
“Dasar bodoh! Memangnya kau ingin mati?” tanya Dante mengeryitkan dahi. ‘Jadi inikah dirimu yang dulu bersamaku ternyata kau sangat polos. Apakah dulu kau juga sepolos ini? Atau kau lebih polos dari ini?’ Dante sangat penasaran mengenai sifat Bella yang sesungguhnya. Meskipun dulu mereka pernah bersama tapi tidak pernah bicara apalagi mengenal karakternya. Semua hanyalah pelampiasan untuk memuaskannya diatas ranjang.
“Aku tidak mau mati! Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku masih mau hidup.” jawab Bella menggelengkan kepala.
“Memangnya apa yang mau kau lakukan?”
“Tuan mau kemana? Tunggu aku!” ujar Bella sontak bangun dan mengejar Dante.
“Bukankah kau bilang kalau kau lapar?”
“Iya aku memang lapar. Apa kita akan ke dapur?”
“Aku saja yang ke dapur. Kau tunggu disini.” ujar Dante.
“Aku mau ikut denganmu. Aku takut sendirian disini.” Bella terus berlari mengikuti Dante.
“Apa kau tidak mengerti bahasaku? Aku menyuruhmu untuk menunggu.”
“Tolong ijinkan aku ikut, Tuan. Aku janji tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan mencari terong atau lainnya. Aku tidak mau sendirian disini.”
Dante melirik Bella lalu mendengus. “Kau mau keluar seperti itu?”
“Apa ada pakaian yang bisa kupakai disini?” tanya Bella penuh harap.
“Keluar begitu saja. Tidak perlu memakai apapun.”
“Bolehkah aku pinjam bajumu, Tuan?”
“Tidak boleh!”
‘Huh…..dasar pelit!’ geramnya dalam hati. Bella berjalan mengikuti Dante dari belakang menuju ke dapur tanpa mengenakan sehelai kainpun.
“Kenapa kau tidak memakai pakaian yang sudah kubeli?”
“Tuan lupa ya saat kita keluar dari apartemen Tuan tidak mengijinkanku membawa apapun.”
“Menjawab saja bisanya!” Dante membalikkan badan menatap Bella dan memindai tubuh polos itu.
“Tidak! Aku tidak berani menjawab!” Bella langsung mengatupkan bibir menatap Dante dan memberikan senyum manisnya.
‘Dasar anak manja! Kenapa senyummu manis sekali, persis sama dengan senyum Alex anakmu.” gumam Dante dihatinya.
“Tuan, aku janji tidak akan banyak bicara. Biarkan aku ikut dan aku akan duduk diam didapur.”
Dante tidak mengatakan apapun dan terus melangkah ke dapur.
‘Kepalaku pusing karena tidak tidur sejak kemarin. Aku ingin istirahat tapi anak ini taunya menambah masalahku saja.’ Dante bergumam.
“Duduk disitu!” Dante menunjuk ke kursi pantry.
“Terimakasih Tuan, he he he.”
“Kalau kau mau nonton TV, pergilah keruang tengah dan nonton disana.”
“Tidak mau! Aku mau disini saja.” jawab Bella lalu duduk. Dante melirik Bella yang terus tersenyum padanya dan mengerjapkan matanya yang indah.
‘Kenapa senyum dan matamu sama persis seperti Alex? Caranya menatapku saat memasak juga seperti Alex ketika dia menemaniku didapur. Sangat antusias menunggu masakannya matang.’ gumam Dante dalam hati. ‘Sepertinya semua perilaku dan sidat Alex menurun darimu. Sama-sama manja!’
Bella yang sadar jika Dante meliriknya pun merasa agak takut jika pria itu akan memarahinya lagi. “Aku hanya duduk manis disini Tuan. Aku tidak melakukan apapun.”
“Apa kau bisa tidak menatapku seperti itu?” tanya Dante tiba-tiba.
“Memangnya aku melihatmu seperti apa?”
“Puff…..sudahlah. Terserahmu mau seperti apa!” dengus Dante kesal.
‘Percuma saja bicaranya dengannya, yang ada dia membuatku tambah pusing! Lebih baik aku fokus masak lalu istirahat.’
