
"Ehmmmm ya pastilah kau tidak ingat Alex! Tapi kau mengingatnya dihatimu." Dante menjawab tak mau kalah dengan putranya.
"Oh jadi dijenguk terus? Nanti adik bayi juga dekat denganmu daddy?"
"Iya, kau benar! Itu peraturannya. Karena itu aku harus mengantarkanmu sekarang Alex. Supaya tidak ada yang menggangguku saat aku menjenguk adikmu." kata Dante melangkahkan kakinya keluar sambil menggendong putranya.
"Kenapa kita keluar daddy? Aku juga mau bertemu adikku. Boleh aku menjenguknya juga? Aku mau adik dekat denganku nanti." Alex tidak mau mengalah dari ayahnya.
"Tidak, kau belum boleh menjenguknya." jawab Dante secepatnya.
"Kenapa daddy?" Alex bertanya dengan nada tidak senang.
Dante hanya bisa menghela napas panjang karena dia kesulitan bicara dengan putranya itu. Rasa ingin tahu Alex sangat besar, dia tidak merasa puas dengan penjelasan ayahnya. Dia ingin mendapatkan penjelasan lebih dan ingin tahu kebenarannya. Wajahnya yang tadinya mengantuk kini tampak segar.
"Karena cuma aku yang bisa menjenguknya sekarang, Alex."
"Tapi aku ini kakaknya. Kakak tidak boleh menjenguk adik? Hmmm....."
Dante diam sejenak lalu merapikan rambut Alex dan mengecupnya, "Kalau kakak harus menunggu disini. Kau tidak perlu menjenguknya karena nanti adikmu merasa bingung."
"Bingung kenapa?" Alex semakin penasaran.
"Aku akan menjelaskannya padamu besok, Alex! Karena sekarang kita sudah berkumpul dengan teman-temanku. Sebaiknya kita temui teman-temanku." ucap Dante berjalan menghampiri teman-temannya.
"Jadi aku tidak tidur disini?"
"Kau akan tidur nanti. Setelah urusanku selesai dulu. Kau paham kan Alex?" Dante menatap anaknya. Didalam hatinya dia mengomel, 'Sebenarnya anakku ini pintar karena menurun dariku. Tapi rasa penasaran dan cerewetnya itu menurun dari Bella! Lihatlah dia selalu menggangguku sama seperti mommy-nya. Oh Bella.....kau enak-enakan di kamar mandi sedangkan aku harus berurusan dengan anak nakal ini.' oceh Dante.
"Aku buat apa disana?" tanya Alex lagi saat mereka sudah semakin dekat ke tempat dimana teman-teman Dante berkumpul. Mereka pun sudah bisa mendengar suara mereka berbincang.
'Dasar bodoh! Mereka pikir yang aneh-aneh saja. Memangnya mereka mau ganti pekerjaan jadi apa? Kuli bangunan? Atau mau jadi agen federal? Tak ada habis-habisnya kebodohan orang-orang disekitarku ini. Ini lagi anakku kenapa dia malah bangun dan bertanya macam-macam? Dimana Barack dan Sarah? Seharusnya mereka menjaga putraku! Ck mereka ini!'
Dante merasa kesal sendiri karena hasratnya belum sepenuhnya terpuaskan. Sehingga dia menjadi uring-uringan sekarang. "Apa yang sedang kalian ributkan? Tidak ada pekerjaan baru? Tetap sama seperti biasa! Tidak akan ada yang berubah." ucap Dante.
Semua yang ada disana langsung menoleh kearah Dante.
"Dante? Kau sudah datang? Apa kau sudah selesai? Tumben sekali kau cepat selesainya?" ucap Nick.
"Nick! Jangan mempertanyakan hal bodoh! Dia datang dengan handuk melilit di pinggangnya sambil menggendong anaknya dengan muka kesal, mana mungkin dia sudah selesai." celetuk Hans.
"Hahahahaha! Lebih baik kau minum bersama kami disini sampai anakmu tertidur." celetuk Eddie.
"Aku heran , kau selalu berhasil dengan misi-misimu tapu untuk misi anakmu kau selalu gagal Dante? Wah wah sehebat apa anakmu ini?"
"Eddie sudahlah jangan membuat Dante emosi.....hahahaha......" Hans menyuruh Eddie diam. Tapi dia masih saja menggoda Dante sama seperti yang lainnya. Mereka semua terkekeh kecuali Noel dan Vince yang hanya bisa tersenyum karena merasa tidak enak pada Dante.
