PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 84. GARA-GARA PISANG


“Hehe….aku bingung mencari kamarku, aku lupa.” jawab Bella tersenyum manis membuat jantung Danter berdetak kencang setiap kali melihat senyum itu.


“Bukan seperti itu caramu bicara padaku! Tundukkan kepalamu! Jangan pernah tersenyum padaku, mengerti?” suara Dante terdengar pelan tapi perintahnya langsung dilakukan Bella.


“Ingat ya, yang itu kamar anakku! Kau bisa lihat dari tangga cukup cari pintu yang keenam. Itulah kamar anakku! Disampingnya nomor lima itu adalah kamarmu, kamar kalian terhubung jadi kau bisa masuk melalui kamar anakku atau langsung dari kamarmu!”


“Baiklah. Aku akan mengingatnya, Tuan! Maaf ya tadi aku lupa.”


“Hmmm….ya sudah kau bisa pergi kekamar anakku sekarang.”


“Terimakasih Tuan.” jawab Bella bersemangat dan sudah mau meninggalkan Dante. Tapi tangan pria itu malah menahannya. “Maaf tuan. Saya mau pergi, tolong lepaskan tanganku.”


“Berikan buah itu padaku!” Dante membuka telapak tangannya dan menatap sinis pada Bella.


“Tapi aku mau makan ini.” jawab Bella mengerjapkan matanya. ‘Masa sih makan pisang saja tidak bisa? Dasar manusia aneh!’ bisik hatinya.


“Memangnya kau tidak makan didapur, ha?”


“Aku hanya mau makan buah ini.”


“Aku tidak percaya! Berikan buah itu padaku!”


“Tidak mau! Aku mau makan ini!” Bella tak mau mengalah.


“Berikan buah itu sekarang dan kau masuk kekamar itu.” kata Dante menarik kedua buah pisang dari tangan Bella lalu mengarahkan dagunya ke pintu, Bella tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia memasang wajah cemberut lalu menatap Dante dengan airmata yang sudah memenuhi matanya.


‘Aduh Belinda! Apalagi rencana, ha? Apa kau mau memasukkan pisang ini kedalam sana? Kau pikir aku tidak tahu semua yang ada dalam pikiranmu? Tidak ada hal lain selain mengganjal yang didalam sana? Dasar wanita bodoh!’ gumam Dante sambil membawa dua pisang itu kekamarnya. ‘Tadi Tatiana memanggilku, dia sudah selesai mandi. Sekarang kami bisa menghabiskan waktu bersama tapi apa yang kau lakukan Bella? Kau memperlambat langkahku dan membuatku pusing! Apa kau bisa berubah untuk anakmu?’


Setelah Dante mengambil pisang dari tangan Bella, dia pun masuk ke kamar Alex. “Ihhh neybelin! Arrgggg masa mau makan pisang saja tidak boleh? Dasar gila!” Bella terus saja mengomel ketika pintu sudah ditutup dengan kedua tangannya mengepal menatap kearah pintu seakan pintu itu adalah Dante yang ingin dia samsak.


“Huuuuh!”


Sejenak Bella sadar kalau perbuatannya itu sia-sia, dia menghela napas lalu membalikkan badan melihat seorang anak kecil yang tidur pulas diatas ranjang. ‘Dia tuh apa tidak pernah lihat orang makan pisang ya? Apa salahnya sih makan pisang? Aku memang ingin makan pisang dikamar sambil nunggu anaknya tidur! Arrggggg! Atau jangan-jangan dia berpikiran lain ya? Ah masa bodoh! Memang dia menyebalkan!”


Sambil mencibir dia melangkah masuk kedalam kamar dan melihat botol air minum ditangannya. ‘Habis sudah jam makan malamku. Tadi dia yang suruh pergi ke dapur untuk makan malam terus dia malah mengambil makan malamku! Issshhhh!” celetuknya penuh kekesalan lalu berjalan dan duduk ditempat tidur Alex.


“Maaf ya aku tadi tidak bisa menemanimu bermain. Padahal aku pengen banget main bersamamu. Wajahmu mirip dengan papamu hi hi hi…..tapi kalau sudah gede nanti jangan mirip sama sikap papamu ya. Kau juga jangan mirip sama sikap mamamu, dua-duanya tidak ada yang benar sama-sama suka bikin orang susah.” Bella mengerucutkan bibirnya.


