
Sementara itu, Dante yang membawa Alex kekamarnya langsung membuka pintu kamar dan berjalan ke ranjang. “Apa kau masih ingin menempel padaku seperti koala Alex?” tanya Dante karena melihat Alex yang terus memeluknya erat dan menempelkan kepalanya di bahu Dante.
“Aku mengantuk daddy. Aku mau bobok!” jawab Alex singkat.
“Iya aku tahu tapi kau belum makan Alex! Apa kau tidak mau makan?” tanya Dante lagi.
Alex hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau.”
“Kenapa, sayang?”
“Tidak suka!” jawab Alex singkat padat dan jelas.
“Kau hanya mau makan makanan buatanku?”
Alex mendongakkan wajahnya menatap Dante dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Apa yang kau makan kalau aku tidak ada dirumah?” tany Dante tapi Alex tidak mau menjawab hanya menatap Dante saja. Dia ingin mengatakan tapi takut mengatakannya karena dia ingat ancaman Tatiana.
“Alex! Aku bertanya padamu, aku ingin mendengar jawabanmu.” Dante bertanya sambil mendudukkan Alex ditempat tidur.
“Aku tidak makan!”
“Kau tidak mau makan kalau aku tidak ada, begitu maksudmu Alex?” tanya Dante sambil mengelus rambut anak kesayangannya.
“Aku tidak mau! Aku tunggu daddy pulang aja!” jelasnya menggunakan kosakata yang bisa diucapkannya.
“Kalau aku perginya lama, bagaimana?”
“Apa aku harus makan?” tanya Alex balik.
“Iya. Kalau aku sedang bepergian lama, kau harus makan. Aku tidak mau kau sakit saat aku pulang.”
“Tapi aku tidak mau!” Alex menggelengkan kepalanya semakin kencang, membuat Dante pusing.
“Ada apa denganmu? Tadi pagi kau baik-baik saja, aku melihatmu tersenyum tapi kenapa sekarang kau seperti tertekan?” Dante mengeryitkan dahinya menatap Alex, dia mencoba memberikan kenyamanan pada Alex dengan mengelus rambutnya dengan lembut.
“Aku takut gelap daddy!” jawabnya jujur. Setiap kali Dante bepergian, Tatiana selalu mengurung Alex dikamar gelap dan tak memberinya makan dengan ancaman yang sama yang selalu digunakan Tatiana. Tapi Alex takut mengatakan pada ayahnya dan tidak tahu bagaimana mengekspresikan dirinya.
“Iya aku tahu kau takut gelap. Maafkan mommy ya. Karena mommy tidak tahu lampunya mati kalau mommy tahu dia tidak akan meninggalkanmu di kamar gelap.” Dante berhenti sejenak dan menatap kembali putranya.
“Apakah kau mau memaafkan mommy?” Dante berusaha membujuk Alex. Tapi anak itu masih saja diam, dia hanya menatap Dante lalu menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia sangat ingin bicara lain tapi Alex tidak tahu bagaimana mengatakan pada Dante yang sebenarnya jadi dia hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Sudah ya jangan bersedih lagi. Tidak akan ada lagi yang mematikan lampumu,ok?”
Alex kembali menganggukkan kepalanya masih dengan ekspresi sedih.
“Satu hal lagi yang harus kau ingat Alex! Tidak ada wanita yang menyayangimu lebih dari mommy, dia sangat bahagia ketika melihatmu hadir didunia ini. Dia memelukmu dengan tangisan yang tak henti-henti, dia begitu menghargai kehadiranmu didunia ini. Setiap malam dia menunggumu, menjagamu dan tak lupa memberikan mu minum saat kau haus. Mommy tidak biasa mengurus siapapun sebelumnya, dia membuatkan susu untukmu, dia menghentikan tangisanmu dengan pelukan hangatnya. Dia kekurangan tidur bahkan malam-malam dia harus mengganti popokmu. Dia berjuang keras untuk membesarkanmu
Alex hanya menjawab dengan anggukan kepala karena dia tidak paham dengan kalimat sulit yang diucapkan ayahnya tapi dia mengerti jika Dante ingin dia bersikap baik pada Tatiana.
“Aku suka dengan anggukan kepalamu Alex!” Dante tersenyum. “Apa mommy sudah mengembalikan mainanmu?”
