
“Baiklah.” jawab Sarah mengangguk segera menatap Alex lalu menggandeng tangan anak itu.
“Aku akan panggilkan Bella dulu. Kau sarapan lalu bermainlah dulu dengan Sarah. Nanti kalau Bella sudah siap, aku akan mengantarkannya padamu.” ucap Dante lagi.
‘Aduh….pekerjaanku sangat penting tapi aku harus mengurus hal sepele ini, tidak mungkin aku menyuruh Henry untuk membangunkan Bella di bunker karena itu area pribadiku.’ gumam Dante dan dia sudah berdiri hendak pergi ke bunker.
“Iya daddy! Ayo Sarah, kita makan dulu nanti daddy akan panggil Bella.” Alex berlari sambil menggandeng tangan Sarah.
“Ayo Sarah! Cepat-cepat! Kalau aku terlambat makan nanti Bella-ku juga lambat datangnya.”
“Aduh…..kamu itu ya, kecil-kecil cerewet sekali! Untung saja kamu tampan!” gemas Sarah lalu mengikuti Alex menuju ruang makan. Sarah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alex yang menggemaskan.
Sedangkan Dante menuruni tangga lalu menuju ke ruang penghubung mansion ke bunker. Dia berjalan dengan cepat saat sudah keluar dari lift lalu masuk kedalam kamar.
“Bella bangunlah!” dia mengelus lengan wanita itu.
“Dante!” Bella mengerjapkan matanya sambil tersenyum cerah. “Aku lelah sekali. Ssshhhhh badanku sakit semua. Biarkan aku tidur lebih lama lagi.” Bella menolak untuk bangun.
“Kau harus bangun! Ini sudah siang! Alex sudah menunggumu, dia mau bermain denganmu.”
Bella mengangguk dan berusaha untuk bangun karena mendengar anaknya menunggunya tapi saat dia akan bangun dari ranjang.
Uweeeekkkk!
Dengan cepat dia menutup mulutnya untuk menahan semua rasa mual dari perutnya.
“Kau mual?” tanya Dante agak panik dan langsung mengangkat tubuh Bella menuju ke kamar mandi.
“Dante, perutku tidak enak sekali rasanya. Ahhhhh melilit, apa aku akan keguguran?”
“Haahhh? Apa kau bilang?” wajah Dante memucat seketika mendengar ucapan wanita itu.
“Uuuuhhhh perutku sakit sekali! Aduh!” Bella memegangi perutnya yang terasa melilit.
“Tunggu sebentar, aku akan panggil dokter.”
“Tidak usah Dante! Memang sering begini tapi sakitnya akan berangsur berkurang sendiri.” ucap Bella karena perlahan rasa mual dan sakit perutnya mulai berkurang.
“Kau yakin kau tidak apa-apa? Ehm...anakku juga tidak apa-apa?” tanya Dante khawatir.
“Iya. Aku sudah bisa mengontrol diriku. Mungkin hanya karena lapr atau lelah atau aku juga tidak tahu kenapa bisa begini, Dante.” Bella sudah bisa menahan rasa sakitnya tapi tubuhnya lemas dan dia menyandarkan tubuhnya pada Dante.
“Kau ingin muntah lagi?” tanya Dante lagi.
Bella menggelengkan kepalanya, “Sepertinya muntahku tadi karena aku tidak makan. Tadi terasa pahit sekali tenggorokanku tapi sekarang aku baik-baik saja.” ucapnya mengatakan yang sejujurnya.
‘Fuuuhhhh! Disaat aku harus mengerjakan pekerjaanku yang bertumpuk. Aku malah diberatkan dengan urusan pribadiku! Aku tidak mungkin bisa meninggalkannya dengan kondisi begini.’ ujar Dante yang mengkhawatirkan kondisi Bella.
“Kau mau ke kamarku sekarang? Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu. Kau bisa beristirahat disana.”
“Aku hanya ingin tidur Dante! Aku merasa lelah sekali.” Bella menggelengkan kepalanya. Kondisinya saat ini memang kelelahan karena pertempuran mereka tadi malam yang berjam-jam lamanya sedangkan dia sedang hamil muda. Dante kini merasa sangat bersalah karena dia yang membuat wanitanya jadi seperti itu.
“Aku pastikan hal seperti ini tidak akan terulang lagi padamu. Aku tidak akan melakukan seperti yang tadi malam lagi. Kita akan melakukannya dengan aman dan tidak dalam waktu yang lama.”
