
“Tak sulit untuk mencari tahu tentang hal seperti itu.”
Memang benar, semua hal mudah bagi Dante untuk mencari tahu. Setelah Dante mengetahui siapa Anthony, bukan hanya adiknya itu sendirian yang dicari tahu oleh orang kepercayaan Dante tapi semua orang-orang terdekat disekitarnya. Semua data-data orang-orang itu sudah dikirimkan anak buahnya pada Dante sehingga pria itu mengetahui semuanya.
‘Ehm….itu adalah tawaran yang diberikan sekitar enam bulan yang lalu Tuan! Mungkin karena penolakan ini juga beliau menginginkan saya segera meninggalkan federal.” Vince tidak menyangka kalau Dante menanyakan sesuatu yang memalukan seperti itu dihadapan semua orang. Dan Anthony yang mendengarnya pun menjadi penasaran.
“Kenapa kau tidak pernah membicarakan hal itu denganku?”
“Apa? Anthony? Tidak mungkin aku menceritakan hal itu padamu. Kau sangat menyayangi ayahmu makanya aku tidak berani mengatakan apapun karena aku tahu itu akan menyulut emosimu dan sebenarnya aku merasa curiga dengan ayahmu. Karena saat dia mabuk ketika dia mau menawarku, dia melantur!”
“Dia membicarakan tentang dirimu yang bukan anaknya! Karena itu aku berusaha memancing pembicaraan denganmu supaya kau mulai mencurigainya dan aku pun mulai mencari tahu tentang hal ini.” kata Vince menjelaskan panjang lebar tentang kejadian itu.
‘Pantas saja! Aku penasaran waktu itu bagaimana bisa kau curiga pada ayahku. Ternyata ini jawabannya.’ Anthony bicara sendiri dihatinya sambil menggelengkan kepalanya.
“Harusnya kau menceritakan semuanya padaku!” protes Anthony agak menyayangkan sikap sahabatnya itu karena tidak mau berkata jujur padanya sebelumnya.
“Maaf! Tapi kakakmu lebih pintar darimu Anthony! Tanpa aku menjelaskannya dia sudah menuju kesana dan tebakannya itu memang benar!” jawab Vince dengan jujur.
“Kau! Jangan bandingkan aku dengannya!” protes Anthony dengan nada tak senang.
“Aku tidak membuang waktu. Kalian bisa mengobrol dibawah dan aku membutuhkanmu.” kata Dante bicara serius pada Vince.
”Aku?”
Dante mengangguk saat Antony menunjuk dengan jari telunjuknya kewajahnya sendiri.
“Aku mau besok kau yang menyetir untukku.” Dante memberikan penegasan.
“Baik tuan.” Vince kembali menganggukkan kepalanya antusias. Ada senyum diwajahnya dan cukup senang karena dia ikut diperhitungkan dan ingin diajak bekerjasama dengan Dante.
“Hei aku juga ikut denganmu! Aku mau menyelamatkan Anna, Dante!” Anthony memotong kalimat Dante dan membuat Dante menatapnya serius.
‘Wah kenapa aku merasa senang sekali ya bisa pergi bersama kakakku? Apa kau lupa kau adalah sahabatku? Karena sekarang kakakku juga memperhatikanmu maka kau tidak peduli lagi pada sahabatmu ini? Seberapa besar pesona kakakku sampai kau begitu terkagum-kagum padanya? Ingat, dia itu bukan orang baik, dia itu mafia! Hahaaa!’
Sejujurnya Anthony juga merasa cemburu melihat bagaimana sahabatnya Vince yang terlihat sangat suka bekerjasam dengan Dante. Tapi ini tidak membuat Antony membenci Dante tapi dia menjad semakin penasaran dan sedikit kesal saja.
“Tidak! Pokoknya kau tidak boleh ikut!” kata Dante tetap pada pendiriannya menolak Anthony.
“Dante!” teriak Anthony memprotes.
“Tidak! Sekali tidak tetap tidak! Anthony, ini demi keamananmu tetaplah tinggal disini!”
“Kau tidak bisa melarangku Dante!” Antony tetap protes dan dia mengikuti Dante ke pintu belakang tangga tempat yang menghubungkan mansion dengan ruang bawah tanah di bunker.
“Masuk! Cepatlah! Pintu ini hanya bisa dibuka olehku.” ucap Dante dan semua orang ikut masuk kecuali Anthony yang masih berdiri dipintu.
“Siapa bilang? Aku bisa membuka pintu ini?” ucap Anthony sambil meminta penjelasan Dante.
