
‘Issss..apa-apaan dia ini, sebentar seperti anak kecil, sebentar dia seperti seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dan sekarang apa yang dia mau dengan datang mendekat padaku dan menaruh telapak tangannya di wajahku?’ bisik hati Dante saat kedua tangan Bella mengelus wajah Dante.
“Aku tidak mau apa-apa Dante!” katanya dengan manja sambil mengelus wajah Dante.
“Lalu maksudmu senyum itu apa kalau kau tidak mau apa-apa?” akhirnya kata-kata itu terlontar dari bibir pria itu.
“Kau sudah melakukan semua janjimu padaku Dante! Pertama kau menjemputku, kedua kau membiarkan aku bertemu Alex. Aku senang sekali bisa bertemu dengannya!” jawab bella jujur.
“Hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku?” Dante menatap wajah cantik yang sedang tersenyum itu.
“Iya!” Bella bicara sambil mengeluas wajah Dante dan masih tersenyum manis, “Aku melakukan apa yang kau perintahkan Dante! Aku akan mencoba selalu mengikuti perintahmu!”
“Maksudmu?” Dante diam dan menatap Bella.
“Kau selalu memenuhi janjimu padaku! Aku ingin membalasnya tapi aku tidak punya apa-apa untuk membalasnya Dante. Cuma aku pastikan kau bisa melakukan apapun yang kau mau!” Bella menyunggingkan senyumnya lagi sambil masih memainkan tangannya di wajah pria itu.
“Aku tidak akan menolak apapun yang kau perintahkan sebagai balasannya kembalikan Alex padaku! Kau sudah membiarkan aku memeluk anakku lagi.”
“Kau senang?” pertanyaan singkat yang diberikan Dante tapi sungguh didalam hatinya itu bukan sesuatu yang sesingkat itu. Pria itu menatap wanita dihadapannya dan memperhatikan reaksinya.
“Hmmmm! Aku senang sekali Dante! Sangat senang!” Bella menunjukkan mimik wajah senangnya.
“Kalau begitu aku ingin buat sop ikan bersama denganmu.” ucapnya sambil tersenyum.
“Hmmm…..Baiklah kalau begitu tapi temanmu akan menjaga Alex ku kan?” tanya Bella cemas.
“Teman-temanku sangat profesional, Belinda! Ayo jangan buang waktu lagi.” Dante langsung menggandeng tangan Bella. Tak peduli lagi apa yang hendak dikatakan Bella lagi, dia sudah lapar.
‘Sebenarnya aku ingin sekali merangkulnya! Dan tadi aku ingin sekali menciumnya saat dia mengatakan kata-kata itu. Aku juga ingin merangkulnya sekarang. Tapi ah! Sudahlah!’ Dante mencoba untuk menahan dirinya memilih untuk menggandeng Bella menuju lantai dasar dan berjalan memutar ke belakang tangga.
“Dante, kita mau kemana ini?” tanya Bella ketika Dante membukakan pintu.
“Ke bunker.” jawabnya singkat. Tangannya terus mencengkeram lengan wanita itu,
“Ah iya! Aku lupa, maaf kan aku ya Dante. Aku pikir kita mau ke dapur.”
“Sikapmu menjadi lebih baik setelah bertemu Alex!” ucap Dante yang menyadari perubahan sikapnya.
Dante bicara sambul menggandeng Bella masuk kedalam lift yang baru saja terbuka.
“Maksudmu lebih baik bagaimana?” tanya Bella yang tak paham maksud perkataan pria itu.
“Aku melihatmu lebih bisa mengendalikan dirimu daripada tadi sebelum kau bersama Alex.”
“Ehm….benarkah Dante? Aku hanya senang saja sudah bisa bertemu dengan Alex lagi! Bermain dengan Alex lagi, bisa memeluk Alex seperti tadi. Itu rasanya seperti mimpi Dante!”
“Fuuuh!” Dante mendesah dan menghela napasnya saat melirik Bella.
“Apa yang kau lihat, Dante?” tanya Bella lagi saat melihat kalau pria itu sedang menatapnya intens.
“Aku mengerti sekarang! Terapi apa yang harus kau gunakan!” jawab Dante singkat.
“Apa ada masalah denganku?”
“Dante?”
“Ada apa kau memanggil namaku lagi?”
