PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 47. PELUKAN HANGAT


Dante menepuk jidatnya tak habis pikir melihat tingkah laku Bella. ‘Jadi begini ini sikap aslimu? Tapi kenapa dulu kau tidak pernah meminta padaku seperti ini? Kau selalu saja ketakutan setiap kali aku masuk ke dalam kamar itu. Kau selalu memohon padaku hal yang sama agar aku tidak menyentuhmu. Kau selalu memohon agar aku tidak tidur denganmu, jangan menyentuhmu dan menjauh darimu. Kau selalu meminta kebebasan dariku dan itu yang selalu kau inginkan tapi kenapa sekarang kau menginginkan aku?’ tanya Dante dalam hatinya.


Dia tidak mengerti bagaimana menghadapi bella. ‘Kau seperti anak kecil yang polos, sangat polos! Bagaimana bisa kau masuk kedalam dunia hitam itu? Tidakkah kau tahu betapa sakitnya hatiku saat melihatmu disana?’ Hati Dante bak disayat-sayat membayangkan bagaimana para pria menjamah tubuhnya hingga tanpa dia sadari dia menggenggam pinggangnya sendiri dengan kuat sehingga kukunya menancap dan menyakiti dirinya sendiri.


“Simpan saja senyummu! Pakai selimut yang benar dan tidur.”


“Iya Tuan. Apa tuan tidak mau tidur lagi?” tanya Bella polos mengerjapkan mata. Dante benar-benar salah tingkah melihat wanita itu. Sementara Bella memejamkan mata sambil cemberut.


“Tidur saja! Jangan berpikir yang macam-macam!”


“Maafkan aku Tuan. Aku juga sedang berusaha tidur tapi jangan marah-marahi aku terus.”


‘Belinda Alexandra Amani, aku sengaja menamai anakmu sama seperti namamu Alexander agar aku selalu mengingatmu. Anakmu masih hidup dan dia bersamaku. Anakmu juga memiliki warna mata yang sama sepertimu. Kau seperti anak kecil.’


Dante merasakan sebuah perasaan aneh meliputi hatinya. “Kemarilah mendekat padaku.”


Bella pun langsung membuka matanya. “Terima kasih Tuan.”


“Senang ya?” sindir Dante.


“Iya senang sekali. Hangat dan nyaman sekali bisa memeluk tubuhmu begini.” jawab Bella tersenyum. Dia hampir saja meloncat kegirangan dan membuka kedua tangannya memeluk tubuh Dante, menghirup aroma tubuh pria itu. Dante pun tanpa sadar memeluk Bella, memberikannya kehangatan.


‘Haruskah aku tersenyum melihatmu tersenyum seperti ini? Haruskah aku bahagia melihat sikapmu? Seharusnya aku memang senang tapi bukan itu yang kurasakan. Aku merasa sakit….sangat sakit dan semakin tersayat-sayat hatiku melihatmu.’ ucap Dante dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada Bella. Merasakan kehangatan yang dia dambakan selama bertahun-tahun.


“Hem….hangat sekali Tuan. Aku senang.” suara lembut Bella kembali terdengar ditelinganya membuat Dante memiringkan kepala menatap wanita dalam dekapannya itu.


“Hanya sebuah pelukan yang kau inginkan? Sesuatu hal yang sangat sederhana?”


“Hemmm….” jawab Bella menganggukkan kepala enggan membuka matanya.


“Aku sedang bicara denganmu kenapa kau tidak mau melihatku?”


“Suara anda sangat menenangkanku Tuan. Tapi kalau aku melihat wajahmu dan anda marah lagi, aku rasanya ingin menangis. Aku merasa lebih nyaman dalam pelukanmu.”


‘Apa-apaan dia ini? Gampang sekali dia bicara seperti itu padaku! Jangan lupa Dante kalau wanita ini adalah wanita penggoda selama beberapa tahun terakhir ini. Dia melayani pria lajang maupun pria beristri. Ingat itu Dante!’ hati pria itu mengingatkannya kembali.


“Ah...seharusnya tidak begini!” kalimat yang keluar dari bibir Dante membuat Bella membuka matanya menatap pria itu yang menatap lurus kedepan.


“Lalu aku harus bagaimana, Tuan?” tanya Bella dengan polosnya.


“Menyerahkan tubuhmu pada seseorang! Itu bukan sesuatu yang dilakukan oleh wanita baik-baik!” ujar Dante mnggelengkan kepalanya.


“Aku memang bukan wanita baik-baik Tuan! Aku wanita penggoda. Aku wanita rusak yang sudah hancur. Aku hanya membutuhkan sedikit kehangatan karena dengan kehangatan itu aku merasa dicintai walaupun aku tidak akan pernah dicintai oleh siapapun.” ujar Bella lirih.


Dante tidak menyukai ucapan Bella sama sekali, dahinya mengeryit.


“Kenapa aku bilang begitu?”