‘Aku lupa, dia adalah anak ayahku. Pantas saja dia bisa membuka pintu ini!’ ujar Dante didalam hatinya karena pintu itu memiliki sidik jari Dante dan disana juga dulu Henry sudah melakukan permintaan Dante memasukkan sidik jari Anthony.
Mereka menemukan pakaian Antony dan benda-benda yang disentuhnya saat dia masih bayi sehingga dia menggunakan sidik jari Anthony saat bayi. Tapi Dante juga memang tidak tahu kalau Anthony pernah masuk keruangan itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Dante dengan rasa penasarannya.
“Ya aku keluar lagi. Tempat ini hanya kosong dan hanya ada lift. Aku tidak tahu itu mengarah kemana dan kalau aku masuk kedalam sana, aku khawatir kau aka tahu sesuatu.”
“Ah, harusnya aku memasang CCTV disini.” eletuk Dante yang tak lagi menanyai Anthony tapi dia memencent tombol lift.
“Tatiana memintaku untuk memutuskan sambungan CCTVnya dulu.” jawab Dante sambil masuk kedalam lift diikuti oleh yang lainnya.
“Hah! Kau terlalu mempercayai wanita itu!”
“Aku sudah menyelesaikan hubunganku dengannya! Jangan bahas dia lagi!”
“Dengarkan aku Dante, aku tetap harus ikut denganmu. Kau tidak bisa meninggalkanku disini.”
“Dengan satu syarat kau tidak boleh memprotes pekerjaanku dan harus mengikuti semua yang aku perintahkan tanpa bantahan sedikitpun!”
“Baiklah Dante.” akhirnya Anthony pun mengalah.
“Baguslah kalau begitu. Aku suka kalau kau menurut seperti ini.” kata Dante tersenyum.
“Kita sudah sampai dimana ini?” tanya Anthony lagi karena semua orang diam ketika Anthony selesai bicara.
“Bunker! Ini tempat persembunyian dimana kalian semua aman disini.” ucap Dante singkat.
“Dante!” panggilan Hans membuat Dante menoleh kearahnya.
“Kau lihat Bella?” tanya Dante tanpa berbasa basi lagi. Dia sudah merindukan istrinya itu.
“Aku tidak tahu. Tadi aku hanya bertemu dengan Henry dan aku menemani Omero.”jawab Hans.
“Cih! Jangan berpura-pura bodoh Hans.” Dante memicingkan matanya.
“Tolong antarkan Noel bertemu dengan ayahnya Dante Emilio. Lalu siapkan tempat untuk Noel beristirahat. Dan mempersiapkan senjata untuk anak teman dari ayahku.”
“Dia ada disini?” tanya Anthony dengan suaranya yang lirih.
“Jika kau mau bertemu dengannya pergilah bersama Noel.” kata Dante.
“Ah, baiklah.” Anthony memang sangat penasaran dan dia segera pergi mengikuti Noel dan Hans.
‘Aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya dari dalam penjara! Tapi kau keren juga Dante! Aku tidak menyangka kau melakukan itu.’ gumam hati Anthony.
‘Lagi-lagi kau membuatku kagum padamu! Kau benar-benar hebat! Aku sangat bangga mempunyai kakak sepertimu!’ bisik Anthony. Dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menemui Dante Emilio dan ingin mengetahui semuanya dari pria itu.
“Lalu apa yang harus saya lakukan selama menunggu Tuan?” tanya Vince yang kini sendirian.
“Ikuti mereka! Tanyakan pada Hans apa yang harus kau siapkan untuk ikut denganku.”
“Baiklah Tuan!” Vince pun langsung pergi menyusul yang lainnya.
“Aku masih punya waktu sepuluh menit cukup untuk menenangkan wanita itu supaya dia tidak berpikir macam-macam.” Dante berjalan menekati pintu dimana Bella berada sekarang.
Dante berjalan cepat dan tersenyum ketika melihat pintu kamarnya. “Apa yang kau lakukan didalam sana? Aku juga harus menemui putraku tapi aku akan bertemu denganmu dulu dan setelah kau tenang barulah aku akan menemui Alex.” itulah yang direncanakan oleh Dante dalam waktunya yang terbatas. Dia pun memegang handle pintu siap membukanya.
“Bella? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Dante menatap kearah Bella.
“Dante? Kau sudah kembali?” respon Bella dengan senyumnya dia turun dari tempat tidur.
“Apa yang kau lakukan dengannya?” tanya Dante.
Bella sedikit meringis, “Tadi aku mau masuk kekamar setelah aku meneleponmu. Tapi aku melihat Hans berjalan cepat setengah berlari jadi aku pikir dia pasti ingin bertemu denganmu.”