PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 185. KOTA NOVA GORICA


“Kau tidak bisa berhenti sebelum sampai tujuan akhirmu Anthony! Kau tidak ada backingan setelah kau sampai di Slovenia. Karena kekuasaanku hanya sebatas Italia dan aku hanya bisa menjadi penjaminmu ketika kau masuk Slovenia. Jadi sebaiknya kau segera menuju villa dan panggil dokter disana, jangan mengobatinya sendiri.


“Baiklah! Aku mengerti. Aku tidak akan berhenti.”


Klik…..


“Sepertinya tidak ada pertolongan untuk kita Bella! Aku harus terus mengemudi sampai ke tempat tujuan terakhir yaitu kota Nova Gorica. Doakan supaya aku kuat ya, jangan sampai aku oleng dijalan. Aku sudah sangat lelah dan mengantuk.” ucap Anthony dan dia terus berusaha untuk tetap tersadar dan menjaga staminanya mengemudikan mobil itu sekitar kurang lebih tiga ratus kilometer lagi padahal dia belum ada beristirahat sejak tadi malam.


Setelah dia pergi berburu bersama Nick, dia langsung menyelamatkan Bella lalu berlari sepnajang tujuh kilometer keluar dari mansion Dante ditambah lagi harus menyetir mobil lebih dari tujuh jam. Anthony sangat berhati-hati sekali sepanjang perjalanan dan dia terus mengajak Bella bicara untuk menghilangkan kantuk hingga akhirnya mereka sampai di perbatasan.


“Setelah kita melewati gerbang itu maka kita akan sampai di Slovenia, Bella! Disana kau akan lebih aman. Setidaknya tempat itu jauh lebih baik daripada di Italia dan disana aku bisa mengobatimu. Aku akan mencarikan dokter untukmu.” Anthony terus saja bicara sampai dia tiba di gerbang pemeriksaan.


“Paspor anda!” ujar petugas perbatasan.


“Ini paspor dan tanda pengenalku.”


“Baiklah!”


‘Hufff…..syukurlah mereka tidak merepotkanku!’ Anthony tersenyum. “Sekarang mereka sudah bisa membuka gerbang dan aku bisa masuk menghindari semua permasalahan di belakangku!” ujar Anthony terkekeh dan kini dia sudah berada dwiwilayah kekuasaan Slovenia. Tempat dimana dia bisa mendapatkan suaka. Anthony bisa membawa mobil dengan tenang tapi dia tetap masih merasa khawatir pada anak buah Dante. Dia tetap memperhatikan kendaraan di sekelilingnya.


“Puhhh…..Kita sudah sampai Bella! Saat ini kita bisa mendapatkan pertolongan!” ujar Anthony disaat seseorang sudah membuka gerbang untuknya. Akhirnya mereka sampai ditujuan akhir.


“Terimakasih.” ucap Anthony.


“Selamat datang kapten Anthony.”


“Terimakasih sambutannya!” hanya sepatah kata itu yang dia ucapkan dan dia diizinkan masuk.


“Apa ada yang bisa kami bantu kapten Anthony?”


“Panggilkan dokter sekarang juga!” ujar Anthony cepat.


“Baik, kapten!” seseorang langsung menunduk mengikuti perintah Anthony.


“Apa anda perlu bantuan saya untuk membawa itu kapten?” tanya pelayan itu saat dia melihat Anthony membuka pintu belakang dan memanggul Bella.


“Tidak perlu.” Anthony menggelengkan kepalanya dan langsung membawa Bella masuk kedalam rumah bersama satu botol minuman.


‘Semoga kau baik-baik saja didalam, aku tidak tahu sudah berapa lama kau diruangan penyiksaan itu. Aku pun tak tahu apa kau sudah makan atau belum.” ujar Anthony sambil menaiki tangga kelantai dua. Dia lalu membuka pintu sebuah kamar dan langsung masuk dan meletakkan kantong plastik di lantai.


“Biar aku keluarkan dulu kau Bella!”


KREEEKKK!


“Oh tidak! Bella?” mata Anthony terbelalak melihat wanita itu. “Bella!”


Dia lalu mengeluarkan Bella dari plastik hitam, dia melihat luka-luka ditubuh Bella yang darahnya sudah mengering. “Aduh! Aku perlu obat khusus supaya lukanya tidak berbekas! Lukanya tidak boleh sampai infeksi. Berapa kali dia mencambukmu Bella? Belum lagi dengan…….aduh dia pingsan! Wajahnya pucat dan bibirnya pecah-pecah.”


