak sabar untuk segera tiba di mansion.


“Biarkan saja. Dia pasti langsung kerumah Dante nanti.” ujar Eddie.


“Omero itu baru datang dari San Marino bukan?” tanya Hans lagi.


“Sepertinya begitu!” jawab Eddie sedangkan Dante tetap berjalan lalu naik keatas buggy dikuti Sarah dibelakangnya.


“Hey! Apakah pemilik pesawat yang baru turun itu orang penting? Aku tidak menyangka kalau rumahmu punya pandasan pacu untuk pesawat!” tanya Sarah pada Dante.


“Bukan urusanmu!”


“Isss…..aku hanya bertanya begitu saja kau sudah marah. Galak sekali kau padaku!” celetuk Sarah yang memili duduk dibelakang Dante. Disampingnya duduk Hans sedangkan Eddie tidak ikutan naik hanya menunggu temannya pergi.


“Hei tunggu aku!”


Omero yang baru saja turun dari pesawat langsung memanggil Dante.


“Jangan jalan dulu Henry!” ucap Dante.


“Baik Tuan!”


“Pas sekali kau baru datang Dante.” ucap Omero sedikit meringis.


“Hmmm…tadi aku hanya memeriksa saja, sekarang anak buahku disana.” ucap Omero.


“Aku juga akan pergi menemui Nick.” Eddie memotong ucapan Omero.


“Jadi kau akan pergi lagi ke San Marino?” tanya Omero.


“Iya Dante yang menyuruhku kesana.”


“Kalau begitu naik psawatku saja. Itu juga akan membawa persenjataan dari sini balik ke San Marino.”


“Oh begitu! Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Eddie yang langsung melambaikan tangan dan pergi menuju pesawat Omero yang baru saja bongkar muat.


“Beberapa barang tidak ada disana. Aku lebih suka membawanya sendiri.” ucap Omero.


“Oh!” hanya itu kata yang keluar dari bibir Dante.


Dia sudah tahu kebiasaan mertuanya yang tidak percaya dengan senjata buatan orang lain sehingga untuk anak buahnya, dia menyiapkan senjata sndiri dan ini untuk keamanan mereka.


“Siapa wanita ini? Kenapa dia melihatku begitu?” tanya Omero dalam bahasa Italia.


“Itu adiknya pengasuh Alex, namanya Sarah.” ucap Dante dengan bahasa Inggris.


“Oh namamu Sarah?” tanya Omero tersenyum pada Sarah.


“Kau siapa?” tanya Sarah sambil mengerjapkanmata, dia curiga pada Omero.


‘Siapa dia ini ya kenapa sepertinya aku kenal? Tapi siapa dia? Wajahnya seperti tak asing, dimana aku pernah melihatnya?’ tanya hati Sarah mencoba berpikir.


“Aku? Aku kakeknya Alex. Namaku Omero!”


“Tapi—tidak mungkin kau kakeknya Alex! Aku tahu kalau Alex it----”


“Sarah!” Dante dengan suara keras memotong ucapan Sarah.


“Ada apa Dante? Apa yang mau dikatakan gadis itu?” tanya Omero tapi Dante tidak menjawab apapun, dia masih memikirkan bagaimana dia harus bicara dengan Omero dan Tatiana.


“Henry! Biar aku yang menyetir, kau duduk dibelakang saja bersama dengan Hans.”


“Baik, Tuan.”


Ucapan Omero membuat Henry berdiri dan kursi pengemudi dan berpindah ke belakang. Hans yang melihat Henry duduk dikursi belakang langsung pindah kesamping Henry karena kepo. Hans membiarkan Sarah duduk sendirian.


“Ada apa Dante?” tanya Omero yang kembali lagi bicara dengan bahasa Italia. Omero sadar obrolan kali ini Dante tidak mau didengar oleh Sarah.


“Bukan apa-apa.Nanti juga kau akan tahu ayah!” dante melirik pada Omero tapi dia tidak menjelaskan hanya berdecak saja.


“Aku tahu kau pasti ada masalah dengan Tatiana, iyakan dante?”


“Kenapa kau bilang begitu ayah?”


“Putriku itu uring-uringan, sudah satu bulan ini kau tidak menghubunginya. Dia yang selalu menghubungimu duluan. Katanya kau tidak mau bicara dengannya karena kau sibuk banyak pekerjaan.” Omero tersenyum, “Kau tahu kan bagaimana dia? Hahahah.”