"Kurang ajar kalian semua!" decak Dante. Dia sangat kesal dengan apa yang dilakukan teman-temannya. Apalagi tebakan temannya memang benar! Meskipun dia sudah mendapatkan dua kali pelepasan tapi dia masih tidak puas.
"Hans, jangan tertawa saja! Pegang anakku." perintah Dante langsung menaruh Alex di pangkuan Hans.
"Kau mau menitipkan Alex padaku?" protes Hans.
"Jaga saja anakku yang benar Hans!" ucap Dante mendengus memandang Hans dengan Alex yang berada di pangkuan Hans.
"Kau tidak perlu banyak bertanya apa yang kuinginkan! Kau jaga saja putraku dengan baik!" balas Dante dengan dingin danĀ ketus.
"Tega sekali kau Dante! Apa tidak ada hari libur buatku? Kau selalu saja menitipkan keluargamu padaku." protes Hans. Meskipun sebenarnya dia tidak keberatan jika Alex dititipkan padanya.
"Hahahaha itu karena kau satu-satunya yang paling lembut diantara kita semua. Kau sangat cocok dengan wanita dan anak-anak, Hans! Karena kau tidak pernah mengganggu mereka," celetuk Nick.
"Dante, aku mau bertanya dulu padamu." ujar Nick.
"Apa yang mau kau tanyakan padaku Nick?"
"Tadi kau bilang pekerjaan kita masih sama?" Nick mengerjapkan matanya menatap Dante.
"Iya, tidak ada perubahan di pekerjaan kita. Semua masih tetap sama seperti yang sudah kukatakan pada kalian." ucap Dante dengan mata datar. Baginya masalah ini bukan hal penting untuk dibahas sekarang.
"Bagaimana dengan federal?" tanya Eddie.
"AKu sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka, Ed! Kondisi mereka sudah kacau balau. Mereka juga harus berbenah diri dulu sebelum mereka mulai mencariku lagi." ujar Dante dengan senyum sinis, "Dan kalaupun mereka mengejarku lagi maka aku rasa mereka belum mampu untuk menangkapku lima sampai sepuluh tahun kedepan. Tapi sayangnya, dalam kurun waktu itu aku sudah berbenah diri dan mereka akan semakin sulit untuk menggapaiku."
"Lalu bagaimana dengan pihak FBI?"
"Biarkan saja kalau mereka berani bertindak macam-macam pada kita. Aku akan mengebom markas mereka." ujar Dante.
"Kau ini mencari masalah saja dante." ujar Hans.
"Mereka sendiri yang mencari masalah duluan denganku, Hans! Aku bukan tipe orang yang suka mencari masalah. Jika mereka tidak menggangguku maka aku akan menghargai mereka. Aku juga ingin dihargai! Aku berbisnis dengan siapa saja yang mau berbisnis denganku."
"Ehmmmm jadi kita akan tetap menjual senjata?"
"Ya itu pasti!" Dante mengangguk sambil menatap teman-temannya.
"Kemana kita akan menjual senjata buatan kita, Dante?"
"Ya kepada siapa saja yang mau membelinya. Sudah kujelaskan tadi kalau aku berbisnis dengan siapa saja yang mau berbisnis denganku. Apa kalian paham?" ucap Dante.
"Apa kau yakin ini yang terbaik untuk kita semua?" tanya Eddie ulang.
Dante mengangguk lagi. 'Rasanya aku ingin melemparkan batu pada mereka dan mengatakan agar berhenti menggangguku dengan banyak bertanya. Aku masih punya kegiatan yang harus kuselesaikan. Apa mereka tidak bisa membahasnya besok saja?' keluh Dante dihatinya.
"Tentu saja. Kita sudah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Kita tidak bisa menghentikan bisnis ini sekarang! Mungkin kedepannya kita bisa mengembangkan teknologi baru untuk dijual." ujar Dante.
"Tapi, bukankah dendammu sudah selesai Dante? Kupikir kau akan berhenti dengan bisnis senjata setelah kau menuntaskan dendammu." ujar Hans.
"Semuanya masih tetap sama. Kita akan tetap menjalankan bisnis seperti biasa. Tidak ada yang berbeda." kata Dante.
"Jadi kau tidak mau pensiun?"
"Apa kau ingin pensiun Nick?" Dante balik bertanya pada Nick.
"Hehehee....aku belum ada niat untuk pensiun. Lagipula aku masih ingin menikmati hidup seperti ini." celetuk Nick sambil menuangkan minumannya. "Sekarang aku merasa lega setelah semuanya selesai."