PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 312. FITNAH BESAR DIMULAI


“Bella, kita akan main banyak kereta baru.” seru Alex antusias.


“Iya sayang. Aku sudah tidak sabar sekali bermain denganmu. Berapa banyak mainanmu, Alex. Aku juga mau memberimu mainan baru nanti ya.” pembicaraan Bella dan Alex yang terdengar sangat masih yang masih bisa didengar oleh Dante yang terus menatap mereka pergi.


“Apa yang kau perhatikan Dante?” Hans mendekat dan menyenggol tangan temannya itu. ketika dia melihat dante tidak juga melepaskan tatapan matanya dari Bella yang pergi sambil menggendong Alex dan Sarah berjalan disisinya. Mereka bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia sehingga Dante tidak mengerti apa yang dibicarakan Bella dan Sarah.


“Apa dia pura-pura sakit dihadapanku?” tanya Dante pelan tapi masih bisa didengar oleh Hans.


“Memangnya dia tak mau kau apa-apakan? Jadi dia pura-pura sakit begitu? Sakit bagaimana maksudmu?” tanya Hans penasaran. Sifat keponya pun mulai kambuh lagi.


“Kalau soal yang itu, apapun yang dilakukannya pasti mau!” omel Dante tanpa sadar membuat temannya kembali menertawakannya.


“Hahahaha!” Hans tertawa terbahak-bahak. Dia merasa temannya itu kini banyak berubah.


“Kau mau apa? Kenapa kau banyak tanya tentang kehidupan pribadiku?” Dante mengeryitkan dahinya menatap Hans yang masih tertawa. Tangannya bersidekap didada dan terus menatap tajam pada Hans yang masih tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


‘Ada apa denganku? Bodoh! Kenapa aku malah asal bicara pada Hans?’ Dante menyesali perkataannya sendiri. Dia tidak pernah terlalu vulgar bercerita tentang kehidupan pribadinya tapi yang dia lakukan tadi sungguh diluar kebiasaannya.


Mengeluhkan seorang wanita itu pantang bagi Dante. Tapi semua tantangan itu sepertinya tak kuasa untuk bertahan lama, nyatanya dia mengeluhkan Bella pada Hans. Untungnya Hans tahu tentang harga dirinya yang setinggi gunung itu. Sejak dulu Dante tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya dengan Tatiana pada teman-temannya.


“Aku tidak mau apa-apa Dante! Kau sendiri yang memintaku untuk mengikuti dua orang itu kalau aku sudah bangun tidur dan aku melakukannya. Alex tidak bisa tidur, dia minta bertemu denganmu sepertinya Alex merindukanmu!” ujar Hans yang mengatakan sebenarnya karena sejak tadi Alex menanyakan ayahnya terus pada Hans.


“Karena itu aku mengizinkan Sarah membawanya ke kamarmu. Aku tidak tahu kalau kau dan Bella belum melakukan apa-apa. Sulit bukan meminta padanya sampai berjam-jam kau tidak dapat apa-apa? Apa kau tidak bisa memuaskannya?” ujar Hans meringis.


“Cih! Kalau aku tidak bisa melakukannya, dalam kandungannya sekarang tidak mungkin ada anakku, Hans!” ucap Dante mencibir.


“Euhhhh! Iya tadi aku dengar saat kau bicara pada Bella. Jadi itu benar? Kau sudah melakukannya bersama Bella saat kau masih bersama dengan Tatiana?” jawaban Dante membuat Hans pun semakin kepo saja ingin mengetahui ceritanya.


“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”


“Soal apa itu?” ucap Dante menyandarkan tubuhnya dikusen pintu kamarnya.


“Kapan kau akan mengadakan pertemuan Dante? Kondisi semakin genting saja sekarang. Secepatnya kita harus menyelesaikan semua masalah ini.” Hans mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkan pada Dante sambil menunjukkan sesuatu.


“Apa maksudnya ini?”Dante mengeryitkan dahinya.


“Keluarga White! Mereka mengatakan orang kita menyerang mereka. Mereka bilang kalau kita merasa tidak puas dengan kematian White dan kita masih berusaha untuk melakukan pengeboman itu Dante. Mereka bilang kita mau menghancurkan seluruh keturunan White karena kau ingin menguasai bisnis White.” ujar Hans menjelaskan.


