
“Kau mau pergi sekarang Belinda?”
“Aku mau kita buat soap ikan sekarang!” Bella menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu tunggu sebentar ya! Aku mau ganti pakaian dulu lagipula tubuhku masih kotor dan aku ingin mandi dulu. Kau tidak keberatan kan?”
Bella menggelengkan kepalanya.
“Kau juga harus membersihkan tubuhmu Belinda! Dari kemarin kau belum mandi kan?”
“Aku sudah mandi kemarin! Tapi hari ini belum. Biasanya Anna yang membantuku.”
“Anna?” Dante mengeryitkan dahinya.
“Hmm! Iya Dante! Dokter Anna yang membantuku. Dia juga membersihkan tubuhku setiap hari.”
“Apa itu karena luka-lukamu makanya kau tidak bisa mandi sendiri?”
“Iya.”
“Fuuhh! Jadi sekarang kau mau seperti itu?Ayo bangun.”
“Kita mau kemana Dante?”
“Kau juga harus mandi kan? Kau juga belum ganti pakaian Belinda!”
“Dante, apa kita akan mandi berdua seperti di apartemen dulu?”
“Hmmm! Tapi kau tidak boleh menggodaku ya Belinda! Tidak boleh melakukan apapun disini. Apa kau mengerti?” Dante bicara sambil mengacungkan jari telunjuknya dan mengoyangkan dengan isyarat kalau Bella tidak boleh macam-macam.
“Iya Dante.” jawabnya singkat sambil menganggukkan kepala.
“Kenapa? Kau marah padaku?”
“Hmm….sambil mandi sambil pegang-pegang sedikit boleh?” Bella bertanya yang dijawab Dante dengan gelengan kepala cepat. “Kalau aku menyabuni tubuhmu boleh?”
“Kau belum makan. Anakku didalam sini kelaparan Bella! Jadi kita tidak boleh melakukan macam-macam dulu. Sampai anakku kenyang! Setelah itu aku akan memberikan apa yang kau inginkan.”
“Benarkah?”
“Ya.” akhirnya Dante pun menyerah. Bella pun mulai menahan diri dan patuh pada pria itu.
“Sampai kapan Belinda akan seperti ini? Aaarrgggg!” ucap Dante dalam hatinya. Saat keduanya hendak melangkah ke kamar mandi, suara pintu diketuk dari luar.
Tok Tok Tok
“Dante, ada yang mengetuk pintumu?” ucap Bella menahan tangan pria itu.
“Hmmm! Sebentar aku akan buka pintunya dulu.”
“Dante! Tapi kau tidak memakai bajumu dan tidak memakai sepatu! Bagaimana kalau ada yang tergoda melihat tubuhmu?” ucapan bella yang membuat Dante menatap tubuhnya yang polos dibagian atas dan kakinya juga tidak memakai alas kaki.
“Sssshhh! Kau yang tidak bisa menahan dirumu mudah tergoda! Apa maksud tanganmu ada disana Bella?”
“Eeeeh…..celanamu ini terlalu kebawah Dante, itu kelihatan, aku mau tarik keatas!”
“Pfff! Kalau kau ingin menarik keatas kenapa kau malah menggerakkan tanganmu didalam sana? Apa yang mau kau buat Belinda?” ucap Dante dengan suara dengan memberi penekanan pada wanita disampingnya yang sudah memasukkan tangannya kedalam celana panjang dan merogoh bagian luar ****** ********.
Yang kelihatan adalah ****** ***** hitam Dante saja, bukan miliknya tapi ada saja tingkah Bella yang membuat Dante mendapat latihan kesabaran.
Tok Tok Tok
“Orang diluar sana semakin tidak sabar!” celetuk Dante mengingatkan Bella yang tidak menjawab pertanyaannya dan tangannya masih ditempat yang sama.
“Dante jangan diangkat tanganku! Kau pakai baju dulu.” ucap Bella yang masih mempertahankan tangannya disana dan tak mau ditarik oleh Dante.
“Biarkan saja. Itu bukan orang penting yang datang dan bukan pelayan. Dugaanku itu Alex yang melakukannya. Hanya Alex yang berani mengetuk pintu kamarku!” ujar Dante dan kata-kata itu berhasil membuat bella tak lagi menahan saat tangan Dante mengeluarkan tangan Bella yang sedang meremas milik Dante.
“Alex dan Sky-ku ada disini?” kata-kata Bella ini menahan Dante kembali lalu dia menatap wanita itu.
“Bella, kau? Apa maksudnya ini? Kau ada dirumahku, tentu saja anakku ada disini.Alex disini memangnya kau lupa?”
“Alex Sky-ku!” Bella terlihat sangat merindukan anak itu. Semua emosinya yang ada dihatinya dan matanya yang menatap ke pintu.
