
Pintu itu dijaga oleh dua orang bersenjata yang seakan sudah siap menembak mereka kapan saja. Sekarang Barack hanya bersama kedua wanita itu dan Manuel sudah menghilang.
“Tunggu saja disini Tuan. Anda belum diizinkan untuk masuk kedalam oleh Tuan Jeff!”
“Dimana Manuel dan Gabriella sekarang?” Barack bertanya ulang pada penjaga itu.
“Saya juga tidak tahu Tuan!” jawab penjaga itu.
Barack memicingkan matanya, “Kau bilang tidak tahu?” muncul senyum diwajah Barack. “Hei ada apa diatas sana?” teriak Barack yang langsung membuat penjaga itu mendongak keatas.
“Bella palsu! Tembak orang dibelakangmu!” teriak Barack.
DOOR…..Barack menembak orang didepannya dan Anna pun menembak orang dibelakangnya sesuai dengan perintah Barack. Wanita itu bergerak dengan lincah memutar tubuhnya saat menembak. Anne menembak kedua pria yang berjaga dibelakang pintu. Begitupun Sarah juga mengeluarkan senjatanya.
DOR DOR
“Kyaaakkk! Jangan bunuh Barack-ku!” Sarah berteriak sambil menembak orang yang ada disebelah kanan yang menodongkan senjatanya hampir menembak Barack.
“Bodoh! Kalau kau menembak buka matamu!” teriak Barack yang tadi menembak orang yang berada disebelah kanannya. Sarah memang menembak tapi tembakannya meleset karena dia menembak sambil memejamkan matanya.
“Aku takut sekali! Ini pertama kalinya aku memegang senjata dan menembak.” ujar Sarah dengan tangan yang sudah gemetaran.
“Sudahlah tenangkan dirimu!” Barack sudah membuka jasnya dan memakaikan pada Sarah.
“Kau memakaikan aku apa?” Sarah sudah panas dingin mendapat perlakuan manis dari Barack.
“Kau membutuhkan ini.”
Barack bicara sambil memakaikan baju anti peluru pada Sarah lalu dia menatap kearah Anna.
“CCTV! Lakukan sesuatu!”
“Oh baiklah!” Anna mengangguk dan langsung menembak CCTV.
DOR DOR DOR……semua CCTV ditempat itu sudah dihancurkan.
“Buka pintunya!”
BRAAKKK!
“Rodrigo! Apakah mereka tidak menyuruhmu untuk menunggu dulu diluar?”
“Syukurlah kau datang tepat waktu!” ujar Manuel.
DOR DOR DOR…..Manuel langsung mengambil senjata dua penjaga yang sudah menodongkan senjata mereka kekepalanya namun mereka belum sempat menembak kepala Manuel.
“Kau tidak apa-apa?” Barack melirik Manuel dan dia menatap orang yang duduk didepan Manuel dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Halo Rodrigo! Apa ada sesuatu diwajahku yang membuatmu tak dapat memalingkan wajahmu?”
“Dimana Jeff?” tanya Barack tak tergiur dengan pertanyaan receh yang diajukan padanya. Barack benar-benar sudah terbakar emosinya.
Dia bahkan menodongkan senjatanya setelah Barack menembak empat orang penjaga yang ada didalam ruangan itu.
“Hei tenanglah! Kau ingin bertemu dengan Jeff? Tapi kenapa kau malah gagal melakukan perintah Jeff? Apa kau ingin mendapatkan kemarahan dari Jeff?”
“Rodrigo ada apa ini?” Gabriella langsung mendekat dengan wajah marahnya menatap Barack.
“Aku sedang melaporkan Manuel karena tadi dia memberiku tembakan obat bius! Dia membuatku kaget dan Manuel harus mendapatkan hukuman! Aku sudah mendapatkan izin dari kakakku untuk membunuhnya!” Gabriella pun mulai mengoceh.
“Ya! Jake juga sudah mendapatkan izin! Kenapa kau menyelamatkan Manuel?” protes Gabriella yang menatap nanar pada Barack.
“Aku juga akan membunuhmu jika sampai terjadi sesuatu pada Manuel!” ancam Barack tertuju pada Gabriella lalu dia menatap Jake. “Dan kau! Sebentar lagi giliranmu!” Barack pun menoleh menatap Anna.
“Kau! Siapa namamu? Buka topengmu dan ikat dia!”
“Namaku Anna! Kau bisa memanggilku itu!” kata Anna sambil berjalan mendekati pria yang kini sedang ditodong senjata tapi Anna berhenti sejenak.
