
BOOOOMMMMM!
Belum sempat Robert Kane menjawab bawahannya, untuk kedua kalinya serangan dilancarkan dari kapal yang ada dilautan kearah mereka. Hal itu membuat Robert Kane semakin geram sehingga dia menatap kearah tempat yang baru saja dihancurkan.
“Jenderal kalau kita melakukan ini terus maka anak buah kita akan mati semua!”
“Jenderal, untuk mendatangkan bantuan kita tidak bisa melakukannya dengan cepat. Setidaknya kita akan butuh waktu sekitar satu jam karena jarak yang lumayan jauh dari pangkalan kita.”
“Lakukan apapun juga! Datangkan pasukan sekarang juga. Aku minta secepatnya termasuk pasukan udara, mereka bisa datang lebih cepat! Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.”
“Aku mau mereka segera sampai disini secepatnya dan suruh mereka mengepung tempat ini! Cepat kalian pergi semua dari sini!” Robert Kane mulai kalap dan memerintah bawahannya dengan kasar. Dia masih tidak mau merubah rencananya dan dia sudah dikuasai emosi dengan semua ucapan yang disampaikan Eddie tadi.
Robert Kane bahkan menendang kaki anak buahnya hingga pria itu meringis menahan sakit tapi dia tetap mengangguk dan melakukan perintah Robert Kane.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Robert Kane kepada ketiga orang yang ada didekatnya. Ketiga orang itu yang tersisa dan masih belum menerima perintahnya.
“Kami menunggu perintah anda Jenderal. Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
“Turun! Pimpin penyerangan balik. Apa yang kita punya disini gunakan dengan maksimal untuk menyerang mereka dan buat mereka terpojok dilautan!”
“Tapi….jenderal. Kita tidak memiliki kekuatan seperti mereka disini. Sedangkan mereka sudah menyiapkan senjata mereka disana!”
“Daerah lautan bukanlah daerah teritori kita Jenderal! Maksud saya bukan daerah yang bisa kita serang karena persenjataan kita bukan standard untuk penyerangan di laut.” anak buah Robert Kane bicara dengan cemas dan merasa keberatan apalagi dia sudah melihat banyaknya korban yang jatuh dipihak mereka dan kini atasannya meminta mereka pergi ke laut.
Menurut pria itu, hal itu tidak mudah dan beresiko tinggi jika mereka nekat melakukannya.
“Kau bodoh! Kita sudah hampir menang tadi! Lakukan segala cara untuk mengalahkan mereka. Aku tidak mau tau cara apa yang kalian gunakan, yang penting mereka harus kalah!”
“Jenderal menurut saya lebih baik kalau kita menyerah dulu karena sudah banyak pasukan kita yang terluka dan mental mereka down. Mereka tidak siap untuk bertarung.”
Anak buah Robert Kane kembali mencoba memberikan penjelasan pada pimpinannya itu agar sang jenderal mengerti kondisi pasukannya saat ini.
“Dan jujur, kondisi psikologis pasukan kita sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertempur. Saat ini waktunya untuk bertahan dan menyelamatkan pasukan yang tersisa.” ucap pria itu lagi.
“Jangan membantah! Lakukan perintahku! Bantuan akan segera datang dan jangan pernah menyerah! Kalian harus bertempur sampai titik darah penghabisan!” teriak Robert Kane marah.
Sedangkan bawahannya itu tidak tahu lagi bagaimana mengubah keputusan sang jenderal. Dia pun hanya bisa mengangguk dan pergi dari tempat itu.
Dia tidak punya kekuatan untuk melawan semua keinginan Robert Kane.
“Kalian berdua kenapa masih diam saja disini? Segera bantu temanmu!”
‘Cih! Hanya orang bodoh saja yang mengusir orang-orang kepercayaannya. Sayangnya dia tak memperhitungkan dan membuatnya sendirian! Dia mudah sekali dimangsa oleh serigala kelaparan.’ gumam Dante dihatinya sambil mengepalkan kedua tangannya. ‘Daddy! Aku sudah mendapatkan pembunuh itu sekarang! Aku tidak akan pernah melepaskannya!’
‘Pembunuh itu kini ada dihadapanku, daddy! Robert Kane yang membuat keluarga kita berantakan dan dialah orang yang membunuh kalian serta memenjarakan sahabat baikmu!’ Dante berdiri dari persembunyiannya dan berjalan menghampiri Robert Kane yang masih tidak menyadari keberadaan Dante yang kini sudah berada tepat dibelakangnya.
