
“Memang! Baju itu juga aku tidak punya. Sekarang aku merasa lega, kupikir dia mata-mata.” Tatiana terlihat agak tenang.
“Mata-mata?” Dante mengulangi ucapan Tatiana.
“Iya. Mata-mata dari musuh-musuhmu Dante. Yang ingin masuk kedalam rumah kita dan ingin mengetahui keadaan didalam sini.”
“Tidak akan ada yang berani melakukan itu Tatiana. Mereka cari mati jika menaruh mata-mata dirumahku!” ucap Dante memastikan. “Soal baju itu! Aku yang memberikannya dan teman-temanku juga tahu tentang itu karena teman-temanku yang memilih baju itu dan aku hanya membayarnya saja.”
“Lain kali kau jangan terlalu boros Dante.”
“iya.” Dante mengangguk. “Aku hanya memberikan hadiah karena Alex. Kau tidak marah kan?”
“Tentu saja tidak. Tadi aku benar-benar sangat emosi padanya sampai mengatakan hal seperti yang kau dengar saat aku melihat pakaiannya itu. Aku tidak percaya kalau dia mampu membeli itu. Aku merasa khawatir saja.”
“Ya sudah, sekarang semuanya sudah selesai. Aku pergi dulu, ada yang harus kuurus dan aku ada janji dengan orang pagi ini.”
“Baiklah Dante!”
“Sampai ketemu nanti jam makan siang.” ucap Dante lalu mengecup kening istrinya. Dante berjalan menjauh meninggalkan Tatiana yang masih menatapnya.
“Pantas saja kau bisa punya baju itu! Ternyata suamiku yang memberikannya saat kau mau kesini. Huh.” mata Tatiana menatap kearah tangga tempat dimana tadi Bella naik. Tatapan matanya penuh kebencian pada wanita itu.
‘Baiklah! Karena aku sudah tahu kebenarannya sekarang. Kalau dia menyakiti Alex maka dia akan dihukum lebih parah oleh suamiku!’ senyum Tatiana pun mengembang setelah mengingat ucapan Dante tadi. ‘Alex maafkan aku karena aku menyakiti sedikit tubuhmu.’
“Huh! Habis kau Bella! Aku akan menyingkirkanmu dari rumah ini.” Tatiana ingin menyusul Bella keatas tapi tiba-tiba ada yang datang.
“Selamat pagi Nyonya Tatiana.”
Terdengar suara dari arah belakang Tatiana yang menyapa membuat wanita itu menoleh ke belakang, dia menyipitkan matanya melihat siapa yang datang.
“Ah Lorenzo! Kau datang lebih cepat setengah jam sebelum waktunya.” Tatiana bicara sambil melihat jam tangannya.
“Iya, aku sengaja untuk membuat persiapan Nyonya Tatiana.” jawab Lorenzo jujur.
“Ah, jadi kau ingin persiapan dulu! Baiklah sebelum itu apa kau menginginkan sesuatu? Mungkin sarapan atau kopi atau the?”
“Tidak perlu Tatiana. Aku sudah makan dirumah! Kau tidak perlu memikirkan aku. Aku tidak kekurangan makanan.” ucapan Lorenzo di kalimat terakhir diberikan penekanan olehnya.
“Kau yakin?” Tatiana menyipitkan matanya dan tersenyum tipis sambil membuang wajah dari Lorenzo.
“Yakin sekali Nyonya Tatiana.” kalimat itu diucapkan Lorenzo dengan sangat hati-hati bahkan seperti sedang berbisik.
“Ya sudah kalau begitu aku antar kau keruang piano.” kata Tatiana dan inilah yang ditunggu pria itu.
“Baiklah. Ayo kita kesana.” dia tersenyum menatap Tatiana.
“Ada apa denganmu Tatiana? Kau terlihat murung hari ini padahal aku sudah tersenyum padamu Nyonya Tatiana?” Lorenzo bertanya sehingga membuat Tatiana menoleh pada Lorenzo.
“Ini tentang wanita yang kuceritakan tempo hari itu. Huh….dia sudah bikin ulah lagi sekarang1” keluh Tatiana pada Lorenzo.
“Wanita bernama Bella itu? Yang ingin kau kenalkan padaku itu?”
“Jaga bicaramu Lorenzo! Jangan tinggikan suaramu.” Tatiana menganggukkan kepalanya setelah Lorenzo selesai mengucapkan kalimatnya.
“Apa dia mengganggumu?” Lorenzo tak mau menyerah.
