
“Ehmm….aahhhhh!” ******* Bella pun keluar saat tangan Dante menyentuh bagian favoritnya.
“Sstttt Belinda jangan berisik nanti Alex bangun.”
“Kau? Ada apa kau kesini? Istrimu?” tanya Bella heran. ‘Kenapa dia ada disini? Apa dia tidak takut kalau istrinya masuk kesini. Haduhhh…..kenapa sih orang ini mau membuat masalah saja!’ bisi Bella dihatinya lalu dia tertunduk sedikit dan menatap kembali mata Dante. ‘Kenapa juga tangannya harus masuk-masuk begini sih? Aku mungkin ketiduran tapi tidak harus begini caranya membangunkanku kan?’
“Ssstttt sudahlah jangan berisik nanti Alex bangun. Kemarilah ikut denganku.”
“Tapi tanganmu kenapa kau taruh disitu?”
“Sudah jangan berisik! Ayo ikut aku.” celetuk Dante yang masih menaruh tangannya ditempat favoritnya saat membangunkan Bella dan menarik keduanya lembut sehingga membuat Bella terpaksa berdiri.
“Ada apa sih Tuan?” tanya Bella lagi.
“Jangan banyak tanya. Ikut aku.”
“Iya tapi kita mau kemana?” tanya Bella kesal. ‘Ikut….ikut….tapi kenapa masih menarik itu sih? Aku kan sudah berdiri terus kenapa dia jadi berjalan mundur sambil menarik kedua ujungku sambil mengelusnya? Aisss….ini orang memang gila benar ya!’ Bella yang kesal masih menahan omelannya tak ingin membangunkan Alex.
“Jangan berisik, ayo masuk.”
“Ke kamarku?” Bella melangkah mengikuti langkah kaki Dante lalu dia menoleh kebelakang sebentar dan mendekat lagi pada Dante.
“Kau membuka pintunya tuan? Memangnya tidak dikunci?” tanya Bella yang tidak dijawab oleh Dante. Dia tetap menarik dua titik milik Bella seolah enggan melepaskannya.
“Kau harus membantu istriku, bekerjalah yang benar. Aku berjanji padamu akan memberimu hadiah kalau kau bekerja dengan baik.” ucap Dante yang membuat Bella jadi bingung.
“Hadiah? Benarkah? Maksudnya bekerja gimana? Mengasuh anakmu kan?”
“Ya!”
“Tuan kenapa kau masih memegangnya dan memelintirnya?”
“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Dante yanhg berdiri tegak didepannya sambil terus memainkan kedua titik favortinya.
“Hem….” Bella tersenyum. “Jujur saja aku suka kalau kau memegang begitu apalagi kalau kau memutarnya lembut seperti sekarang ahh….” matanya membelalak menatap Dante. “Kenapa kau lakukan itu? Bukankah kau bilang kalau sudah berada dirumahmu, kau akan menganggapku orang lain dan kita tidak saling mengenal?” ucapnya.
Dante hanya melirik Bella, “Maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?” Bella mendongakkan wajah menatap Dante saat pria itu membuka pakaian atas Bella dan membiarkan Bella polos dibagian atasnya.
“Untuk adikmu, Belinda!” jawab Dante.
“Jadi kau sengaja menyentuhku sekarang karena ada sesuatu yang terjadi pada adikku?”
Dante menganggukkan kepala sambil membuka bagian bawah Bella juga.
“Kenapa dengan adikku?” tanya Bella sesaat setelah Dante membuka kain terakhir yang menutupi tubuhnya. Kini dia polos tanpa sehelai benangpun dihadapan Dante.
“Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjaganya. Kami lalai.” ucap Dante menatap Bella.
“Jadi kau berbaik hati padaku karena sesuatu yang buruk menimpa adikku?” tanya Bella dengan airmata yang terbendung.
“Hemmmm…..”
“Tuan Jeff? Apa dia yang melakukan sesuatu pada adikku? Huuuaaa….huaaaa…..” Airmatanya pun tumpah dan Dante langsung memeluknya erat-erat.
“Aku minta maaf padamu untuk ini. Aku sudah memikirkannya sepanjang malam dan tadinya aku tidak ingin menceritakannya padamu tapi ini adalah kesalahanku makanya aku harus jujur padamu. Tapi kuharap kau jangan khawatir karena sahabatku Barack sedang bersama adikmu, dia pasti akan menjaga adikmu. Barack selalu memenuhi semua janjinya padaku.” Dante mencoba menenangkan Bella.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada adikku? Tolong katakan padaku.” pinta Bella yang saat ini sudah digendong oleh Dante yang membawanya ke tempat tidur.