“Dante! Pasukanmu dan kau akan kuhancurkan! Kau pikir kau hebat dengan melakukan serangan balik seperti ini?” dengan napas terengah-engah Robert Kane kesal. Dia tidak tahu jika orang yang dimakinya sudah berada dibelakangnya dan sedang tersenyum kesut mendengar umpatannya.
“Sebelum kau bicara ada baiknya kau melihat dulu siapa yang ada dibelakangmu!” ucap Dante.
Kata-kata itu terdengar dingin dan datar sehingga Robert Kane yang mendengarnya pun langsung menoleh kebelakang. “Kau!”
“Percuma kau berusaha untuk mengambil senjatamu!” tangan Dante langsung memegang tangan Robert Kane begitu erat dan dia hampir mematahkan pergelangan tangan pria itu. Sehingga senjata yang sudah dipegang pria paruh baya itu pun terjatuh ke tanah.
“Robert Kane! Aku tidak pernah bertemu denganmu! Tapi sepertinya kau sudah mengenalku!”
“Jadi dari tadi kau bersemunyi disini?” tanya Robert Kane. Sebenarnya dia ingin menyindir Dante tapi dia malah melihat Dante justru menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Robert Kane. Tatapan mata Dante sangat sinis dan mencemooh.
“Dan sekarang apa kau menyesal karena kau sudah membuat anak buahmu pergi dari sisimu sehingga tidak akan ada lagi yang melindungimu?” Dante tidak mempedulikan pertanyaan Robert Kane sebelumnya. Dia malah bertanya balik pada pria itu sehingga membuat Robert Kane semakin geram dan ingin sekali dia memukul Dante dengan tangannya.
“Jangan kau pikir kau bisa dengan mudah melawanku seperti kau menjatuhkan daddy ku! Itu tidak akan pernah terjadi karena aku lebih kuat dan jauh lebih pintar dari daddy ku! Aku sudah mempelajari semua trik licikmu dan cara kerjamu selama ini! Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan daddy ku!”
Kata-kata Dante itu terdengar halus namun sangat menyiksa bagi Robert Kane yang mendengarnya. Dia merasakan kembali kenangan masa lalu bagaimana dia dengan kejamnya membunuh orang tua Dante.
‘Kenapa aku tidak memprediksi tentang hal ini? Aku sudah hampir memenangkan pertaruangan tadi tapi aku memang tidak melihatnya dari tadi.’ gumam Robert Kane dalam hatinya.
‘Jadi sejak tadi dia bersembunyi di semak-semak? Harusnya aku mengisi tempat ini dengan pasukanku lebih dahulu sebelum aku menyerang.’ pria paruh baya itupun merasa menyesal karena telah kecolongan. Dia tidak tahu jika Dante memang bersembunyi disana.
‘Kau tidak akan pernah menang! Ayahmu adalah seorang penjahat dan kau pun melakukan hal yang sama! Dasar bodoh!’ makinya didalam hati.
“Siapa yang lebih jahat diantara kau dan ayahku? Kenapa kau yang tidak lain adalah sahabat ayahku malah menyerang ayahku? Apakah ayahku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki? Atau kau menginginkan sesuatu yang dimiliki ayahku?” Dante tertawa kecil mengejek Robert Kane.
“Kau pikir adikmu akan percaya padamu kalau kau bilang padanya kau adalah kakaknya?”
Robert Kane membalas sambil menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak yakin jika dia percaya atau tidak. Tapi selama dia mendengarkan dan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, mungkin saja dia tidak akan percaya pada perkataanmu.”
“Sebaiknya tidak perlu membahas itu sekarang! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku akan membutkikan padamu kalau semua yang kau lakukan pada ayahku akan menyiksamu!”
“Dante! Jangan terlalu banyak bicara seperti ayahmu yang tolol itu! Karena kau pasti akan kalah dariku.” ujar Robert Kane meninggikan suaranya.
“Percuma saja. Kau sudah mengusir semua anak buahmu dan itu menunjukkan kalau kau adalah pimpinan yang buruk! Mereka semua membencimu dan mereka berusaha mati-matian disana untuk menyelamatkan harga diri mereka sebagai anggota federal! Tapi kau tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka!” ujar Dante.