“Tidak ada yang berani menggangguku disini Lorezno! Tapi dia mendapatkan hadiah yang sangat mahal dari suamiku! Ini yang membuatku geram.” jawab Tatiana sambil memicingkan mata seakan mencari dukungan dari Lorenzo. Tatiana tidak tahu kalau Dante tidak hanya memberikan satu baju mahal pada Bella, suaminya itu bahkan membelikan satu lemari penuh baju mahal beserta sepatu dan tas, belum lagi perhiasan mahal yang ditaruh di bunker.
“Pakaian branded limited edition seharga seratus ribu dolar! Untuk pelayan sepertinya aku rasa memiliki uang sebanyak itu bukan sesuatu yang mudah! Dan suamiku benar-benar memberikan pakaian semahal itu untuknya. Cuih!” sentak Tatiana kesal.
“Suamimu pasti punya alasan melakukan itu kan?” Lorenzo dan Tatiana sudah sampai dilantai dua dan berjalan menuju ruangan berlatih piano.
“Hem...suamiku tentu saja punya alasan. Dia tidak ingin anak sialan itu sampai disakiti! Arrgggg…..pakaian yang diberikannya pada wanita itu sangat mahal, aku tidak bisa menerimanya. Hatiku semakin panas dan sakit apalagi aku pernah melihat suamiku menciumnya! Anak sialan itu juga, dia semakin dianak emaskan dirumah ini! Kenapa anak sialan itu tidak mampus saja!”
“Pantas saja, anakmu itu benar-benar disayang oleh suamimu. Segala sesuatu yang berhubungan dengannya selalu di nomor satukan. Btw, dimana kau melihat suamimu mencium wanita itu?”
“Dikamarnya! Mereka saling berpelukan! Aku benar-benar sakit hati!” ucap Tatiana geram. “Karena itu aku ingin minta tolong padamu.” Akhirnya dia mengatakan alasan sebenarnya pada Lorenzo.
Sambil memegang handel pintu dan menyuruh Lorenzo untuk masuk lebih dulu dengan gerakan kepalanya. “Aku mengerti. Aku akan melakukan apapun yang kau minta itu. Apapun Tatiana!”ucap Lorenzo yang sudah masuk tapi kembali mendekati Tatiana.
Tatiana cepat-cepat mengunci pintu dan berbalik menatap Lorenzo. “Aku tidak ingin ada kesalahan.” ujar Tatiana lagi sambil melirik Lorenzo menariknya kencang-kencang.
“Baiklah! Kau ingin bicara serius padaku?”Lorenzo menatap wajah Tatiana dan memiringkan kepala.
“Kalau tidak, aku tidak akan mengunci ruangan ini. Masih ada waktu tiga puluh menit, cukup waktu asalkan lakukan cepat.”
“Hem...apa kau butuh pelampiasan Tatiana? Pagi-pagi begini?” senyum Lorenzo merekah.
“Aku tidak akan mengunci pintunya kalau aku tidak butuh.” ujar Tatiana semakin mendekat.
“Sini biar aku bantu.” jawab pria itu dengan senyum mantap.
SREEETTTTT……
“Kenapa kau menarik sabuk lebih dulu bukannya membuka kemejaku duluan Tatiana?”
“Bukankah kau sedang sibuk membuka pakaianku?” jawab Tatiana.
“Hemm….bajunya banyak kancingnya jadi sulit dibuka Tatiana.” Lorenzo bicara sambil membuka kancing baju Tatiana.
“Lorenzo! Kau lupa memanggilku Nyonya!”
“Apakah itu perlu sayang? Bukankah disini tidak ada suamimu? Kata-kata itu hanya perlu diucapkan didepan pelayan dan suamimu.” Lorenzo mulai mengecup Tatiana.
“Sshhhh….kau membuatku kesal Lorenzo!” Tatiana memukul Lorenzo sekuat tenaga.
Plaaakkkkkk!
“Awwww….belum apa-apa kau sudah memukulku Tatiana?” Lorenzo bicara karena Tatiana sudah membuka bagian bawahnya dan menggerakkan sabuk pinggang Lorenzo mengenai kakinya.
“Bukankah ini enak Lorenzo? Kau yang paling syka rasa itu bukan?” lirik Tatiana.
“Ya begitulah. Masokis sepertiku tentu saja menyukai setiap tindakan eksotis saat kau menyakiti tubuhku Tatiana!” ucap pria itu tersenyum.
“Buka pakaianmu!” bentak Tatiana.
“Sudah!” Lorenzo sudah membuka kemejanya dan mereka sudah polosan.
“Bagian bawahku!” ucap Tatiana sambil membuka lebar kedua kakinya.
“Baiklah Tatiana.”
Lorenzo pun mulai menyiksa tubuh Tatiana, keduanya adalah sosok masokis yang menyukai kekerasan dan tindakan kasar ditubuh mereka.