“Seharusnya tadi aku menemanimu dan tidak meninggalkanmu sendirian. Mau bagaimana lagi….mamamu itu bersikap seperti itu padaku! Dia tidak mau kita main bersama, maafkan aku ya Alex sayang.” Bella terus saja mengoceh disamping Alex lalu dia menghela napas sesekali tersenyum menatap wajah mungil itu. “Karena aku harus bertemu Sarah jadi aku tidak bisa menolak perintah dari mamamu. Semoga kau memaafkanku ya, aku sangat merindukan anakku dan kami tidak pernah bertemu. Bahkan setelah melahirkannya aku tidak bisa melihat wajahnya, jadi bekerjasamalah denganku ya. Aku harap kau bisa menjaga sikap dan jangan membuatku susah.”


Lalu Bella merebahkan tubuhnya disamping Alex. “Melihatmu tidur begini aku merasa sangat tenang. Bolehkah aku memelukmu sedikit saja? Mungkin kalau aku memelukmu aku bisa melepaskan kerinduan pada anakku.” ujar Bella yang perlahan membawa Alex kedalam dekapannya.


‘Hangat sekali! Aku suka kehangatan, aku suka memelukmu! Kita baru kenal tapi kenapa aku merasa sudah mengenalmu begitu lama seolah kau dan aku punya ikatan!’gumamnya lagi sambil mengelus Alex dan membetulkan selimutnya.


“Diluar salju masih turun dan pasti dingin sekali. Aku merasa lebih hangat tidur bersamamu semoga saja papa dan mamamu tidak marah kalau aku memelukmu begini. Daripada aku tidur sendirian dan kau juga sendirian lebih baik kita berbagi kehangatan, iyakan sayang?” ujar Bella sambil berbisik pada Alex. Agak lama dia berkhayal dan bicara hingga pelan-pelan matanya tertutup dan tertidur lelap. Ini pertama kalinya Bella bisa tidur di malam hari dengan pulas sejak dia bekerja didunia malam. Bahkan dia tidak bangun karena mimpi buruk atau mencari obatnya. Rasa nyaman dan hangat saat dia memeluk Alex memberinya energi positif hingga dia pun tak sadar lagi dengan sekitarnya.


Setelah meninggalkan Bella tadi, Dante terus bergumam dalam hatinya sampai didepan pintu kamarnya. Setelah dia menutup pintu dibelakangnya dan menatap istrinya.  “Apa kau kelelahan?”


“Tidak, sayang, Aku hanya rebahan saja karena aku lama menunggumu!”


“Maafkan aku ya, tadi aku menemani Alex agak lama.”


“Bukankah Bella sudah mengurus Alex?” tanya Tatiana agak curiga.


“Pas aku keluar dari kamar Alex, kebetulan aku berpapasan dengannya. Dia baru akan masuk kekamar Alex. Seperti yang kau bilang tadi kalau dia kelelahan.”


“Oh begitu. Itulah alasannya kenapa aku menyuruhnya istirahat dulu. Kau tidak memarahinya, kan?” tanya Tatiana dengan memasang wajah khawatir.


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Dia itu masih muda, aku kasihan saja padanya kalau kau memarahinya. Apa kau memang tidak marah padanya? Kalau kau marah aku bisa menenangkanmu.” ucap Tatiana sangat manis sekali seraya mengalungkan kedua tangannya dileher Dante.


“Hemmm kau baik sekali, sayang. Aku tidak percaya kalau kau sangat memperhatikannya.”


“Ya aku tahu kalau kau sudah marah maka kau pasti mengusirnya. Kau akan menghukumnya dan aku tidak mau itu terjadi, kasihan gadis itu.”


“Baiklah, aku mengerti Tatiana! Terimakasih ya karena kau sudah memperhatikannya dan memberinya kesempatan.” ujar Dante.


“Ya, sama sepertimu yang sudah memberikanku kesempatan untuk mencintaimu. Aku minta maaf karena aku hanya jadi wanita pengganti,bukan?”