PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 210. MEMBENTAK TATIANA


“Ah baguslah kalau begitu Dante. Aku senang sekali mendengarnya kalau semua urusanmu tidak ada masalah. Itu artinya kau akan cepat pulang iyakan?” kata Tatiana manja dan menggoda tapi tak membuat Dante senang dan tergoda seperti dulu.


“Apa kau meneleponku untuk menanyakan itu? Aku sibuk Tatiana!”


“Eh, maafkan aku Dante. Aku mengganggu waktumu sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Langsung saja pada intinya Tatiana! Apa yang ingin kau bicarakan! Jangan buang waktuku!” ujar Dante sinis dan datar. Membuat Tatiana diseberang sana mengerutkan alisnya.


‘Ha? Ada apa dengan Dante? Sepertinya dia dalam masalah besar dari cara bicaranya. Dia tidak pernah sekasar ini padaku tapi biarlah yang penting aku selesaikan urusanku dulu dengannya.’ gumam Tatiana dalam hati mulai merasakan ada keanehen pada sikap dan cara bicara suaminya.


“Dante! Maafkan aku karena aku karena aku tidak tega jadi tadi aku menemui Bella!”


‘Aha! Kau memakan umpan itu Tatiana! Apa yang sebenarnya yang kau inginkan? Aku memasang umpan itu bukan untukmu tapi malah kau yang kena! Bisik hati Dante saat mendengar ucapan Tatiana. Nick sudah menjalankan perintah Dante memasukkan seorang wanita yang mirip Bella keruang penyiksaan sebagai umpan.


“Kau menemui Bella? Kenapa kau memaksakan diri untuk datang kesana? Tempat itu terlalu mencekam untukmu! Aku tidak mengizinkanmu turun kesana, itu sangat mengerikan, itu adalah tempat kerjaku!” Dante bicara tegas dan raut wajahnya terlihat sangar membuat teman-temannya bingung.


‘Ada apa dengannya? Kenapa Dante tidak menjauh dari kami saat berbicara dengan Tatiana? Biasanya dia selalu menjauh ketika bicara dengan istrinya. Ditambah lagi menyebut nama Bella? Bukankah tadi dia bilang kalau Bella diculik orang? Lantas Bella yang mana yang sedang dibicarakan Dante?’ gumam Hans dihatinya mencoba menguping pembicaraan Dante dan Tatiana.


“Saat aku pulang tak sengaja aku mendengar obrolan para pelayan tentang hukuman yang kau berikan pada Bella. Itulah yang membuatku tidak tega makanya aku datang kesana!”


“Hem. Aku rasa tidak ada seorang pelayan pun yang tahu aku membawanya kesana.”


“Eeeeh, mungkin mereka awalnya tidak tahu Dante! Tapi mereka melihat penjagaan dalam ruangan itu semakin ketat mereka jadi curiga. Mereka bertanya-tanya dan berpikir begitu.”


‘Aduh! Aku lupa kalau Dante menghukum orang, dia tidak pernah memberitahu siapapun kemana dia membawa orang hukumannya! Kenapa aku sampai tidak kepikiran kesana? Ini pasti karena pengaruh obat yang diberikan Jeff membuatku agak fly!’ Tatiana agak gelagapan dengan ucapannya.


“Oh penjagaan itu?”


“Iya, aku ingin membawa Bella keluar dari sana Dante! Tapi Henry melarangku untuk membawanya. Aku ingin membawa Bella ke rumah sakit karena aku lihat dia lemah sekali didalam sana. Kasihan sekali dia, tolonglah lembutkanlah hatimu, Dante!”


Tatiana tersenyum karena dia berpikir Dante sudah tidak memikirkan ucapannya yang pertama tadi.


“Aku sudah mengatakan pada Henry bahwa tidak boleh seorangpun masuk kedalam sana Tatiana! Tapi kenapa dia mengizinkanmu masuk kesana?”


“Aku hanya kasihan pada Bella, tadi aku memaksa Henry. Aku juga perempuan dan bisa merasakan takutnya dia berada diruangan gelap itu.”


Dante langsung mencibir mendengar ucapan Tatiana, “Cih! Ternyata selama ini aku sangat bodoh sekali ya! Aku termakan semua kata-kata manismu sehingga aku mempercayaimu. Kau terlihat sempurna dihadapanku apalagi karena kau sudah puluhan tahu bersamaku!’ saat ini Dante merasa semakin geram saja dan dia hampir tidak bisa mengontrol emosinya.