“Jadi kau tidak tahu kalau Alex ada disini? Itu alasanmu tidak keluar kamar?”
Tok tok tok
“Dante cepat buka pintunya! Aku mau ketemu Alex!”
Mata Bella berbinar penuh kerinduan dan meminta pada pria itu membuka pintu. Dia seperti seorang ibu yang menahan kerinduan pada anaknya yang telah lama tak bisa bertemu.
“Kau ingin bertemu Alex?”
Bella menganggukkan kepala dengan cepat karena dia ingin bertemu dengan Alex.
“Aku sudah merindukannya, Dante!”
“Hmm….baiklah! Aku mengizinkanmu untuk bertemu dengannya tapi kau tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Sky! Kau harus tetap memanggilnay seperti biasa, Alex! Kau paham?”
“Iya, aku paham. Apa dia akan memanggilku ibu, Dante?”
“Belum! Dia tidak akan memanggilmu seperti itu! Tapi nanti dia akan memanggilmu begitu, berikan dia waktu dulu karena aku harus bicara dengannya setelah kita menikah maka dia akan memanggilmu dengan sebutan itu. Mengerti kan?”
“Benarkah? Kau janji padaku ya?” senyum sumringah langsung menghiasi wajah Bella.
Tok tok tok
“Sepertinya dia sudah semakin tidak sabaran, ayo!” tangan Dante menggandeng Bella dan satu tangannya dimasukkan ke saku celannya sambil berjalan menuju pintu.
Klek…
“Dad...Bella...kau ada disini?” sapa Alex yang langsung teralihkan ketika melihat siapa yang berdiri didepannya. Wajahnya yang tadi kesal karena lama dibukakan pintu pun langsung berbinar-binar menatap Bella. Alex langsung berlari pada Bella.
“Belinda?” seorang wanita juga memanggil Bella setelah dia melepaskan tangan Alex.
“Sarah? Aku sangat merindukanmu, Sarah!” Bella pun memeluk erat adiknya.
“Bella! Kau tidak melihatku?” ucap Alex iri karena satu tangan Bella memeluk Sarah.
Sudah lama sekali dia tak bertemu Bella, dia ingin Bella memeluknya saja karena Alex cemburu melihat Bella dan melepaskan kaki Bella yang tadi dipeluknya.
“Alex sayang! Aku sangat merindukanmu juga, kemarilah!” Bella melepas Sarah dan membuka tangannya langsung memeluk Alex erat-erat serta bulir bening mengalir dari sudut matanya. “Aku sangat ingin memelukmu Alex! Aku sangat merindukanmu! Kenapa kau tidak datang kesini?Aku sudah datang dari tadi.”
‘Hah? Dia bisa bicara sebanyak itu? Dia tidak merasa gugup dan tidak ada perubahan sikapnya pada Alex? Ada apa ini? Apa Bella pura-pura bersikap manja padaku? Apa dia pura-pura sakit? Tapi yang dilakukannya benar-benar seperti orang sakit.’ tanya Dante dihatinya. Dia memperhatikan bagaimana interaksi Bella dan Alex, mulai dari beranya pada Alex, memeluknya, menciumnya, bicara dan tersenyum semuanya tampak normal.
Tidak nampak sedikitpun seperti Bella yang mengalami gangguan mental. Pria itupun semakin tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
“Aku juga rindu! Oh iya!” Alex langsung melepaskan tangannya yang memeluk Bella. “Aku sudah punya kereta baru. Henry yang memberikannya padaku. Ayo bermain denganku.” buju Alex dengan sangat antusias,
“Benarkah? Aku penasaran dengan kereta barumu Alex. Ayo kita main.” Bella bersemangat sekali dan langsung berdiri mengulurkan tangannya pada Alex. Bella hendak mengikuti keinginan Alex. Tapi---
“Apa aku sudah mengizinkanmu untuk pergi?” Dante memegang tangan Bella.
“Tapi Alex punya kereta baru.” ujar Bella mengerjapkan matanya menatap Dante.
‘Fuuuh! Kau lihat sekarang sudah jam berapa? Jam tujuh malam! Kau belum makan dari kemarin! Kau juga belum ganti pakaianmu. Perjalanan kemarin itu cukup jauh dari Slovenia ke Italia! Bersihkan tubuhmu dulu dan jangan ganggu Alex. Ini sudah mau jam tidurnya!”
“Daddy! Aku belum mau tidur! Aku mau main dengan Bella. Aku sudah merindukannya.” Alex pun berlari kedalam pelukan Bella. Dia memegang kedua kaki Bella erat-erat tak mau lagi menatap Dante yang sudah bersidekap menatap Bella dan Alex.