
Sarah merasakan kerinduan yang dalam sehingga membuat pikirannya kembali ke masa-masa ketika dia dan Barack berdua didalam hutan dan membayangkan hidup bersama Barack di masa datang tak lagi terpisahkan. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu kepulangan Barack yang entah berada dimana sekarang dia pun tak tahu.
“Sarah, dengarkan aku! Jangan hancurkan hidupmu, kau masih muda dan jalanmu masih panjang. Aku akan membantumu meraih cita-citamu. Kalau suatu saat nanti kau masih mencintai Barack barulah kau kembali bersamanya. Kau jangan khawatir kalau kau akan kehilangannya. Kalau memang dia jodohmu, kalau dia memang pria terbaik untukmu maka dia pasti akan menunggumu.” ucap Bella.
“Dia pria dewasa dan tidak akan memaksamu untuk tinggal dan mengorbankan masa mudamu. Kalau dia memang benar-benar mencintaimu maka dia akan memberikan kesempatan padamu untuk berpikir. Kau paham maksudku kan?” ujar Bella yang terus berusaha menasehati adiknya. Bella sudah merasakan hancurnya masa mudanya, dia tidak ingin Sarah mengalami apa yang pernah dia alami dulu.
Sarah resah tapi dia tidak berani menjawab Bella dan memilih menundukkan kepalanya apalagi dia melihat kakaknya bicara dengan berapi-api dan sedikit emosional.
Kedua bersaudara itu berbicara cukup lama tapi belum juga menemukan titik temunya. Bella masih tetap pada pendiriannya dan Sarah yang bucin pada Barack menolak permintaan kakaknya.
“Bella! Sarah! Aku sudah masak makanan untuk kalian!”
Tak terasa dua jam sudah berlalu saat Alex kembali dengan membawa makanan barulah kedua wanita itu berhenti bicara. Sarah masih belum berani menjawab Bella sedangkan Bella masih belum tenang karena sikap adiknya yang masih tak tergoyahkan untuk tetap bersama dengan Barack.
‘Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau adikku bersama pria itu. Mungkin Barack memang baik untuk adikku tapi tidak sekarang, Sarah masih terlalu muda.’ bisik hati Bella. Dia masih belum yakin, semua kenangan buruknya membuat Bella benar-benar tak ingin Sarah mencintai pria dari dunia yang sama dengan Dante.
Pikiran Bella pun masih rumit untuk membahas masalah ini walaupun tangannya sudah menyuap makanan. Mereka duduk bersama-sama menikmati makanan buatan Alex dengan bantuan Henry saat Alex memasak.
“Uuuhhh enak sekali! Alex, kau pintar sekali memasaknya. Apa kau ingin jadi chef ya?”
“No!” Alex menggelengkan kepalanya. “Aku ingin seperti daddy! Aku ingin hebat seperti daddy.”
Kalimat Alex itu membuat Bella merasa sesak didadanya. “Alex, apa kau tidak mau menjadi seorang pilot? Atau dokter atau jadi seorang insinyur?”
“Daddy ku juga pilot, daddy bisa menerbangkan pesawat! Daddy ku hebaatttt….aku pernah lihat daddy bawa pesawat mutar-mutar.” ucap Alex dengan antusias bercerita tentang semua kehebatan Dante.
“Benarkah?” Sarah mengerjapkan matanya tak percaya. ‘Apa anak ini berkhayal ya?’ bisik hati Sarah.
“Benar Nona! Tuan Dante memang bisa menerbangkan pesawat, beliau memiliki sertifikat penerbangan.” Henry yang menegaskan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kau jadi dokter saja Alex?” tanya Bella berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Alex berpikir semakin jauh karena sejujurnya Bella tidak ingin anak itu mengikuti jejak Dante.
“Daddy ku bisa mengobati seperti dokter juga!” ucap Alex dengan suara memuji bangga.
“Tapi daddy mu bukan dokter dia tidak tahu penyakit.” ucap Bella menimpali.
“Tuan Dante memang tidak mengetahui macam-macam penyakit dan dia tidak punya spesialis untuk bidang tertentu, Nyonya. Tapi Tuan Dante pernah ikut pelatihan tenaga medis untuk pertolongan pasien kritis dan pertolongan pertama! Beliau juga memiliki sertifikat. Tuan Dante pernah penjadi petugas medis yang bertugas menggunakan helikopter.”
Di luar negeri ada sertifikat khusus untuk tenaga medis yang bertugas di helikopter dan profesi itu merupakan profesi tenaga medis dengan pembayaran termahal didunia. Istilahnya adalah Flying Nurse!
