
“Kau tidak loyal padaku kalau mereka memberikan suntikan itu! Apapun yang ada didalam itu bisa membuatmu mengikuti mereka bagaikan manusia yang tidak punya otak!” Dante mengingatkan Vince tentu hal itu sekarang.
“Saya tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Baguslah kalau kau sadar!” ucap Dante tersenyum dan dia terus melangkah masuk membuka ruangan berikutnya yang merupakan ruang tengah tapi disana kosong! Tidak ada siapapun disana.
Hanya ada jalan menuju keatas. ‘Aneh! Aku merasa ada sesuatu yang aneh! Ruangan sebesar ini tidak ada yang menjaga dan mereka semua masih fokus pada pesawat itu! Apa yang diinginkan pemilik rumah? Dia punya cctv dan dia juga mempunyai android yang bisa digerakkannya. Jika dia melihat cctc ada orang yang mengendap masuk bukankah seharusnya dia menghentikannya?”
Sejujurnya Dante tidak paham dengan keadaan ini tapi dia tetap melangkah sambil berjaga-jaga.
“Ayo kita naik!” ucap Dante lagi yang sudah diikuti Vince dibelakangnya. “Sedang apa kau dijendela?” Dante melirik Vince yang berdiri mematung di jendela sambil melihat keluar.
“Sepertinya mereka mati, Tuan! Tidak semua tubuhnya terbakar,” Vince menatap kantung jenazah yang dipisahkan membuat Dante tersenyum tipis.
‘Ini bagus sekali! Android setengah manusia itu bisa mati dengan mudah. Sama seperti manusia mati dengan tembakan dan kecelakaan seperti itu. Mereka sudah tidak bisa ditolong lagi. Berbeda dengan manusia robot seperti yang aku lihat pada tiga pramugari itu! Mereka memiliki kekuatan kamera di matanya. Aku melihat pancaran yang berbeda dan mereka lebih mengerikan.’ bisik Dante.
‘Hmmmm tidak mudah mengalahkan lawan seperti itu. Tembakan tidak mempan untuk mereka. Aku harus memikirkan cara untuk menghancurkan robot-robot itu.’ Dante mulai menganalisa diantara kedua jenis manusia itu dan apa keuntungan serta kerugiannya.
“Kita mau kemana, Tuan?” Vince kembali bertanya ketika Dante mencoleknya untuk mengikutinya.
“Vince, kita akan mengecek sesuatu diruangan ini.”
“Memangnya apa yang mau dicek Tuan?” Vince bingung karena pintu-pintu itu tidak mungkin bisa mereka masuki semuanya.
“Kita harus menemukan ruang pengendali dan mengeceknya. Mungkin ruang pengendali itu ada di salah satu ruangan ini.” Dante memencet sesuatu pada jam tangannya dan mendekatkan pada pintu.
“Tuan, untuk apa itu?” tanya Vince menanyakan jam tangan Dante yang didekatkan ke pintu. Setiap kali sampai disebuah pintu maka Dante selalu melakukan itu.
“Aku sedang mengukur tingkat radiasi didalam ruangan! Semakin tinggi tingkat radiasi diruangan itu maka harus dicek. Ini hanya kamar biasa dan itu juga.” ucap Dante menunjuk kedua ruangan yang baru saja mereka lewati.
“Ah, saya mengerti sekarang Tuan!” Vince pun akhirnya tak banyak bicara lagi dan hanya mengikuti.
‘Aku tidak kepikiran sampai situ, dia punya alat canggih sekali! Jadi tak harus membuka pintu untuk melihat berapa besarnya radiasinya? Ya benar, itu adalah laboratorium dan adalah tempat pengendalian pasti memiliki radiasi yang lebih besar. Karena elektronik kan memancarkan radiasi!’ lagi-lagi Vince salut pada Dante dengan semua yang dilihatnya ketika bekerja dengan Dante.
‘Pria itu jarang sekali bicara! Dia hanya fokus pada pekerjaannya. Dia bisa meneliti dan dapat membuat keputusan dalam waktu singkat.’ Vince bergumam dihatinya sambil mengikuti Dante ke lantai tiga karena lantai dua tidak ada menunjukkan radiasi yang membuat Dante curiga.
“Apa disini juga tidak ada, tuan?” Vince bertanya lagi tapi….
