
“Kenapa kau diam, sayang?”
“Tidak apa-apa, aku lelah.” jawab Tatiana.
“Tidurlah, aku akan menemanimu, biar aku yang menjaga Alex nanti.” ujar dante mendekap istrinya. Pelukan hangat pria itu membuat Tatiana merasa nyaman dan tak butuh waktu lama, diapun tertidur lelap dengan senyum kebahagiaan diwajahnya.
‘Aku tidak akan meninggalkanmu dan hanya kau satu-satunya istriku! Kau yang terbaik untukku!’ janji Dante sambil mengecup kening istrinya dan berdiri menuju kamar mandi.
‘Bella, kau benar-benar membuatku kacau dan menumpahkan semua gairahku pada istriku. Hah!’ Dante bergumam sambil terkekeh dan tidak berhenti memandang kearah cermin dihadapannya. ‘Tatiana sangat khawatir dengan keberadaanmu Bella. Dia takut kau akan mengambil Alex! Aku benar-benar harus menjaga jarak denganmu dan memperhatikan sikapmu agar tak sampai ada kesalahan, jangan sampai kau salah bicara dan menyakiti Tatiana!’ bisik Dante lagi dengan wajah menegang.
Dia melangkah menuju shower dan membersihkan tubuhnya.
“Nona.” panggil pramugari membangunkan Bella.
“Hem….ada apa kau membangunkanku?” tanya Bella mengerjapkan mata.
“Maaf saya mengangetkan anda. Saya hanya ingin memberitahukan anda kalau satu jam lagi pesawat akan mendarat. Apa anda mau makan sekarang?”
“Makan?”
“Iya nona.” jawab pramugari mengangguk.
‘Tunggu dulu! Dari kemarin aku memang belum makan, pantas saja perutku terasa keroncongan. Ah aku lapar sekali.’ gumamnya.
“Bagaimana nona? Apa anda mau makan sekarang?”
“Ya ya aku mau makan!” jawab Bella semangat.
“Baiklah. Tunggu sebentar saya ambilkan makanan anda.”
“Terimakasih ya.” ujar Bella. “Yes makan!” hati Bella senang saat melihat sang pramugari datang kembali membawakan makanan.
“Hem….aku lapar sekali. Ah….aku suka steak, nampaknya lezat.” celetuk Bella lalu mulai menyuap makanannya. ‘Wah benar! Enak sekali, setidaknya aku tidak perlu keluar untuk membeli makanan sekarang. Aku mungkin bisa mulai belajar masak sendiri atau membeli online. Tuan Dante pasti memiliki rumah dengan banyak pelayan dan mereka pasti menyiapkan makanan dirumah.’
“Terimakasih ya buat makanannya.” Bella menyerahkan kembali tempat makan yang sudah kosong.
“Sama-sama nona. Anda ingin minum sesuatu?”
“Memangnya ada minuman apa saja?”
“Ada jus mangga, apel, jambu, jus campur. Minuman alkohol juga ada seperti wine, whiskey, rum, bir.”
Dante yang sudah selesai mandi dan berpakaianpun berjalan mendekati ranjang dimana istrinya tertidur. ‘Aku harus menemani Alex sebelum dia bangun!’ gumamnya lagi dan berencana tidur dikamar Alex. Saat dia keluar dari kamar mandi dia melihat Tatiana yang tertidur pulas.
“Tidurmu pulas sekali, aku akan meninggalkanmu sebentar, aku mau kekamar anak kita.” bisik Dante yang tidak disadari oleh Tatiana tapi dia tersenyum dalam tidurnya ketika Dante mengecupnya.
“Apa kau punya white wine?” tanya Bella.
“Tidak ada!” bukan pramugari yang menjawab tapi suara bariton yang membuat wanita itu langsung mengatupkan bibirnya.
‘Mati aku! Dia tahu kalau aku minta minuman tadi.’ bisik hati Bella yang sedang ditatap dingin oleh Dante.
“Permisi, Tuan.” pramugari pun bergegas pergi ketika melihat Dante sudah berdiri disana dan matanya menatap tajam pada Bella.
“Maafkan aku!” Bella menundukkan kepala tak berani menatap pria dihadapannya.
“Berapa kali sudah kukatakan padamu sebelum kesini? Tidak ada alkohol, jangan buat kesalahan!”
