PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 140. BERDUA DI BUNKER


“Waahhhh…..ruangan didalam sini bagus sekali.” decak Bella kagum. Mereka sudah memeasuki sebuah ruangan dengan dekorasi sangat mewah. Dia memandang sekeliling dengan terpesona.


“Kau sedang apa disana? Bukannya kau mau membersihkan tanganku?”


“Eh iya!” Bella kembali sadar lalu mendekat. “Dimana harus membersihkannya?”


“Cari air.Itu disana.” Dante menunjuk sebuah ruangan yang terlihat seperti dapur.


“Ah, kau ingin aku membersihkannya di sink?”


“Hem...” singkat jawaban Dante.


“Ya sudah sini aku bersihkan.” Bella menarik tangan Dante dan langsung mencucinya tanpa ada rasa risih walaupun saat ini kondisi tubuhnya polosan.


“Ssshhhh….”


“Ada apa Tuan Dante? Kenapa kau mendengus begitu?”


“Apa kau tahu kita ada dimana sekarang?”


“Dibawah tanah.” Bella menjawab singkat.


“Hem….didalam tanah sama seperti mayat.” ujar Dante.


“Tapi aku merasa seperti dihotel. Tempat ini bagus sekali. Tempat apa ini Tuan Dante?” Bella bertanya setelah selesai membersihkan tangan Dante dan mengelapnya dengan kain bersih yang ada disana.


“Ini bunker.”


“Apa? Bunker? Tempat aman untuk bertahan hidup saat kiamat?” celetuk Bella asal.


“Saat kiamat tidak ada orang yang bisa bertahan hidup. Bunker ini dibuat untuk pertahanan diri menghadapi perang!” ujar Dante yang kini menarik tangannya dan melangkah menuju sofa, dia duduk untuk melepaskan penat ditubuhnya.


“Belinda, kau sedang apa?” teriaknya saat Bella berbaring dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Dante dengan tanpa beban.


“Aku mau tiduran dipangkuanmu. Boleh kan?” Bella bertanya smabil terlentang di sofa dengan kepalanya mendongak menatap pria itu.


“Kenapa kau manja sekali padaku?”


“Tidak boleh kah?” tanya Bella ulang.


“Aku malas membahas hal yang tidak penting, sebaiknya kau dengarkan aku baik-baik. Besok istriku akan memintamu untuk ikut kelas piano.”


“Apa? Aku tidak salah dengar kan? Istrimu mengijinkan aku ikut les piano?” Bella meninggikan suaranya ketika Dante bicara untuk mengubah topik pembicaraan mereka.


“Hem...jadi kau jangan pernah lagi berpikir bahwa istriku itu buruk sifatnya.”


“Ah….kau masih memikirkan kata-kataku itu.” Bella malah terkekeh.


“Besok istriku akan menawarkanmu kelas piano dan kau harus menjawab iya. Jangan menyakiti hati istriku, kau paham kan?” Dante menatap lurus pada Bella.


“Tentu saja! Aku tahu kalau aku tidak boleh menolak permintaan istrimu jadi kau jangan khawatir soal itu. Aku tidak akan mengecewakanmu.” ujar Bella tegas. Lalu dia diam sejenak menatap pria itu.


“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”


“Kenapa istrimu ingin aku ikut les piano? Tumben sekali dia bersikap baik.” tanya Bella jujur.


“Karena anakku butuh teman. Dia butuh seseorang yang bisa piano sehingga dia bisa berlatih berdua denganmu.” jelas Dante.


“Oh jadi begitu? Jangan khawatir, aku pasti akan menjawab iya.” Bella mengangguk-anggukkan kepalanya lalu membentuk angka dua jari ditangannya sebagai tanda kalau dia berjanji.


Tapi kemudian Bella kembali terdiam dan senyum diwajahnya pun menghilang.


“Apalagi yang emmbuat senyumanmu hilang?” Dante menyadari perubahan diwajah wanita itu.


“Apa kau tidak ada niat memberikanku handphone?” bujuk Bella.


“Kalau kau memberikan aku handphone atau perekam suara, saat istrimu bicara aku bisa merekamnya tanpa ketahuan istrimu.” jawab Bella apa adanya.


“Lalu?”


“Lalu aku bisa menunjukkan padamu supaya aku tidak salah bicara. Kau kan tidak percaya padaku tapi kalau kau membiarkan aku merekamnya dan kau mendengar sendiri maka kau akan percaya bukan?”


Pletak! Dante kembali menyentil kening Bella.


