
Dante mengangguk, “Aku tidak terbiasa kalau tanpa jam tangan makanya aku memakai jam tangan ini untuk menutupi saja lagipula ada fungsinya juga yang nanti pasti berguna untukku.”
“Kalau begitu berhati-hatilah Dante.” hanya itu yang bisa dikatakan Bella dengan cemas.
“Kenapa kau memegang jam tanganku erat begitu?” tanya Dante menatap Bella.
“Tidak, aku hanya penasaran saja.” ujar Bella. Padahal sebenarnya dia merasa kekhawatiran.
“Jangan asal pencet. Aku tidak mau kenapa-napa denganmu.”
“Selain jarum apa ada senjata lain di sana?” tanya Bella yang kembali merasa penasaran.
“Sudahlah, tidak perlu kau pikirkan! Aku berangkat.” kata Dante, waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi sehingga dia pun segera keluar dari kamar Bella tanpa memandang wanita itu lagi.
‘Jika aku bersamanya lebih lama maka aku akan semakin lupa kalau ada pekerjaan serius.’
Dante sudah berjalan kembali kearah lift. Tapi suara seseorang memanggilnya.
“Dante!” Anthony memanggilnya dan menghentikan langkah Dante.
“Ada apa Anthony?”
“Kau mau pergi kemana lagi?”
“Aku ingin mengantarkan Henry dulu.” jawab Dante.
“Kau yang akan mengantarkannya keluar?”
“Iya dan kau kembalilah ke pesawat. Jangan lupa gunakan helm dan jas hujan yang tadi kau pakai. Ajak juga temanmu Vince sekalian.” ujar Dante memberikan perintah pada adiknya.
“Baiklah kalau begitu.” ucap Anthony.
“Apa kau sudah bicara dengan ayahnya Noel?” tanya Dante.
“Iya, aku sudah bicara dengannya. Tapi hanya sebentar saja tadi karena aku melihatnya sangat kelelahan dan ini juga sudah tengah malam. Jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat.”
“Bagus! Kalau begitu aku pergi dulu Anthony.” kata Dante tanpa banyak bicara lagi.
“Dante, apa kau yakin pergi sendiri?” tiba-tiba Anthony bertanya karena dia merasa khawatir.
“Ya, kau tunggulah disana, ditempat yang tadi sudah kukatakan padamu.”
“Bagaimana kalau pasukan federal menyerangmu Dante?”
“Tenanglah Anthony! Aku punya alasan sendiri untuk ini. Dan mereka tidak mungkin bisa melakukan apapun padaku.” kata Dante penuh percaya diri.
“Benarkah?” Anthony masih merasa ragu dan khawatir tapi Dante sudah mengangguk.
“Aku pergi dulu! Lakukan apa yang aku perintahkan.” Dante tak lagi banyak bicara dan langsung menuju ke lift dan memencet tombol untuk kembali kerumah utama.
‘Kau sama seperti mommy. Aku tidak boleh banyak bicara padamu karena kau akan merasa khawatir dan ini akan mempengaruhi dirimu, Anthony!’ Dante kembali bergumam karena dia mengerti bagaimana sikap ibunya yang sama persis seperti Anthony.
Dante tidak mau terlalu menunjukkan perasaannya karena mengerti bagaimana ibunya dulu sangat berpengaruh pada ayahnya. ‘Kalau bukan karena kau, kalian pasti tidak akan mati! Tapi aku tidak menyalahkanmu juga karena kalian berdua saling mencintau dan kalian berdua ingin menjaga satu sama lain dan tidak mau mencelakai satu sama lain.’
Pikiran Dante dipenuhi kenangan masa lalu bagaimana buruknya Robert Kane dan keinginannya untuk menguasai ayah Dante juga.
“Anda sudah pulang, Tuan?” suara seseorang mengejutkan Dante sesaat pintu lift terbuka dan disana sudah berdiri seseorang dengan wajah yang tidak disukainya.
“Kenapa kau memakai topeng itu disini? Kau membuatku jantungan saja Henry!”
“Apakah mengira saya adalah hantunya?” tanya Henry lagi.
“Kalau pun kau hantu aku tidak peduli! Dia yang sudah melukaiku dan aku tidak mau pusing.”
Dante tegas sambil berjalan keluar dari pintu ruang rahasianya menuju keruang utama.
”Tuan, apa anda yakin dengan cara ini?” Henry bicara lagi sesaat sebelum Dante memegang handle pintu. Dante pun langsung menoleh menatap Henry.
“Apa kau yang merasa tidak yakin Henry?” tanya Dante pada pria itu.
Dante mengangguk dan dia mengambil sesuatu dari sakunya. “Ini miliknya.”
Henry hendak mengambil benda itu dari tangan Dante, “Ini ponsel miliknya tuan?”
“Iya, aku mengamankannya ketika aku menculiknya.”
“Bagaimana saya akan menggunakan ponselnya ini?”
“Kau tahu kode sandinya?”
