
“Oh ini…..Tuan!” pria itu bergegas mendekati Dante. “Apa anda sendiri yang akan mengantarkan ke kamar Tuan Alex?” tanya Norman sambil memberikan piring berisi steak ketangan Dante.
“Hemmm….aku merubah rencananya. Aku yang akan menyuapinya, Alex tidak makan tadi siang bukan?” tanya Dante pada kepala pelaya itu seolah tidak ada yang terjadi dan sikap Dante pun seolah belum mengetahui rahasia Anthony.
“Tidak Tuan! Kami tadi siang tidak mengantar apapun ke kamar Tuan Alex dan kami juga belum mengantarkan makanan ke kamar Bella.”
“Kalau aku tidak menyuapi Alex, makanan ini akan terbuang karena dia akan makan sedikit kalau kalian yang mengantarnya!” ujar Dante.
“Ah….ya anda benar Tuan! Apakah kami perlu mengantarkan makanan untuk Bella, Tuan?”
“Tidak perlu!” ucap Dante sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Membuat Anthony menghembuskan napas lega.
“Tumben sekali Tuan banyak bicara ya.” ucap Norman.
“Iya benar!” ujar seorang pelayan wanita lalu melirik kearah Anthony. “Hei kenapa kau diam saja?”
“Ah tidak Rita! Hmmm…..apa Bella membuat kesalahan hari ini?” tanya Anthony.
“Kenapa kau berpikiran begitu?” Rita menimpali sambil menarik kursi dan duduk.
“Tuan Dante tidak menyuruh pelayan mengantar makanan, bukankah itu berarti Bella tidak makan?”
“Ssssttttt…...entahlah! Sebenarnya kehadiran Bella di mansion ini juga seperti misteri! Dia diperlakukan berbeda oleh Tuan Dante.” jawab Norman sambil menatap Anthony lalu melirik kaki Anthony ketika pria itu berjalan mengambil kursi dan duduk. “Ada apa dengan kakimu Anthony?”
“Ah tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja, terlalu lama berdiri hari ini.” jawab Anthony sambil mengambil gelas dan menuangkan air minum.
“Aku permisi dulu ya.” ujar Rita segera keluar karena tak ingin membuat Tatiana marah apabila ada pelayan didekat meja makan, kini hanya ada Anthony dan Henry berdua saja disana.
“Norman!” Anthony berdiri setelah meletakkan gelasnya dan mendekati koki itu.
“Ada apa Anthony?” tanya Norman menyeret kursi untuk duduk berhadapan dengan Anthony.
“Tidak apa-apa, aku hanya mau tanya soal surat padamu. Apa kau sudah memberikannya pada Bella?” tanya Anthony. ‘Sebenarnya aku bisa saja langsung kembali ke kamar tidurku dan tidak mampir ke dapur tapi aku penasaran dengan surat itu. Aku khawatir jika surat itu tidak sampai padanya, aku harus menanyakan pada Norman. Sangat berbahaya jika jatuh ketangan orang yang tidak tepat.’ gumamnya dalam hati, tapi ekspresi wajah Anthony tampak tenang.
“Sudah Anthony! Suratmu itu sudah ku taruh dibawah piring dan aku juga sudah mengatakan pada pelayan yang mengantarkannya tadi.” jawab Norman jujur.
“Oh begitu ya. Bolehkah aku tahu siapa yang mengantarnya?” tanya Anthony lagi. ‘Ekspresi wajah koki ini terlihat jujur dan tidak ada yang disembunyikannya.’ gumam Anthony dihatinya yang percaya pada pria itu tapi dia menanyakan untuk memastikan saja.
“Ellie yang mengantarnya, tapi aku tidak bertemu dengannya sejak tadi pagi.”
“Apakah dia libur hari inu? Atau mungkin dia sakit makanya tidak keluar dari kamar lagi?” tanya anthony karena hanya ada tiga alasan itu saja yang membuat seorang pelayan tidak masuk kerja.
“Aku juga tidak tahu, mungkin saja. Setelah dia mengantarkan itu mungkin dia pergi atau dia beristirahat karena sakit tapi aku tidak mendapat laporan kalau ada yang pergi kerumah sakit.”
“Oh begitu. Ya sudahlah biarkan saja. Mungkin saja dia cuti hari ini.” Anthony tidak mau memperpanjang kagi karena saat itu seorang pelayan memasuki dapur dan mendengar percakapan mereka.
