PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 116. JANGAN MENJELEKKAN ISTRIKU


“Kenapa aku harus menyuruhmu aborsi? Itu anakku? Apa kau gila?”


“Tapi bagaimana dengan istrimu kalau dia tahu? Bagaimana dengan nasibku dan anakku yang tanpa status?” Bella merengek seperti Alex.


“Jangan kau pikirkan! Aku akan menjaga dan melindungimu dan anakku.”


Sakit! Sangat sakit! Sakitnya tuh disini! Tatiana menangis tanpa suara, tangannya memegang dadanya yang sakit tersayat-sayat lalu dibubuhi perasan air lemon! Perih mak e!


“Baiklah. Aku pegang janjimu sayang. Cup.” Bella mengecup bibir Dante cepat. “Tubuhku lelah dan dingin. Tadi diluar tidak terasa dingin tapi sekarang baru terasa. Aku mau tidur saja.”


“Aku punya hadiah untukmu.” kata Dante.


Bella seperti terhipnotis kembali menatap Dante. “Hadiah?” wajahnya berbinar bahagia mendengar kata hadiah, membuatnya antusias. ‘Memangnya apa yang sudah kulakukan makanya dia memberiku hadiah? Dia juga datang ke kamarku, apa dia sengaja ya? Apa dia tidak tahu kalau dari tadi istrinya mengintip dari kamar Alex? Ha ha ha biarin saja, yang penting aku happy! Mampus kau mak lampir! Mulai detik ini kau tidak akan bisa tidur nyenyak! Sakit ya? Itu balasanku padamu!


‘Apa dia mengira hadiah yang ku maksud adalah yang satu itu? Lihatlah wajah bodohnya itu lucu sekali. Kau memang gila Bella ahhhh kau membuatku ikutan gila’ ucap Dante di sanubarinya.


“Mana hadiahku?” Bella sudah tak sabar menengadahkan tangannya.


“Kemarilah.”


“Baiklah. Aku menunggu.” seperti bocah kecil dia menurut pada Dante lalu mendekat kembali.


“Apa kau pikir semua hadiah bisa diletakkan ditelapak tangan?” ujar Dante melirik telapak tangan Bella.


“Kau bilang mau memberiku hadiah makanya aku membuka tanganu, walaupun hadiahnya tidak bisa diletakkan ditelapak tangan paling tidak aku sudah menunjukkan padamu kalau aku menantikan hadiahku.” Bella bicara sangat bersemangat, matanya melirik kearah pintu penghubung dan menyadari jika sosok itu sudah pergi.


“Ayo aku tunjukkan padamu.”


“Apa hadiahku ada diluar?”


“Nanti juga kau akan tahu. Kenapa kau ini cerewet sekali?” ucap Dante melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bella.


“Hei kenapa kau memegang tanganku lagi?” tanya Dante menengok wanita yang berani memegang tangannya di luar kamar. Dia merasa khawatir jika ada yang melihatnya.


“Hemmm kau tidak mau menyentuhku?” tanya Bella berani.


Dante menyentil dahinya membuat Bella meringis kesakitan. “Aduh.” pekiknya. ‘Aku lupa menghindari tangannya, dia kan kebiasaan menyentil dahiku. Kena deh jidatku yang mulus.’


“Lain kali kalau kau tidak mau menggunakan otakmu, aku akan menghukummu bukan lagi seekdar menyentil.”


“Iiihhhhh aku cuma bertanya kalau kau mau atau tidak ya jawab saja.” Bella memasang wajah cemberut.


“Harusnya kau tahu aku akan menjawab tidak dan jangan tanya hal itu lagi.Apa kau tahu ini jam berapa?” ujar Dante sarkas.


“Tuan Dante.”


“Kenapa lagi?”


“Kau sudah ke kamar Alex belum?” tanya Bella.


“Istriku sudah mengurus Alex, mereka sedang bermain dibawah. Kenapa?” tanya Dante.


“Oh jadi istrimu sudah mengurusnya ya?”


“He he he bukan aku yang meninggalkan Alex.” ujar Bella. ‘Kau ini memang bodoh ya, sudah pasang CCTV bukannya kau cek atau kau memang tidak sempat mengeceknya? Pasti istrimu mengganggumu terus ya? Ah sudahlah, andai kau tahu apa yang dilakukan istrimu.” ucap hati Bella.


