
“CCTV yang aktif ada kedipan berwarna merah setiap kali dia mengambil video bukan? Istriku pasti akan tahu juga nantinya. Aku tidak mau dia mengetahui aku mengawasi seluruh bagian dalam rumah ini." ujar Dante menjelaskan keinginannya.
“Sekarang ada cctv yang tidak pakai lampu Tuan. Kita bisa menggantinya dan akan tetap nyaman. Saya bisa memasangnya besok saat nyonya pergi.” ujar Henry. Didalam benak kepala pelayan itu, dia ingin bisa mendapatkan bukti tentang Tatiana agar bisa ditunjukkan pada Dante karena pria itu tidak akan mempercayai ucapan apapun dan siapapun tanpa ada bukti.
Henry yang sudah tahu semuanya pun tak b8sa menahan diri lagi. Tapi dia tidak bisa melakukan sendiri, Dante bisa mengamuk dan menghukumnya jika dia bertindak tanpa persetujuan pria itu. Dan inilah satu-satunya peluang yang bisa dia pakai untuk memulai rencananya membongkar kebusukan Tatiana.
“Hem...boleh juga idemu. Tapi jangan sampai menyinggungnya ya.” kata Dante lagi
“Baik Tuan.” Henry tersenyum. “Bagaimana kalau saya juga pasang cctv tersembunyi dikamar Tuan Alex?” tanya Henry lagi.
“Maksudmu?”
“Hanya untuk mengetahui bagaimana perilaku pelayan Tuan sehingga tidak akan ada kesalahan seperti yang terjadi pada Bella.” kata Henry. Dia juga berniat mendapatkan bukti perlakuan Tatiana pada Alex didalam kamar anak itu. Tapi Henry cukup pintar dengan mengatakan kalimat itu sehingga Dante tidak curiga maksud Henry yang sebenarnya.
“Istriku tidak akan setuju,” Dante menggelengkan kepalanya.
“Saya bisa meletakkan cctv ditempat tersembunyi. Anda juga tidak perlu mengatakan ini pada nyonya, supaya dia merasa tetap nyaman.” bujuk Henry yang sudah memikirkan semuanya.
“Hem….baiklah. Kau atur saja semuanya dan laporkan padaku. Jangan bicarakan ini saat ada istriku.”
“Baik, Tuan.” Henry semakin tersenyum lebar.
“Bisa kau lakukan sesuatu untukku?” tanya Dante sambil melihat jam tangannya.
“Tentu saja, Tuan. Saya selalu melakukan apapun yang Tuan suruh.”
“Siapkan pisau yang paling tajam.” Dante meminta tanpa melihat kearah Henry.
Hati Henry langsun bergetar dan dihati kecilnya merasa tidak tenang dengan perintah Dante.
“Kenapa kau tidak menjawabku?” tanya Dante.
“Tentu saja saya akan menjawab iya. Tapi untuk kali ini, bisakah saya mengatakan satu permohonan?”
“Kau tidak pernah meminta sesuatu dan tidak pernah memberikan syarat kalau aku melakukan sesuatu. Kenapa sekarang kau melakukan ini?”
“Tuan! Menurut saya, bella adalah gadis yang polos dan dia sangat baik. Dia sangat mengerti Tuan Alex. Bahkan dia pandai sekali membujuk Tuan Alex. Anda akan menyesal jika melakukan itu Tuan! Mungkin nyawanya tidak berharga untuk anda tapi mungkin dia sangat berguna untuk anak anda. Saya selalu melihat perkembangan positif yang terjadi pada Tuan Alex saat bersamanya.”
Dante mengatupkan bibirnya, dia tidak mengatakan apapun. Rahangnya menegang dan kedua tangannya yang berada didalam sakunya pun sekarang mengepal erat. “Apa aku meminta pendapatmu henry?”
“Tidak, Tuan. Saya tidak berani. Jika anda meminta saya menyiapkan pisau maka saya siapkan segera.”
“Aku ingin kau mengasahnya betul-betul Henry! Sehingga satu kali tebas sudah selesai!” Date langsung meninggalkan ruang makan, dia naik kelantai atas. Tubuh Henry langsung bergetar hebat mendengar kalimat terakhir Dante.
‘Kalau kau pintar, harusnya kau melakukan semua yang aku katakan. Rasanya penjelasanku tadi cukup jelas.’ ujar Henry didalam hatinya menatap kepergian Dante. Dia pun pergi ke dapur setelah Dante tak terlihat lagi. Sedangkan Dante langsung menuju ruang kerjanya.
“Kau sudah selesai makan malam?” tanya Nick.
“Kau masih disini? Kukira sudah pulang.” tanya Dante menutup pintu.
