PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 349. BERTENGKAR


“Jadi mommy ku ada dua?”


“Tidak. Mommy mu hanya ada satu. Bella! Kau paham?”


Dante harus banyak sabar menghadapi anaknya yang pintar dan ceriwis.


“Apa sekarang aku bisa panggil Bella dengan sebutan mommy?”


Dante mengangguk, “Iya Alex. Tapi tunggu aku memberitahumu kapan waktunya.”


Alex hanya terdiam memikirkan semua ucapan Dante padanya. Dia merasa kecewa karena tidak bisa menikahi Bella karena dia sangat menyayanginya. Bahkan dia berani ingin bersaing dengan ayahnya.


“Apa kau paham Alex?”


“Iya daddy.”


“Syukurlah kalau kau sudah paham.” dante tersenyum lega.


“Kalau begitu kau jadi menikah dengan Bella?” tanya Alex lagi.


“Iya Alex.”


“Jadi aku menikah dengan siapa kalau daddy mengambil Bella dariku?”


“Kau? Nanti kau akan mendapatkan wanita lain yang seumuran denganmu. Suatu saat nanti tapi aku tidak tahu kapan waktunya itu.” jawab Dante.


“Oh jadi nanti? Apakah nantinya itu masih lama?”


“Alex! Sekarang kau masih berumur empat tahun. Kalau kau ingin mendapatkan wanita nanti saat di usiamu dua puluh tahun. Kau paham maksudku?”


“Kenapa harus dua puluh tahun, daddy?”


“Karena saat usiamu dua puluh tahun, kau sudah menjadi pria yang kuat dan wanita suka dengan laki-laki yang kuat, Alex.” jawab Dante sebisanya karena dia tak tahu harus mengatakan apa lagi.


Alex mencoba berpikir dan dia dengan terpaksa hanya bisa menganggukkan kepala walaupun dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Dante.


“Ayo kita ketemu Bella sekarang.” ajak Dante.


“Aku bisa memanggilnya mommy sekarang?” tanya Alex tak bersemangat. Hancur sudah harapannya.


“Belum. Bagaimana kalau kita memanggilnya mommy setelah aku memberikannya cincin?”


“Kapan itu daddy?” tanya Alex setelah berpikir sejenak.


“Mungkin besok atau lusa. Karena hari ini jadwalku berantakan. Aku kesiangan dan belum sempat membeli cincinya, Alex.”


“Oh begitu, Ya sudah.”


“Mau kembali menemui Bella sekarang?”


“Iya daddy.”


Alex semakin bersemangat dan dia turun dari kursinya dan berjalan saling bergandengan tangan dengan Dante meninggalkan ruang kerja itu. “Jangan beritahu bella dulu kalau aku sudah cerita padamu kalau dia mommy mu, oke?”


“Iya daddy. Aku tunggu sampai ada cincinnya. Belikan cincin yang bagus, daddy.”


“Kau pintar sekali Alex. Sebagai pria dewasa kau harus menjaga rahasia diantara dua laki-laki. Kau mengerti? Aku akan membeli cincinnya nanti.”


“Iya daddy.”


Keduanya sangat bersemangat setelah mereka keluar dan menuju tempat dimana mereka meninggalkan Bella dan Sarah. Tapi----suara keributan terdengar.


“Aku tidak mengijinkanmu memakai kalung ini!”


“Tidak Belinda! Itu milikku. Kembalikan kau tidak bisa mengambilnya dariku! Kembalikan!”


“Kau harus meninggalkannya Sarah! Dia bukan yang terbaik untukmu.” ucap Bella yang terdengar oleh Dante dan Alex. Dia tidak menyadari kalau kedua orang itu sudah ada didekatnya. Bella menjauhkan kalung yang ada ditangannya dari Sarah sehingga Sarah tidak bisa meraihnya.


“Daddy!”


“Diamlah Alex! Kita akan tolong tante Sarah-mu.” ucap Dante berbisik.


“Sekarang aku harus memanggilnya tante?”


“Kau boleh panggil dia Sarah atau tante, terserahmu saja.” bisik Dante yang tak disadari kedua wanita yang sedang bertengkar itu.


“Bella itu milikku!” teriak Sarah lagi.


“Aku akan membuangnya! Aku akan memecahkannya. Aku tidak mengijinkanmu memakai barang dari pria lain! Kau tidak boleh menentangku, Sarah!”


