
‘Heiissss menyusahkan saja! Baru saja aku bertemu dengannya sudah menyusahkanku dengan muntah sembarangan dan sekarang lihatlah apa yang terjadi padanya?’ Dante kembali menahan luapan emosinya tidak biasanya Bella muntah malam-malam tapi entah kenapa raanya perutnya mual sekali. Apalagi hari ini memang Bella belum makan apa-apa dan langsung naik pesawat jadi kondisinya memang tidak stabil.
“Maaf Dante!” ucapnya dengan wajah muram sehingga membuat Dante berdecak dan menatapnya.
“Kita bersihkan dulu.” Dante sudah berdiri dari tempat duduknya tak lagi peduli kalau saat ini mereka belum sampai di ketinggian yang pas dan masih menukik naik.
“Aku tidak ada membawa pakaian.” ujar Bella.
“Berikan tanganmu padaku. Ayo berdiri!”
“Hei tunggu! Kenapa dengan tanganmu? Kenapa kau gemetaran begitu?” tanya Dante pada Bella yang sudah mengangkat tangannya dan ingin menggapai tangan Dante, tapi langsung dihentikan oleh pria itu dan dia meraih tangan mungil Bella, “Apa kau sakit demam atau kau merasa tidak nyaman di perutmu?” tanya Dante bertanya gusar karena dia tahu kondisi Bella sekarang sedang hamil.
“Aku tidak apa-apa. Maaf aku hanya tidak menyangka kalau kau ada dihadapanku sekarang!”
“Fuuhh!” Dante berdecl lalu mengangkat tubuh Bella dan tak lagi bertanya.
“Kemana kau ingin membawaku?” tanya Bella.
“Ganti pakaianmu. Kau baru saja muntah.”
“Aku mual sekali Dante!” ucap Bella.
“Apa waktu kau hamil Alex, kau juga begini?” tanya Dante sambil membuka pintu kamar.
“Sky? Alex adalah Sky-ku bukan?” wajah Bella tersenyum dia tidak menjawab pertanyaan Dante malah menanyakan hal lain.
“Hmmm….apa kau seperti ini saat hamil Alex?”
“Aku tidak ingat. Seperti apa aku ketika aku hamil Alex?” tanya Bella balik.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Dante mendudukkan Bella diatas kloset ingin menggantikan bajunya.
“Semuanya yang tidak aku ingat.” ucap Bella bersemangat.
“Katakan satu persatu! Aku tidak bisa mengingat semuanya.” Dante bicara lagi dan tangannya sibuk membersihkan tubuh Bella. Sejujurnya ini pertama kalinya Dante sibuk karena membersihkan wanita seperti itu.
“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali kau melihatku Dante?”
“Aku membutuhkan anak!” hanya itu jawaban Dante sambil melirik Bella tapi hanya beberapa saat dia sudah fokus lagi menggantikan pakaian wanita itu. Tak ada rasa jijik sedikitpun diwajahnya ketika dia membersihkan semua muntahan, sehingga membuat Bella memandangnya tak paham.
“Apa lagi yang mau kau tanyakan Belinda? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Dante dia sejenak dan mendongakkan kepalanya menatap Bella.
“Apa kau tidak melihat kalau aku cantik waktu itu?”
“Sejak kapan aku mengatakan kalau kau cantik, hem?”
Perasaan kau pernah mengatakan padaku kalau ibunya Alex itu cantik! Apa maksudmu ibunya Alex itu Tatiana?”
Glek!
Dante menelan salivanya, “Kapan aku mengatakan itu padamu?” agak terbata-bata Dante bicara.
“Hahahahaha.” Bella malah tertawa terbahak-bahal menatap dante.
“Apa maksudmu menertawaiku? Kau mengerjaiku?” Dante membelalakkan matanya menatap Bella sambil mengepalkan tangannya.
‘Kurang ajar wanita ini! Berani-beraninya dia menggodaku? Sudah bagus aku mau membersihkan semua muntahannya dan membersihkan tubuhnya. Tapi apa yang dilakukannya, bukannya berterima kasih tapi malah menertawaiku?’ geram sekali hati Dante. Hari ini Bella sudah berhasil mengacaukannya lagi dan membuatnya tak jelas. Wanita itu terus-terusan memanggil namanya dan membuatnya membersihkannya. Tak ada satupun hal itu yang jadi rencana Dante saat bertemu Bella.