“Eh….aku tahu ayah! Aku tidak bisa melanjutkan pernikahanku dengannya!” ucap Dante to the point yang membuat Omero terdiam.


“Kenapa Dante? Tolong ceritakan padaku.”


Membiarkan Dante bercerai dengan Tatiana adalah hal yang tidak diinginkan oleh Omero. Bagaimanapun Tatiana adalah anaknya dan dia tidak ingin membuat putrinya bersedih. Sebagai seorang ayah tentu tidak mau melihat hal itu terjadi pada putrinya.


“Maafkan aku ayah! Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubunganku dengan anakmu! Ini sudah batas maksimal, aku sudah berpikir selama satu bulan ini dan aku rasa ini saatnya aku menyerah.” ungkapan jujur Dante karena dia menghormati Omero.


“Bisa kau katakan padaku apa alasanmu?” Omero tetap memaksa bahkan saat ini dia memutar sedikit jalannya tidak langsung menuju ke mansion Dante karena dia ingin bicara dulu dengan Dante.


“Aku memang tidak punya buktinya tapi aku sudah melakukan tes forensi! Aku menemukan rambut Tatiana diatas piano. Aku menemukan sidik jarinya dengan tangan Lorenzo diatas piano!”


Ucapan itu langsung membuat Omero pun paham alasannya. Dia pun tersenyum getir dan Hans yang tukang kepo benar-benar memasang telinganya. Dia duduk dibarisan ketiga paling belakang sehingga suara Omero yang tidak terlalu kencang tidak terlalu kedengaran.


“Sepertinya anda tidak perlu sampai seperti itu Tuan kalau mau mendengarkan! Cepat atau lambat Tuan Dante pasti akan bercerita tentang masalah ini pada teman-temannya kan?” Henry menulis di handphonenya dan menujukkan pada Hans.


“Aku hanya ingin tahu saja karena akhir-akhir ini bosmu Dante itu sangat aneh! Memang kau tidak merasakan hal yang sama?” Hans membalas dengan menulis di handphone Henry sambil menahan tawanya.


Henry memang paling akrab dengan Hans sahabat Dante itu, jadi keduanya berbincang dengan menulis pesan di handphone. Karena kedekatan Hans dengan Henry pula yang membuat Dante memutuskan agar Hans tinggal dirumahnya untuk melindungi Alex dan Sarah. Kolaborasi Hans dan Henry adalah yang terbaik.


“Inilah kenapa aku juga mau Tatiana bicara denganmu Dante.” celetuk Omero yang membuat Dante kembali merasa terusik.


“Jadi kau sudah mengetahui ini? Kau tahu kalau Tatiana bersama dengan laki-laki lain tapi kau tidak menceritakannya padaku ayah? Apa maksudnya ini?” tanya Dante mulai merasa agak kesal.


“Ehm...kau jangan salah paham dulu padaku Dante.” ucapan Omero sangat senang sekali. Dante sebenarnya sudah ingin marah tapi melihat bagaimana cara bicara Omero akhirnya dia meredam lagi kemarahannya.


“Baiklah aku tidak akan salah paham tapi bisa kau jelaskan kepadaku ayah?”


“Hmmmm! Aku mau menceritakan semuanya padamu Dante!” Omero melirik Dante. “Tapi sebelumnya bolehkah aku tahu seberapa besar kau mencintai Tatiana?” tanya Omero ingin mengetahui perasaan Dante pada Tatiana agar dia bisa mencari jalan keluarnya. Karena dia tidak mau kehilangan seorang menantu seperti Dante.


“Sepenuh hidupku! Karena itu aku sangat kecewa sekali dengan perbuatannya. Aku sudah mengganggapnya begitu sempurna! Tapi kenapa dia berani melakukan itu dibelakangku? Apa masalahnya? Apa kekuranganku? Aku tidak mengerti apa alasannya dan aku tidak mau mendengar ap alasannya. Intinya aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan Tatiana! Semuanya harus berakhir hari ini juga ayah!” tegas Dante. Sudah tidak ada lagi rasa sungkan ketika dia mengutarakan niatnya pada ayah mertuanya itu.