
“Kau sudah punya pengasuh kenapa tidak makan bersama pengasuhmu? Mintalah dia menyuapimu, aku harus turun kebawah. Tidak apa-apa kan Alex?” bujuk Dante.
“Iya daddy!” akhirnya Alex menjawab sambil mengangguk kepala lalu menengok pada Bella.
“Bella, apa kau mau menyuapiku?” tanya Alex.
“Oh kau mau aku menyuapimu Tuan Muda Alex?” tanya Bella sambil tersenyum manis.
‘Bagus sekali kau ya! Kau bisa tersenyum manis pada putraku tapi sangat dingin dan masam muka padaku.’ ucap Dante didalam hatinya.
“Kata daddy, aku harus disuapi pengasuhku.” ucap Alex.
“Baiklah. Aku akan menyuapimu.”
“Saat aku kembali aku ingin makanan ini sudah habis ya Alex.” Dante menegaskan.
“Iya daddy. Akan aku habiskan.” Alex membuka mulutnya menerima suapan Bella.
‘Anak ini benar-benar kelaparan, sekarang makanannya sudah habis setengah dan dia masih mengunyah makanan. Bagaimana kalau itu tidak cukup untuk mereka berdua?’ gumam hati Dante yang menjadi cemas, rencananya tidak sesuai dengan kenyataan sekarang.
“Suapi anakku.”
Tapi Bella tidak mau menjawab, dia hanya berpindah duduk didepan Alex setelah dante berdiri dan menyuapi anak itu tanpa mempedulikan Dante.
“Kenapa kau mengacuhkanku?” akhirnya Dante sudah tidak tahan lagi. “Kenapa kau tidak bicara padaku?” suaranya terdengar tidak senang.
“Haruskah aku bicara? Memangnya apa yang harus aku bicarakan denganmu?” tanya Bella sambil menyuapi Alex tanpa menatap Dante. Pandangannya lurus pada Alex dan sam sekali tidak tergoda untuk melirik Dante atau tersenyum.
‘Aku tidak suka ini! Kenapa dia tidak mengobati bibirnya? Masih ada luka memar.’ bisik hati dante yang sangat kecewa dengan perilaku Bella. ‘Apa dia mau aku yang mengobati lukanya? Cuih! Sikapnya saja begini padaku, aku jadi malas mengurusnya. Seharusnya kan dia menggodaku seperti biasanya? Aku tidak suka sikap cueknya begini!’ resah hati Dante yang semakin memanas karena dia merindukan Bella dan sikap manja polosnya.
“Kenapa kau jadi begini? Kau tidak suka aku memintamu mengurus Alex dan menyuapinya?” Dante membuat pertanyaan sangat bodoh karena dia ingin Bella bicara padanya.
“Apa kau tidak lihat tanganku sedang apa?” ujar Bella mendengus.
‘Aduh Alex! Kenapa kau makan cepat sekali? Potongan dagingnya semakin sedikit dan mau habis sedangkan Bella belum memakannya! Padahal aku sudah menyiapkan itu untuk Bella juga karena dia belum makan, tadi aku memarahi dan menamparnya.’ bisik hati Dante semakin tak nyaman dengan perbuatannya. Maksud hati ingin meminta maaf melalui makanan tapi makanannya malah dihabiskan oleh Alex. Sedangkan Bella semakin bersikap dingin padanya.
“Kau makan banyak sekali Alex! Aku suka melihatnya, kau harus menghabiskannya ya.” Bella memberi semangat pada Alex.
“Daddy! Aku habiskan, sayurnya juga.” seru Alex bersemangat.
“Bagus! Setelah kau makan banyak, harus tidur.”
“Iya daddy!” jawab Alex terus menyantap makanannya.
“Pelan-pelan makannya.” seru Dante. Kalimat yang tak berguna dan seharusnya tidak perlu diucapkan saddoleh dante. Dia tipikal orang yang sedikit bicara dan banyak bertindak tapi sekarang malah sebaliknya.
Dia malah banyak bicara tanpa melakukan apapun untuk membuat Bella mau bicara padanya, dia hanya memandangi Bella dengan mata tak berkedip.
‘Ini orang kenapa masih disini sih? Bukannya tadi mau turun ya. Kalau memang dia niatnya hanya berkomentar lebih baik tadi dia saja yang menyuapi anaknya.’ gumam Bella meringis. ‘Ah sudahlah! Manusia tak punya hati nurani ini! Peduli amat dengannya, dia memang orang aneh, aku malas memikirkan dan meladeninya.’