“Tidak! Aku...hanya berbohong saja padamu! Kau tidak pernah mengatakan padaku kalau ibunya Alex itu cantik!”
“Dante! Apa kau marah padaku?”
“Aku tidak suka kau menggodaku begini! Gunakan kewarasanmu!”
“Aku…..uweeekkkk!”
“Belinda! Ada apa denganmu? Apa kau demam?” tanya Dante panik sendiri dan mengambil air lalu menghapus muntahan Bella lagi.
“Aku mual sekali.” jawab Bella lagi.
“Apa yang kau inginkan untuk menghentikan mualmu?” tanya Dante dengan kepanikan, dia mengelap semua muntahan Bella dengan baju yang tadi Bella pakai. Dante membuka semua pakaian Bella untuk menggantinya karena sudah bau muntah. Dante yang tadinya marah mendengar ucapan Bella yang emnggodanya kini sudah hilang rasa marahnya. Dia merasa kasihan pada Bella dan membersihkan seluruh tubuh Bella lalu mengangkatnya kembali kedalam kamar dengan menutupinya dengan handuk.
“Ini punya Alex! Minyak eucalyptus ini bisa mengurangi mual-mual. Alex suka pakai ini untuk menghilangkan demam.” Dante memberikan minyak itu kebagian tubuh Bella untuk membuat wanita itu merasa sedikit hangat. “Bagaimana sekarang? Apa kau merasa lebih baik?” tanya Dante yang hanya dijawab Bella dengan menatapnya lekat-lekat.
“Aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja?”
“Kau perhatian sekali padaku. Kenapa kau jadi baik padaku?” tanya Bella yang tidak bisa dijawab oleh Dante, dia malah diam mengatupkan bibirnya.
“Ehm….sebentar ya aku ambilkan pakaian untukmu. Kau pakailah pakaian apapun yang ada disini. Nanti dirumah kau bisa mengganti dengan pakaian yang kau mau!” ucap Dante yang memilih berdiri dan mengambil pakaian untuk Bella.
‘Duh! Kenapa diajadi terus-terusan menggodaku begini? Kenapa aku jadi salah tingkah tak jelas begini perasaanku ketika dia ada disisiku?’ Dante sedikit agak tergangggu dengan sikap Bella. Terasa hangat tapi dia masih berusaha menjaga harga dirinya.
Dante tetap bersikap tenang dan mengambil pakaian bersih miliknya untuk Bella Dante berusaha untuk mengalihkan pikirannya pada Handphone.
[Tolong keluarkan semua pakaian Tatiana dari closet. Gantikan semua dengan pakaian untuk Bella]
Dante mengirimkan pesan pada Henry sebelum dia kembali menaruh handphonenya disaku celana dan kembali pada Bella untuk membantunya berpakaian.
“Hey apa yang kau lakukan?”
“Ehem…...” Bella sontak mengalihkan pandangan matanya pada Dante.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Dante ulang.
“Aku-----kau sudah kembali Dante?” Bella tak menjawab. Dengan panik dia bertanya dan langsung naik keatas tempat tidurnya. Wajahnya cemas saat melihat bagaimana tatapan Dante padanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Ehm….aku hanya ingin melihat cermin sebentar!” jawab Bella sambil menunduk, dia cemas kalau Dante akan marah padanya.
“Melihat cermin? Jadi kau berdiri karena ingin melihat cermin?”
“Iya.” jawab Bella menganggukkan kepalanya.
“Mau apa?” tanya Dante mengintimidasi.
“Aku….”
“Kau mau memuja tubuhmu yang tidak menggunakan pakaian? Melihat tubuhmu dan mau berpikir bagaimana menggodaku? Tak bisakah kau berpikir sedikit jernih?” pertanyaan beruntun keluar dari bibir Dante. “Apa yang kau inginkan? Mau demam lagi? Ruangannya sangat dingin, keluar dari selimut tanpa pakaian, baru saja muntah-muntah kau ingin merepotkanku?” Dante bicara lagi sambil mendekat pada Bella dan dia sudah berpikiran negatif dan berpikir macam-macam.
Mengingat pikiran Bella yang tak pernah jauh-jauh dari keinginannya untuk bercinta dengan Dante.
“Aku minta maaf! Jangan marah padaku.” Bella menjepit bibirnya.
“Pfff! Aku tidak marah padamu, aku hanya ingin kau sedikit lebih rasional.” ucap Dante kini suaranya sudah berubah lembut.