PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 293. PERLAHAN TAPI PASTI


‘Aku tunggu responmu Dante! Aku tadi sudah bicara dengan cepat dan aku tidak memikirkan apa yang aku katakan kecuali satu hal, aku tetap menekankan kalau aku mencintaimu dan aku menginginkanmu. Kau pasti akan terganggu dengan kata-kata ku itu! Ini kesempatanku untuk bisa mendapatkanmu kembali Dante. Aku tahu ini tidak akan mudah bagiku tapi aku juga tahu kalau ini tidak akan mudah juga bagimu! Sedikit demi sedikit dan perlahan tapi pasti aku akan mengikir semua rasa bencimu padaku!’ gumamnya didalam hati.


‘Aku pernah melihat bagaimana ayahku akhirnya memaafkan ibuku dan merasa kasihan pada ibuku! Aku tahu bagaimana caranya melakukan hal yang sama untuk membuatmu kasihan padaku dan menerimaku apa adanya. Kalau aku mengingat lagi masa lalu itu, kau tidak ada bedanya dengan ayahku! Kau milikku selamanya Dante! Tapi aku tidak sebodoh ibuku karena aku tidak akan pernah bunuh diri hanya untuk menghilangkan anak yang tidak dia sukai itu! Aku punya rencanaku sendiri yang jauh lebih bagus.’ Tatiana tahu betul apa yang ingin dia perbuat.


“Karena kenyataannya memang begitu! Kau bicara jujur dari hatimu. Aku bisa melihat sendiri kau bicara tanpa dipikirkan dulu.” ujar Dante yang membuat hati Tatiana bersorak-sorak. Ini yang dia inginkan menumbuhkan rasa belas kasihan dihati Dante dan dia berhasil melakukannya.


‘Betul kan dugaanku! Menghadapi Dante tidak boleh menggunakan emosiku tapi aku memanfaatkan pikiran dan banyak bersandiwara yang tidak berlebihan dan harus terlihat wajar,’ Tatiana berhasil menggelitik pikiran dan hati Dante. Hidup bersama selama bertahun-tahun membuatnya sangat memahami pria itu.


“Ya, aku akui padamu Dante. Aku memang menyuruh Lorenzo untuk mendekati Bella. Aku tahu dia memiliki kelainan dan dia juga tidur denganku. Aku sudah mengatakan ini diawal kalau aku tidak masalah dengan Bella tapi melihat kedekatannya dengan Alex aku cemburu! Aku tidak bisa sedekat itu dengan anak itu. Karena aku merasa seperti ibunya Alex mengambilmu dariku dan membuatmu mencicipi tubuhnya. Tapi aku sudah berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuknya tapi memang rasa cemburuku tidak bisa dengan mudah dihilangkan Dante! Aku memang punya kelainan yang menyimpang! Aku memang salah! Karena itu saat aku melihat bagaimana kau menyiksa Bella didalam sana aku jadi panik.” Tatiana memejamkan matanya sesaat untuk menambah kesan dramatis.


“Aku sangat ingin membawa Bella ke dokter! Bukan apa-apa karena aku merasa bersalah padanya karena rasa cemburuku aku membuatnya disiksa seperti itu.” Tatiana lalu diam dan memandang Dante dengan tatapan sedih dan memelas.


“Sepertinya kau mengatakan yang sebenarnya Tatiana.” Dante memicingkan matanya sambil menganggukkan kepala. ‘Pandai sekali kau bersandiwara. Mari kita lihat sejauh mana kau akan memainkan permainanmu ini.’ bisiknya dalam hati.


“Saat aku melihat semua alat-alat diruangan itu membuatku semakin gila Dante.”


“Apa maksudmu Tatiana?”


“Apa kau menyentuh Bella diruangan itu? Aku melihatnya tanpa busana disana dan bentuk tubuhnya sangat menarik! Kau melarangku untuk membawanya pergi! Apa kau menyukainya?”


“Bukan urusanmu! Kita sudah bercerai! Itu bukan kesalahan Bella. Tapi semua ini karena kesalahanmu yang tidak mau mengaku padaku. Andai kau tahu penyakitmu apa dan kau mengatakan padaku sejujurnya tentang keluhanmu terhadap Alex, maka kita bisa bicarakan semua ini sebagai suami istri. Tapi kau tidak terbuka padaku. Itu masalahnya! Tapi semuany sudah terlambat sekarang. Tidak ada lagi jalanmu untuk kembali!”


“Banyak masalah yang harus kuurus sekarang Tatiana! Aku tidak sanggup membahas masalah ini sekarang.” Dante kemudian hendak membalikkan badannya pergi.


“Lalu untuk apa kau menanyakan itu semua padaku Dante?” Tatiana memegang tangan pria itu dan menghadangnya supaya tidak meninggalkannya.


“Hanya ingin tahu saja apa motifmu!” Dante bicara dan berusaha untuk melangkahkan kakainya meninggalkan Tatiana dengan menghempaskan tangan wanita itu.


