PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 45. KAU TAHU APA SALAHMU?


“Tapi aku menginginkanmu Tuan! Kenapa kau tidak mau kupuaskan sedangkan perjanjian kita begitu, bukan? Lalu untuk apa kau menyimpanku disini?” ujar Bella sambil menangis sesenggukan.


“Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhku sampai otakmu benar! Perbaiki dulu otakmu!” ujar Dante tetap pada pendiriannya. “Kalau kau bisa berubah maka akan kuberikan.”


“Tuan apa yang kau lakukan padaku?” jerit Bella yang tiba-tiba dipanggul oleh Dante dipundaknya.


‘Aduh…..kemana dia mau membawaku? Kenapa dia memanggulku seperti karung beras?’ ujar Bella tidak berani berontak dan hanya pasrah membiarkan Dante meletakkannya diatas bahunya.


Dante terus berjalan sambil memanggul Bella dibahunya menuju kamar mereka. ‘Kamar? Apa yang ingin dia lakukan bersamaku disana? Apa dia benar-benar akan memberikannya padaku disana?’ Bella berusaha membayangkan hal-hal yang manis.


BRAAKKKK


Dante membuka pintu kamar dan menutupnya dengan membanting kasar. ‘Aduh ada apa lagi sih pria ini. Dia membuka dan menutup pintu kasar sekali!’ bisik Bella lagi yang mulai tidak yakin jika Dante akan berlaku manis padanya. ‘Kenapa dia tidak menutup pintu kamar? Memang tidak ada orang lain disini tapi kenapa membiarkan pintu terbuka begitu?’


‘Ha? Kamar mandi? Kenapa dia malah membawaku ke kamar mandi?’ Bella bertanya dalam hati.


BRUKKK!!!!


“Aaaaaaahhhhh…..” Bella menahan sakit saat Dante membanting tubuhnya kedalam bathtub lalu mengguyur Bella dengan air dingin.


“Aaaaaa…….dingin Tuan! Apa-apaan ini?” ucap Bella yang kedinginan basah kuyup diguyur air dingin.


“Diam! Jangan bergerak dari sana! Dinginkan otakmu dan berpikirlah!” Dante membuka keran sambil bicara dan memicingkan matanya menatap tajam pada Bella.


“Maafkan saya Tuan! Kenapa kau menghukumku? Apa yang sudah kulakukan sehingga kau menghukumku begini?” tanya Bella lirih.


“Diam disana dan jangan banyak bicara! Rasakan air dingin itu untuk mengurangi hasratmu. Ini pelajaran untukmu agar jangan pernah coba-coba memancingku seperti itu lagi! Aku tidak akan pernah tertarik dengan wanita bekas sepertimu! Apa kau paham? Apa kau sadar sudah ditiduri oleh seribu pria, hu? Dan kau berharap aku sudi menyentuhmu dan memasuki liang kotormu itu? Jangan mimpi!”


Ucapan Dante itu menyayat hati Bella membuatnya merasa sakit hati dan terhina. ‘Apakah pria itu jenis orang yang tidak suka wanita bekas? Lalu kenapa dia mengambilku? Dia sudah tahu kalau aku ini wanita bekas lalu apa yang diinginkannya? Oh Belinda, kau sungguh memalukan! Untuk pertama kalinya aku memohon pada seorang pria. Eh….ini kedua kalinya aku memohon pada pria.’


Bella menghela napas panjang. "Pertama kali aku memohon pada seseorang saat pertama kali aku diambil pada usia tujuh belas tahun tapi tidak dikabulkan orang itu dan sekarang aku memohon lagi untuk dipuaskan dan tidak dikabulkan. Apa sebaiknya aku tidak memohon belas kasihan lagi?’ gumamnya menundukkan kepala dan terlihat menyedihkan.


Sikap Bella itu mempengaruhi Dante yang terus mengawasinya. ‘Apa yang dipikirkan anak ini. Kenapa dia memasang wajah menyedihkan seperti itu? Apa dia ingin agar aku merasa kasihan? Aku tidak akan pernah mengasihaninya. Bukankah dia sendiri yang bilang kalau dia membenciku? Dia bilang tidak akan pernah memaafkanku? Cihh!’ oceh Dante dalam hatinya merasa kesal sendiri dan masih tergiang-giang semua ucapan Bella padanya.


‘Kau bahkan menangis didepanku karena kebencianmu. Huh sungguh menyusahkan sekali!’ gumamnya menghembuskan napas kesal. ‘Kau sangat membenciku tapi merasa nyaman dalam pelukanku. Bahkan mengatakan bahwa pelukanku hangat dan sekarang kau minta menyatukan diri denganku? Manusia macam apa anak ini?’ kesla hati Dante tidak hilang-hilang.


