
Ucapan tegas Dante mmebuat Bella menatap pria itu dengan wajah cemberut tapi Bella berusaha untuk menjawabnya. “Aku bisa merasakannya ketika ada diruangan bawah tanah itu. Bagaimana caramu memperlakukanku, sama persis kasarnya ketika kau pertama kali memasukkan kedalam diriku! Dan caramu berbisik padaku semuanya sama. Aroma parfummu, tanganmu, kau memang dia!”
“Jadi itu yang membuatmu ingat padaku?” Dan Dante kembali bertanya yang dijawab Bella dengan anggukan kepalanya sambil memberanikan diri menatap dante dan bicara, ada rasa takut didalam hatinya tadi karena Dante tidak langsung menjawabnya tapi dia hanya memandang lurus ke mata Bella.
“Dante, apa kau marah padaku karena kata-kataku tadi?”
“Kemarilah!” Bukannya menjawab Bella, justru Dante menarik tubuhnya mendekat padanya sambil melepaskan jaket dan kemejanya sehingga bagian atas tubuh Dante polos dan dia menarik Bella yang sudah polos masuk dalam dekapannya.
“Dante, kenapa kau memelukku?”
“Kau tidak suka?” tanya Dante.
“Suka!”
“Hmmm….kalau kau suka, jangan nakal! Dan turuti perintahk atau ini akan jadi pelukan yang terakhir.” ujar Dante mencoba menakuti Bella.
“Jangan! Aku akan mencobanya tapi jangan marahi aku lagi ya? Kalau kau marah boleh tapi aku tidak mau masuk keruangan gelap itu lagi Dante.” pintanya dengan lirih dalam pelukan Dante.
“Selama kau menurut padaku, tak membuat ulah padaku dan jangan coba-coba mendekati pria lain, aku tidak akan memasukkanmu kesana! Aku tidak suka kau dekat dengan pria manapun. Aku membenci semua pria, jaga jarakmu dengan para pelayan laki-laki dirumahku, jaga jarakmu dengan para pengawalku dan jaga jarakmu dengan teman-temanku. Semuanya yang berjenis kelamin laki-laki kau harus jauhi! Apa kau paham? Itulah syarat satu-satunya agar kau bisa tetap hidup bersama denganku.”
“Iya, aku tidak akan macam-macam. Jadi aku akan terus tinggal bersamamu? Kau tidak akan membuangku seperti yang kau katakan dulu?”
“Memangnya apa yang kukatakan padamu?”
“Setelah satu tahun kau akan mengembalikan aku bersama dengan adikku. Kau akan menyuruhku pergi! Sekarang kau tidak akan melakukan itu kan? Kau akan membiarkan aku hidup dengan anakku? Tidak akan mengambil bayiku lagi?”
“Kau akan tinggal bersamaku Bella! Selama-lamanya.” ucap Dante berjanji.
“Benarkah Dante?” Bella bertanya lirih tak yakin dengan mengerjapkan matanya.
“Hmmm! Saat ini dan selamanya kau akan selalu ada dalam bayanganku! Kau akan selalu ada dalam pelukanku! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Selama kau mematuhi semua kata-kataku.”
Bella bingung dengan maksud Dante tapi dia tetap mencoba untuk tetap mengangguk setelah mendengar ucapan pria itu.”
“Kau mengerti apa yang aku katakan barusan?”
Bella menggelengkan kepalanya.
“Kau tak paham?” Dante agak frustasi melihat gelengan kepala Bella.
“Aku tidak paham Dante! Tapi aku senang kalau kau mau bersama denganku. Apa artinya kau akan menjadikan aku simpananmu?”
“Kenapa kau berpikir begitu? Kau lebih suka menjadi simpananku ketimbang menjadi istriku?”
Sungguh pertanyaan yang tidak diduga oleh Bella dan tanpa sadar kata-kata itu memenuhi otaknya.
“Kau ingin aku menjadi istrimu?” pelan-pelan dia bertanya.
“Selama kau bisa menyayangi anakmu! Apa kau bisa melakukan itu?”
“Jadi kau menginginkan aku menjadi istrimu kalau aku menyayangi anakku, Dante?”
“Anakku Belinda! Kau harus menyayangi anakku maka aku akan menjadikanmu istriku.”
“Aku….tapi anakmu itukan anakku Dante!”
“Katakan. Apa anakku yang ada disini?” Dante memilih mengalihkan dan dia meletakkan tangannya diatas perut Bella.
