
“Tapi sampai kapan Dante?”
“Sampai aku bicara dengan Omero! Setelah itu aku akan menghubungimu lagi. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya dan kapan Omero bisa membantuku untuk bicara dengan keluarga White.”
“Baiklah.”
“Eddie! Bagaimana dengan semua persenjataan kita?”
“Semuanya aman terkendali Dante! Tapi aku akan memeriksanya lebih detail lagi karena aku tidak tahu siapa yang masuk kedalam gudang persenjataan kita.”
“Jangan masuk Eddie!”
“Lalu bagaimana aku mengeceknya kalau tidak masuk kesana?”
“Gunakan robot.”
“Maksudmu Dante?”
“Kita berlima punya robot kan? Dan itu sama persis seperti manusia. Aku ingin kau menggunakan robotku! Buat kita berdua berjalan masuk kedalam ruangan itu. Aku mau tahu apa yang terjadi setelahnya tapi jangan pernah mendekatinya. Biarkan saja dulu disana dan selama satu tahun kedepan jangan pernah kau masuk lagi kedalam gudang di San Marino!”
“Kita berlima? Eh, maksudku kita berempat?”
“Kau benar Eddie. Kita berempat, aku tidak tahu ada apa disana tapi aku punya perasaan buruk! Selama Barack belum kembali pada kita, kau tunggulah dulu karena aku yakin sekali ini semua tidak akan berlangsung lama. Barack cukup pintar dan dia tidak mudah percaya pada orang lain.”
“Terbukti dari semua barang yang diambil di gudang itu.” ucap Dante lagi menambahkan.
“Maksudmu dante?”
“Bukankah foto kita berlima hilang didalam gudang?”
“Ya, menurut informasi dari Nick memang foto yang ada di pintu bunker itu hilang.”
“Itu tandanya dia mulai curiga. Biarkan saja dulu.”
“Apa kau yakin tidak salah duga lagi sekarang Dante?”
“Kita tidak akan pernah tahu! Dan katakan padaku dimana dia menembakkan pelurunya pada tubuh Nick?” tanya Dante lagi. Dante pun semakin merasa tenang setelah mendengar penjelasan Eddie.
“Kenapa Dante?”
“Barack melakukan itu karena Nick memakai rompi anti peluru bukan?”
“Ya kau benar! Nick memang menggunakan rompi anti peluru didalam jaketnya.”
“Karena itu aku yakin sekali dia sedang menyelidiki! Karena kalau memang dia ingin menyerang Nick maka dia tidak akan menembak kakinya!”
“Hah? Maksudmu?”
“Sudahlah! Nanti saja kujelaskan kalau kita bertemu. Kau datanglah sekarang langsung ke mansionku bersama dengan Nick. Aku harus segera menghubungi Omero karena ada masalah yang lebih penting soal Tuan White! Aku tak bisa biarkan Jeff membuat skenario kita yang sengaja membuat masalah dengan pihak mereka.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Dante? Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Bella yang membuat pria itu menoleh menatapnya.
“Kemarilah Bella!” Dante memposisikan tubuhnya duduk dan menarik Bella mendekat, “Kita sedang landing! Sebaiknya kau dudukdiam disini disampingku.” ucap Dante yang merangkul Bella dan membiarkannya bersandar didadanya yang masih polos atasnya dan kemeja yang dikenakan Bella juga belum dikancing.
“Kau tampan sekali Dante!”
Cup! Bella mengecup bibir Dante.
“Jangan menggodaku, ingat?”
“Oke.”
“Jangan berisik ya? Aku mau menelepon dulu.” Dante mengingatkan Bella sambil mengelus rambut Bella. Wanita itu merasa hangat dan tenang hatinya sehingga dia terlihat seperti anak anjing yang penurut, melakukan apa yang diperintahkan Dante.
“Ssshhhh! Bella jangan lakukan itu.”
“Ehm….tidak bolehkah?” tanya Bella sambil mendongak menatap Dante.
“Fuuuhh! Aku mau menelepon, aku juga sudah memberitahumu kalau kita akan mendarat. Kenapa kau malah membuka retsleting celanaku?”
Sreeettttt
“Maafkan aku Dante!” ucap bella sambil menarik kembali retsleting celana Dante walaupun wajahnya ditekuk dan cemberut,
“Dengar! Nanti aku akan memberikan padamu. Tapi biarkan aku menelepon dulu ya? Nanti saja setelah sampai dirumah, oke?”
“Benarkah?” binar matanya kembali bersinar cerah.
“Hemmm...” Dante mengangguk tanpa senyum. Dia tidak bicara banyak karena nomor yang dihubungi sudah mengeluarkan suara dering.
