
“Sini biar aku bantu.”
“Tapi aku tidak bisa memakai baju sebanyak ini. Aku akan kepanasan Anthony.” protes Bella merasa ngeri melihat beberapa pakaian yang harus dipakainya.
“Kalau kau tidak mau memakai semua ini maka aku tidak akan mengantarmu pada Dante.” ancam Anthony yang tidak mau membuang waktunya lagi. "Udara diluar sangat dingin sekarang, kalau kau tidak memakai pakaian itu kau pasti kedinginan nanti dan bisa sakit."
‘Hah aku mau ketemu Dante!’ bisik hati Bella, dia takut pada ancaman Anthony sehingga dengan terpaksa dia menganggukkan kepala menyetujui permintaan Anthony.
“Baiklah, aku akan mengganti pakaianku sekarang.” ujar Bella mulai membuka kancing bajunya.
“Sedang apa kau disini Anthony?”
“Aku mau keluar! Cepat paki bajumu kalau kita terlambat kita tidak bertemu dengan Dante.”
“Iya!”
“Hah! Apa dia lupa kalau aku sudah melihat seluruh tubuhnya? Bahkan aku yang mengobati semua luka-lukanya. Dasar kau Bella!” Anthony terkekeh saat dia keluar dari ruang ganti. ‘Saat aku membawamu aku memang punya rasa padamu, kau berbeda dan cantik! Tapi melihat kau begitu tersiksa karena jauh dari dante dan sangat senang akan bertemu pria itu entah kenapa aku tidak keberatan dan aku setuju saja padahal dante sudah menyiksamu.’
“Bella! Kau punya waktu sepuluh menit untuk mengganti pakaianmu.”
“Anthony! Aku tidak punya makeup, aku cari didalam tapi tidak ada.” bukannya menjawab Anthony justru Bella sibuk mencari makeup.
“Kalau kau bermakeup dan kalau kau terlalu cantik berjalan bersamaku, aku pastikan Dante akan marah padamu dan dia tidak akan mau bertemu denganmu!” ancam Anthony lagi yang membuat Bella menggelengkan kepala.
“Oh tidak. Aku tidak mau itu Anthony.”
“Kalau begitu jangan banyak bicara yang macam-macam. Ayo kita pergi.”
Bella mengikuti Anthony berjalan menuju pintu, “Ingat ya kalau aku mengatakan kita akan pergi ke tempat dokter Anna. Kau tidak boleh membantah. Cukup diam saja.”
“Iya aku paham.” jawab Bella.
“Pegang tanganku sekarang.”
“Aku tidak mau!” Bella takut dan dia menggelengkan kepala.
“Ini caranya supaya kita bisa keluar dari tempat ini.”
“Tapi Dante…..” Bella memikirkan pria itu.
“Dante tidak akan marah, ini hanya pura-pura!”
“Oh benarkah?” tanya Bella polos, dia benar-benar masih trauma dengan Dante.
‘Kenapa aku harus berpura-pura? Tempat apa ini kenapa sepertinya Anthony sulit sekali membawaku keluar dari sini?’ pertanyaan itu muncul dibenak Bella tapi dia mencoba memendam semua perasaannya dan tidak menanyakan apapun lagi pada Anthony.
Bella pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Anthony, dia memegang tangan Anthony dan berjalan keluar dari kamarnya.
‘Fuuuhh! Semoga aku bisa membawa wanita ini keluar tanpa ada masalah.’ bisiknya dalam hati. Anthony berjalan sambil menggandeng tangan Bella keluar kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ke pintu keluar.
Sesaat setelah Anthony baru membuka pintu utama rumahnya, "Anthony! Mau kemana kau malam-malam begini membawanya?” suara seorang pria terdengar dari arah belakang.
"Ah, ayah? Kenapa kau belum tidur? Tumben kau ada dirumah jam segini? Ini....wanita ini sedang tidak enak badan. Masalah kewanitaan dan aku tidak mengerti sama sekali. Aku ingin membawanya ke tempat Dokter Anna."
Jenderal Robert mengeryitkan keningnya menatap Anthony lalu beralih ke Bella. Dia memindai wajah perempuan itu dari ujung rambut sampai kaki. Robert melihat wajah Bella yang pucat dan terlihat meringis.
Dante kembali mengambil teleponnya lalu menghubungi Henry.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?”