“Iya! Anthony dan Dokter Anna mengatakan begitu padaku kalau aku sedang mengandung anakmu.”
Dante tersenyum ‘Dasar bodoh! Kau sendiri yang mengakui bahwa itu adalah anakku!’ ucap hati Dante. Egonya kembali kambuh, dia tidak ingin mengakui anak itu sebagai anak Bella juga. Tapi ada ketenangan didalam hatinya melihat kondisi Bella sekarang. ‘Aku tahu memang ada masalah didalam pikiranmu dan dalam psikismu! Aku akan membantumu untuk sembuh. Tapi aku sangat suka sikap polosmu ini! Ahhh….apa yang terjadi padamu Bella? Sudah banyak melayani pria tapi kau benar-benar sangat polos.’
‘Apa yang mereka lakukan padamu?’ pertanyaan itu tiba-tiba muncul dibenaknya yang ingin dia tanyakan langsung pada Bella tentang bagaimana kehidupannya dulua di kelab malam itu.
“Anakku akan tampan sepertimu!” tiba-tiba ucapan itu keluar dari bibir Bella yang membuyarkan lamunan Dante.
“Belinda Alexandra! Aku tidak ingin anak yang tampan sepertiku! Aku mau anak perempuan! Aku sudah punya Alex sebagai anak laki-laki.” protes Dante yang sangat menginginkan anak perempuan.
“Tapi aku tidak tahu jenis kelaminya Dante!” jawab bella polos.
“Kalau kau tidak tahu jangan katakan bahwa anak didalam kandunganmu itu sepertiku!”
“Tapi….”
“Sudahlah jangan dipermasalahkan lagi soal itu Belinda! Tak penting apa yang ada didalam kandunganmu. Persiapkan saja dirimu, mulai hari ini aku akan menjadikanmu istriku! Aku akan meminta Henry untuk mengurus semuanya!”
“Benarkah Dante?”
“Hmmm!”
‘Baguslah dia sudah mulai mau bicara padaku! Dia merespon sangat baik dan dia sudah mulai terbiasa bicara dua arah dengan kalimat panjang. Aku akan melatihnya lebih sering supaya dia lebih cepat sembuh dan kondisi psikisnya tidak akan mempengaruhi bayiku!’ bisik hati Dante.
“Jadi nanti namaku Belinda Alexandra Sebastian?” tanya Bella penuh harap dijawab anggukan kepala Dante. Tatapan keduanya bertautan dan saling tersenyum.
“Kau suka namamu seperti itu?” tanya Dante mengeratkan pelukannya ditubuh Bella.
“Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa kau mau punya dua istri, Dante?”
Dante menggeleng, “Aku tidak pernah berencana untuk memiliki dua istri! Aku hanya mau punya stau istri yang memang menyayangi anakku. Karena bagiku yang paling penting adalah Alex, kebahagiaan Alex adalah segalanya karena dia adalah penerusku, dia yang akan membawa nama keluargaku!”
“Aahhhh! Dante aku senang sekali! Jadi kau akan menjadi suamiku benaran?”
“Hmmm!” Dante mengangguk, “Dan jangan nakal! Apa yang aku perintahkan maka harus kau lakukan. Jangan membuatku marah!”
“Iya!” Bella mengangguk manja.
“Hei apa yang kau inginkan sekarang, Bella?”
“Mungkin aku tidak tahu malu Dante! Tapi aku senang sekali aku ingin ada dalam pelukanmu sebentar lagi saja!” Bella mengeratkan pelukannya pada Dante.
Mendengar ucapan Bella, dante pun tidak memakinya lagi dan membiarkannya tetap memeluknya bahkan Dante membalas pelukan Bella yang duduk dipangkuannya.
Tidak ada kalimat yang terucap dari bibir Dante, dia hanya membiarkan Bella bermanja-manja pada tubuhnya dengan memeluknya erat dan mengecup Dante dimanapun tempat yang Bella mau. Di lehernya, dibibirnya, diwajahnya, di tubuhnya dan pria itu hanya diam saja seakan dirinya adalah patung tak bernyawa.
‘Demi anakku yang ada didalam kandungannya, aku akan biarkan kau melakukan apapun!” tapi Dante tetap membela dirinya didalam hatinya.
“Kau tidak memarahiku karena aku menciumm?” ketika Bella tersadar, dia pun langsung menanyakan itu pada Dante sambil menatapnya gugup.