“Halo?”
“Siapa aku? Kenapa bukan Omero yang mengangkat teleponnya?” pertanyaan langsung dilemparkan Dante saat dia mendengar suara diujung sana bukan suara orang yang diinginkannya.
“Saya adalah perawat. Saya menunggu pasien ini dan handphonenya ada pada saya. Apakah anda mengenal pasien?”
“Perawat? Dimana Omero? Apa yang terjadi padanya?” Dante mencecar perawat itu dengan pertanyaan. Dia merasa panik mendengar kalau Omero berada dirumah sakit tapi Dante berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Tuan Omero saat ini berada dirumah sakit dan kondisinya masih didalam ruangan ICU, Tuan!”
“Apa kau bilang? Ruang ICU?” Dante langsung menegang, tadi dia duduk bersandar sambil mernagkul Bella, kini dia duduk tegak lagi dan melepaskan tangannya dari Bella.
“Iya Tuan!”
“Katakan padaku apa yang terjadi pada Omero?”
“Mobil yang dikendarai oleh Tuan Omero terjatuh. Mobil itu mengalami kecelakaan Tuan! Saat ini Tuan Omero mengalami masalah serius makanya dia ditempatkan diruang ICU. Tapi berdasarkan observasi lima belas menit yang lalu, kondisinya sudah mulai stabil sekarang. Tapi kami agak kebingungan untuk menghubungi keluarganya karena yang ada disini bersamanya adalah putrinya dan dia juga mengalami kecelakaan.”
“Apa? Kecelakaan dimana? Berikan aku alamat rumah sakitnya sekarang, aku akan kesana setelah aku landing.”
“Baik, Tuan!”
Dante menggenggam handphonenya erat-erat dan tampak kemarahan diwajahnya ketika mendengar ucapan perawat yang meneleponnya dan melihat alamat yang dikirim ke handphonenya.
“Dante?” suara lirih Bella membuat Dante menoleh pada wanita itu.
“Bella, aku ada urusan yang sangat penting sekali. Orang yang ingin aku temui mengalami kecelakaan.” ucapnya sambil memegang wajah Bella dan menatapnya penuh kasih sayang.
“Apa dia baik-baik saja Dante?”
Dante menggelengkan kepala, “Aku tidak tah dan aku akan melihat dulu kondisinya. Kau tinggallah di mansion dan selama aku pergi kau jangan keluar kemanapun! Minta semua keperluanmu pada Henry! Jangan percaya pada siapapun. Apa kau paham?” Dante bertanya sambil mengambil kemejanya dan memakainya. Setelah itu dia mengancing kemeja Bella.
“Dante? Kenapa kau serius sekali?”
“Karena ini sesuatu yang penting!” ucapnya bicara tanpa memandang Bella. Dia fokus pada kancing baju wanita itu. “Hmm…..berdirilah. Aku mau lihat sepanjang apa kemeja ini.” ucapnya membantu Bella berdiri.
“Bagus! Bagian yang harus tersembunyi ditubuhmu tidak terlihat! Kau tidak memakai dalaman jadi aku harus memastikan dulu sebelum aku menggendongmu!”
Dante berusaha menggendong Bella dan melihatnya di cermin meja rias. “Ini juga bagus! Dalamanmu tidak terlihat! Tapi aku akan tetap menutupnya dengan jaketku.”
“Hmm...Dante! Kau akan meninggalkanku? Kau tidak mengajakku?” Bella mengulang pertanyaanya ketika Dante selesai bicara.
“Kau mau ikut denganku?”
“Apa boleh?” Bella menganggukkan kepalanya sebelum kembali bertanya.
Dante berpikir sejenak, “Tidak boleh! Aku tidak mengijinkanmu untuk ikut bukan karena aku tidak ingin kau tahu kegiatanku tapi kalau kau ikut maka rencanaku akan berantakan dengan Anthony!” tegas Dante menatap Bella.
“Memangnya kau merencanakan apa dengan Anthony?”
“Kau tidak perlu tahu. Sekarang kita turun ya, kau harus istirahat dan kau mau makan kan? Ingat kau harus menjaga anakku dengan baik.”
“Aku mau!” ucapnya mengangguk dan tersenyum manis dengan penuh harap bahwa makanan yang akan dimakannya adalah masakan Dante.
“Aku akan memasak untukmu. Tapi sekarang kita turun dulu dan kembali ke kamar.”
‘Hufff! Maafkan aku Bella, yang kau makan nanti adalah masakan Norman! Aku tidak ada waktu untuk memasakkan untukmu! Tapi saat semua masalah ini selesai aku akan membayar hutangku dengan memasak untukmu.’ bisik hatinya.