“Kenapa aku malah diam disana?” tanya Barack yang masih mengarahkan senjatanya pada Jake.
“Kau tidak bisa membunuhnya!” Manuel mendekati Barack dan menatapnya.
“Apa maksudmu?” Barack bertanya balik.
“Bom! Ada bom dimeja itu dan tangannya sudah siap untuk memencet bom yang ada disandaran tangannya. Dia sudah siap mati! Saat kau menyerang maka dia akan langsung memencet tombol itu.”
“Hahahaha! Kau pintar sekali!” ucap Jake memuji Manuel dan terlihat Barack pun tersenyum sinis menatap pria itu.
“Tentu aku pintar! Kursi itu aku tahu saat aku membuatnya dan meja itupun juga sama. Itu untuk keamanan apabila ada penyusup maka dia tidak bisa masuk kepintu selanjutnya! Ruangan ini pun juga tahan bom! Jadi bom itu tidak akan merusak bagian lain rumah ini, hanya satu ruangan ini saja yang akan mengalami daya ledaknya.”
Manuel menjelaskan secara rinci apa yang diketahuinya dan orang yang duduk dikursi itupun tersenyum pada Manuel.
“Kau cukup pintar! Pantas saja selama ini kau bisa menipu Jeff! Untuk Tuan Jeff, aku rela mati! Apa kalian mau aku memencet tombol ini sekarang?” Jake bicara sambil menunjukkan apa yang sejak tadi ditutupinya dengan tangan.
Itulah yang membuat Anna tadi berhenti berjalan, dia merasakan sesuatu yang aneh dan dia memperhatikan gerak gerik tangan Jake.
“Barack? Ada apa ini? Apa kita akan mati disini seperti Romeo dan Juliet?” tanya Sarah yang ketakutan dan langsung memegang erat tangan Barack.
“Apa yang kau lakukan? Dia adalah Rodrigo ku! Lepaskan dia!” Mata Gabriella pun menatap Sarah tak suka dan langsung bergerak hendak menghampiri Sarah.
“Menjauh darinya! Jangan kau berani menyentuhnya!” Barack langsung menghalangi Gabriella mendekati Sarah.
“Barack! Dia Barack ku! Sudah kukatakan padamu kalau dia bukan Rodrigo! Dasar perempuan gila!”
Sarah berkata dengan kata-kata kasar pada Gabriella.
“Dia adalah Rodrigo! Sampai kapanpun dia adalah Rodrigo! Kau tidak akan bisa mengambilnya dariku! Dia adalah milikku selamanya!” Gabriella meradang.
“Hei kalian jangan ribut!” teriak Barack sambil tetap mengacungkan senjatanya kepada Jake. Bom yang ada ditangan Jake membuat pria itu tidak bisa menembak sekarang.
“Hahahaha sepertinya kau kerepotan dengan kedua wanita itu!” goda Jake sambil tertawa lalu dia melirik kepada Sara. “Wajahmu mengingatkanku pada seseorang! Dan topeng wajah yang kau buka tadi adalah Bella! Apakah Bella adalah kakakmu?” ujar Jake yang menatap tajam pada Sarah.
“Kau mengenal kakakku?” tanya Sarah dengan pandangan mata yang ketakutan.
“Tentu saja aku mengenalnya! Aku bertemu dengan kakakmu! Dia sangat cantik sekali dan kau juga cantik sepertinya kau masih ranum dan belum tersentuh!”
“Hei jangan macam-macam kau!” bentak Barack.
“Kau mau apa? Kau tidak bisa menembakku dikepala karena tanganku akan memencet tombol ini sebelum nyawaku menghilang!” ujar Jake.
“Kalau kau diam saja disana maka kau juga tidak bisa masuk dan tidak bisa pergi kemana-mana. Sebentar lagi pasukan Jeff akan mengepung tempat ini dan kalian akan tetap mati! Pilihannya ada pada kalian apakah mau mati bersamaku atau mau mati ditonton olehku? Bagaimana? Kalian memilih yang mana?” kata-kata itu terdengar datar dan pandangan Jake begitu menghina membuat Barack geram.
“Kurang ajar kau!” mata Barack memerah menatap Jake kesal.
“Hahahahah!” Jake semakin tertawa terbahak-bahak. “Kau pikir kau bisa menipu Jeff dengan mudah? Apa kau tidak memikirkan keberadaanku?” tanya Jake lagi.
Memang tidak ada yang memikirkan tentang keberadaan Jake. Bagaimana hubungan Jake dengan Jeff! Dan Jake sudah tahu seluk beluk rumah Dante dan dia juga mengenal beberapa pelayan Dante.