“Kemarilah.” Dante belum sempat menjawab pertanyaan Bella tapi dia sudah menarik Bella kedalam dekapannya dan kedua tangannya mencoba menenangkan Bella. Dante memilin dengan halus seperti tadi untuk menenangkan Bella.
“Ahhhhh…..”
“Mobil mereka jatuh ke jurang tapi mayatnya belum ditemukan. Aku sangat yakin kalau mereka berdua selamat.” saat suara ******* Bella terdengar, Dante pun mulai menceritakan semuanya.
“Apa kau yakin adikku selamat?” tanya Bella.
“Aku sendiri yang akan mencarinya. Aku akan meninggalkanmu disini bersama istriku, cobalah bersikap baik padanya dan kau jangan terlalu banyak tidur. Bantu dia mengurus Alex. Aku akan berusaha mencari adikmu dan menemukannya. Bantulah aku dengan bekerjasama denganku, kau harus melakukan pekerjaanmu dengan baik.”
“Tapi bagaimana jika istrimu tidak mau aku membantunya?” tanya Bella menatap Dante.
“Dia pasti mau jika kau membantunya. Dia tidak bisa mengurus Alex karena kondisi kesehatannya tidak baik, istriku sangat lemah. Jadi tolong jaga Alex untukku.” Dante berusaha menyakinkan lagi sambil menatap Bella.
Cup!
‘Ha? Dia menciumku? Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya? Ada apa dengannya ya apa dia kesambet?’ gumam Bella dalam hati saat sentuhan lembut bibir Dante menyentuh bibirnya dan lidah pria itu masuk kedalam rongga mulutnya menjelajah dan menari bersama lidah milik Bella. Ciuman Dante penuh gairah dan kasih sayang, seolah dia enggan untuk melepasnya. Dia sangat menikmati ciuman mereka yang sudah sangat dia rindukan sejak lama. Saat keduanya sudah kehabisan napas, Dante melepas ciumannya.
“Sayangi Alex seperti anakmu sendiri. Tidurlah bersamanya setiap malam seperti yang tadi kau lakukan. Aku sangat suka melihatmu tidur bersamanya sambil memeluknya karena dia menyukai kehangatan. Alex akan tertidur pulas jika seseorang memeluknya seperti itu. Jangan pernah tinggalkan dia sendirian. Aku mohon padamu untuk menyayanginya dan lakukan yang terbaik untuknya. Maukah kau melakukan itu?”
“Apakah kau menciumku karena Alex?”
“Iya. Sebagai tanda terimakasihku padamu! Aku berjanji akan menemukan adikmu.” ucap Dante. ‘Aku memang menciummu karena Alex karena kau ibunya. Aku berterimakasih karena kau sudah memberiku seorang putra seperti Alex. Semoga saja kau bisa memahami maksudku dengan menciummu, jujur aku merindukanmu dan aku merasa tersiksa jika tak bisa menyentuhmu.’ bisik hatinya sambil tersenyum pada Bella.
Lagi-lagi Bella terkejut melihat senyum diwajah Dante yang selama ini hanya menunjukkan wajah dinginnya. Tapi dia sangat senang karena hari ini untuk alasan apapun, Dante sudah menciumnya dan ciumannya bukan ciuman penuh nafsu tapi ciuman yang dipenuhi kasih sayang dan gairah tersembunyi.
“Aku paham! Terimakasih ya. Sarah adalah gadis yang kuat dan dia tahu bagaimana bersikap dan bertindak dalam keadaan sulit.” kata Bella sambil menghapus airmata dengan punggung tangannya.
“Dan untuk apa yang sudah kau berikan aku berterimakasih. Aku berjanji padamu akan menjaga adikmu dan aku akan penuhi janjiku.”
“Kau sudah membuatku polos dan pengen. Apakah kau mau masuk?” tanya Bella dengan polosnya.
“Tidak. Aku hanya ingin menenangkanmu bukannya mau masuk kedalam sana.” jawab Dante.
“Tapi aku tidak akan tenang kalau kau tidak masuk.” bujuk Bella.
“Belinda! Jaga pikiranmu, ini dirumahku jangan bicara macam-macam. Bagaimana mungkin kita melakukannya dirumahku? Aku tidak mau kau mendapat masalah dari istriku.”
“Tapi….” Bella memegang lengan Dante.
“Kau mau aku masuk kesana?” tanya Dante yang dijawab dengan senyum dan anggukan oleh Bella.
“Baiklah! Tapi tidak sekarang. Aku akan melakukannya bersamamu setelah aku menemukan adikmu dan semua masalah ini beres.” janji Dante.