“Sudahlah tidak perlu merasa bersalah begitu. Kau mau menemaninya tidur aku sudah senang. Lain kali kau harus lebih baik lagi pada Alex. Dia sangat menyayangimu, aku rasa sebagai pengasuh kau sudah berhasil. Dia benar-benar menyayangimu.”


“Alex minta kereta!”


“Apa?” tanya Dante kaget saat dia memegang handle pintu. Lalu menoleh lagi menatap Bella.


“Alex minta kereta mainan karena keretanya habis. Istrimu selalu menghukumnya dengan mengambil mainannya.” kata Bella.


“Ah itu! Tatiana selalu mengembalikan mainan itu di sore hari, kau tidak usah khawatir tentang kereta mainannya. Jangan coba-coba menjelek-jelekkan istriku dihadapanku! Semua yang kau katakan sudah dia konfirmasi padaku, dia memang sering melakukan itu tapi dia selalu mengembalikannya, dia sangat menyayangi Alex dan dia juga bersikap tegas pada Alex. Tidak sepertimu yang memanjakan Alex. Jadi jangan coba-coba cari peluang untuk mendapatkan hatiku dengan cara menjelekkan istriku.”


Ucapan Dante membuat Bella mengerjapkan matanya tak percaya. Wanita itu benar-benar licik ya! Dia sangat pandai memanipulasi keadaan dan menutupi kebohongannya. “Kau pikir aku mengadu hanya untuk itu?”


“Lalu untuk apa? Agar aku memberikanmu kepuasan lagi?”


“Sepertinya kau memang sudah benar-benar buta dengan istrimu.” ucap Bella datar.


“Bukan buta tapi aku mencintainya.” jawab Dante namun dia sudah tidak tersenyum lagi. “Sekali lagi kau menjelekkan istriku, aku akan menghukummu.”


“Hukum saja sekarang! Karena aku akan tetap bicara buruk tentang istrimu! Aku tak bisa berpura-pura karena itu kenyataannya. Terserahlah kau mau percaya atau tidak padaku, tapi istrimu sudah membuat Alex menangis dan meninggalkannya diruangan gelap gulita tanpa cahaya.”


PLAAKKKK!!


Tanpa sadar Dante menampar Bella.


Bella memejamkan matanya dan wajahnya tertutup oleh rambutnya yang berantakan ketika rasa panas dan sakit di pipi kirinya.


“Apa rasa sakit itu cukup menyadarkanmu?”


“Aku tidak mabuk! Terimakasih karena kau sudah berusaha menyadarkan aku.” bukannya meminta maaf dan merendahkan diri, Bella malah menatap lurus dengan tatapan tajam pada Dante membuat pria itu merasa sedikit panas.


“Aku sudah mengatakan padamu akan ada hukuman jika kau berkata buruk tentang Tatiana!” tak ada senyum saat Dante bicara, dia menerima tantangan kemarahan Bella dengan memandang dingin Bella.


“Baiklah, terserah kau saja! Aku tidak akan pernah menceritakan apapun lagi! Semoga kelak kau tidak menyesal saat kau mengetahui kebenarannya!” Bella bersikap acuh dan hendak emlangkah menjauhi Dante tapi tangan pria itu mencegatnya.


“Mau kemana? Aku sedang bicara denganmu.”


“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan! Istrimu yang terbaik! Wanita terbaik, wanita lain semuanya buruk! Kau puas , ha?” bentak Bella.


PLAAKKKK!


“Berani kau meninggikan suaramu dihadapanku?” Dante kembali menampar wajah Bella disebelah pipi kanan, lalu matanya memicing mengintimidasi Bella dan memandang wanita itu seperti seorang narapidana yang terbukti bersalah dan patut dihukum.


“Kau tidak suka aku meninggikan suaraku! Kau tidak suka aku membicarakan tentang istrimu! Kau tidak suka apalagi ha? Kau tidak suka pikiranku terlalu banyak menginginkanmu? Atau apalgi? Katakan!” Bella mengomel dengan suara tinggi menatap tajam mata Dante tanpa rasa takut.


“Kau menantangku?” Dante pun tak mau kalah, dia menatap tak suka dengan perlawanan Bella.


“Iya! Jika menurutmu aku menantangmu, itu benar! Jika menurutmu aku tidak menantangmu, itu juga benar! Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan. Kau tidak percaya karena aku tidak punya bukti tapi seharusnya kau mengecek CCTV dikamar ini. Kau bisa memasang CCTV dikamar


Alex! Supaya kau bisa melihat apa yang dilakukan istrimu disana. Kau bisa lihat kelakuan istrimu itu seperti apa!”