
“Anggap saja aku tidak pintar dan aku tidak mengerti.’ Ucap Sarah, “Aku akan mencari Barack, jadi hanya perlu menyusuri lima ribu kilometer itu saja bukan?”
“Siapa yang mau melakukan itu?” giliran Hans menyeletuk menatap Sarah, “Kau pikir kami tidak punya kerjaan sehingga harus mengelilingi lima ribu kilometer itu?”
“Tapi Barack ada disana!” seru sarah protes.
“Biarkan saja kalau dia mau balik dia akan kembali sendiri, dia sudah besar tidak perlu dicari dan dipaksa pulang kalau dia masih belum mau pulang.” ujar Hans.
“Sejak kapan kau mulai berpikir begini Hans? Semakin pintar saja kau!” sindir Eddie terkekeh.
“Hei! Aku kan memang ditugaskan untuk menunggu dirumah Dante! Kau ditugaskan untuk menyusul Nick sedangkan Dante sendiri ada urusan pribadi untuk mencari Bella! Siapa yang mau mencari Barack? Makanya aku bicara sesuai kenyataan.” ucap Eddie menggoda sahabatnya.
“Tidak bisa! Teman macam apa kalian ini tidak mau mencari Barack? Padahal dia sangat peduli pada teman-temannya.” protes Sarah lagi.
“Kau tahu darimana kalau Barack peduli pada kami?”
“Ya aku tahulah! Pasti Barack sangat peduli pada kalian semua.”
“Pfff! Kau lihat video ini!” Eddie berdecak mengambil handphonenya untuk ditunjukkan pada Sarah.
“Apa maksudnya ini?” tanya Sarah setelah melihat video itu.
“Harusnya kau bisa berpikir tanpa harus bertanya. Ini adalah perbuatan Barack! Dia menghancurkan gedung kami!” ujar Eddie.
“Barack tidak mungkin melakukan itu! Kenapa dia menyerang kalian? Berarti kalian teman yang buruk, iyakan?” emosi Sarah mulai terpancing.
“Nona Sarah! Hati-hati kalau bicara.”
“Tapi Barack tidak mungkin melakukan itu kalau dia tidak dicurangi!”
“Pacarmu sekarang hilang ingatan!” seru Hans.
“Apa? Barack tidak mungkin hilang ingatan.” Sarah menggelengkan kepalanya.
Dug dug
“Aduh.”
“Untung aku memegangmu! Duduklah, karena kita mau mendarat sebaiknya kau duduk dan pakai sabuk pengamanmu!” ucap Hans menunjuk pada sofa yang dilengkapi sabuk pengaman.
“Oh kita sudah mau sampai?”
“Duduklah!”
“Kenapa kau masih berdiri? Teman-temanmu menyuruhku duduk!”
“Aku tidak akan jatuh sepertimu karena turbulensi!” celetuk Dante agak sombong.
“Baiklah, kau juga tidak akan jatuh kalau pesawat ini jatuh. Kau kebal dan kau tidak akan pernah mati,” Sarah akhirnya duduk sambil bersungut-sungut menatap kesal orang dihadapannya. “Jadi maksud kalian Barack benar hilang ingatan?”
“Ya begitulah. Saat ini dia tidak mengingatmu, tidak mengingat kami jadi dia tidak mengingat siapapun. Dia saat ini bergabung bersama penjahat.”
“Memangnya kalian pikir kalian ini bukan penjahat?”
“Hey! Kalau kami penjahat, kau sudah tidak ada ditempatmu sekarang!” ucap Eddie kesal.
‘Anak ini berani juga ya,’ bisik hati Eddie.
“Aiisss...sudah kuduga! Benarkan saat aku bilang kalau dia tidak menghubungi pasti karena kenapa-napa. Ternyata terbukti kalau dia hilang ingatan kan?” Sarah bicara sambil menatap Dante.
“Aku masih tetap pada prinsipky, bahwa tidak terjadi sesuatu pada Barack!” ucap Dante.
“Kenapa kau nisa bilang begitu? Temanmu sendiri bilang kalau Barack hilang ingatan berarti dia tidak mengingatmu dan tidak mengingat semua orang makanya tidak menghubungi,” ujar Sarah.
Tapi Dante hanya tersenyum tipis, “Tunggu saja nanti kau juga akan membuktikan sendiri kalau Barack tidak apa-apa1” ucap Dante membalikkan badan melangkah ke kamar Alex.
