PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 79. SALJU DAN SKY


“Tuan bisakah kau keluar sebentar?” Bella bicara dengan wajah cemberut.


“Wow hebat kau ya berani mengusirku dari pesawatku sendiri, hu?”


“Pergilah dulu, aku sedang melakukan sesuatu disini. Apa kau tidak lihat penampilanku?”


“Sesuatu yang penting katamu? Memegang sendiri seluruh tubuhmu, itu yang kau bilang penting?” Dante membentaknya penuh amarah. Dia melihat penampakan Bella saat ini, kancing bajunya terbuka yang menampakkan dada putih mulusnya yang menantang indra penglihatannya. Belum lagi bagian bawah juga terbuka.


Wajar saja jika Dante bisa menebak apa yang dilakukan wanita itu didalam kamar mandi sejak tadi.


“Pergilah! Istrimu akan mencarimu, aku tidak mau ada masalah dengannya.” usir Bella.


“Keluar sekarang!” bukannya pergi, Dante malah semakin marah dan ingin meraih tangan Bella.


“Hei! Tunggu dulu aku harus memakai pakaianku. Tidak mungkin aku keluar seperti ini.” Bella berpegangan pada pintu dan memelas pada Dante.


“Oh masih tahu malu kau ya?”


“Kenapa kau yang ribet? Toh aku tidak minta darimu, aku mencoba mendapatkannya sendiri.” Be;;a cemberut tapi dia punya keberanian menentang Dante sambil memakai kembali pakaiannya.


“Kau tidak boleh melakukan itu! Itu menyimpang. Kau paham?”


“Aduh….aduh….sakit…..lepaskan tanganku! Kau menyakitiku!” keluh Bella meringis karena Dante mencengkeran tangannya kencang.


“Aku sudah bilang sebelumnya jangan membuat masalah disini! Perilaku menyimpang tidak diijinkan disini! Apa kau lupa peraturannya?”


“Iya….iya aku mengerti tapi biarkan aku rapikan pakaianku dulu.”


Dante melepaskan tangan Bella dan membiarkannya memakai pakaian dan mengancing kemejanya dengan tenang. Lalu Bella duduk dikloset membersihkan bagian bawahnya yang basah.


‘Baru kutinggal sebentar saja dia sudah buat masalah disini, seenaknya dia mencari kepuasan! Aku akan memasang CCTV dikamar mandi dan kamar tidurnya. Aku akan selalu mengeceknya jika dia melakukan perbuatan itu lagi maka dia takkan lepas dari hukuman. Bodoh! Saat genting begini dia malah memikirkan kepuasan. Apa dia tidak tahu kalau adiknya dalam bahaya diluar sana?’


Dante terdiam sejenak setelah mengingat apa yang baru saja muncul dipikirannya, ada rasa bersalah pada Bella dan dirinya sedikit bisa mengurangi rasa marahnya.


“Jangan melihat ku seperti itu. Pakai bajumu dengan benar dan segera turun dari pesawat.” ucap Dante lalu menyandarkan tubuh dipintu sambil memperhatikan Bella.


“Iya Tuan.” dia sudah selesai memakai pakaiannya dan berdiri pas dibelakang Dante.


‘Dia dingin sekali padaku bahkan untuk bicara denganku saja dia tidak mau. Aku malah disuruh jalan dibelakangnya dan mengikutinya seperti binatang peliharaan! Aku adalah wanita malam yang selalu diidamkan banyak laki-laki sekarang aku harus tinggal bersamanya menghadapi tekanan bahkan tidak ada makeup untukku! Ahhhh kacau sekali hidupku. Perilaku menyimpang katanya? Bagaimana tak menyimpang itukan kebutuhan biologis. Hem…..aku goda saja pelayannya tanpa sepengetahuannya. Pasti ada pelayannya yang tampan dan tidak akan menolakku yang cantik dan bertubuh seksi.’


“Salju.” tepat saat Bella turun dari pesawat dan masih berada ditangga, salju turun. Pagi itu langit baru saja menurunkan salju pertamanya membuat mata Bella kembali berair dan tubuhnya bergetar, sesuatu yang diharapkannya telah dilihatnya kembali membuat jantungnya berdegup kencang.


‘Salju?’ Bella kembali bergumam dalam hati. Langkahnya terhenti ditangga pesawat dan masuk kembali kedalam pesawat. Dia menjauh dengan airmata yang mengalir deras dengan kesedihan masa lalu yang kembali menyeruak. “Sky…..huh ibu melihat salju.” Bella berujar dengan suara parau dan tubuhnya bergetar.


“Kenapa kau tidak mengikutiku turun?” tanya Dante yang sudah sampai dibawah lalu dia sadar jika Bella tidak mengikutinya. Dante pun kembali naik keatas pesawat untuk memaki wanita yang selalu membuat hatinya tak karuan. Tapi saat dia baru hendak memaki, dia melihat wanita itu terisak.


“Kau kenapa menangis? Cepat bangun dari dudukmu, kita harus masuk ke mansion.” tapi Bella tidak merespon Dante. ‘Kenapa dia diam saja?’


Bella tetap tak merespon dan menangis terisak sambil sesenggukan tak peduli dengan amarah Dante.