“Daddy, mau pergi ya?” tanya Alex.
“Iya, aku mau turun dulu. Dibawah ada Lorenzo guru pianomu. Apa kau tidak mau main piano dulu dengannya? Kau mau langsung tidur Alex?”
“Main piano?” Alex mendongak seraya berpikir menatap Dante.
“Iya, kau mau main piano sekarang?”
“Kau mau main piano atau tidak?” tanya Dante ulang.
“Bella?” Alex tidak menjawab pertanyaan ayahnya justru dia melihat kearah Bella.
“Kenapa Alex? Makanlah ini suapan terakhirmu.” jawab Bella sambil menyodorkan potongan daging terakhir pada Alex.
‘Aduh! Anak ini makan banyak sekali, empat ratus gram dia habiskan sendiri! Gagal rencanaku, umur baru empat tahun tapi sudah menghabiskan makanan sebanyak itu, wah! Apa nanti Bella tambah marah padaku gara-gara dia tidak makan masakanku?’ kepala Dante mulai pusing lagi.
“Terimakasih Bella.” ucap Alex tersenyum manis.
“Sama-sama Alexku sayang.” Bella berdiri lalu meletakkan meja makan Alex didekat pintu lalu meraih sebuah tisu untuk membersihkan sisa-sisa makanan dimulut Alex. Dia lalu menyodorkan segelas air minum pada anak itu.
“Sekarang kau sudah kenyang? Apa kau mau ganti bajumu dengan piyama?” tanya Bella tersenyum.
‘Dasar kau Bella! Kau benar-benar keterlaluan tidak mau melihatku, tidak berusaha menggodaku!’ Dante menggerutu didalam hatinya karena merasa kesal dengan sikap Bella yang acuh.
“Iya Bella. Aku mau pakai piyama saja. Tadi aku pakai pampers lagi.”
“Ya tidak apa-apa. Aku akan mengambilkan pampers baru untukmu.”
“Tidak mau! Aku mau celana saja Bella!” pinta Alex meninggikan suaranya.
“Sejak kapan kau pakai ****** ***** Alex?” tanya Dante yang heran setelah mendengar ucapan Alex.
“Aku sudah besar daddy! Kata Bella kalau sudah besar harus pakai celana.” jawab Alex bangga.
“Kau bilang begitu padanya?” Dante melirik Bella.
“Iya memang aku bilang begitu. Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Bella tanpa memandang kearah Dante, dia masih tetap tersenyum pada Alex.
“Tatap aku kalau kau sedang bicara! Kau tidak sopan ya sekarang.” Teriak Dante kesal.
“Oh harus melihatmu begini?” Bella menoleh dan menatap Dante sambil mengedipkan matanya.
‘Aihhhh aku mau marah tapi melihat tatapan matanya begitu, kenapa aku tidak bisa memarahinya?’ gumam hati Dante.
“Ada apa denganmu?” tanya Dante kesal.
“Aku? Aku baik-baik saja, memangnya aku harus tidak baik-baik gitu?”
“Jangan uji kesabaranku Bella!” Dante mendengus semakin kesal.
“Memangnya kapan kau sabar? Kalau kau tidak sabar, kau bisa lakukan apapun yang kau mau, iyakan?” balas Bella sengit sambil menatap Dante tajam.
“Bella! Aku mau baju tidur.” ucapan Dante menghentikan pertengkaran dua orang itu.
‘Hufff untung saja Alex meminta tukar baju, kalau tidak aku mungkin sudah menangis.’ gumamnya. ‘Sakit sekali hatiku dengan tamparannya dan semua tuduhannya padaku tentang istrinya. Aku tidak terima! Memangnya apa sih hebatnya istrinya itu?’ ujar Bella dalam hati mencoba bersabar.
Dia mengambil satu pakaian tidur dan langsung menghampiri Alex. “Ayo aku bantu memandikanmu. Kalau kau ingin pakai ****** ***** berarti kau harus membuka pampersmu dulu lalu membersihkan tubuhmu supaya tidak bau pesing.”
“Iya, aku mau Bella.” jawab Alex cepat dan penuh semangat.
“Huff kau berat sekali Alex. Kau sudah makan banyak jadi kau semakin berat.” ujar Bella menggendong Alex menuju kamar mandi dan membiarkan Dante sendirian didekat tempat tidur Alex.