
“Bisa tidak, kita tak akan membahas masalah ini. Oke?” Eddie menekankan yang membuat Hans pun menganggukkan kepalanya.
“Tadi aku melihat wajahmu seperti itu, sangat tidak menyenangkan Ed!” protes Hans.
“Fuuh!” Eddie hanya menghempaskan napas lalu memilih menundukkan kepalanya.
“Ayolah, jangan terus-terusan kau memikirkan orang tuamu!”
“Hans! Kau tidak bisa melarangku untuk memikirkan apa yang ada dikepalaku!” Eddie melirik Hans dengan memicingkan matanya. “Ku minta kau untuk diam! Biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan. Dan untukmu, janganlah terus-terusan mengganggu orang lain. Tidak semua hal harus kau dengar dan tidak semuanya harus diceritakan padamu! Sibukkan dirimu dengan sesuatu yang menyenangkan!”
Eddie memberikan penegasan dan dia kembali menatap ponselnya, begitu juga dengan Nick yang tak lagi mengatakan apapun. Dia langsung melanjutkan bermain game online sedangkan Hans bukan orang yang mudah untuk melakukan itu.
Dia orangnya agak kepo dan kalau dia sudah tertarik pada sesuatu maka dia ingin sekali tahu meskipun sebenarnya tidak ada gunanya untuknya,
Perdebatan itu membuat Hans sedikit tertekan sehingga dia kembali menyandarkan tubuhnya menunggu Dante tanpa melakukan apapun lagi. Dia membiarkan kedua sahabatnya menyibukkan diri mereka.
Hans tidak begitu menyukai main games online ataupun chat dengan wanita-wanita di media sosial jadi dia memilih untuk duduk diam.
“Sibukkan dirimu Hans! Buat dirimu senang, jangan terlalu tegang.” tegur Eddie.
“Aku mau tidur saja. Itu yang bisa membuatku senang.”balas Hans menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap ke langit-langit ruang kerja Dante itu.
“Kalau begitu tidurlah. Aku pikir Dante masih lama baru kesini.” celetuk Eddie lagi.
Belum ada satu detik Eddie bicara, pintu sudah dibuka oleh Dante. Dan Eddie langsung melihat kearah jam tangannya, “Hampir dua jam Dante! Apa yang kau lakukan diluar sana?”
“Ada beberapa hal.” ucap Dante langsung menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menatap ketiga temannya karena dia duduk berseberangan dengan ketiga temannya.
“Kenapa kalian duduk bertiga begitu? Aku rasa kursi disini masih banyak yang kosong?” tanya Dante yang langsung menunjuk ke sofa di kanan dan kiri yang melingkari meja.
“Tadi Barack menelepon, karena itu kami duduknya berdekatan begini!” kata Hans.
“Oh, jadi dia sudah menelepon kalian?”
“Apa dia sudah meneleponmu duluan Dante?”
Dante tidak merespon pertanyaan itu, dia malah menatap Nick dan berkata, “Aku mau kau pergi sekarang Nick! Lakukan tugasmu!”
“Aku? Kau mau aku pergi kemana?” tanya Nick yang menatap Dante dengan serius.
“Ke penjara!” jawab Dante, lalu dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan alamat pada Nick.
“Kenapa kau tidak menyuruhku saja Dante? Kaki Nick masih sakit.” ujar Hans.
“Hanya dia yang bisa melakukan tugas ini.” jawab Dante serius.
“Oke, aku akan pergi kesana. Siapa yang harus kutemui disana nanti?” tanya Nick lagi.
“Jangan lupa bawakan topeng wajah yang mirip Bella itu!” kata Dante yang membuat Nick mengerjapkan matanya.
“Jadi kau menyuruhku kesana untuk memberikan itu pada seseorang?”
“Ya benar.” Dante mengangguk.
“Oke, siapa yang harus aku temui disana untuk memberikan topeng itu?”
“Dante, kau membuat rencana dibelakang kami?” tanya Eddie yang langsung dijawab Dante dengan anggukkan kepalanya.
“Hmmm! Kalian sudah mengenalnya.”
“Siapa?”
“Anthony!”
BRAAAKKK!
Tak sengaja Eddie menggebrak meja. “Dante! Pria itu adlaah orang dari federal! Dia adalah pasukan keamanan federal! Apa-apaan kau bekerjasama dengannya?” ujar Eddie dengan marah dan berkacak pinggang menatap tajam pada Dante.
“EDDIE! Jangan tinggikan suaramu dihadapanku!” ujar Dante serius.
“Cih! Aku bukan bawahanmu dante!”
“Eddie! Sudahlah tak perlu diperpanjang lagi. Kenapa kau jadi begini?” tanya Hans.
