PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 88. ALEX PROTES


“Jadi Bella tidak makan seperti makananku?”


“Bella bisa makan makanan lainnya didapur, Alex sudah lihat kan kalau didapur banyak makanan dan lihatlah para pelayan juga mengambil makanan di meja prasmanan disana. Jadi Bella juga bisa makan disana.” Dante menunjuk kearah meja prasmanan tempat para pelayan mengambil sarapan pagi mereka, meskipun didalam hatinya sakit membayangkan Bella makan bersama pelayan.


“Tapi aku tidak suka itu! Bella pasti tidak suka juga, daddy!” Alex menatap Dante seolah protes.


“Alex sayang, Bella pasti suka makan makanan yang disana.” ucap Dante membujuk anaknya. ‘Anakku dan aku juga sama-sama tahu kalau Bella tidak suka makanan itu! Makanya kemarin aku mengambil pisang, aku tidak tahu mau dia apakan pisangnya, apakah benar dimakan atau dia hanya pura-pura?’ Dante menghembuskan napasnya agak kesal.


“Bella akan makan disana, daddy?” tanya Alex lagi merasa tidak puas hati. “Bella tidak suka makan itu!” protesnya seakan tahu kalau makanan itu pasti tidak disukai Bella.


“Tentu saja Bella akan makan disana, kau tidak usah takut, dia bisa makan makanan itu bersama teman-temannya yang lain.” kata Dante membujuk anaknya.


“Tapi Bella temanku! Bukan teman mereka!” protes Alex lagi dengan wajah cemberut.


“Tentu saja Bella temanmu, maksudku Bella bisa berkenalan dengan orang-orang dirumah ini.”


“Aku tidak mau Bella bersama mereka!” protesnya masih berlanjut.


“Baiklah.Tapi biarkan dia makan disana bersama mereka, ok?” bujuk Dante.  Sekarang kau mandi dulu dan siap-siap untuk bermain dengannya nanti,ok?”


“Aku mau, daddy!” jawab Alex bersemangat.


“Ayo...” Dante berdiri lalu menggandeng tangan Alex menjauh dari meja makan.


“Bella….kau mau main denganku?” teriak Alex begitu melihat Bella berjalan menuruni tangga.


“Aahhhh…..iya. Aku mau main denganmu. Maaf ya aku datang terlambat.” Bella yang masih menuruni  anak tangga langsung disapa oleh Alex dengan wajah ceria.


“Ayo main!” ajak Alex penuh semangat. Tangan mungilnya bergerak memanggil Bella..


“Kau mau main sekarang atau mandi dulu?” tanya Bella.


“Mandi dulu!” teriak Tatiana dari ruang makan.


“Alex! Kalau sudah mandi baru boleh bermain dengan Bella, ok?”


“Ayo Alex, aku bantu memandikanmu.” ajak Bella. ‘Ah peduli amat mereka mau ribut mandi dulu atau main dulu yang penting aku mau ambil anak ini dan cepat-cepat pergi dari mereka.’ bisik hatinya.


“Tunggu bukannya kau baru bangun? Kau belum sarapan, makan saja dulu. Biar aku yang memandikan Alex.” kata Tatiana.


“Tidak apa-apa nyonya, aku sudah makan tadi. Aku tidak mau makan lagi! Ayo ke kamarmu!” jawab Bella menundukkan kepala tak mau menatap Tatiana hanya memengangi tangan Alex.


“Ayo….ayo….” ujar Alex dengan senyum diwajahnya berjalan bersama Bella menaiki tangga.


“Tapi…..” Tatiana berusaha menahan mereka.


“Biarkan saja Tatiana! Jangan ganggu Alex, dari tadi dia memang menunggu Bella untuk main bersama.” Dante berbisik pada istrinya.


“Oh begitukah?” Tatiana menatap suaminya lalu menganggukkan kepalanya.


“Ayo kita ke kamar saja. Aku juga mau membersihkan tubuhku dan aku ingin bersiap-siap, banyak pekerjaan yang harus kulakukan di kota dan mengecek urusanku di Indonesia juga.” kata Dante.


“Kau mau pergi ke kota?”


“Ya,  rencanaku begitu tapi aku masih menunggu kabar dari Indonesia dulu.” jawab Dante dan dia pun merangkul Tatiana lalu mencuri pandang kearah tangga melihat Bella yang menggandeng tangan Alex, entah kenapa membuat hati Dante merasa senang.


‘Bella….bella…..kau belum makan tapi kau malah bilang sudah makan? Aku lihat tadi malampun kau tidak makan, pisang yang kau bawa kuambil. Apa kau marah padaku? Inikah caramu membalasku?’ Didalam hatinya Dante merasakan sakit yang menyayat tapi dia mencoba menutupi dengan merangkul Tatiana dan pergi ke kamar mereka.


“Bisa kau siapkan sesuatu untukku sayang?” tanya Dante saat mereka sudah berada dikamar.


