
Udara sore itu cukup dingin! Apalagi suasana rumah Dante yang hancur lebur dan langit mendung membuat suasana terlihat mencekam. Para anak buahnya tampak akan memulai membersihkan reruntuhkan itu. “Panggil lebih banyak orang untuk membersihkan rumah ini.” ujar Henry pada pelayan. “Gunakan alat atau mesin apapun supaya cepat.
“Baik!” jawab pelayan itu.
Bau disana sangat busuk karena banyak sekali orang yang mati di mansion itu. Banyak pelayan Dante yang juga mati karena ulah dokter yang menjadikan mereka android. Bau busuk bangkai sangat menyengat di udara sore itu.
Untungnya para pekerja bisa bertahan dan tidak muntah-muntah. Semuanya mengenakan masker khusus agar tidak bisa mencium bau busuk yang semakin menyengat.
Tak berapa lama beberapa alat berat mulai datang dan memindahkan reruntuhan bangunan yang hancur lebur itu. Secepat mungkin mereka harus membersihkan reruntuhan mansion Dante sebelum ada polisi atau pemerintah setempat yang datang dan melihat. Jika itu terjadi maka pihak berwajib pasti akan memulai penyelidikan. Dante tidak menginginkan itu.
(Sementara itu diruangan tempat menunggu Bella dan yang lainnya)
“Apa yang mereka lakukan ya?” Sarah bicara sambil berjalan mondar mandir. Wajahnya terlihat pucat, rambutnya berantakan karena dari tadi Sarah juga tidak sabaran dan dia sudah mengacak-acak rambutnya berkali-kali. Kecemasan terlihat jelas diwajahnya dan sejak tadi dia bicara dengan suara lirih yang sangat mengganggu di ruangan itu.
“Sarah! Tidak bisakah kau duduk diam?” pekik Bella. Dia sudah tidak sabar melihat adiknya seperti itu. Kecemasan Sarah itu membuat Bella juga ikutan cemas dan khawatir dengan sesuatu yang mungkin saja menimpa Dante. “Sarah! Aku pusing melihatmu mondar mandir dari tadi.” ujarnya lagi.
“Sulit Bella! Aku panik Bella! Aduh….aku bingung bagaimana aku menjelaskan ini.” jawab Sarah.
“Hatiku semakin tidak tenang sekarang! Ini sudah lebih dari dua puluh empat jam. Tapi mereka masih belum kembali. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi ini. Aku khawatir dan aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Barack.” ujar Sarah yang terlihat sangat cemas. Pikirannya terus tertuju pada Barack, dia bicara dengan suara serak dan matanya yang berair.
‘Kapan kau akan kembali Barack? Apa kau baik-baik saja disana? Kenapa tidak memberiku kabar sama sekali? Ini sudah lama sekali kami menunggu disini. Apa kau tidak akan kembali kesini? Oh ya Tuhan…..tolong lindungi Barack-ku! Aku tidak bisa hidup tanpanya.’ gumam hati Sarah. Sarah mengkhawatirkan kondisi Barack yang mungkin terluka atau berada dalam kesulitan.
Sarah melihat sendiri waktu itu bagaimana para android itu menyerang. Dia benar-benar khawatir hingga tangannya berpeluh. Dia mengusap kedua tangannya untuk menenangkan diri. Dia bahkan mengelus jam tangan yang dipakainya dan matanya memandang penuh harap.
“Sarah, kenapa kau memegang jam tangan itu seperti itu? Jangan lupa itu adalah jam milik suamiku.”
Perilaku Sarah ini membuat Bella kesal. ‘Apa-apaan sih dia begitu? Itu kan jam tangan Dante dan disana juga ada keringat Dante! Dante tidak pernah melepaskan jam tangan itu sebelumnya. Aku tidak bisa memakai jam tangan itu karena aku sedang hamil makanya Sarah yang memakainya, tapi kenapa dia mengelus-elus jam tangan itu sejak tadi? Ck!’ Bella merasa cemburu.
Sebenarnya dia tidak bisa terima jika sesuatu milik Dante dipegang wanita lain meskipun itu adiknya sendiri. Dan keributan mereka berdua ini sebenarnya cukup mengganggu penghuni lain diruangan itu. Namun mereka berusaha bersabar mendengarkannya.
“Kau jangan salah sangka Bella! Aku mengelus jam tangan bukan karena aku rindu suamimu.”
Sarah memprotes kakaknya, “Cih! Tidak ada dalam kamusku melihat suamimu itu meskipun dia tampan dan keren! Dia sudah tua, aku tidak suka yang tua. Aku tidak tahan memikirkan Barack! Mungkin dia akan keluar dari jam tangan ini seperti dia keluar dari kalungku waktu itu. Jam tangan ini reseptor juga kan?” ucapan Sarah ini membuat Omero pun tersenyum.