Bella terus memperhatikan Dante yang lihai memasak dan aroma wangi makanan memenuhi dapur itu membuat Bella semakin kelaparan. ‘Aku lapar sekali. Sepertinya makanan itu lezat.’ celetuk Bella.
“Ada apalagi denganmu, hu? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Dante.
“Aku melihat makanan ditanganmu, Tuan. Bukan melihatmu. Kapan kau akan memberikan makanan itu padaku?’
“Kau sudah lapar?” tanya Dante melirik Bella yang menjilat bibir bawahnya. ‘Ini belum selesai. Kau makan ini saja dulu.” Dante memberika strawberry pada Bella.
“Kenapa kau memberiku buah? Aku lapar dan buah ini tidak bisa membuatku kenyang.”
“Cerewet sekali! Buah bagus untuk pencernaan sebelum kau makan makanan utama.”
“Terimakasih Tuan.” ucap Bella langsung mengambil strawberry dan mengoles ke bibirnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Maaf Tuan, aku hanya main-main saja dengan strawberrinya. Apa kau tidak suka?” tanya Bella.
Dante memicingkan mata melihat bibir Bella yang merah. Dia tidak habis pikir dengan tingkah wanita itu yang selalu membuatnya pusing.
“Aku tidak punya alat makeup disini. Biasanya aku memoles bibirku dengan lipstik warna merah. Warna strawberry ini cantik sekali untuk bibirku makanya aku oleskan dibibirku.” jawab Bella yang sibuk melihat ke gelas yang dia gunakan sebagai cermin sambil memoleskan strawberry ke bibirnya.
“Kau mau make up?”
“Tidak perlu Tuan. Hanya Tuan yang melihatku disini.”
“Hentikan itu. Kau tidak perlu memakai merah-merah itu. Jangan bertingkah bodoh seperti itu.” ujar Dante. ‘Aku tidak akan pernah memberimu make up, tak bermake up saja kau sudah cantik begitu. Kalau kau pakai make up akan semakin canti, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku lagi.’ gumam Dante dihatinya.
“Kenapa? Apa aku tidak cantik ya? Lihat bibirku sudah merah seperti strawberry.” ujar Bella memonyongkan bibirnya, membuat Dante menelan salivanya menatap bibir merah menggairahkan itu.
“Cantik? Ha ha ha ha kau ingin aku memujimu cantik? Cih….dalam mimpipun jangan pernah kau berharap akan mendapat pujian dariku.” ucap Dante tanpa basa basi dengan wajah dinginnya.
“Kau kejam sekali! Apa ruginya kalau memuji? Apa kau tidak bisa bersikap sedikit lembut?”
“Apa kau disini untuk dipuji? Jangan lupa apa tugasmu disini!”
“Tidak!” Bella langsung menggelengkan kepalanya sambil menunduk melihat strawberry ditangannya dan memakannya, dia tak lagi berani menatap Dante. Pria itu meyunggingkan senyum puas telah berhasil membungkam Bella. ‘Huh! Kau kesal padaku? Kau pikir kau tidak membuatku kesal? Lebih baik kau diam begitu tak banyak bicara. Takkan ada satu pujianpun yang akan keluar dari bibirku.’
Dante menghela napas dalam-dalam. ‘Aku membebaskanmu waktu itu agar kau bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi apa yang terjadi sekarang? Justru kau seperti orang bodoh yang tidak berpikir. Saking bodohnya, gampang percaya sama orang.’ ucap Dante dihatinya.
“Makanlah. Habiskan jangan ada yang tersisa.” Dante mnyodorkan makanan tanpa mempedulikan perasaan Bella.
“Terimakasih, Tuan.” jawab Bella senang langsung mengambil piring yang disodorkan Dante dan membawanya keruang makan.
‘Ckckck…..lihatlah tingkahnya persis seperti anak kecil saat diberikan makanan. He…..dia lucu juga ya sangan bersemangat dan caranya membawa makanan persis sama seperti Alex. Aku jadi merindukan putraku.’ Dante menghela napas.
‘Aku harus secepatnya menemui Tatiana dan Alex. Mereka pasti khawatir kalau au tidak segera kembali. Tapi aku tidak bisa meninggalkan wanita ini disini, dia tidak bisa mengatur dirinya. Apa aku harus menyediakan pelayan disini dan meminta temanku yang lain menunggunya disini?’ gumam Dante yang mencemaskan Bella.