“Dante! Bagaimana? Apa kau mengizinkanku membawanya ke dokter?”


“Biarkan saja dulu sampai aku pulang. Kau tidak perlu mengutak atiknya. Ingat Tatiana ya dia itu adalah urusanku!”


“Dante! Ayolah lembutkan hatimu biarkan aku membawa Bella kerumah sakit. Hanya kau yang bisa menyuruh Henry untuk membiarkan aku membawanya. Kau tahu sejak kau pergi tempat itu dijaga banyak pasukanmu. Kami tidak bisa menolongnya.”


“Eh, maksudku….Dan…..”


‘DENGARKAN AKU! Dia sudah melakukan hal buruk didalam rumahku! Didepan putraku! Kenapakau ingin menolongnya? Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal!” teriak Dante.


“Dante! Kenapa kau bicara sangat kasar padaku? Ayolah Dante, biarkan aku membawanya ke rumah sakit dulu. Kasihan sekali dia Dante!” Tatiana masih kekeuh tak mau rencananya berantakan lagi.


Saat ini ruangan itu memang dijaga ketat oleh banyak pasukan Dante. Henry juga melarang siapapun untuk mengeluarkan Bella dari sana. Tanpa sepengetahuan Tatiana kalau Bella yang ada disana itu adalah Bella palsu.


“Baik sekali kau Tatiana! Aku tidak menyangka kalau kau sebaik ini.” sindir Dante.


“Aku baik karena kami sama-sama perempuan. Aku bisa merasakan bagaimana seramnya didalam sana! Dan sekarang aku takut kalau dia trauma jadi aku ingin membawanya kerumah sakit. Izinkanlah aku bawa dia ya Dante?”


“Semoga Dante mau mengikuti kemauanku. Tumben sulit sekali bicara dan membujuknya sekarang? Apa masalah yang dihadapinya terlalu berat ya makanya dia begitu?’ gumam hati Tatiana yang suda kehabisan ide untuk membujuk Dante.


“Jadi kau mencemaskan dia akan trauma dan sakit?”


“Iya Dante. Tolonglah izinkan aku membawanya keluar ya. Biarkan aku panggilkan dokter dan aku  akan menyuruh dokternya datang kerumah sakit tempat dimana para pelayan biasanya berobat.”


“Kalau memang kau ingin mengobatinya, tidak perlu jauh-jauh harus kerumah sakit! Aku akan menyuruh dokter keluarga untuk datang mengeceknya diruangan itu. Kau tidak perlu repot memikirkannya. Aku yang akan memikirkan semuanya.”


“Dante! Tapi…...”


“TATIANA!” Dante kembali membentak wanita itu.


“Ha! Dante kenapa kau membentaku?” ujar Tatiana hampir menangis.


“Aku sedang bekerja, apa kau tidak paham? Kalau kataku sedang bekerja maka jangan pernah menggangguku! Aku sudah memberimu solusi, apa yang akan aku lakukan pada Bella. Kenapa kau masih saja membantahku?”


“Dante kau tidak pernah kasar padaku tapi kenapa sekarang kau sekasar itu?”


“Karena kau sulit dikasi tahu Tatiana! Saat ini urusanku masih banyak dan jangan kau tambahkan lagi dengan masalah tidak penting begini. Urusan Bella itu adalah urusanku! Bukan urusanmu! Paham?”


“Baiklah Dante. Kalau memang begitu mau mu aku tidak akan mengganggu dan aku tidak akan menghubungimu lagi sebelum semua masalahmu selesai.”


“Bagus!” dante langsung mematikan teleponnya. Membuat Tatiana semakin heran dan bingung.


‘Wah, dia mematikan telepon duluan? Biasanya aku yang melakukan itu.’ Tatiana memegang dadanya dengan satu tangan dan matanya menatap layar telepon yang sudah mati. ‘Dia membentakku?’ Tatiana kembali mengerjapkan matanya tak percaya.


“Dante! Seumur-umur belum pernah sekalipun membentakku sekasar itu. Ada apa dengannya? Apa dia punya masalah sangat berat?” Tatiana mulai berpikir, lalu mendengus. “Aku rasa tidak mungkin aku bisa mengeluarkan Bella kalau begini ceritanya. Aneh! Kenapa ya rayuanku tidak mempan? Aku tak percaya ini. Apa yang membuat Dante berubah kasar dan begitu dingin?” tanya Tatiana pada dirinya karena dia tidak tahu apa alasan Dante memperlakukannya seperti itu.