PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 441. KOLAM RENANG


“Dante! Apa kau akan menyerahkan adikku pada Barack?” tanya Bella cemas.


Dante melirik Bella dan berkata, “Tidak ada yang bisa menjaganya lebih baik daripada Barack1”


“Tapi Dante? Kau tahu kan kalau Barack itu seorang gangster?”


“Bella! Apa katamu barusan?”


“Dia kan temanmu,dia juga yang ada diruangan itu bukan? Saat di kelab malam VIP?”


 


“Bella!” Dante meninggikan suaranya tidak suka mendengar apa yang diucapkan istrinya.


“Kalau kau menganggap Barack tidak baik, itu sama artinya kau juga menganggapku juga tidak baik! Lalu kenapa sekarang kau mau menikah dan hidup bersamaku?”


 


“Eeeehhh…...”


“Kenapa? Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku?”


“Bukan begitu maksudku Dante!”


“Lalu apa maksudmu mengatakan seperti itu?”


 


“Ehm…..” Bella gelagapan karena di cecar dengan pertanyaan dari Dante dan saat ini juga dia tidak terlalu fokus karena tangan Dante kini sudah berada dibahunya dan bermain-main dengan pinggiran pakaiannya yang menutup kerah leher Bella.


 


“Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku Bella?” lagi Dante bertanya tapi pandangan matanya sudah tidak lagi menatap Bella tetapi menatap pinggiran pakaian yang sedang dipegangnya.


“Aku tidak bilang kalau kau buruk Dante tapi aku bilang temanmu yang begitu.”


“Temanku adalah cerminan diriku juga Bella! Barack adalah salah sati teman terbaikku. Jadi kau ingin mengatakan bahwa aku tidak baik juga?”


 


Kali ini mata Dante melirik pada Bella saat dia bicara. “Ehm….Dante memang awalnya kau kan memang tidak baik kan? Kau yang menculikku! Lalu kau melakukan sesuatu padaku lalu kau membuangku. Kau tidak menganggapku manusia waktu itu! Makanya aku takut kalau temanmu melakukan hal yang sama pada Sarah!”


 


“Kau tahu kalau aku tidak baik kenapa kau masih mendekat padaku Bella? Bukankah seharusnya kau tidak minta untuk kembali padaku? Tapi kau terus menerus mencari kesempatan untuk bisa bersamaku dan menggodaku dengan berbagai macam caramu.”


KREEEKKK


“Hhhh! Kenapa kau merobek baju pengantinku Dante?” keluh Bella saat bunyi robekan kain terdengar dan Bella sudah tidak fokus lagi merespon pertanyaan Dante.


 


“Supaya gampang dibuka!” jawab Dante dengan santainya.


“Tapi ada retsleting dibagian belakang gaunnya!”


“Apa aku menyuruhmu untuk bicara Bella?”


Bella pun menundukkan kepala dan menggelengkan kepalanya. Dengan mudahnya Dante melepaskan pakaiannya sehingga Bella hanya memakai dalaman saja.


 


“Sekarang jawab pertanyaanku, Bella. Kalau aku tidak baik kenapa kau tetap ada disini?” ucap Dante dengan posisi tubuhnya semakin mendekat pada Bella seperti ingin memeluk istrinya itu tapi kedua tangannya sudah ada dibelakang tubuh Bella membuka pengait bra-nya.


 


“Karena aku tidak tahu! Ehm….aku menyukaimu tanpa alasan Danre!” jawaban yang terlintas dalam pikirannya yang dia berikan pada Dante karena dia juga merasa kebingungan harus menjawab apa.


“Kau tidak takut kalau aku tidak baik? Seperti yang tadi kau katakan kalau temanku itu tidak baik?"


“Kalau kau tidak baik, kau pasti akan berbuat buruk pada putramu kan? Tapi kau tidak melakukan itu Dante.” ujar Bella dengan sisa kesadarannya.


 


“Jadi menurutmu karena aku tidak berbuat buruk pada Alex makanya kau menilaiku baik?”


“Aku tahu pekerjaanmu mungkin tidak baik Dante! Tapi aku melihat kau sangat baik padaku.” ujar Bella bersamaan dengan Dante merobek segitiga pengaman dan membuat wanita itu polos hanya menggunakan high heelsnya saja.


 


“Lalu, apa maksudmu bicara begitu Bella?”


“Aku cemas Dante! Aku takut aka melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku dulu! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sarah!”


