PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 174. MISSIONE COMPUITA


Dengan ringan Henry menggunakan senjatanya apabila ada musuhnya menyerang. Para serigala liar itu masih mencoba mengejar Henry tapi mereka tetap takut dengan senjata yang dipegang oleh Henry. ‘Semakin kalian mendekat maka kalian akan semakin banyak terluka atau mati!’ ucap Henry sambil berjalan cepat karena dia memang sudah terbiasa juga melalui jalur itu walaupun dalam gelap Henry tahu arahnya hingga dalam waktu kurang dari dua jam Henry sudah sampai kembali di perbatasan pintu masuk mansion Dante.


“Missione compuita for me!” ujar Henry menggunakan gabungan bahasa Italia dan bahasa Inggris sambil melihat jam tangannya. “Ah….waktu bergulir cukup cepat! Sepertinya aku hanya punya waktu tidur kurang lebih satu jam!” ujar Henry lagi sambil melangkahkan kakinya mendekat ke mansion.


“Apa yang kau lakukan disini pagi-pagi sekali Henry?”


“Selamat pagi Norman! Apa kau sudah mempersiapkan semua untuk hari ini termasuk untuk makan para karyawan?” tanya Henry basa basi.


“Tentu saja Tuan Henry. Semuanya sudah aku siapkan hingga makan malam! Tumben sekali kau bertanya begitu padaku? Apa akan ada pengecekan dari Tuan Dante atau nyonya Tatiana?”


“Bagus! Tidak ada pengecekan seperti itu!” Henry menepuk bahu Norman ketika bicara. “Aku hanya mengecek semua pekerjaan sesuai dengan yang seharusnya.” ucapnya lagi dengan sikap tenang. ‘Huf….sebenarnya aku hanya basa basi saja! Karena kau pasti merasa aneh kan kalau aku sudah datang jam segini?’ gumam Henry dihatinya karena biasanya jam sekarang Henry tidak pernah mengecek dapur lebih dulu, dia hanya akan benah-benah daerah penting terlebih dahulu seperti ruang kerja Dante yang hanya boleh dimasuki olehnya.


“Tidak akan mengecewakanmu Tuan Henry!” Norman bicara penuh percaya diri.


“Terimakasih atas kerjasamanya Norman! Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakanku.” ucap Henry mencoba menyemangati koki itu.


“Apa anda ingin makan dulu Tuan Henry?” pertanyaan mendasar Norman setiap kali ada orang yang datang ke dapur pasti itulah yang akan ditanyakannya.


Henry menatap Norman, “Aku rasa tidak. Aku datang kesini untuk mengambil dua botol air minum.”


“Ah begitu. Baiklah!”


‘Kau pasti merasa aneh kenapa aku membawa dua botol air minum? Sudahlah! Aku tidak mungkin juga menceritakan semua detail apa saja yang aku lakukan termasuk menyapamu pagi ini!’ gumam hati Henry yang sudah keluar dari dapur menuju tempat yang tadi malam  oleh Anthony.


Lalu kepala pelayan itu membuka pintu. “Ah! Tuan Henry apa kami sudah boleh keluar sekarang?” tanya dua orang pelayan wanita didalam ruangan itu. Henry mengangguk dan memberikan pada dua pelayan yang baru saja menyelesaikan masa hukumannya dari dante. Kedua pelayan wanita itu mengambil dua botol air mineral yang baru saja di ambil  Henry dari dapur.


“Terimakasih Tuan Henry! Tolong sampaikan terimakasih kami pada  Tuan Dante karena mau membebaskan kami!” ada kelegaan dihati mereka berdua yang terlihat diwajahnya ketika bicara.


“Hem….kalian tidak perli berterimakasih apapun padaku hanya saja satu hal yang perlu kalian ingat. Sekali kalian membuka pembicaraan tentang tempat ini atau bercerita pada siapapun tentang surat yang kalian bawa maka jangan salahkan Tuan Dante jika dia akan menghukum kalian lebih berat lagi. Mungkin bukan hanya kalian tapi keluarga kalian juga! Aku tidak bisa menjamin apapun karena Tuan Dante bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendak hatinya.”