“Saat kami tumbuh besar kami semakin akrab tapi sayangnya ayahku jatuh bangkrut dan kami jatuh miskin.Sejak saat itu sikap ayahku berubah, dia mulai mabuk-mabukan dan aku masih kecil untuk mengerti apa yang dia lakukan diluar rumah. Kami sering makan dari makanan pemberian tetangga. Ibu itu baik sekali, dia sering datang dan mengajakku dan adikku kerumahnya, mengurus kami dan memberi kami makan.” jawab Bella tersenyum lalu senyum itu kembali sirna digantikan ekspresi sedih.


“Saat aku mulai memikirkan apa yang ingin kuraih saat dewasa nanti, saat aku sedang mempersiapkan semua rencana untuk masa depanku tiba-tiba ada orang yang datang kerumah ayahku dan mengambilku. Itulah awalnya kehancuran hidupku, semuanya berantakan. Sudah tidak ada lagi impian untuk masa depanku, semua sirna! Aku bukan wanita baik-baik, Tuan. Aku tidak bisa lagi mewujudkan impianku.” Bella menghapus airmatanya dengan punggung tangannya.


“Dan aku sudah tidak peduli lagi tentang impianku yang terpenting sekarang aku bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk adikku. Aku rela menjajakan tubuhku sampai aku mempunyai cukup tabungan untuk diriku sendiri. Sarah adikku adalah masa depanku, cukup aku yang hancur dan aku tidak mau dia mengalami kehancuran sepertiku.” airmata Bella mengucur deras.


 


‘AH…..aku sangat ingin menghapus airmatamu tapi entah kenapa tangan ini terasa berat dan aku malah mengepalkan kedua tanganku.’ bisik hati Dante melirik Bella tanpa berkata sepatah katapun. Bella menghela napas berat untuk menguatkan hatinya.


“Aku ingin menikmati hidupku sebelum nanti aku tua dan aku tidak akan mendapatkan cinta. Aku akan dibuang dipinggiran karena tidak akan ada yang menginginkanku dan saat itulah hidup akan semakin sulit untukku dan aku harus berjuang lagi dari nol. Aku harus mengumpulkan banyak uang dari sekarang agar bisa ku tabung supaya aku tidak hancur kelak ketika  aku tidak memiliki apa-apa lagi.”


“Maksudmu….kau tidak mengharapkan siapapun tinggal bersamamu di hari tuamu?” tanya Dante. ‘Pufff….kenapa aku jadi bertanya tentang itu?’ kesalnya dalam hati.


“Tentu saja aku menginginkan seseorang menemaniku, Tuan. Tuan Jeff sudah berjanji padaku!”


“Apa kau bilang? Dia lagi?” amarah Dante kembali tersulut tidak suka mendengar Bella menyebut nama pria lain. “Menyingkir dari tubuhku! Pergi sana!” Dante mendorong tubuh Bella.


“Ha? Kenapa anda tiba-tiba marah? Aku bicara sejujurnya.”


“Kenapa kau harus menyebutkan namanya lagi?” Dante melotot menatap Bella.


“Dia berjanji padaku kalau dia akan menebusku dan dia akan menjadikanku wanita simpanannya atau wanita kedua. Tapi aku bilang padanya kalau aku hanya ingin jadi yang pertama. Dia juga bilang padaku kalau dia akan mewujudkan itu hannya menunggu waktu saja.”


‘Dia menyukaimu bodoh!’ gerutu Dante mengatupkan bibirnya geram dengan kedua tangannya bersidekap didepan dada. “Jadi itu alasanmu menghubunginya? Kau pikir dia akan menjadikanmu miliknya?” tanya Dante memicingkan mata menatap Bella.


“Aku tidak tahu, Tuan. Aku belum berpikir sejauh itu. Aku hanya menginginkan seseorang yang mencintaiku dengan tulus dan mau menerimaku apa adanya meskipun itu tidak mungkin.” jawab Bella dengan senyum pahit diwajahnya.


“Dengan kata lain, impian terbesarmu adalah  menemukan orang yang mencintaimu?”


Bella menggelengkan kepalanya dan juga menganggukkan kepala.


“Apa maksudmu menggeleng dan mengangguk begitu?”


“Kalau kau bertanya apakah aku ingin ada seseorang yang tulus mencintaiku tentu saja aku jawab iya. Aku memang menginginkan itu tapi bukan itu impian terbesarku selama aku hidup didunia ini.”


“Lalu apa?”


“Aku hanya ingin melihat kuburan anakku dimanapun berada aku akan mencarinya. Aku ingin bertemu dan melihatnya walau hanya sekali saja. Aku ingin meminta maaf pada anakku karena aku tidak bisa menjaganya. Aku ingin dia tahu kalau aku sangat merindukannya meskipun aku tidak akan pernah bisa menggendongnya.”


PLETAK!!!!


“Hei berhenti bermimpi. Ini sudah larut malam, tidurlah.” ucap Dante mengalihkan pembicaraan sambil tangannya menyentil kening Bella. Hatinya merasa sakit saat mendengar ucapan wanita itu.


*Hai readers 👋👋 mohon dukungannya utk novel ini ya.....tolong di like, komen & berikan dukungan 5* nya biar author tambah semangat nulisnya. Terimakasih 🙏🙏😊