“Tidak akan terjadi hal seperti itu! Barack bukan orang yang seperti kau pikirkan. Kau harus percaya padanya dan padaku juga! Dia akan menjaga Sarah dengan baik!”


 


“Bella, aku sedang bicara denganmu. Kenapa kau tidak bisa konsentrasi hah?” suara Dante meninggi karena mendengar suara ******* Bella.


“Dante, aku juga ingin konsentrasi tapi aku tidak bisa karena kedua tanganmu itu!”


“Oh jadi kau menyalahkan aku Bella?”


 


“Dante! Tolong jangan permainkan aku. Apa kau ingin melakukannya sekarang? Ehm….atau kau ingin mengintrogasi aku?” tanya Bella yang sudah mulai tidak bisa fokus bicara.


Ada senyum di wajah Dante ketika wanitanya sudah kembali bertanya. “Kau pikir aku tertarik untuk melakukannya sekarang disaat aku harus bekerja sebentar lagi?” tanya Dante.


 


“Apa? Kau mau bekerja setelah ini? Apa kau akan pulang besok? Dante, apa akan terjadi hal buruk padamu? Kau harus berjanji akan pulang secepatnya!”


“Kenapa kau bicara begitu?” Dante menanyakan Bella dengan sedikit menggodanya.


“Aku takut kau tidak akan kembali Dante? Bagaimana aku dan Alex nanti?”


 


Tiba-tiba saja Bella fokus menatap Dante walaupun kedua tangan pria itu masih memegang dada Bella dan bermain-main disana. Tapi gairah Bella seolah hilang begitu saja memikirkan jika sesuatu yang buruk mungkin akan menimpa Dante.


“Apa rasa takutmu sangat besar sampai kau melupakan kalau aku sedang melakukan sesuatu ditubuhmu, hem?”


 


Bella menunduk dan menatap tangan Dante yang sedang menyentuh tubuhnya. “Aku tidak bisa menjawabnya Dante! Aku tidak tahu bagaimana cara bicara denganmu. Aku ingin serius tapi kau malah mengingatkanku pada sesuatu yang membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih.”


“Apa maksudmu Bella?” tanya Dante seraya mengelus bagian sensitif Bella.


 


“Ehm…...sebenarnya aku tidak mau kau pergi Dante! Bisakah kau tinggal dirumah saja?”


“Hentikan Bella! Aku belum menyuruhmu untuk menyentuh tubuhku.”


“Tapi aku kan istrimu! Masa kau tidak mengijinkan aku untuk menyentuhmu.” Bella sebenarnya ingin protes dan merajuk tapi dia tak sanggup melakukan itu.


 


“Ingat peraturan sebelumnya. Apa kau lupa Bella?” suaminya memberikan ultimatum pada Bella.


“Jadi setelah menjadi istrimu pun aku tidak boleh menyentuhmu?” Bella merenggut sambil bicara.


“Bella, biarkan aku yang melakukannya. Memulai semuanya, kau cukup diam saja dan menikmati!”


“Lalu aku harus melakukan apa?” Bella bertanya ulang setelah Dante melepaskan tautan bibir mereka. Pertanyaan itu keluar begitu saja dengan suara deru napas Bella yang masih belum stabil.


 


“Terima saja apapun yang aku lakukan pada tubuhmu.” ucap Dante lagi.


“Ehm...Dante! Tidak bisakah kita melakukannya sambil duduk? Aku merasa geli sekali Dante? Aku sudah tidak tahan kalau kau perlakukan begini terus.” keluh Bella.


“Apa kau menikmati ini Bella?”


“Ssshhhhhh! Ini yang kusuka darimu Dante! Bermain denganku dengan caramu1”


 


“Bagaimana dengan cincinnya? Kau suka cincin yang kuberikan?”


“Apa ini artinya aku akan terikat denganmu selamanya?”


“Selama kau tidak membuat kesalahan padaku, Bella!” tegas Dante bicara hingga.


“Hkkk! Dante jangan cubit didalam sana, sakit sekali1” protes Bella.


 


“Itu hanya untuk mengingatkanmu kalau aku tidak suka kalau kau membuat kesalahan yang membuatku harus bersikap kasar padamu!”


“Aku tidak akan melakukannya Dante!” Bella menggelengkan kepalanya masih menahan nyeri.


“Berbaliklah. Aku ingin melihat luka-luka di punggungmu.” ucap Dante.


“Kalau kau melihat lukaku, apa kau tidak suka lagi padaku? Bekas lukaku mengerikan Dante!”