“Kau pernah bilang kalau kau tidak menyukaiku! Katamu kau tidak mau dengan wanita bekas seribu laki-laki!” ujar Bella yang langsung membuat pria itu menjadi marah.
“JANGAN BAHAS ITU SEKARANG!” seru Dante sangat marah.
“Hah?” Bella kaget ketika mendengar suara Dante yang berteriak marah padanya.
“Dante?” Bella memberanikan diri bertanya ketika mereka masih didalam lift.
“Jangan bicara macam-macam! Kalau pertanyaan yang kau berikan padaku itu tidak berguna sebaiknya kau diam saja!” Dante lalu menatap Bella lekat-lekat, “Dan jangan pernah membahas seribu laki-lakimu dihadapanku! Kau paham?”
Matanya terus mengintimidasi sehingga membuat Bella langsung menganggukkan kepalanya. ‘Aduh kenapa raut wajahnya jadi seperti itu? Apa dia marah karena apa yang tadi kukatakan?’ Bella taut jika Dante marah padanya karena sudah asal bicara. ‘Apa dia akan memisahkan aku dengan Alex kalau dia mara?’ Bella menggelengkan kepalanya. ‘Tidak boleh itu terjadi. Alex anakku dan tidak boleh ada yang memisahkan aku dengannya lagi.’
“Dante, aku mau minta maaf padamu. Maafkan aku ya? Jangan marah lagi.” ucap Bella sambil menundukkan kepalanya.
“Ada apa denganmu?” tanya Dante heran dengan sikap Bella seperti itu.’Adaapa dengannya? Aku seperti tidak mengenalnya! Kenapa dia aneh sekali? Tiba-tiba minta maaf dan ketakutan begitu?’ bisik hati Dante. Ini suatu hal yang aneh dari Bella.
Pembicaraan yang tadinya tidak jelas kemana arahnya, Dante juga merasa sangat aneh. Semua yang terjadi pada wanita itu sangat aneh bagi Dante. ‘Tunggu! Apa karena tadi aku meninggikan suaraku membahas soal laki-laki saat dia bekerja dulu? Hahahah...apa dia rakut karena itu?’ gumam hatinya.
“Hmm….aku ingin minta maaf padamu Dante. Bisakah kau memaafkan aku? Kau menerima aku walapun aku sudah pernah melakukannya dengan seribu laki-laki? Tapi jujur aku benar-benar tidak merasakan apapun dengan mereka, Dante! Rasanya beda dengan yang terjadi bersamamu!” bujuknya.
‘Aku harus membuat Dante percaya! Pokoknya aku tidak boleh membiarkan dia marah dan memisahkan aku dengan Alex.’ misi hati Bella untuk membujuk pria itu.
“Kau benar-benar berubah setelah bertemu dengan Alex?” senyum Dante pun merekah yang membuat Bella terhanyut padahal dia tidak tahu apa maksud senyuman pria itu.
Dante pun tertawa karena tebakannya benar tentang alasan Bella minta maaf.
‘Aku baru bisa melihatnya tersenyum seperti ini! Dia tersenyum padaku? Apa diamau memaafkan dan dia tak akan mengusirku? ‘ bisik hati Bella karena melihat Dante tersenyum adalah hal baru baginya sehingga membuat dia terpana.
“Kenapa kau melihatku begitu?” tanya Dante.
“Tidak!”
“Kau menahan diri untuk bicara jujur?” tanya Dante melirik Bella.
“Karena sebetulnya kau tampan sekali Dante! Senyummu itu baru kau berikan padaku.”
“Hmm! Tadi kita sedang membahas apa?” Dante mencoba untuk mengalihkan pikiran dan menutupi rasa yang ada pada dirinya dihadapan Bella.
“Sampai maaf! Kau mau memaafkan aku kan? Karena aku membutuhkan maafmu.” Bella mengerjapkan matanya menggoda Dante dengan harapan pria itu akan memaafkannya.
“Untuk apa? Untuk seribu laki-laki itu?” tanya Dante mengeryitkan keningnya.
“Bukan! Agar kau tak marah dan tetap mengizinkan aku tinggal bersama dengan Alex, anakku! Aku ingin tinggal bersama Alex, aku ingin selalu berada disisinya dan menjadi ibunya, Dante!”