PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 227. MENCINTAI DANTE


Bella pung menjawab dengan menganggukkan kepala.


“Baguslah! Kalau kau memang mau jalan-jalan keluar, aku akan membawamu nanti. Aku janji makanya kau harus menghabiskan makananmu!”


Bella mengangguk lagi.


“Dante!”


“Kita akan bicarakan ini sambil jalan-jalan di pantai. Bagaimana?”


“Iya.” Bella kembali menganggukkan kepalanya.


“Nah, sudah jangan bicara lagi sekarang makanlah dulu ya Bella.”


‘Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan Bella tapi hari ini aku melihatmu meresponku setelah tiga minggu kau diam, aku merasa lebih baik sekarang. Setidaknya kita sudah bisa bicara dua arah. Ini yang aku tunggu-tunggu, bukan hanya sekedar mendapatkan informasi tentang dirimu dan Dante.’


‘Tapi sejujurnya aku juga rindu dengan senyumanmu yang ceria. Rasanya menyedihkan melihat gadis yang ceria sepertimu harus hancur seperti sekarang.’ bisik hatinya sambil mengamati Bella yang sedang makan.


“Aku…...”


“Kenapa Bella? Makanannya tidak enak?”


“Steak!”


“Hah? Kau mau makan steak dipagi hari?” tanya Anthony mengeryitkan dahinya.


Bella mengangguk, “Tapi aku mau Dante!”


“Apa?” Anthony mengerjapkan matanya tak percaya apa yang didengarnya. “Kau ingin steak buatan Dante, maksudmu ya?”


“Aku mau Dante!”


“Fuuh!” Anthony membuang napas sambil menggaruk pelipisnya, “Bella katakan padaku apa kau mencintai Dante? Kau selalu mencarinya dan memanggil namanya.” Anthony bertanya tapi kali ini dia tidak berhasil membuat Bella menjawab pertanyaannya. Wanita itu mengatupkan bibirnya dan menatap Anthony dengan ekspresi datar.


“Bella! Aku tidak mengerti maksud ucapanmu tadi. Apa kau mencintai Dante? Kalau kau diam begini aku tidak mengerti maksudmu.”


“Dante!”


“Kau mengangguk saat menyebut namanya. Jadi kau mencintainya?” Anthony mengulang pertanyaan .


‘Ah, dia mengangguk? Jadi benar dia mencintai Dante? Orang yang sudah memukulnya sekejam itu dan dia masih mencintainya? Dasar wanita ini! Aku tidak paham jalan pikirannya,” gumam Anthony.


“Jadi benar kalau kau mencintai Dante?”


Lagi-lagi Bella menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Jadi kau menyebut nama Dante karena kau mencintainya?” Anthony benar-benar tidak percaya sehingga dia mengulangi lagi kalimatnya.


‘Aku yakin mungkin kesalahannya ada disini! Bella yang mencintai Dante sehingga dari kemarin dia selalu menyebut nama pria itu sedangkan Dante mungkin tidak memiliki perasaan padanya sehingga dia tidak peduli dan tidak mau menolong Bella. Apa benar tebakanku?’ bisik hatinya Anthony.


“Dante! Steak! Dante!…..Aku mau Dante!”lagi-lagi Bella mohon pada Anthony dengan suaranya yang lirih menyadarkan Anthony dari lamunannya.


“Aku tidak mengerti Bella. Tapi kalau kau mencintainya ya mau bagaimana lagi? Tapi kau tahu kan dia sudah menikah? Dia tidak mungkin meninggalkan istrinya?” ujar Anthony mencoba menjelaskan.


Klontang…...Bella melemparkan barang yang ada didekatnya pada Anthony.


“Huhhhhhh!”


“Hei Bella! Tenanglah! Kau jangan panik dulu, aku akan mencari cara supaya kau bisa dekat dengan Dante. Kau mencintainya bukan?”


“Dante milikku! Tidak boleh wanita itu! Wanita itu jahat!” ucap bibir Bella.


“Iya….iya…...tapi kau jangan seperti itu. Ingatlah…..aku tidak akan melarangmu dekat dengan Dante, aku mendukungmu. Aku akan membuat wanita itu, hmm…...istrinya Dante menjauh.”


Mata Bella langsung berbinar mendengar ucapan Anthony dan dia menatap pria itu serius.


‘Aku terpaksa bohong padamu Bella, tidak mungkin aku menyingkirkan istrinya Dante tapi anggap saja ini adalah caraku membantumu pulih kembali,’ gumam hati Anthony.


“Kau bisa bawa Dante padaku?”


“Dante! Bawa dia padaku, dia hanya milikku Anthony! Tidak boleh milik wanita jahat itu! Sky juga milikku, bukan milik wanita itu juga!”