Mendengar suara diseberang telepon itu membuat Danter tersenyum, suara dari orang yang selama ini membantunya dan banyak sekali memberikan dampak positif dalam kehidupan Dante.
“Aku minta senjata terbaikku! Siapan sekarang Henry dan aku minta tambahan peluru untuk senjata itu.” ucap Dante mengutarakan keinginannya.
“Baik, Tuan. Apa anda juga mau baju anti peluru?” tiba-tiba Henry merasa khawatir setelah mendengar permintaan Dante.
“Tidak perlu. Aku ingin kau siapkan pesawat untukku. Aku akan turun dalam lima menit.”
“Baik Tuan.” jawab Henry lagi berusaha menenangkan diri.
“Siapkan juga mobil untuk kubawa dalam pesawat karena aku akan membutuhkan mobil disana. Pastikan bahan bakarnya cukup untuk aku kendarain pulang-pergi kurang lebih dua puluh kilometer. Aku juga mau kaca anti peluru, aku ingin mobil pintar yang sudah dilengkapi persenjataan didalamnya. Mobilku yang tidak bisa terlacak dan bisa berakselerasi sampai seratus kilomter perjam dalam wakttu beberapa detik saja.”
“Baik, Tuan.” jawab Henry yang sudah mengingat semua yang dibutuhkan oleh Dante. Henry bergegas mempersiapkan semuanya untuk Dante.
‘Aku paling suka bekerja dengan Henry, dia tidak pernah banyak bertanya padaku dan semua perintahku selalu sesuai dengan keinginanku,’ gumam Dante dihatinya sambil tersenyum puas diwajahnya. Setelah menyelesaikan semua permintaannya pada Henry, Dante memasukkan handphonenya ke saku celananya dan keluar dari ruang kerja.
Dia tidak mengganti pakaiannya dna langsung berangkat meskipun ini bukan kebiasaan Dante tapi karena dia sedang terburu-buru dan waktunya juga hanya satu jam sesuai perjanjian dengan Anthony.
‘Sabarlah Belinda, sebentar lagi aku akan menjemputmu dan kau akan kembali kerumah ini. Yang penting sekarang aku membawamu menjauh dari dunia luar dan membawamu kerumah ini untuk melindungimu. Disinilah tempat paling aman untukmu sekarang!’ bisik Dante. Memang dia berencana membawa Bella kedalam rumahnya karena Tatiana sudah tidak ada.
Dan Bella dikelilingi keaman yang terbaik. ‘Jeff Amadeo! Aku yakin kau akan terkecoh.’ bisik Dante dihatinya. Dia berjalan menuruni tangga dengan membayangkan semua rencana yang membuatnya tersenyum. Hilang sudah semua kegundahan hatinya karena apa yang terjadi tadi. Sedangkan dia juga belum menerima kabar dari Omero sejak pria itu meninggalkan rumah Dante.
Dante sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bella dan membalaskan dendamnya pada Jeff sehingga pikirannya sedang sibuk merencanakan langkah selanjutnya.
“Daddy!” dari arah meja makan panggilan suara imut membuat Dante berhenti dan menoleh.
“Apa yang kau inginkan Alex?” tanya Dante tersenyum sambil mendekat pada anaknya.
“Aku sudah makan daddy! Masakanmu memang paling enak!” Alex bicara dengan renyah dan membuat Dante bersemangat.
“Apa kau suka?” tany dante tersenyum.
“Suka! Memang masakan Daddy paling enak. Aku suka masakanmu dan aku senang sekali bisa makan masakanmu sekarang tiap hari.”
“Pintar! Sekarang setelah makan kau harus kembali ke kamarmu. Istirahatlah ya. Ini sudah malam, sudah waktunya kau tidur Alex.”
“Iya daddy!” Alex mengangguk lalu membalikkan badannya menatap Sarah. “Ayo Sarah! Ayo Hans!”
“Oke!” Hans menyambut tangan Alex yang terulur padanya.
“Kau duluan saja Alex.” jawab Sarah yang melihat Alex sudah duluan berlari menaiki tangga dengan sangat senang menggandeng tangan Hans menuju kamarnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Dante pada Sarah memicingkan matanya.
“Ternyata kau ini penipu ulung!” bisik Sarah pada Dante tak ingin suaranya terdengar oleh Alex.
“Kau! Berani-beraninya kau bicara begitu padaku!” ucap Dante kembali terpancing amarahnya dengan ucapan Sarah.