“Baiklah Tuan Henry. Kami mengerti!” jawab keduanya berbarengan.


“Kalau begitu cepat keluar dari sini.” Henry berjalan lebih dulu diikuti oleh dua pelayan wanita dibelakangnya yang baru saja bebas dari hukuman.


“Aku rasa kau harus berhati-hati dengan mulutmu atau itu akan membawamu ke kuburan!” ucap Henry sambil memicingkan matanya lalu menatap keduanya bergantian. “Kalau kalian masih ingin hidup dan nyawa kalian berada ditubuh kalian sebaiknya jangan pernah membicarakan apapun tentang ruangan itu atau bertanya apapun.”


Ucapan Henry membuat keduanya langsung mengatupkan bibir, tak lagi berani mencari masalah.


“Pergilah ke asrama dan jangan banyak bicara pada orang lain tentang hal ini! Mereka hanya tahu kalau kalian libur dan izin terserah kalian mau membuat alasan apa.” ujar Henry lagi.


“Baik, Tuan Henry! Kami sudah mengerti.” jawab keduanya lemas dan Henry tidak menunggu lama lalu melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam mansion.


“Selamat pagi Nyonya!” sapa Henry pada Tatiana yang terlihat sedang berjalan menuruni tangga dengan wajah angkuh yang selalu ditunjukkannya pada kepala pelayan itu.


“Selamat pagi Henry!” jawab Tatiana ketika dia berjalan menuruni tangga.


‘Aku dari dulu merasa sangat tidak nyaman dengan pria ini. Dia selalu menatapku dengan tatapan penuh intimidasi dan entah kenapa Dante sangat percaya sekali padanya. Sulit membuatnya berhenti bekerja dari tempat ini. Dia juga tidak seharusnya ikut Dante untuk tinggal dirumahku tapi janjinya kepada orangtua Dante untuk selalu menjaga anaknya membuatku merasa risih! Saat aku pulang nanti aku akan mencoba cari cara bagaimana membuatnya tidak dipercaya lagi oleh Dante.’ gumam Tatiana didalam hati sudah mulai membuat rencana selanjutnya.


“Apa anda ingin saya menyiapkan mobil anda, Nyonya?” tanya Henry masih dengan sikapnya yang datar seperti biasanya.


“Aku sudah siapkan. Supirku sudah aku beritahu. Kau fokus saja mengurus rumah ini, Henry!” jawab Tatiana seramah mungkin dihadapan Henry walaupun didalam hatinya dia merasa sangat jijik.


“Kalau begitu selamat jalan dan selamat bersenang-senang Nyonya!” ujar Henry dengan penekana dikalimatnya yang terakhir.


“Terimakasih Henry tapi aku tidak pergi untuk bersenang-senang Henry. Aku pergi untuk menghadiri asosiasi penyandang penderita kanker ovarium.” Tatiana tersenyum dan dia mendekati Henry. “Sudah berapa tahun kau bekerja disini, Henry?”


“Saya bekerja pada keluarga Sebastian selama tiga puluh lima tahun Nyonya!”


“Hem!” Tatiana manggut-manggut. “Sudah lama sekali ya kau bekerja Henry. Berarti kau sudah cukup tua untuk bekerja! Kenapa kau tidak pensiun saja dan menikmati hidup serta serta bersenang-senang?”


“Mungkin kalau dilihat tahunnya tiga puluh lima tahun itu sudah cukup tua Nyonya! Tapi untungnya saya memulai bekerja di usia tujuh belas tahun sehingga saat ini usia saya masih produktif di lima puluh dua tahun!” ujar Henry lagi masih mempertahankan sikap sopannya.


“Ah, hebatnya kau Henry! Dari seorang karyawan biasa hingga menjadi orang kepercayaan dan kepala pelayan! Sungguh prestasi yang sangat membanggakan Henry!” Tatiana menambahkan lagi kalimat pujian yang penuh dengan makna didalamnya. “Tidakkah kau ingin pensiun dan menikmati hidupmu?”


“Memang itu impian saya, Nyonya! Tapi bukan sekarang, mungkin nanti waktunya akan tiba saya akan melakukan itu saat janji saya kepada kedua orangtua Tuan Dante telah terpenuhi.”