“Aku juga tidak bertemu Sharon! Tadi aku sempat melihat Ellie dengan Sharon tapi mereka berdua menghilang, apa mereka berdua janjian ya?” celetuk pelayan itu.
“Entahlah Ricci!” Anthony mengangkat bahunya, “Aku juga tidak tahu karena aku juga baru datang.” tegas Anthony tersenyum.
“Mungkin saja mereka pergi berdua, Ellie kan sering bolos dan kadang-kadang dia menghilang tiba-tiba menghindari pekerjaannya.”
“Kau benar Norman! Aku rasa mereka pergi berdua.”
‘Aku sudah memberikan pesan pada Bella, tapi kenapa dia tidak datang ya? Aku sudah menunggu seharian, atau jangan-jangan dia tidak memakan makanan itu? Padahal aku harus memperingatkannya tentang sesuatu.’ gumamnya yang kini mulai merasa semakin tidak tenang dan nyaman.
“Aku permisi dulu ya, aku masih penasaram dan mau mencari Sharon dulu.” ucap Ricci.
“Hei Anthony! Apa yang kau pikirkan?” tanya sang koku setelah Ricci pergi dari pintu belakang dapur.
“Ah tidak ada apa-apa. Apakah kau punya makanan?” tanya Anthony.
“Ada. Ini makanlah.” ujar sang koki menyodorkan piring berisi makanan.
“Wah! Sepertinya ini makanan spesial. Kenapa kau memberikannya padaku?” tanya Anthony lagi.
“Ini seharusnya untuk Tuan Alex! Tapi tadi Tuan Dante sudah memasak untuk Tuan Alex, jadi Tuan Alex tidak akan memakan ini. Kau makanlah!”
“Hidangan spesial! Aku sudah merasa seperti tamu penting saja karena bisa makan ini. Ha ha ha.” ucap anthony berusaha bersikap tenang.
“Maksudmu, bisa makan enak sekali-sekali?” tanya sang koki yang duduk dihadapan Anthony.
“Iya begitulah.” Anthony menganggukkan kepalanya dan melirik sang koki sambil menyuapkan makanannya.
“Anthony! Apa kau memberikan peringatan pada Bella didalam surat itu?”
“Ya begitulah. Kalian sendiri sudah melihat bagaimana Nyonya tatiana menghukum dan mempermalukannya kemarin, bukan?” jawab Anthony melirik koki itu lagi.
“Aku tahu!”
“Dan tadi pagi juga!” ujar Anthony lagi.
“Sepertinya Nyonya cemburu dengan Bella ya? Aku sampai kaget saat Nyonya membanting piring dihadapanku.” mereka berdua mulai bergosip membicarakan Tatiana dan Bella.
“Hahahaha…..btw terimakasih kau sudah mau menolongku tadi. Aku benar-benar khawatir sekali kalau aku sendiri yang menyampaikan pesan itu, nyonya atau tuan pasti akan marah padaku.” ucap Anthony menaruh alat makannya karena dia sudah menghabiskan makanannya.
“Tapi….apa dia membacanya?” tanya koki itu lagi menatap Anthony.
“Entahlah! Aku juga tidak tahu tapi mudah-mudahan saja dia sudah membacanya. Meskipun dia tidak melakukan apa yang au perintahkan disurat ku.”
“Memangnya apa yang kau tulis disurat itu?” tanya si koki mulai kepo.
“Aku hanya memberitahunya untuk menemuiku di salah satu tempat agar aku bisa memperingatinya, bukan apa-apa. Tidak ada hal lain yang kutulis disurat itu.” ujar Anthony. “Apa kau masukkan obat yang aku minta tadi?” bisik Anthony pelan.
“Oh obat pencahar itu? Iya sudah, bukankah itu ada hubungannya dengan surat ya?” tanya si koki.
“Iya.” Anthony mengangguk,
“Tapi tadi aku dengar katanya ada dokter yang datang memeriksa Bella.” ujar sang koki.
‘Jadi itu alasannya kenapa dia tidak datang kerumah sakit untuk menemuiku? Ternyata sudah ada dokter yang menemuinya. Apa mungkin karena dia pengasuh Alex makanya dia mendapat perlakuan khusus? Kalau dia sakit tidak perlu kerumah sakit, dokter yang akan datang memeriksanya?’ bisik hatinya Anthony yang mulai mengerti situasinya.
“Jadi dokter itu yang mengobatinya?” tanya Anthony mengeryitkan keningnya.