“Tatiana! Lepaskan tanganmu dari pinggangku!” ucap Dante. Saat dia hendak melangkah pergi,Tatiana berlari dan memeluknya dari belakang.


“Aku mencintaimu Dante! Aku memang memiliki kelainan dan aku memang bodoh karena terlalu takut menceritakan padamu! Aku tidak mau diobati karena aku merasa nikmatnya ketika mendapatkan siksaan itu Dante! Aku takut kenikmatan itu akan hilang dan hidupku akan terasa hambar. Aku suka sekali merasakan sakit itu Dante. Aku tidak berani memintanya padamu karena aku ingin terlihat seperti wanita normal dihadapanmu.”


“Lepaskan tanganmu!” ujar Dante lagi.


‘Biarkanlah begini dulu, memang tidak akan berhasil hanya dengan satu kali coba tapi kita lihat saja, aku pasti akan berhasil meluluhkan hatinya! Jangan panggil namaku Tatiana kalau aku menyerah sekarang! Semakin kau menyakiti hatiku amka semakin terobsesi aku padamu. Ini sangat menarik Dante!’ bisiknya dalam hati. Dia merasa sangat senang karena semua reaksi Dante sesuai dengan prediksi Tatiana. Meksipun dia tidak mempersiapkan sandiwara ini sama sekali.


“Tidak Dante! Aku tidak mau kehilanganmu!” Tatiana memaksa pria itu ketika Dante melepaskannya dan menatap wajah Tatiana. Wajah sendu itu sudah terlihat menyedihkan sehingga sempurnalah penampilan akting dramanya untuk menyentuh hati Dante. “Aku tidak mau kau menceraikan aku, Dante!” ucapnya lirih sambil terisak-isak dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Sudahlah Tatiana! Kita memang sudah harus berpisah, ini yang terbaik untuk kita berdua. Aku rasa kita bisa saling berpikir! Aku dan kau!” jelas Dante dengan suara yang mulai lembut. Itu membuat Tatiana tersenyum dibalik tangannya yang menutupi mulutnya. Godaan mantan itu memang berat apalagi saat tubuh lelah dan pikiran juga sedang kacau.


“Tapi aku sangat mencintaimu Dante! Aku tidak bisa berpisah darimu.” Tatiana bersikeras memegang kembali tangan pria itu.


“Dengar ya, tidak ada cinta yang menyakiti Tatiana! Kau menyakitiku dengan tidur dengan laki-laki lain! Kau membuatku mendapatkan sisa bekas kau bercinta! Bekas laki-laki lain! Aku tidak suka Tatiana! Kau menginjak-injak harga diriku, saat semua orang tahu kau itu istriku!” Dante terlihat jijik dan melepaskan tangan Tatiana dengan paksa.


“Dante!”


“Pulanglah. Kau bisa pulang kerumah ayahmu dan tinggal disana bersamanya, kalau kau butuh kendaraan atau kau mau aku memberikan kunci mobil ini padamu?” Dante merogoh sakunya dan menyerahkan kunci mobil pada Tatiana. “Ambillah ini.”


“Aku tidak mau menyetir mobilmu Dante. Itu akan semakin menyakiti perasaanku karena mengingatkanku padamu. Biarlah aku naik taksi saja atau entahlah! Aku akan mendapatkan apa nanti.” ucapnya tanpa memandang Dante.


“Aku minta maaf Tatiana! Aku melakukan ini padamu padahal kita sudah bersama selama puluhan tahun. Tapi aku rasa ini yang terbaik untuk kita sekarang! Selama kau bisa bersikap baik, aku masih bisa menganggapmu sebagai adikku. Mungkin sebagai wanita yang pernah ada dihatiku! Kau adalah anak Omero dan aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Tapi kita tidak akan pernah bisa bersama lagi seperti dulu! Aku tidak bisa! Aku butuh waktu sendiri dan menjalani hidupku sendiri!”


Dante pun tak tahu mengapa dia bisa mengucapkan kata-kata itu.


“Apakah masih mungkin aku kembali padamu Dante?” tanya Tatiana lagi yang masih tak mau menyerah begitu saja. Dia memberanikan dirinya mendongakkan wajah menatap Dante.


“Entahlah! Aku tidak yakin. Aku tidak suka wanitaku disentuh orang lain! Kau sudah mendengarku mengatakan itu berkali-kali bukan? Sudahlah Tatiana kita jalani hidup masing-masing dan jangan mengangguku maupun Alex.”


“Tega sekali kau Dante! Setelah semua yang kita lalui bersama, setelah percakapan panjang ini! Aahhhh! Kau tahu kalau aku tidak punya siapa-siapa lagi setelah ayahku meninggal nanti. Aku tidak punya keluarga selain ayahku. Kau sudah menceraikanku dan itu artinya akau akan tinggal sendirian tanpa teman sampai aku tua. Kau kejam sekali padaku Dante!”