“Kau tidak mau tahu bagaimana perjalananku tadi bersama Anthony?” tanya Nick.
“Apa ada yang penting?” Dante melirik sedikit lalu duduk dikursi kerjanya dan memandang Nick yang sedang duduk diatas sofa.
“Menurutku sih banyak.” ujar Nick.
“Jelaskan padaku, Nick.”
“Sesuai perintahmu Dante!” Nick kemudian berdiri dari sofa dan mendekat duduk diseberang kursi kerja Dante. “Aku akan menjelaskan semuanta. Aku rasa dia bukan orang sembarangan, dia sangat pintar mungkin kepintarannya sebelas duabelas denganmu! Kau punya lebih banyak pengalaman dibandingkan dia. Kau banyak berinteraksi dan jam terbangmu lebih banyak dibandingkan dia. Itu kelebihan pria itu.”
“Sangat berbahaya!” Nick menganggukkan kepala dan menatap Dante sinis. “Mungkin kalau kau ada disana kau akan memilih untuk membunuhnya daripada mempertahankannya hidup. Dia memang bisa membantu kita untuk memenangkan beberapa pertempuran melawan pihak federal. Dia bisa membantumu untuk memukul mundur pihak federal. Tapi dia tidak bodoh.” Nick tersenyum lagi.
“Apa kau mengujinya saat berburu dengannya?”
Nick menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Dante. “Aku mencoba dua tipuan yang sama dan berhasil mengalahkannya. Aku mencoba tipuan ketiga dengan cara yang sama tapi dia berhasil menangkisnya. Dia berhasil mendapatan buruannya. Aku coba tipuan ke empat dengan cara yang berbeda, gagal juga. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa lolos dari tipuan keempatku.”
Dante diam mengatupkan bibirnya.”Jadi menurutmu aku harus segera menyelesaikannya sekarang?”
“Benar sekali. Tidak bisa menunggu lagi. Harus segera dihabiskan sekarang juga.”
“Baiklah. Kita lakukan besok.”
“Oke.” Nick mengangguk. “Satu urusan sudah selesai, lalu bagaimana dengan Barack?”
“Belum ada kabar darinya.” ucap dante.
“Apa? Kau pasti bercanda Dante.” Nick mengeryitkan dahinya.
“Tidak! Aku memang tidak punya kabar tentang Barack.”
“Tapi tadi kata istrimu kau sudah mengurus masalah itu makanya kau keluar. Karena itulah aku menunggumu disini. Setelah aku selesai berburu! Aku pikir Barack sudah menghubungimu. Jadi maksudmu ini apa?” tanya Nick yang merasa bingung.
“Barack belum ditemukan. Tadi aku pergi ke bunker.” jawab Dante.
“Apa? Kau kedalam bunker? Semedi kau disana?”
Dante hanya diam menatap Nick.
“Apa yang kau lakukan disana?”
“Temani aku main catur!” ucap Dante membuat Nick mengeryitkan dahinya lagi.
“Main catur malam-malam begini?” dia melirik jam tangannya. Tapi karena Dante yang memintanya akhirnya dia pun bermain catur.
“Tadi istrimu bilang kalau Barack sudah ditemukan?”
“Aku yang menyuruh Hans untuk mengirim pesan seperti itu.”
“Apa? Jadi istrimu percaya? Kau sengaja mengajak Hans bekerjasama?”
Dante menganggukkan kepala. “Harusnya aku menghubungi Hans bukannya menunggumu seperti orang bodoh! Apa yang kau lakukan di bunker sendirian? Apa kau depresi karena Barack dan Anthony sehingga kau bersembunyi di bunker?” Nick mendengus. Tapi Dante tidak menjawab pertanyaannya.
“Kapan kau akan mengakhiri semua ini Dante?” tanya Nick menguap. Mereka sudah bermain lima ronde dan masih belum juga selesai main caturnya.
“Kita main satu kali lagi.”
“Sepertinya kau sedang banyak masalah, dante. Kenapa kau tidak menghilangkan semua gundahmu dengan minum? Itu lebih bermanfaat daripada main catur. Kalau minum alkohol kau bisa tidur nyenyak dan akan terasa ringan setelah bangun.”
“Saat aku mabuk dan kehilangan akal, aku akan bicara sembarangan. Itulah kelemahan pemabuk.” ujar Dante.
“Ha ha ha ha kau benar dante!” Nick tertawa terbahak-bahak.
“Lihatlah sekarang sudah jam berapa? Kau mengajakku main catur semalaman Dante. Bukankah kau ingin menghabisi Anthony hari ini? Bagaimana kau melakukannya kalau tenagamu sudah habis duluan?” celetuk Nick.