“Aawww! Sakit….kau menyakiti aku lagi Tuan.” Bella meringis memegangi keningnya yang merah.


“Jadi kau ingin menjebak istriku?” dia tidak peduli dengan kesakitan Bella justru dia bertanya balik dengan intonasi yang tinggi.


“Tidak. Bukan begitu maksudku.” Bella menggelengkan kepalanya. “Hanya untuk jaga-jaga agar aku tidak membuat kesalahan. Misalnya istrimu ternyata tidak ingin aku dikelas piano dan aku terpaksa bilang tidak bagaimana?”


‘Aih….anak ini kan polos. Dia selalu bicara jujur padaku dan tampang bodohnya ini memang menunjukkan kalau dia tidak berbohon. Apa benar yang dikatakannya kalau Tatiana memang sering bebruat jahat padany bahkan mengancamnya?’ ada keraguan dihati Dante.


“Nanti aku pikirkan masalah handphonemu. Tapi jangan pernah membicarakan tentang istriku lagi.” ucap Dante membuat Bella tak lagi bicara.


“Kenapa lagi kau melihatku begitu?” tanya Dante memicingkan matanya.


“Tidak Tuan Dante.” Bella mengatupkan bibirnya seakan berpikir apa yang ingin dikatakannya.


“Ada apalagi kau melihatku begitu?”


“Dimana aku bisa mencari suami sepertimu?” tanya Bella iseng.


“Maksudmu?”


“Suami bodoh yang percaya saja semua kata-kata istrinya. Aku mau suami kayak gitu satu.”


Pletak!


“Awww…..sakit!” teriak Bella marah sambil memegangi keningnya yang kena sentil lagi.


“Kenapa kau melihatku begitu?” Dante bertanya seolah dia tidak melakukan kesalahan.


“Tentu saja kau harusnya tahu alasannya. Jangan lagi menyentil dahiku, sakit.” Bella meringis lalu menutupi keningnya saat melihat tangan pria itu mulai bergerak lagi.


“Katakan sekali lagi seperti itu aku tidak akan menaruh rasa didahimu….”


“Memang kau akan menaruh rasa dimana lagi?” tanya Bella iseng.


Belum sempat Dante melanjutkan ucapannya, Bella kembali memotong ucapannya.


“Kau menantangku?” Dante menyipitkan matanya menatap lurus pada Bella.


“Kalau dapat sentilan aku tidak mau menantang tapi kalau dapat enak ya aku mau menantangmu.”


“Apa-apaan sih kata-katamu ini? Kenapa kau bicara seperti wanita penggoda?” ujar Dante. ‘Dari mana dia belajar kata-kata ini terus? Dasar wanita ini!’ Dante kelelahan jadi dia merasa terganggu dengan godaan Bella. ‘Tahan…..tahan….aku harus bisa tahan untuk tidak nyemplung kedalamnya.’


“Ya karena aku sudah terlatih menjadi wanita penggoda, Tuan Dante sayang.” bella menghembuskan napas sebentar dan menatap pria itu. “Itu pekerjaanku selama beberapa tahun terakhir. Apa aku terlihat kerena? Aku tahu kau menyukainya, iyakan?” ucap Bella lalu menutup dahinya saat melihat tangan Dante kembali bergerak.


“Awww! Aku menutup diatas tapi kenapa kau malah menyerang disitu?” teriaknya. Meskipun dia meringis tapi Bella tetap tersenyum, dia mulai tahu kelemahan Dante.


“Kenapa teriakanmu seperti itu hem?” geram Dante. ‘Bodoh! Sangat terlatih! Senang kau tidur dengan banyak lelaki sampai pandangan matamu melihatku begitu? Kau pikir aku akan tergoda lagi denganmu? Kau menyamakanku dengan laki-laki lainnya. Cuih!’ hatinya merasa kesal karena Bella mengingatkannya lagi pada hal yang dibenci olehnya dan Dante tidak suka karena pandangan matanya ketika dia menatap wajah dan tubuh Bella, Dante membayangkan semua laki-laki yang mungkin menyentuh Bella sehingga hatinya panas terbakar api cemburu.


‘Kalau kau menyentil bagian yang itu ya jelaslah teriakannya seperti itu. Karena rasanya sakit-sakit enak.” jawab Bella asal.


‘Hem….wanita ini….apa aku bisa tahan? Saat ini benar-benar kelelahan dan dia terus saja begini.’ hati Dante berdecak ketika dia melihat Bella tersenyum dengan wajahnya yang menggoda sehingga tangan Dante menyentuhnya meskipun dia sudah susah payah untuk menahan diri.