Henry pun langsung tersenyum dan menatap Dante serius. “Tentu saja tuan. Kode rahasianya adalah tanggal lahir ayah anda.” jawab Henry.
“Cih! Jadi dia benar-benar terobsesi dengan daddy-ku?”
Henry tidak menjawab namun dia hanya mengangguk dan tersenyum.
“Jauhkan pandangan wajahmu dariku. Aku melihat senyummu begitu bisa membuatku mencekikmu hidup-hidup.” kata Dante kesal.
“Maaf tuan tapi ini kan topeng wajahnya.”
“Iya memang topeng wajah tapi wajahnya dan suaranya mirip sekali sehingga membuatku tak tahan ingin menjual tasnya.” gumam Dante didalam hatinya sambil memalingkan wajahnya.
“Ayo kita keluar Henry.”
“Tuan, apa anda tidak mau dibantu oleh anak buah anda untuk melindungi anda?”
“Aku tahu apa yang kulakukan Henry. Ayolah, keluar Henry! Hilangkan semua rasa takutmu itu.”
“Saya tidak takut sama sekali tuan! Saya hanya merasa khawatir kalau mereka menyerang anda. Kita tidak tahu seberapa banyak penembak jitu yang mengelillingi kita sekarang.” Henry terlihat sangat cemas sehingga Dante meliriknya sejenak.
“Henry!”
“Iya tuan?” jawab Henry cepat.
“Kalau kau memang khawatir padaku maka berpikirlah bagaimana caranya menjadi seorang Robert Kane! Hanya itu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku!” Dante selalu bersikap seperti itu.
Dia merubah cara pikir seseorang menjadikan ketakutan orang tersebut sebagai umpan balik untuk menyerang lawannya, dan dia selalu berhasil melakukannya.
“Baiklah tuan.”
Kata-kata Dante tadi memang berguna sekali! Henry pun lebih profesional, dia mengesampingkan masalah perasaannnya untuk memikirkan keselamatan Dante.
‘Robert Kane! Dulu aku sempat memperhatikan caramu berjalan, bagaimana caramu berbicara dan bagaimana caramu menghadapi anak buahmu. Sekarang aku bisa menerka harus bersikap persis sepertimu’ itulah yang dipikirkan Henry saat ini.
“Cepat Henry! Kita tidak boleh membuang waktu lagi.” Dante menarik Henry dengan cepat dan memasangkan borgol karena dia merasa Henry terlalu lambat. Satu borgol ditangan Henry dan satu borgol ada ditangan Dante. Dia sengaja melakukan itu untuk menyelamatkan diri dari tembakan.
“Untuk apa diborgol begini tuan?” tanya Henry bingung.
“Jangan memanggilku seperti itu, mereka akan curiga nanti. Kau harus bersikap tegas! Bicara dengan pandangan wajah tegap seperti tidak akan patuh padaku!” ujar Dante yang melangkah bersama Henry menuju ke gerbang.
Mereka bisa melihat disana anggota pasukan federal yang memandang mereka dan sudah bersiap dengan senjatanya diarahkan pada tubuh Dante.
‘Fuuuh! Banyak juga kau mengirimkan pasukan untuk menyerangku? Jadi kau memang sengaja mempersiapkan orang-orang ini untuk mengejarku dan keluargaku? Atau kau ingin menggeledah rumahku untuk mencari harta karun yang tak pernah diberikan daddy-ku padamu dulu?’ pikir Dante dengan langkah mantap menuju ke gerbang.
“Berhenti disana! Serahkan jenderal kami sekarang juga!” teriak seseorang saat Dante sudah berada sekitar sepuluh meter dari gerbang utamanya. Dia pun menghentikan langkahnya,
“Berikan aku pengeras suara.” pinta Dante kepada anak buahnya karena dia tidak mau berteriak-teriak dan pria itupun berlari membawakan pengeras suara untuk Dante.
“Kalian yang datang bertamu kerumahku! Dan sekarang lihatlah matahari pun baru akan muncul! Tapi kalian sudah mengganggu ketenangan dirumahku.”
“Tuan Dante! Serahkan Robert Kane sekarang juga dan kami tidak akan membuat banyak masalah dengan anda. Cepat serahkan!”
“Aku akan lakukan jika kau sudah menarik pasukanmu! Aku adalah orang yang selalu menepati janji. Aku memintamu untuk segera menarik semua pasukanmu dalam waktu kurang dari lima menit. Atau jangan salahkan aku jika aku akan membunuh mereka semua!”
“Kami akan melakukannya kalau anda sudah menyerahkan jenderal Robert Kane pada kami.” komandan itupun tak mau kalah bernegosiasi.
“Kalian berada diwilayahku! Kalian tidak tahu apa saja yang ada disini. Aku bisa saja menyerang kalian kapapun aku mau! Jumlah pasukan kalian cuma segini bisa aku bereskan dengan cepat! Sekarang pilihannya ada pada kalian,tarik mundur pasukanmu dan sisakan lima orang saja disini termasuk penembak jitu itu. Maka aku tidak akan mengganggu kalian lagi!”