“Lepaskan tanganmu dariku!” bentak Eddie. Dia tak ingin menahan emosinya, dia menatap Dante dengan tatapan gusar dan kesal.
“Jadi apa maumu sekarang?” tanya Dante dengan suara berat.
“Apa maumu Dante? Kenapa sekarang kau jadi berteman dengan federal? Aku pikir kau hanya bercanda, aku tidak menganggapnya serius kalau kau ingin berurusan dengan mereka.” Eddie semakin meninggikan suaranya. Tekanan hidup dari masa lalunya membuat Eddie tidak bisa menerima kerjasama itu.
“Eddie! Kau meragukanku?” satu kata dari bibir Dante. Dia menunggu temannya itu bicara lagi.
“Aku tidak pernah meragukanmu Dante! Aku selalu mendukungmu dari awal aku mengenalmu. Aku selalu kagum padamu dan aku selalu mempercayaimu.” jawab Eddie dengan jujur.
“Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau berdiri dihadapanku sedangkan aku dalam posisi duduk. Kau bicara dengan suara meninggi. Apa yang kau inginkan? Kau mau mengajakku ribut?” Dante bicara dengan tenang meskipun dia juga merasa kesal.
‘Tiga orang hari ini yang bicara denganku, semuanya meninggikan suaranya! Apa sebenarnya yang mereka inginkan?’ gumam hati Dante. Tapi dia berusaha untuk menahan dirinya, Dante tahu jika dia tidak akan menang apalagi mereka sekarang dalam kondisi terjepit. Dia tidak ingin membagi kekuatan yang tersisa. Lagipula Dante tidak ingin bertengkar dengan sahabat-sahabatnya.
“Apa yang kau inginkan bekerjasama dengannya?” tanya Eddie lagi.
“Kau tahu kalau dulu Anthony sempat masuk kerumah ini bukan?” tanya Dante.
“Ya aku tahu soal itu.” jawab Eddie.
“Kau tahu kalau dia yang membawa Bella pergi kan?”
Nick kembali menganggukkan kepalanya.
“Bagus! Dan sekarang aku bertanya padamu. Apa kau tahu kalau aku pergi ke Slovania untuk menjemput Bella?”
“Jadi karena itu kau bekerja sama sekarang dengan pasukan federal?” tanya Eddie.
“Bukan! Tidak ada keinginanku bekerjasama dengan orang-orang dari pihak mereka. Tapi aku terikat perjanjian dengan Anthony.” ujar Dante.
“Jelaskan tentang itu Dante.” pinta Eddie lagi. Dia masih tak puas hati.
“Dia mau melepaskan Bella asalkan aku mau membantunya mendapatkan Jeff!” jawab Dante. Perkataan Dante itu langsung membuat suasana diruangan itu menegang.
“Kenapa mereka tidak berusaha untuk menangkapnya sendiri? Mereka memiliki kemampuan untuk itu.” ujar Eddie.
“Orang yang berurusan denganku namanya Anthony. Dia tidak punya wewenang kearah sana. Semua teman-temannya tidak mendukungnya! Tapi Anthony memiliki keyakinan bahwa Jeff bersalah! Aku tidak tahu apa yang ingin dicarinya tapi dia minta kepadaku untuk membantunya mendapatkan lebih banyak bukti kejahatan Jeff!”
“Jadi karena itu kau bersedia membantunya?”
“Ya, aku punya perjanjian dengannya. Dan aku bukan orang yang mengingkari janjiku.” kata Dante. Ucapannya itu disadari Eddie sehingga dia tidak lagi banyak bicara dan memilih duduk kembalu dan menatap Dante serius meskipun dia hanya diam.
Eddie mencoba mencerna semua yang dikatakan oleh Dante.
“Kau tahu kenapa aku menyuruh Nick untuk pergi ke penjara?”
“Tidak! Katakan!” ucap Eddie.
“Karena disana dia aka bertemu dengan Anthony! Dia harus memberikan topeng wajah itu. Wanita yang dibawa oleh Nick untuk menggantikan Bella sudah melarikan diri. Karena itu Anthony mencari wanita lain sebagai gantinya. Aku memiliki rencana untuk nanti malam.”
“Waduh! Dia kabur Dante? Masalah besar ini! Bagaimana mungkin dia bisa kabur?” ucap Nick cemas.
“Lain kali kau carilah wanita yang lebih benar! Wanita itu tidak ada baik-baiknya dan aku tidak tahu apa tujuannya.” kata Dante.
“Kita harus segera mencarinya Dante.” ucap Nick resah.
“Hmmm! Tapi nanti saja. Kita harus selesaikan dulu urusan kita yang menumpuk hari ini.”