“Pfffh...kapan ini kejadiannya?” tanya Dante mengamati foto rumah keluarga White yang diluluh lantakkan dengan api. ‘Siapa yang berani melakukan ini? Ada yang masih ingin melakukan adu domba antara diriku dengan White! Dia masih tidak puas rupanya! Mereka yang justru menyerangku tapi sekarang malah mereka yang berusaha untuk merusak nama baikku tanpa mau bicara dulu denganku!’


“Lima jam yang lalu mereka juga bilang akan meminta pihak berwajib untuk melakukan investigasi kebakaran itu, Dante! Tadinya aku mau langsung memberitahumu tapi aku tahu kau juga belum istirahat, Dante! Dari kemarin kau pergi jadi aku sengaja membiarkan sampai kau bangun dan kondisi cukup fit untuk mendengar berita ini.”


“Hahahaha…...kau pikir aku ini lemah dan jantungan?” ujar Dante memicingkan matanya.


“Ah, baiklah kalau begitu. Menurutmu bagaimana dengan masalah ini?” Hans tidak mau membuang waktu Dante lagi dan dia pun langsung fokus kembali pada masalah yang sedang dibahasnya bersama Dante tadi.


“Biarkan saja dulu.” jawab Dante singkat.


“Apa? Kau ingin membiarkan masalah ini dulu, Dante? Kau ingin membuat kondisi semakin kacau? Kau benar-benar gila!”


Dante menggelengkan kepalanya, “Aku menyuruhmu membiarkan saja dulu. Biarkan mereka bicara apapun yang mau mereka katakan. Sampai mereka bosan dan bsaat itulah kita akan menyerang balik. Sementara ini biarkan saja dulu mereka berada diatas angin.”


“Apa kau yakin dengan keputusanmu Dante?”


“Hmmm….mereka tidak punya bukti apapun kalau pengeboman itu aku yang lakukan! Kita bisa bicarakan tentang hal ini kepada mereka. Tapi aku akan mencari celah supaya kita sama-sama tidak saling terintimidasi satu sama salin. Karen aku yakin sekali kita tidak akan bisa bicara dengan ahli waris White kalau mereka masih menyerang kita. Kita butuh penengah, dan orang itu adalah orang yang bisa mereka percaya.” ujar Dante menjelaskan.


“Baiklah kalau begitu keputusanmu. Kita biarkan saja dulu masalah ini.” tanya Hans lagi.


“Hmmm, jangan lakukan serangan apapun. Pancing mereka dan tunggu sampai mereka yang menghubungi kita atau tunggu sampai Omero sembuh.” ucap Dante.


“Jadi itu saja rencanamu Dante? Menunggu?”


“Ya! Aku tidak mau ada bentrok. Aku tidak menginginkan pertumpahan darah. Kita harus memperhatikan anak buah kita juga. Jangan sampai masalah kesalahpahaman begini mengakibatkan kita mengorbankan nyawa yang tidak seharusnya dikorbankan.”


“Kau benar juga! Kau berpikir logis dan memakai hati Dante.” Hans menambahkan sambil bertepuk tangan. “Jadi disini siapa yang lebih memakai hati aku atau kau?”


“Dengarkan aku Hans! Aku bicara begitu bukan masalah pakai hati. Tapi ini masalah loyalitas dan keamanan juga. Seberapa kita bisa melindungi mereka yang bekerja dengan kita.Maka sebesar itu pula mereka akan loyal pada kita! Mereka bekerja untuk kita dan bersama kita, karena mereka mencari keamanan, mereka juga punya keluarga dan orang-orang yang mereka cintai! Kau tidak boleh menyakiti orang-orang itu.”


Hans sungguh tak mempercayai apa yang barusan dikatakan oleh Dante. “Jadi selama ini begini yang kau pikirkan hingga kau selalu saja menghindari konflik?”


“Aku tidak pernah menghindari konflik! Aku membalas mana yang perlu dan mana yang tidak perli. Dan pembalasanku tidak harus dengan cara yang sama dengan yang mereka lakukan pada kita.”


Hans hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan pemikiran Dante.