“Hey kau mau kemana? Aku sedang bicara denganmu.”
“Alex, kita sudah mau sampai. Lima menit lagi kita mendarat Alex!” Dante membangunkan putranya.
“Daddy, aku masih mau tidur.”
“Tapi kau harus bangun Alex, sekarang sudah sore hari. Kalau kau masih mau tidur nanti malam kau tidak bisa tidur lagi karena kau jetlag Alex!”
“Iya daddy!” akhrinya Alex pun bangun dan merubah posisinya menjadi duduk.
“Ayo sini aku mengendongmu Alex. Kita harus segera turun dari sini.”
“Kita landing lagi daddy?” tanya Alex pada Dante yang duduk ditempat tidur.
“Iya Alex! Sekarang rodanya sudah menyentuh landasan berarti kita sudah sampai dirumah.”
“Daddy, apa aku boleh main sepuasnya?”
“Tentu saja! Tidak ada yang melarang.” Dante menganggukkan kepala.
“Yes!” Alex berteriak antusias.
“Dia juga tidak akan melarangmu lagi. Aku yang akan mengurusnya.” ucap Dante tersenyum.
“Benarkah daddy?”
“Kau akan bermain dengan Sarah. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan yang lain!”
“Iya daddy! Aku mengerti. Tapi mommy?”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan mommy! Hari ini aku punya kejutan untuknya. Ayo sekarang kita turun.” ujar Dante yang sudah punya rencana setelah sampai dirumahnya.
Alex mengalungkan tangannya dileher Dante dan mereka berdua langsung meninggalkan kamar setelah pesawat mendarat sempurna.
“Daddy, dimana Sarah?” tanya Alex yang masih dalam gendongan Dante.
“Ada, dia sedang bicara dengan teman-temanku.” ucap Danye yang menengok ke tempat yang dituju oleh Dante dan pandangan matanya langsung bertautan dengan Sarah.
“Alex sudah bangun?” Sarah menyapa lebih dulu sebelum keponakannya yang lucu mulai berceloteh.
“Sudah Sarah!”
“Sini turun Alex.” bujuk Sarah.
“Tapi aku gak mau jalan, aku mau digendong. Hooaaaammm!” Alex yang masih mengantuk baru bangun tidur menolak ajakan Sarah dan merasa hangat dalam dekapan ayahnya lebih menarik bagi Alex. Apalagi cuaca diluar sudah mulai gelap hendak turun salju.
“Ah ya…..aku mengerti.” Sarah tersenyum tak lagi mengganggu Alex.
“Daddy, apa nanti Sarah akan tidur disamping kamarku? Atau tidur dikamarku saja? Karena kamar sampingku itu kan punya Bella-ku?”
“Iya Alex, dia akan tidur di tempat Bella tidur. Sarah kan adiknya Bella jadi tidak apa-apa dia disana.”
“Ooohhh….”
“Kenapa Alex? Apa aku tidak boleh tidur dikamar Bella?”
“Boleh!” Alex menganggukkan kepalanya seperti anak besar sedang berpikir.
“Yeeaaayyy berarti nanti kita akan banyak bermain kan? Kau janji padaku akan menunjukkan mainanmu yang banyak, Alex.” bujuk Sarah emncoba membuat mood keponakannya kembali baik.
“Assiiikkkk aku bisa bermain dengan Sarah! Nanti aku tunjukkan mainanku yang banyak.” celetuk Alex senang, suasana hatinya semakin membaik.
“Tentu saja kau bisa bermain sepuas hatimu dengannya,” Dante bicara samhil melangkahkan kakinya turun dari pesawat. Bersamaan itu dia juga melihat pesawat lain yang baru mendarat dilandasan pacunya.
“Itu sepertinya milik Omero kan? Lihat ada logo perusahaannya Diamon!” Hans melihat pesawat yang baru mendarat itu.
“Sepertinya iya,” Eddie menimpali sedangkan dante tidak peduli, dia segera turun menuju ke buggy. Disana sudah ada Henry dan Norman yang sedang bicara berdua. Norman turun lebih dulu dan sekarang sudah berada diatas buggy karena dia harus menyiapkan makanan Alex lbih dulu. Sejak Norman sudah bisa membuat masakan yang sama seperti dante, dia sudah bisa memasak untuk anak itu. Dante pun terbebas dari tugas memasak untuk anaknya.