Saat ini Bella tidak membuka matanya, sesosok tubuh yang ada dihadapan Anthony sekarang matanya tertutup dan kondisinya sangat lemah sudah tidak ada kekuatan lagi untuk bergerak.


“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu Bella!” Anthony bicara sambil menggelar kanin di lantai beralaskan karpet dan membaringkan Bella dalam posisi terbalik lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil kai dan air hangat.


“Bagaimana mungkin seorang pria bisa melakukan hal sekejam ini? Lihatlah bagaimana dia mencambuk! Kejam sekali! Seharusnya tiap kali aku menyentuh luka ini, dia merasa kesakitan kan? Tapi kenapa sekarang kelihatannya dia seperti tidak merasakan apapun? Apa karena dia pingsan makanya tidak bisa merasakan apapun?” semua pertanyaan itu membuat Anthony ngeri melihat semua luka-luka cambukan yang terbuka dengan darah menegring dan memar dimana-mana dan bagian punggung yang paling parah sedangkan bagian depan tidak terlalu parah.


Dibagian depan hanya ada bekas beberapa cambukan saja itupun tidak mengenai bagian vital. “Kalau terasa sangat sakit dan tidak nyaman tolong ditahan ya Bella! Jantungmu masih berdetak dan kau masih bernapas tapi kenapa kau tidak membuka matamu lagi? Aku tidak tahu apa kau merasa sakit atau tidak. Kau tidak menunjukkan reaksi apapun.” ujar Anthony sambil memebrsihkan luka ditubuh Bella.


Tok tok tok


Suara pintu dibuka membuat Anthony berdiri.


“Dokter silahkan masuk!” Anthony menyambut dokter itu dengan ramah. ‘Ah syukurlah dokter  ini cepat datangnya. Aku tidak tega melihat tubuhnya begitu. Semoga saja dokter ini bisa membantunya.’ ucap Anthony didalam hatinya lagi.


“Terimakasih. Ada masalah apa kau menghubungiku?” tanya dokter yang sudah berdiri dihadapan Anthony.


“Silahkan kau lihat langsung didalam.”


Dokter wanita itupun langsung melihat kedalam, kearah yang ditunjuk oleh Anthony. “Oh Tuhan! Kenapa bisa begini?” tanpa berlama-lama dia bicara langsung mendekati Bella, ‘Syukurlah dia masih hidup walaupun detak jantungnya sangat lemah.” ucapnya khawatir.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Anthony panik.


“Sudah dulu jangan banyak tanya. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang!” ujar dokter itu dengan pertimbangan bahwa dirumah sakit peralatan lebih lengkap.


“Aku tidak bisa membawanya kerumah sakit karena dia akan dicek! Dia pasti akan ketahuan!” Anthony mengatakan keberatannya untuk menghindari anak buah Dante bisa menemukan Bella.


“Siapa dia?” dokter wanita itu mengeryitkan dahinya.


“Dia ini sandera untuk menjebak Tuan Dante!”


“Ah begitu!” dokter wanita itupun langsung mengerti, “Kita tidak bisa membawanya kerumah sakit bukan?”


“Iya.” Anthony menganggukkan kepala.


“Ya sudah kalau begitu biarkan aku saja yang membantunya. Aku akan mengubungi pihak rumah sakit agar mengirimkan beberapa alat yang dibutuhkan kesini.” dokter wanita itu menambahkan lagi dan kini dia tergesa-gesa dan khawatir dengan pasiennya.


Anthony hanya diam disana menunggunya. Setelah beberapa saat, “Kau sudah selesai?”


“Sudah!” dokter itu mengangguk. “Sekarang kita harus mengobati dulu lukanya sebelum kita memindahkannya keatas tempat tidur.”


Anthony menjawab dengan anggukan dan dokter itupun mulai bekerja membuka tasnya mengeluarkan obat-obatan.


“Sssshhhh…..fisik wanita ini lemah sekali!”


“Dia masih menutup matanya, dia belum minum sama sekali!” Anthony mulai cemas.


“Karena itu aku memakaikan obat secepatnya. Kalau sudah selesai aku bisa langsung membawanya ke tempat tidur dan memasang infus.”


“Baiklah, aku tunggu. Bagaimana keadaannya?” Anthony mulai gelagapan saking cemasnya.


“Kenapa dia bisa disiksa begini?” tanya dokter wanita itu lagi.


“Aku juga tidak tahu.” Anthony menggelengkan kepalanya.