“Maaf aku lupa. Aku tadi hanya tergoda untuk mencicipi.” jawab Bella. Huh! Dia sudah ganti pakaian dan rambutnya masih basah, sepertinya dia baru mandi! Apa tadi dia melakukannya dengan istrinya? Dia pasti emnikmati kebersamaan dengan istrinya kan?’ lirih hati Bella yang merasa nyeri dan sesak didadanya. Sekuat tenaga dia menahan airmata yang hampir tumpah dengan menundukkan kepala dan menghindari kontak mata dengan Dante. Dia berusaha untuk tidak menarik perhatian pria itu.
Bella sibuk memandangi kukunya “Warna cat kukuku cantik sekali, warna pink! Nanti aku akan perbaiki warnanya mungkin aku akan mengganti dengan warna yang ceraj. Bagaimana dengan warna merah atau kuning? Sepertinya warna violet lebih bagus.” gumam Bella dalam hatinya, dia berusaha fokus pada sesuatu yang disenanginya.
“Aku tahu hari ini kau mencoba melanggar perintahku. Sekali lagi aku ingatkan kau harus tahu aturan dan setiap kesalahan ada hukumannya.” ujar Dante dingin dan penuh penekanan.
“Tuan, bisakah kau meninggalkanku sekarang? Bagaimana jika istrimu melihat kita? Sebaiknya kau pergilah.”
Bella mengatakan itu dengan menahan rasa sakit hatinya, rasa yang menyeruak dari hatinya menjalar keseluruh tubuhnya membuatnya merinding seperti terkena sengatan listrik. Dia masih tetap menunduk tanpa mau menatap dante.
“Kau mengusirku?” tanya Dante gundah dihatinya. ‘Kenapa aku merasa rindu dengan tatapan manjamu padahal kemarin-kemarin tatapanmu itu yang paling menyebalkan karena matamu membuatku kacau. Kini kau berani mengusirku! Huh!’ Dante merasa hatinya tersayat sama seperti bella. Bahkan sakit di hatinya lebih sakit dari rasa panas akibat timah panas yang masuk ketubuh.
“Terserah Tuan tapi saat ini kita berada dimana, kau sudah tahukan tuan?” jawab Bella masih menunduk yang membuat Dante mendengus kesal.
“Ingat ya, sekali lagi aku dengar kau meminta sesuatu yang dilarang aku tidak akan mengampunimu!”
Bella tidak menjawab, dia memilih diam dan enggan mengeluarkan sepatah katapun, hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Apa kau mengerti apa yang kukatakan tadi?” tanya Dante lagi yang hanya dijawab dengan anggukan saja oleh Bella. Rambutnya yang panjang dan poninya menutupi sedikit matanya membuat airmata yang keluar bisa tersamarkan dari dante.
“Baguslah kau kau mengerti.”
Dante pun pergi meninggalkan Bella, wanita itu menghela napas lega sambil merebahkan tubuhnya disandaran kursi mencoba menenangkan dirinya. ‘Kenapa rasanya aku ingin menangis?’ tanya Bella yang mencoba melihat pemandangan diluar pesawat untuk menghindari tatapan siapapun yang melihatnya. ‘Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali ketika aku melihatnya dengan rambut basah dan aroma sabun ditubuhnya?’ ucapnya lirih memegang dadanya yang terasa sakit.
‘Ah untung saja kami bergerak kearah barat, saat ini matahari masih tenggelam dan langit gelap. Aku hanya bisa memandangi gelapnya malam. Sakit sekali hatiku ini, tapi ini memang wajar kurasakan karena aku menyukainya tapi dia tak pernah menyukaiku, apalah dayaku toh aku ini bukan siapa-siapa hanya seorang wanita malam yang tidak pantas dicintai,’ Bella tersenyum.
‘Aku harus sabar dan kuat. Aku yakin mampu melewati semua ini. Semakin sering dia melakukannya dengan istrinya maka akan semakin mudah melupakannya dan aku harus tetap pada rencana awal. Setelah setahun aku akan pergi bersama adikku ketempat yang tidak ada orang yang akan mengganggu kami,’ gumamnya sambil tersenyum terpaksa.
“Hai permisi. Bolehkah aku bicara denganmu sebentar?”