“Kau mau apa Dante?” tanya Tatiana dengan suara manja.


“Air mandiku!”


“Kau mau mandi bersama?” tanya Tatiana tersenyum.


“Iya!” jawab Dante singkat. “Aku mau keruang kerjaku sebentar, ada yang harus kucek sebentar.”


“Terserah kau saja Tatiana.” ujar Dante yang tak ingin berlama-lama disana. ‘Puffff…..setidaknya aku punya waktu untuk menyiapkan makanan yang sama untuk Bella. Aku hanya butuh kurang dari sepuluh menit setelah selesai aku bisa menitipkan pada pelayan untuk Bella! Kau manja sekali Bella, persis seperti anakmu! Pakai ngambek pula padaku,’ bisik hati Dante yang memang merasa tidak tenang melihat Bella tadi tidak mau menatapnya sama sekali, tidak ada senyum yang membuat hatinya merasa tak nyaman.


Sementara itu dikamar Alex tampak bocah itu sedang mengintip sedikit lewat pintu kamarnya kearah tangga. “Alex kau sedang apa?” tanya Bella heran melihat tingkah bocah kecil itu.


“Bella, mommy dan daddy sudah tidak ada.” Alex bicara tanpa melihat Bella, tatapannya terus menatap tangga. Dia terlihat seperti detektif yang sedang mengintai.


“Terus kenapa? Kalau sudah tidak ada ditangga memangnya kau mau apa Alex?”


“Bella, aku tidak mau mandi! Dingin!” ucap Alex kekeh dengan keinginannya.


“Huh! Tadi katamu kau mau mandi?” tanya Bella.


“Iya mau mandi tapi tidak sekarang. Masih dingin.” ucap Alex beralasan.


“Ha? Kan ada air hangat, Alex!” kata Bella bingung. ‘Aduh...bocah ini sikapnya sama saja seperti orangtuanya, didepan bilang iya tapi dibelakang beda lagi! Ha ha ha ha paling mirip sama daddy-nya apalagi kalau dia memasang wajah polosnya.’ Bella bergumam didalam hatinya.


“Aku tidak mau mandi!” suara lembutnya mulai membujuk Bella.


“Alasannya?”


“Aku mau main sepeda, Bella!” jawab Alex dengan wajah memohon dan memelas pada Bella membuat  Bella merasa tidak enak hati.


‘Duh, bocah ini mirip sekali sama Sarah kalau lagi memohon sesuatu padaku! Hehehe meleleh lah aku kalau sudah begini,’ gumamnya lagi.


“Alex! Jadi kau membohongi daddy? Tadi kan bilang mau mandi tapi sekarang minta ke  aku mau main sepeda?” tanya Bella mengingatkan Alex.


“Kita main dulu, aku mau main sepeda.”


“Hmmmm!” Bella masih menimbang-nimbang dengan satu tangan dilipat didepan dan satu tangan lagi memegang dagunya sambil jarinya diketuk-ketuk.


“Ayolah Bella!” Alex mulai merajuk.


“Baiklah tapi sebentar saja ya? Nanti kalau sudah keringatan kau mandi ya?”


“Mau!” jawab Alex bersemangat.


“Ya sudah, ayo kita main sepeda dulu.” ajak Bella yang membuat mata bocah itu langsung berbinar.


“Yeayyyy yeayyyyy!” teriaknya gembira.


“Ha ha ha kau bersemangat sekali Alex!”


“Bella! Kau belum memelukku?” Alex merentangkan tangannya.


“Ha? Kenapa aku harus memelukmu?” Bella mengeryitkan dahi bingung.


“Kata daddy kalau sudah dikasih hadiah harus dipeluk yang memberinya.”


“Ah begitu ya. Alex mau peluk? Kemarilah!” Bella membuka tangannya dan bocah kecil itu langsung masuk kedalam dekapannya dan melingkarkan kedua tangan dileher Bella.


‘Huhhh hangat sekali! Kenapa aku merasa sangat senang setiap dia memelukku ya? Hanget, hatiku merasa tenang, tangan mungilnya memberiku kedamaian,’ bisik hati Bella bahkan dia hampir lupa melepaskan pelukan Alex.


“Ayo cepat turun!” Bella langsung menggendong dan membawa Alex kebawah.


“Haduh aku lapar sekali! Pria itu sangat menyebalkan, memangnya dia pikir aku tidak punya perasaan apa?” Bella yang merasa jengkel sekali pada Dante.


“Bella! Aku mau main sepeda disini saja!”


“Maksudmu mainnya disini mutar-mutar disini saja, begitu?” tempat yang ditunjuk oleh Bella adalah area kosong yang bisa digunakan bermain sepeda. Untuk anak berusia tiga tahun cukup nyaman bermain di hall itu.


“Iya, disini saja.” jawab Alex sambil menganggukkan kepalanya.