“Aku merasakannya!”
“Jadi memang disini tuan?” tanya Vince.
‘Syukurlah sudah ketemu. Aku hampir putus asa dan khawatir kalau ini semua hanya jebakan saja dan khawatir tidak ada apapun ditempat ini.’ bisik hati Vince yang merasa lega dan hanya menunggu jawaban dari Dante saja.
‘Aku tidak boleh salah menilai! Aku harus memastikan tingkat radiasinya. Aku harus tahu dimana laboratoriumnya, tempat ini sepertinyamenyimpan sesuatu.’ ungkap Dante yang beberapa kali memencet jam tangannya mencoba mengukur sampai dia yakin dan senyum muncul diwajahnya.
“Nah, disini radiasinya semakin besar!” Dante bicara lagi sambil melirik Vince.
“Jadi kita akan memasuki ruangan itu Tuan?”
Dante melirik Vince dan mengangguk, “Siapkan senjatamu!” ucap Dante pelan seperti berbisik.
“Baik Tuan!” jawab Vince patuh tapi disaat dia hendak melakukan perintah Dante tapi justru Dante melakukan sesuatu yang membuat Vince mengeryitkan dahinya.
“Apa yang anda lakukan Tuan? Saya rasa dinding dan pintu itu kedap suara! Tidak mungkin anda bisa mendengar apapun!”
“Sebaiknya kau jangan terlalu banyak bertanya jika aku melakukan sesuatu!” Dante melirik dan menatap serius karena dia paling tidak suka terlalu sering dipertanyakan. “Kau lihat apa yang ada ditelingaku?” tangan Dante menunjuk sesuatu ditelinganya.
“Earphone Tuan? Apa anda sedang mendengarkan musik?” tanya Vince yang masih tak paham.
Dante memang menggunakan earphone tapi dia memakainya saat persiapan mengobrol dengan pramugari dan sampai saat ini belum dilepas Dante. “Didalam sana ada orang! Aku bisa menengar suara didalam ruangan itu.” Dante bisa mendengar karena memakai earphone yang membuatnya bisa mendengarkan suara apa saja disekitarnya.
“Jadi kita akan membuka pintunya Tuan?” tanya Vince kembali fokus menatap pintu.
“Hmmmm!” Dante mengangguk.
Tok tok tok
‘Aku tidak mengerti cara berpikirnya! Kenapa dia harus mengetuk pintu? Tuan Dante bekerja dengan anda tapi aku tidak tahu apa yang ada didalam pikiran anda. Ini membuatku stress tapi semua yang anda lakukan ini benar-benar seperti sebuah teka teki.
Vince adalah orang yang bekerja berdasarkan perintah atasannya dan sekarang dia bekerja dengan Dante tanpa diberi perintah apapun. Ini membuatnya menjadi tidak sabaran dan banyak bertanya.
Apalagi saat dia melihat Dante yang tidak langsung menerobos membuka pintu atau mendobraknya. Yang dilakukan Dante adalah mengetuk pintu dengan pelan, seperti layaknya orang normal.
Hal itu tidak bisa diterima oleh akal sehat Vince! Mengetuk lebih dulu? Lalu apa yang dilakukan nanti? Menyapa orang yang ada didalam? Vince tidak mengerti tapi dia juga tidak menyangkal Dante karena Vince tidak berani dan sejujurnya dia merasa kagum dan ingin tahu apa yang akan dilakukan Dante.
Klek….DOR!
Sebuah senjata tanpa suara sudah menembakkan satu timah panas tepat ke kepala pria itu.
DOR DOR DOR DOR DOR
Lima tembakan beruntun sudah masuk kedalam kepala lima orang yang ada didalam ruangan itu! Dante tidak melewatkan satu orangpun dan tembakan jitu, dia melakukannya dengan cepat dan hanya membidik dalam sepersekiand etik. Tidak ada yang melihat gerakannya dengan jelas dan tembakannya mengenai kepala.
Vince tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Dia mengerjapkan mara sejenak dengan senjata yang baru diambilnya keluar. “Tuan Dante!” Vince ingin menyapa tapi Dante memberi kode dengan tangan agar dia diam sambil mengamati semua orang yang baru saja ditembaknya dan Dante kembali memberi kode pada Vince agar menutup pintu.