“Jangan!”


“Aku….ahk, Dante kenapa kau ambil kalung itu?” Bella terkejut dan takut ketika pria itu mengambil kalung ditangannya tanpa disadari Bella.


“Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi pada Sarah.”


“Tapi Dante.”


“Bella! Biarkan Sarah mencintai Barack. Kau tidak punya hak untuk melarangnya!”


“Tapi Dante….” Bella masih mencoba bersikeras.


“Sekarang hanya ada satu pilihanmu. Kau biarkan adikmu bersama Barack atau pilihan kedua kita tidak jadi menikah. Mana yang kau pilih?”


“Dante, kenapa kau bicara seperti itu padaku?” Bella langsung terdiam dan tidak lagi emncoba mengambil kalung itu yang sudah dipegang Dante.


Dante tidak menjawab, dia memperhatikan kalung yang ada ditangannya, terlihat dengan jelas kehawatiran diwajah Dante. “Pegang ini dan pakailah.” Dante menyerahkan kalung itu kembali pada Sarah.’Fuuh! Untung saja aku memberikannya tepat waktu. Barack...hampir saja naywamu berbahaya kalau para wanita ini lebih lama ributnya masalah kalungmu.’


Ada sesuatu didalam kalung itu yang mempengaruhi kehidupan Barack, apalagi jarak mereka kurang dari lima ribu kilometer.


“Terima kasih untuk ini.” dengan tak enak hati Sarah mengambil kalung itu dari tangan Dante. ‘Wah, dia baik sekali padaku. Untung tadi dia menolongku, kalau tidak pasti kakakku sudah membuangnya dan memecahkan kalung ini.’ gumam Sarah.


“Dante, tapi…...” bella kembali mencoba bicara tapi tidak dilanjutkannya. ‘Apa-apaan Dante? Apa dia mau adikku menjadi pacar temannya? Apakah temannya itu orang baik? Tapi mereka semua itu suka sekali ke kelab malam dan suka main perempuan.’ bisik hati Bella. Dia masih tidak setuju dengan rencana Dante tapi tidak berani melakukan apapun saat ini selain diam.


Karena Bella melihat tatapan mata Dante padanya seperti tidak suka kalau dia bertengkar lagi. “Jangan sekali-kali kau membuka kalung itu dari leher Sarah.” Dante menatap lurus pada Bella.


“Iya, aku tidak akan melepasnya lagi.” ucap bella menundukkan wajahnya.


‘Wah kakakku kayaknya takut sekali padamu. Dia tidak pernah seperti itu dihadapan pria manapun. Yang aku tahu, dia itu berani. Tapi lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Dia menunduk dan menurut? Sepertinya kalau aku dekat denganmu aku akan selamat dari kemarahan kakakku.’ ujar Sarah didalam hatinya yang senang sekali kalungnya sudah kembali.


“Jangan kau kantongi kalung itu, aku menyuruhmu untuk memakai kalung itu. Dia harus dipakai!” ucap Dante tegas saat dia melihat Sarah ingin memasukkan kalung itu ke saku celananya. ‘Fuhhh apa dia tidak bisa berpikir kalau dia bisa meredakan jantung Barack? Katanya dia mencintai Barack tapi bagaimana dia bisa bilang cinta kalau dia sendiri tidak bisa memakai terus pemberian pria itu.’ bisik hati Dante yang merasa khawatir.


“Iya….iya aku pakai sekarang.” Sarah pun kembali mengenakan kalung iut dilehernya. ‘Hahaha pasti Bella kesal sekali aku memakai kalung ini lagi.’


“Sekali kau melepaskannya aku akan membunuhmu!” ancam Dante pada Sarah.


Kedua wanita itu sontak pucat pasi mendengar ancaman Dante. Mereka tidak tahu kenapa Dante begitu marah hanya gara-gara kalung itu.


“Dante, apa kau memang menginginkan temanmu jadi kekasih Sarah?” tanya Bella memberanikan diri.


“Aku tidak harus menjelaskan semua yang aku lakukan kepadamu bukan?”


“Tidak!” Tidak harus melakukan itu padaku.” Bella menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Alex!” Dante memalingkan wajahnya menatap anaknya. Alex hanya dia menatap pembicaraan orang dewasa dihadapannya yang tidak dia pahami dan dia tidak tahu harus melakukan apa.


“Iya daddy.”