“Bersihkan tubuhmu dengan sabun sampai bersih!”


“Iya Tuan!” jawab Bella dengan suara terbata-bata dan bibir bergetar menggigil.


‘Dingin sekali air ini. Jam berapa sih ini? Pasti sudah jam sebelas malam dan aku terpaksa mandi air dingin.Tega sekali kau padaku.’ ucap Bella dalam hati Saat mengambil sabun pun tangannya gemetar dan giginya bergemerutuk tapi Dante tidak peduli dan membiarkannya dalam bak mandi


“Apa otakmu sudah mulai bekerja normal sekarang?” tanya Dante.


“Tidak tahu, Tuan sepertinya otakku tidak bisa bekerja karena dingin.” jawab Bella semakin menggigil kedinginan.


“Apa kau kedinginan?’ tanya Dante lagi dengan suara datar.


“Iya. Dingin sekali Tuan.” jawab Bella yang mulai sulit untuk berkonsentrasi. ‘Aku benci air dingin, kenapa dia malah merendamku di air dingin?’ hati Bella semakin gundah dan sekuat tenaga dia berusaha menekan rasa dingin tapi justru makin membuatnya semakin menggigil.


“Kau tahu rasa dingin itu bagaimana sekarang?”


“Aku akan menghukummu lebih parah lagi dari ini kalau kau melakukan hal seperti itu lagi!”


“Maafkan saya, Tuan.” jawab Bella berusaha berkonsentrasi menjawab.


“Cepat berdiri!” perintah Dante menatap tajam tubuh Bella yang polos.


‘Huh….menyebalkan! Dari tadi kek, aku sudah kedinginan setengah mati baru disuruh berdiri.’ ucap Bella merasa lega disuruh keluar dari bathtub.


“Kenapa badanmu bergetar begitu?”


“Aku kedinginan Tuan.” jawabannya masih sama karena dia memang kedinginan bahkan bibirnya mulai membiru. Dia mungkin akan pingsan jika saja Dante tidak segera menyuruhnya keluar dari bathtub sepuluh menit lagi.


“Apakah kau masih menginginkan tubuhku?”


Bella dengan cepat menggelengkan kepala, dia tidak mau dapat hukuman lagi.


“Apa benar seperti itu? Kau sudah kehilangan rasa itu?” tanya Dante lagi


Bella berpikir. ‘Sudah hilang belum ya. Aku tidak tahu tapi saat aku kedinginan tadi aku sudah tidak memikirkan itu. Apa aku jawab hilang saja ya? Tapi setiap melihat tubuhnya aku kembali ingin.’


“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” ujar Dante memaksa. ‘Jawabanmu yang akan menentukan apa yang akan kulakukan padamu.’ bisik hatinya berusaha sabar menantikan Bella melontarkan kata-kata.


“Aku tidak tahu, Tuan tapi sekarang aku sudah tidak pengen lagi.” jawab Bella jujur.


‘Hem….baiklah kita lihat saja nanti. Akan kucoba lihat apakah kau sudah tidak menginginkan itu lagi.’ ucap Dante dalam hati.


Sementara Bella terus menggerutu dalam hati. ‘Duh apa sih maunya dia? Memangnya dia mau aku jawab apa?’ Bella menundukkan kepalanya dengan tubuh yang menggigil.


“Tuan bisakah kau memberiku handuk? Aku kedinginan.” bisik Bella dengan suara pelan.


“Kemari.”


‘Ah….akhirnya setelah lama kau mendiamkanku akhirnya kau memanggilku juga untuk memberiku handuk.’ gumam Bella lagi karena Dante tidak langsung memberikan handuk pada Bella setelah dia keluar dari bathtub. Dia mendiamkan Bella selama beberapa menit tanpa memberikan apapun untuk menutupi tubuh polosnya sehingga dia terus menggigil.


“Apa kau tahu kesalahanmu?”


Bella menganggukkan kepala saat tubuhnya sudah dibalu handuk hangat.


“Keringkan tubuhmu.”


‘Hem….akhirnya dapat handuk kering juga.’ Bella pun menuruti semua yang diperintahkan oleh Dante.


“Keringkan juga rambutmu agar tak masuk angin.”


“Iya. Baik Tuan.” Bella mengangguk lalu berjalan menuju wastafel, mengambil hair dryer lalu mengeringkan rambutnya.


‘Apa saja yang sudah mereka lakukan padamu sampai membuatmu kecanduan begitu? Aku masih ingat saat kau tinggal bersamaku, kau selalu menolak setiap kali aku menyentuhmu.Kau selalu memohon agar aku tidak melakukan itu padamu tapi sekarang kau malah memintaku untuk memuaskanmu.’ Dante mengeryitkan keningnya, dia merasa sakit kepala memikirkan Bella.