“Apa ada pelatihan seperti itu?” Bella membelalakkan matanya mendengar ucapan Henry.
ujar Henry. “Dan profesi itu memiliki bayaran paling mahal di dunia! Dengan sertifikat itu mereka bisa bertugas dimana saja diseluruh dunia.”
Bella pun semakin bingung dan pusing setelah mendengar penjelasan Henry, ‘Apa yang kau tidak bisa Dante? Kau hebat dibidang olahraga, kau bisa mengendarai semua kendaraan! Kau bahkan bisa hidup di alam liar dan kau sudah memiliki sertifikat medis. Lalu apa yang harus kukatakan pada anakku? Aku tidak ingin dia menjadi sepertimu.’ bisik hati Bella yang meringis.
“Alex, bagaimana kalau kau jadi astronot saja?” Bella mencoba berpikir cepat.
“Apa Bella?” Alex mengerjapkan matanya menatap wanita itu.
“Jadi astronot Alex! Nanti kau bisa terbang ke luar angkasa, disana kau bisa berdiri di bulan, disana kau juga bisa menjelajah planet-planet baru. Kau juga bisa berdiri di planet Maars. Bukankah itu hebat? Nanti kau bisa melawan alien jadi pahlawan penyelamat bumi!” ucap Bella mencoba memberikan ide baru pada anaknya.
“Wowww! Hero?” mata Alex langsung berbinar-binar mendengar perkataan ibunya.
“Apakah itu hebat Bella? Aku bisa membawamu juga kesana? Aku mau kau juga ikut denganku.”
“He he….itu lebih hebat daripada menjadi seperti daddy mu. Tapi aku takut ketinggian Alex!”
“Benarkah? Aku akan lebih hebat dari daddy? Tapi kau jangan takut Bella, kan ada aku? Aku yang akan menjagamu jadi kau tak perlu takut karena aku hebat!” Alex bicara dengan wajah cerah.
“Tentu saja Alex. Jadi bagaimana? Kau mau kan jadi astronot?"
Anak itu sudah terbuai dengan cerita alien dan menjadi pahlawan penyelamat bumi, ini sangat menarik baginya dan dia memang ingin menjadi lebih hebat dari Dante, sehingga Alex pun menganggukkan kepalanya. “Nanti aku akan terkenal seluruh dunia karena menyelamatkan bumi kan Bella?”
“Ah iya, kau pintar sekali Alex. Begitu maksudku, semua orang akan berterima kasih padamu. Kau akan menjadi orang paling hebat!” ucap Bella tersenyum yang membuat Sarah meringis sambil mencibir gemas ingin protes. Tapi Bella melihat ekspresi wajah adiknya itu.
“Perhatikan bibirmu Sarah! Kau tidak pernah melihatku? Sampai seperti itu kau melihatku?” ujar Bella dengan bahasa indonesia.
“Kau ini ya Bella terlalu takut kalau dia ingin menjadi seperti daddy-nya. Ya biarkan saja!”
“Tidak akan! Aku tidak mau anakku dalam bahaya! Dia adalah putra kesayanganku.” ucap Bella tidak mau peduli pada apa yang dikatakan Sarah padanya.
“Terserah kau sajalah mau berpikir apa!” ujar Sarah berdiri dan hendak pergi.
“Eh, kau mau kemana Sarah?”
“Aku? Ya aku mau masuklah kerumah. Aku pusing dengan semua obrolanmu. Kau temani tuh anakmu dulu ya aku mau tidur siang! Aku mengantuk sekali.” ucap Sarah berjalan masuk ke mansion tanpa mempedulikan Bella.
‘Bella, kau sangat mencintai Dante tapi kau bersikap kejam padaku sehingga kau tidak tidak mengijinkanku untuk mencintai Barack! Kaka macam apa tidak mau mendukung adiknya sendiri.’ Sarah mencibir ketika hatinya merasa sedikit kesal karena sikap Bella padanya.
‘Walaupun kau mengatakan padaku untuk tidak memberikan kesempatan pada Barack sekarang tapi kalau dia mau menjadikanku pacaranya aku akan langsung jawab iya! Masa bodoh apa yang kau katakan Bella! Aku sudah dewasa dan kau tidak boleh mengatur-atur hidupku lagi!’ ucap hati Sarah sambil memegang kalung dilehernya.
Perasaan rindu itu semakin besar dan keinginannya untuk bertemu Barack pun tak tertahankan lagi. Meskipun Sarah harus berusaha untuk menahan semua perasaannya saat ini karena Barack tidak bisa ditemui dan dia tak tahu dimana keberadaan pria itu sekarang.