Alex menjawab dengan menggelengkan kepala tak banyak kata yang dia ucapkan, dia terlihat seperti seorang anak yang tidak bisa bicara hanya mampu mengangguk dan menggelengkan kepala saja.
“Alex, kau harus jadi anak baik dulu! Kalau kau sudah jadi anak baik, mainanmu pasti akan dikembalikan. Bukankah dulu mommy juga mengembalikan mainanmu?”
Alex kembali menganggukkan kepala karena memang sudah beberapa kali Tatiana mengambil mainannya dan saat Alex sudah mulai bekerjasama dengannya, Tatiana pun mengembalikan mainannya. Tatiana selalu bermain cantik, dia selalu menceritakan semuanya pada Dante terlebih dahulu sehingga tidak ada kesalahpahaman diantara Tatiana dan Dante.
Itulah mengapa Dante sangat mempercayai semua ucapan Tatiana, ditambah lagi Alexh juga belum menguasai banyak kosakata dan belum tahu bagaimana caranya membela dirinya sendiri. Dia lebih memilih untuk patuh dan menggangguk pada Dante seperti yang dilakukannya sekarang.
“Baiklah, aku tidak akan memberikanmu lebih banyak pertanyaan lagi Alex. Apa sekarang kau tidak mau makan dan memilih untuk tidur saja?”
“Bella?” ucapan spontan keluar dari bibir Alex.
“Kau ingin bersama Bella?” tanya Dante mengulangi.
Anak itupun menganggukkan kepala dengan senyum diwajahnya.
“Apakah Bella mengatakan hal buruk tentant mommy padamu?” tanya Dante’Apa dia mencoba untuk mempengaruhi pikiran anakku? Seperti dia mencoba mempengaruhiku? Oh tidak! Aku tidak mau sesuatu yang buruk ada didalam pikiran Alex tentang Tatiana.’ bisik hatinya.
Alex tidak menjawab karena dia tidak mengerti maksud ucapan ayahnya, dia hanya menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bella tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang mommy?”
Alex mendongakkan wajahnya menatap ayahnya dengan bingung karena tidak mengerti maksudnya.
“Maksudku, apakah Bella membenci mommy? Apa dia tidak suka pada mommy?” tanya Dante dengan kalimat yang bisa dimengerti oleh Alex. Tapi lagi-lagi Alex menggelengkan kepalanya.
“Bella sayang aku.” jawab Alex.
‘Kenapa anak ini berkata begitu?’ ucapnya didalam hati. “Jadi itu yang dikatakan Bella? Dia hanya mengatakan kalau dia menyayangimu tapi dia tidak pernah membicarakan mommy? Dia tidak pernah membicarakan daddy?”
Alex pun menganggukkan kepalanya lagi setelah mengerti pertanyaan ayahnya. Bella memang tidak pernah mencampuri urusan Dante dan istrinya, dia hanya bermain dengan Alex saja dan dia benar-benar tulus mengurusi Alex.
‘Anakku tidak mungkin berbohong! Berarti dia memang tidak menjelek-jelekkan istriku dihadapan putraku. Baguslah kalau begitu. Aku tadi sempat berpikir tentang hal ini makanya aku benar-benar marah padanya tadi. Tapi sepertinya Alex memang sangat ingin bermain bersama Bella.’
‘Apa yang harus kulakukan?’ Dante memutar otaknya mencari jalan keluar. “Kau mau ke kamar Bella?” tanya Dante. Tapi Alex malah menggelengkan kepalanya tapi matanya tetap tertuju pada pintu penghubung ke kamar Bella, tatapan matanya fokus ke pintu itu tanpa berkedip.
“Apa kau mau Bella yang ke kamar ini?” tanya Dante lagi. Alex menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu kau panggil saja dia. Ajak dia ke kamarmu.” kata Dante. ‘Kau sangat tertarik padanya.’ bisik hati Dante yang memperhatikan tatapan mata anaknya yang tetap fokus ke pintu kamar Bella.
“Apa kau mau membuka pintu itu dan memanggil Bella?” tanya Dante lagi karena melihat anaknya hanya diam saja dan dia juga tahu kalau anaknya tidak pandai mengungkapkan isi hati secara langsung. Alex selalu membutuhkan pancingan agar bisa mengutarakan isi hatinya.