‘Apa Dante tidak menjelaskan pada mereka kalau itu hanya bisa dilakukan satu kali saja? Atau mereka semua akan mati kalau melakukannya lagi?’ ucap hati Omero namun dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya memperhatikan kakak adik itu ribut.
“Iya aku juga setuju karena Barackmu itu tidak akan apa-apa tapi aku justru khawatir pada Dante!” ucap Bella dengan wajah yang terlihat murung dan kata-kata Bella itu membuat Omero mengangguk.
‘Dante akan melakukan apapun untuk melindungi teman-temannya. Aku melihat bagaimana pikirannya. Dia juga melakukan apapun demi keluaragnya. Dia tidak peduli jika nyawanya melayang karena itu. Oh Tuhan lindungilah suamiku! Maafkan aku karena tidak pernah berdoa padamu tapi saat ini aku membutuhkan pertolonganMu untuk membawa kembali suamiku dalam keadaan selamat.’ doa Bella.
“Iya kau benar. Aku juga mengkhawatirkan Dante. Apa yang terjadi padanya? Aku takut sekali terjadi sesuatu padanya.” ucap Omero menimpali. Dante berani sekali dan dia akan melakukan apapun untuk melindungi timnya.
Omero paham betul hal ini, dia sangat cemas jika Dante sudah berada diluar. ‘Tapi aku yakin kalau terjadi sesuatu pada Dante maka kami akan diminta membukakan pintu kan?’
“Kalian semua tenang saja, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Anna menimpali. Dia duduk disamping Noel dan berusaha menenangkan mereka semua.
“Bagaimana bisa kau bilang akan baik-baik saja?” Sarah menengok pada Anna. “Kalau baik-baik saja kenapa mereka tidak menelepon sampai sekarang? Memangnya susah menghubungi telepon?”
“Ini aku juga memegang telepon yang masih terhubung ke internet dan tidak ada masalah sinyal dari tadi. Kenapa mereka tidak bisa menghubungiku? Setidaknya mereka bisa mengabari kalau mereka baik-baik saja dan akan pulang supaya bisa menenangkan.” protes Sarah kepada Anna dengan menyerocos membuat Anna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
‘Memangnya dia pikir ornag pergi ke kantor ya? Sudah mau pulang kerumah bisa mengirimkan pesan dulu lalu nanti orang dirumah menyiapkan makanan gitu? Mereka itu sedang pergi berperang tidak mungkin menghubungi. Bagaimana jika setelah menghubungi ternyata mereka ada masalah? Bukankah ini membuat orang semakin khawatir? Sudahlah, aku tidak tahu bagaimana caranya berpikir.’ keluh Anna didalam hatinya.
“Karena mereka bukan orang bodoh!” Anna menjawab singkat tak mau mencari masalah.
“Iya aku tahu mereka bukan orang bodoh. Tapi kita tidak tahu bagaimana diluar sana. Kau tahu sendiri bagaimana androidnya bukan? Mereka itu tidak bisa mati.” pekik Sarah semakin kesal.
“Iya. Tapi mereka datang kesana pasti sudah punya rencana. Aku yakin sekali mereka tidak melakukan aksi bunuh diri. Mereka sudah berpikir matang-matang untuk melawan android itu.” balas Anna.
“Apa kau yakin?” Bella langsung memotong ucapan Anna.
“Iya aku sangat yakin. Kau tahu suamimu itu orang yang hebat Bella! Dan dia juga memiliki alat yang hebat. Teman suamimu yang bernama Barack juga seorang peneliti hebat, ditambah lagi ada Anthony disana yang cukup menenangkan dan dia bisa meredakan emosi mereka semua. Disana juga ada Manuel yang mengenal sekali lingkungan musuh. Karena dia anggota FBI dan dia sudah lama menyamar.”
‘Aku tahu bagaimana perasaan kalian! Karena aku juga merasakan yang sama tentang Anthony. Aku takut sekali jika terjadi sesuatu padanya. Tapi aku berusaha positif thinking karena aku sudah melihat sendiri bagaimana mereka bekerja.’ bisik hati Anna. Diantara para wanita itu hanya Anna yang menggunakan pikirannya karena dia juga orang militer.
“Mudah sekali kau bicara begitu.” Sarah memasang wajah cemberut.
“Ya mudah! Karena aku tahu bagaimana mereka. Lihatlah kita semua masih hidup itu karena mereka menggunakan pikirannya. Jadi kita harus percaya pada mereka, mereka pasti baik-baik saja.” Anna memberikan penegasan lagi pada Sarah.