“Hei jangan menangis Bella!” Anthony kembali mendekat dan hendak memeluk Bella.


“Kyaaaaa…….” teriak Bella terkejut sontak menghindari Anthony.


Praaannnnnngggg…….


“Kau tidak ingin aku memelukmu?” tanya Anthony saat ingin memeluk Bella, wanita itu melemparnya dengan cangkir. Untung saja tidak pecah karena lantai dilapisi karpet tebal.


“Huhhhhhhh!”


‘Kenapa dia menggigil dan tidak ingin bicara lagi? Ada apa dengannya?’ bisik hati Anthony.


“Bella? Kau tidak apa-apa kan? Maafkan aku ya tapi aku tidak sengaja. Aku melihatmu panik makanya aku ingin memelukmu dan menenangkanmu.”


“Jangan mendekat padaku!” Bella langsung mengulurkan tangannya meminta Anthony menjauh.


“Oke, aku tidak akan mendekat padamu,” Anthony menggelengkan kepalanya.


“Jangan mendekat padaku! Nanti Dante marah padaku. Dia tidak mau aku disentuh laki-laki lain!”


“Baiklah….baiklah! Aku tidak akan mendekatimu, Dante tidak akan marah padamu. Sekarang aku menjaga jarak. Bagaimana?” Anthony mencoba bicara lagi dengan Bella.


“Dante…..Anthony, aku mau Dante!”


“Iya, nanti aku akan membawanya kemari. Bukankah tadi aku sudah berjanji padamu?”


“Dante? Sky? Aduh…..”


“Bella? Kau kenapa? Ada apa dengan perutmy?”


“Uweeekkkk!”


“Aissss…..Bella kau tidak apa-apa?”


“Maafkan aku Anthony! Aku muntah di selimutmu.”


“Hey! Sudah...sudah tidak apa-apa jangan dipegang. Biar aku bersihkan!” ujar Anthony yang langsung menarik selimut menjauh dari Bella.


‘Ada apa dengan wanita ini? Dia tahu kalau itu kotor tapi dia berusaha untuk memegangnya? Kenapa aku melihatnya seperti anak berusia lima tahun? Ada apa dengan sikap Bella seperti itu?’ Anthony tidak mengerti apa yang terjadi pada Bella tapi dia sudah menjauhkan selimut itu dari tubuh Bllea.


“Bella? Apa kau sudah bisa jalan? Kau harus bangun dulu dari tempat tidurnya supaya dibersihkan dulu. Aku mau ganti seprainya dengan yang baru.”


“Dante?”


“Haduh! Jangan panggil dia dulu! Kau bangunlah dulu atau kau mau aku mengangkatmu? Ratusan kali kau sudah memanggil namanya dan dia tetap tidak ada dan tidak akan membantumu disini sekarang Bella! Ayo bangun dari tempat tidurmu!”


“Aku tidak mau! Jangan sentuh aku Anthony!” Bella langsung menjaga jarak ketika Anthony mendekat padanya.


“Kalau kau tidak mau aku menyentuhmu dan menggendongmu, cepat turun dari tempat tidur sekarang juga. Pegang tanganku, jangan takut! Aku tidak akan melakukan hal buruk padami! Dante tidak akan marah padamu. Ayo pegang tanganku dan aku akan membantumu berdiri supaya tempat tidurmu bisa dibersihkan Bella!” Anthony mencoba membujuk Bella lagi.


“Dante?”


“Fuuh! Iya, aku sudah tahu kalau kau mencintainya. Aku tahu kau ingin menuruti semua perintah Dante padamu agar tidak bersentuhan dengan laki-laki lain. Tapi saat ini kan situasinya berbeda, Dante tidak akan marah padamu. Ayo pegang tanganku, Bella.”


“Aku tidak mau! Kenapa memaksa?” Bella melotot, “Dante!” ucapnya menatap tajam pada Anthonya.


“Maafkan aku Bella,aku harus membawamu turun dengan paksa.” Anthony mendekat untuk membawa Bella ke kamar mandi.


“Uweeekkk!”


“Heuuuu! Sepertinya kau meriang ya Bella? Atau mungkin masuk angin? Atau demam?” tanya Anthony panik, untung saja muntahannya tidak mengenai Anthony.


“Maafkan aku Anthony, tempat tidurnya kena muntah,” Bella berkata dengan datar.


‘Lihatlah bagaimana dia bicara padaku seperti anak kecil. Pasti ada masalah dengannya, aku harus segera membawanya ke psikiater. Aku akan coba diskusikan soal ini dengan Anna!’ gumamnya dihati.