
“Iya, habis makan dia langsung tidur. Dia tidak banyak merepotkan, dia justru banyak bercerita padaku tentang Bella.” Sarah bicara sambil menatap Alex, “Melihat Alex sepertinya aku melihat Bella! Bibir dan matanya sangat mirip seperti Bella!” ujar Sarah lalu menatap Dante.
“Kau akan membuatnya terbangun kalau kau bicara padaku dengan suara meninggi disampingnya.” ujar Dante menatap tajam pada Sarah.
“Ya kau benar juga.” jawab Sarah mengangguk, “Apalagi sekarang masih jam tiga pagi. Dia masih harus istirahat bukan?”
“Iya, kita bicara di balkon.” kata Dante. Dia berjalan menuju balkon dan membuka pintu lalu dia duduk dikursi yang ada disana sambil memandang ke langit sejenak.
“Ide bagus!” Sarah mengikuti perintah Dante dan turun dari tempat tidur dan mengikuti pria itu menuju balkon dimana Dante sudah duduk lebih dulu di kursi dan Sarah menutup pintu kamarnya.
“Duduklah!” perintah Dante menunjuk kursi kosong disebelahnya dengan dagunya.
“Iya, terimakasih.”
‘Dia benar-benar mirip Bella, senyumnya tidak jauh beda dengan Bella tapi dia lebih ceria daripada Bella!’ gumam Dante didalam hatinya ketika dia memperhatikan Sarah yang sudah duduk.
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Dante mulai memberi kesempatan pada Sarah.
“Alex! Dia mirip sekali dengan Bella!” Sarah tersenyum, “Tapi dia juga mirip denganmu. Alis dan hidungnya sangat mirip denganmu walaupun bibir dan matanya mirip Bella. Apakah Alex adalah anakmu dan Bella?” tanya Sarah sedikit menginterogasi.
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Dante memicingkan matanya.
“Hmmm….seperti kataku tadi! Fisiknya mirip Bella dan mirip denganmu! Campuran kalian berdua dan kemiripannya sangat kentara!” ada senyum diwajah Sarah. “Kalau memang benar Alex adalah anak kalian, apa kau mencintai kakakku Bella?” pertanyaan itu tak mampu dijawab oleh Dante, dia hanya mengatupkan bibirnya sambil menelan salivanya.
‘Dia bersama Alex baru beberapa jam saja sudah bisa menebaknya tapi Bella? Kau sudah bersama dengan Alex berhari-hari bahkan Alex sudah menunjukkan kalau dirinya sangat menyukaimu pun kau masih belum sadar juga kalau Alex itu anakmu!’ gumam Dante mencoba membandingkan dua kakak beradik.
“Benar yang aku katakan?” tanya Sarah lagi.
Dante hanya menganggukkan kepalanya. “Ya, Alex adalah anakku dan Bella! Cukup pandai kau bisa menebaknya?” puji Dante tulus membuat Sarah melemparkan senyum padanya.
“Apa kau mencintai kakakku?” tanya Sarah lagi yang merasa penasaran karena dia tidak pernah tahu kalau kakaknya menjalin hubungan dengan pria itu sampai punya anak.
Lagi-lagi Sarah memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab Dante sehingga pria itu hanya diam dan menatap Sarah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dante tak tahu harus mengatakan apa, bagaimana perasaannta karena saat ini dia merasa sedikit kecewa karena Bella meninggalkannya dengan pria lain. Tapi dia selalu teringat dan merindukan wanita itu.
“Hahahaha…..kau memang sama saja dengan Barack! Terlalu banyak menyimpan rahasia sama persis seperti Barack.” ujar Sarah lagi.
“Berikan kalung itu!” bukannya menjawab pertanyaan Sarah, Dante justru fokus pada kalung dileher Sarah sambil menengadahkan tangannya.
“Kau tidak sopan sekali meminta kalungku! Aku rasa kau cukup kaya untuk membeli kalung. Apa aku harus membayar dengan kalung ini supaya kau mencari Barack untukku? Aku ini kan harusnya jadi adik iparmu karena kakakku sudah punya anak denganmu! Masa segitu perhitungannya kau denganku?” Sarah mencibir.
“Berikan kalungnya padaku!” Dante tetap pada pendiriannya dan masih menengadahkan tangan pada Sarah dengan tatapan mata yang berubah jadi tak ramah.