“Hei! Aku bertanya padamu kenapa kau menangis?” Dante mendekati Bella yang masih duduk sambil berjongkok dilantai pesawat. Kedua tangannya memeluk kedua lututnya dan Bella menangis menumpahkan kesedihannya disana.


“Ada apalagi? Kenapa kau malah menangis? Apa kau ingin membuat masalah lagi denganku?” Dante kembali bertanya sambil menatap Bella.


“Huuu huuuuu huuuu…...pergi dari hadapanku! Kau tidak tahu apa-apa!”


Dante terkejut mendengar Bella mengusirnya. ‘Dia mengusirku? Bukannya setiap kali dia menangis, dia akan mendekat dan memelukku?’ bisik hati Dante yang merasa heran dengan perubahan sikap Bella. ‘Belum ada dua puluh empat jam dia didalam pesawat ini dan dia bersikap begini padaku?’


Dante merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang berbeda dengan yang terjadi saat mereka berada di villa Barack dan apartemen Dante. Bella selalu bersikap manja padanya tapi saat ini wanita itu justru menatap Dante dengan tatapan marah dan sulit diartikan. Hati pria itu merasa kesal dengan sikap Bella yang berubah tiba-tiba dan tidak manja padanya.


“Aku akan pergi sekarang. Kalau kau tidak bangun, kau jalan sendiri ke mansion!” Dante bicara sambil berdiri dan benar-benar berbalik arah hendak meninggalkan Bella yang masih duduk dilantai pesawat.


“Salju…..huhuhuhu…...Sky…..hu hu hu hu…...”


“Apa hubungannya dengan salju? Salju bahasa Indonesua kan? Sky katanya?”


Bukannya menjawab pertanyaan Dante, wanita itu malah semakin terisak-isak. “Sky…..huu huuu huuu.” lagi-lagi kata itu keluar dari bibir mungilnya.


“Hei sudahlah jangan menangis terus! Katakan padaku kenapa kau dengan salju dan sky?” Dante melembutkan suaranya dan menatap Bella.


‘Isss…..aku ingin pergi dan membiarkannya sendiri disini tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya? Kenapa aku tidak bisa tidak mempedulikannya? Mendengarnya menangis membuatku lagi-lagi menurunkan egoku. Apa aku telah salah membawanya kesini? Apa seharusnya aku membiarkan dia menjual dirinya sebagai wanita malam? Ssshhhh…..tidak! Tidak boleh ada yang menyentuh tubuhnya lagi!’ bisik hati Dante yang kini netranya memandang lurus pada Bella. Dia mencoba sabar dan menunggu Bella.


“Pergilah dari hadapanku! Hu hu hu…..kau memang mau pergi kan? Pergi sana!”


“Kemarilah!” Dante mensejajarkan duduknya disamping Bella dan menarinya kedalam pelukannya.


‘Hufff untung Tatiana tidak melihatnya dan tidak ada orang lain lagi disini. Ada apalagi dengannya? Kenapa dia selalu membuatku khawatir? Aku sudah menunjukkan sikapku padanya, seberapa besar aku mencintai istriku walaupun sejujurnya aku tidak ingin melakukannya didepan matanya, hatiku rasanya sakit saat bermesraan dengan istriku didepannya. Tapi aku terus melakukan itu supaya dia bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal tapi malah membuatku semakin tak karuan dan melihatnya menangis begini membuatku kacau dan tidak bisa konsentrasi. Padahal ada banyak masalah yang harus kueselesaikan dan aku harus mencari Barack dan Sarah tapi aku harus menenangkannya. Hufff membuang waktu saja!’


“Ceritakan padaku ada apa?”


“Kau jahat padaku.” ujar Bella semakin menangis kencang.


“Belinda! Fokus, jawab pertanyaanku!” bujuk Dante sambil merangkul Bella dan mengelus rambutnya. Kepala Bella bersandar dibahunya sambil terisak-isak.


“Kau menyebalkan!” jawab Bella.


“Aku tahu itu. Tapi bukan itu alasan kau menangis. Ada apa dengan salju dan siapa Sky?” tanya Dante.


“Anakku! Salju ini anakku...hu hu huuuuuu.”


“Apa maksudmu? Kau menjadikan salju sebagai anakmu?” tanya Dante. ‘Aihhhh wanita gila!’


“Bukan.” ujar Bella menggelengkan kepala.


‘Lalu apa? Jangan buang waktuku aku harus mencari Barack dan Sarah!’ gumam Dante dalam hati.


“Aku melihat kembali dunia ini saat mataku dibuka dan waktu itu sedang turun salju! Dingin sekali, hatiku sakit, tubuhku penuh darah, lukaku masih terbuka dan hatiku teriris perih karena saat salju turun anakku baru saja dilahirkan dan aku langsung dibuang karena anakku mati. Aku tidak sempat melihat anakku, aku tidak pernah melihat bagaimana wajah anakku.” ucap Bella.


‘Apakah saat dia melahirkan waktu itu pas musim dingin dan turun salju?’ Dante tidak ingat lagi.’Tapi aku ingat disaat dia melahirkan aku menyuruhnya pergi dan saat itu ikatan penutup matanya sudah dibuka. Mungkin benar yang dikatakannya, aku tidak ingat hari itu karena aku mabuk! Aku ingin melupakan semuanya dan hatiku sangat sakit karena aku berpisah dengannya.’ gumam Dante yang mulai memikirkan salju.