“Eh…..jangan bilang begitu Dante.” Bella mencembungkan pipinya, “Aku suka yang tadi malam. Kau menarik sekali. Aku mau melakukan yang seperti itu lagi.”
“Ayo kubantu kau membersihkan tubuhmu.”
“Aku tidak mau, aku masih mual dan dingin. Aku tidak mau kena air.” pinta Bella merajuk.
“Bella, bisakah kau tidak membuang waktuku? Aku punya banyak pekerjaan sekarang.”
“Aku tahu kau banyak pekerjaan Dante. Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Baiklah. Aku mau bertemu anakku. Bisa kau bawa aku menemuinya?”
Dante mencarikan pakaian untuknya lalu mengganti pakaiaan Bella. ‘Wajahnya pucat sekali. Dia terlihat kelelahan. Aduh….aku keterlaluan tadi malam ya?’ ujar Dante menggendong Bella membawanya meninggalkan kamar itu.
“Dante kau tidak perlu memanjakan aku seperti ini. Kalau begini terus, aku akan semakin bergantung padamu! Nanti kau malah kesulitan untuk bekerja!”
“Jangan banyak bicara!” ucap Dante tersenyum. “Setelah kau makan dan selesai bermain dengan Alex, jangan lama-lama berada diluar. Kembalilah kekamar dan temani Alex tidur sekalian kau juga beristirahat. Tidurlah dikamar Alex dulu karena kamar kita belum selesai di renovasi. Aku akan menemuimu setelah aku selesai dengan pekerjaanku.” ujar Dante keluar dari lift dan membuka pintu penghubung.
“Iya. Bisakah kau menurunkan aku? Ini kan sudah berada dirumah bukan di bunker lagi.”
“Hati-hati melangkah, Bella.”
“Iya. Terima kasih Dante.”
Pria itu melirik jam tangannya sambil menghela napas panjang, ‘Untuk membujuknya saja menghabiskan waktu hampir setengah jam. Untunglah dia akhirnya mengerti situasinya.’
“Bella!” teriak Alex saat dia melihat wanita itu menghampirinya. Dia baru saja menyelesaikan sarapan paginya lalu segera turun dari kursi dan memeluk Bella.
“Alex, tolong kau jaga Bella dengan baik ya.”
“Iya daddy! Ayo Bella kita main bola.” ajak Alex bersemangat.
“Alex! Tidak boleh main bola! Tidak boleh mengajak Bella melakukan itu.” Dante dengan tegas melarang dan menatap anaknya dengan serius.
“Hah? Kenapa tidak boleh main bola daddy?”
“Alex, dengarkan daddy baik-baik ya. Sebentar lagi kau akan memiliki bayi kecil.” ucap Dante.
“Bayi kecil?”Alex mengerjapkan matanya dan mengangguk.
“Bukankah kau selalu memintaku untuk memberikanmu bayi kecil supaya kau bisa memiliki adik?”
Alex kembali mengangguk lalu menatap Bella, “Jadi Bella akan punya bayi kecil?”
“Hmmmm...” Dante mengangguk.
“Alex, bayi itu masih ada didalam perut Bella, masih ada disini.” Dante menggerakkan tangan anaknya menyentuh bagian perut Bella.
“Benarkah disana ada bayi kecil?”
“Alex, aku nanti bisa melihat bayi kecil itu. Sama sepertimu dulu juga bayi kecil didalam sini.”
“Daddy! Jadi aku tidak boleh main bola karena bayi kecilnya belum keluar ya?”
“Kau boleh bermain tapi bermainlah dengan Sarah, tidak dengan Bella. Kau paham?”
“Bermain bola dengan Sarah tapi aku bisa main di kamarku dengan Bella kan?” tanya Alex balik.
“Selama permainannya tidak berbahaya dan tidak membuat bayi kecil sakit. Kau paham?”
“Baiklah, daddy! Aku paham. Aku akan menjaga bayi kecil supaya tidak sakit didalam.” jawab Alex.
“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya. Ingat! Jaga Bella baik-baik.”
“Oke daddy” Alex melambaikan tangannya pada ayahnya yang sudah melangkah pergi.
Dreettt dreeetttt dreeettttt
‘Ah akhirnya benda ini bergetar juga. Aku sudah menunggu lama sekali Barack menghubungiku.’ bisik hati Dante langsung menjawab panggilan masuk itu.