“Tidak! Aku tidak mau memberikannya padamu!” Sarah menggelengkan kepalanya dan membuang tatapan jauh dari Dante dan berdiri ingin masuk kembali ke kamarnya.
Kalimat yang baru saja diucapkan Dante membuat Sarah mengurungkan niatnya dan justru membalikkan tubuhnya menatap Dante lekat-lekat.
“Bukankah jika aku sudah mengucapkan kalimat itu seharusnya kau menyerahkan kalung itu padaku?” ujar Dante.
“Harusnya sih, memang seperti itu peraturannya,’ ujar Sarah tapi dia masih enggan untuk memberikan kalung itu pada Dante.
“Cepat berikan padaku! Jangan membuang-buang waktuku lagi!” ujar Dante kembali menengadahkan tangannya pada Sarah.
“Baiklah!” sambil mengerucutkan bibirnya Sarah terpaksa melepaskan kalungnya dan memberian kalung itu pada Dante.
“Apakah kau akan memberikan kalung itu padaku lagi setelah kau melihatnya?” tanya Sarah masih menggenggam kalung belum memberikan pada Dante. Dia benar-benar tidak mau melepaskan kalung itu. Hanya kalung itu satu-satunya barang milik Barack yang ditinggalkan untuknya dan sangat berharga bagi Sarah.
Dengan kalung itu melingkar dilehernya, dia selalu merasa dekat dengan Barack yang entah dimana kini keberadaannya pun tak ada yang tahu.
“Berikan kalungnya padaku!” Dante meminta lagi tanpa menjawab pertanyaan Sarah.
“Tapi ini satu-satunya benda yang diberikan Barack untukku! Aku tidak mau kehilangan benda ini!” ujar Sarah masih enggan menuruti perintah Dante.
“Cepat berikan padaku!” tak peduli pada pertanyaan Sarah, Dante memaksa Sarah.
“Baiklah. Baiklah!” Sarah masih mengerucutkan bibirnya dan dengan berat hati dia mengulurkan tangannya yang masih menggenggam kalung itu.
“Tidak mungkin aku bisa mengambil kalungnya kalau kau masih menggenggam erat-erat begini!” Dante diuji kesabarannya menghadapi Sarah.
“Setelah urusanmu selesai dengan kalung ini, bisakah kau mengembalikannya padaku lagi?” tanya Sarah berusaha bernegosiasi.
“Tergantung bagaimana sekarang kau memberikannya atau tidak?” Dante memicingkan matanya.
“Baiklah. Aku akan membuka tanganku!”
“Jangan membuatku kehilangan kesabaran! Kau tidak akan menyukainya!”
‘Fuuh! Tidak kakaknya, tidak adiknyya sama-sama menyusahkanku saja!’ celetuk Dante dihatinya dengan tangannya mengambil kalung dari genggaman tangan Sarah.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Sarah mengerjapkan mata.
“Bukan urusanmu!” ucap Dante lalu membuka tempat liontin tengkorak dan senyum tipis muncul dibibirnya. Dia sudah memprediksi Barack akan melakukan ini.
‘Kau sengaja membuat ini menjadi dua bagian? Bagaimana caramu melakukan ini Barack?’ gumam Dante dihatinya lalu dia memencet lagi sinyal di jam tangannya. ‘Tidak bekerja! Tentu saja tidak bekerja dengan jarak sejauh itu mungkin koneksi antara kalung ini dengan chip yang ada ditubuhmu tidak bisa saling terhubungkan. Kau menyusahkanku saja Barack! Begitu pedulinya kau pada wanita ini sehingga kau melakukan perbuatan konyol ini? Kau tahu tujuanku mengikuti saranmu memasang chip itu untuk apa? Untuk melindungi kita semua!’ Dante menghela napasnya.
‘Apa kau tidak berpikir kesana? Aku tidak tahu apa alasanmu memberikanku kata-kata konyol itu dulu! Ternyata ini rencanamu! Hah! Padahal dulu kau sendiri yang mengucapkan kata-kata konyol itu sebelum kau mengenal gadis ini, Aku pikir ada apa dengan kalungmu itu! Kau gila Barack! Untung saja aku ingat dengan kalung ini dan dia tidak pernah melepaskan dari lehermu tapi tiba-tiba ada dileher Sarah,’ gemas sekali Dante pada Barack saat ini.