
“Kurang ajar! Dimana ayahmu sekarang?”
“Aku tidak tahu. Kak Belinda membawaku pergi dari rumah dan pergi jauh dari ayah. Kakak melarangku menghubungi ayah. Dia tidak tahu keberadaan kami. Selama tiga tahun terakhir ini kami bisa hidup tenang karena tidak ada orang yang mengganggu kami.”
“Maafkan atas apa yang kulakukan hari ini.” kata Barack.
“Tidak apa-apa. Kak Belinda sudah membicarkan masalah ini denganku sebelum aku pindah ke asrama sekolah. Dia menyuruhku untuk berhati-hati makanya aku tinggal di asrama sekolah supaya lebih aman. Tapi ternyata kau masih bisa mengambilku.”
“Aku bukan orang jahat.”
“Tapi kau tadi bilang kalau kau juga bukan orang baik.” balas Sarah.
“Ya bisa dibilang begitu juga. Aku orang jahat tapi aku tidak melakukan hal-hal padamu karena Bella memintaku untuk menjagamu.”
“Apa kau yakin?”
“Tentu saja. Aku sekarang sedang menunggu perintah kemana aku harus membawamu.”
“Bisakah kau menghubungi kakakku? Aku ingin bicara dengannya.” pinta Sarah.
“Kau ingin menyakinkan dirimu kalau aku tidak berbohong, iyakan?” ujar Barack.
Sarah mengangguk dengan tatapan datar tanpa senyum.
“Aku tanya dulu apakah kau bisa bicara dengan Bella atau tidak.” ucap Barack lalu meraih ponselnya tanpa melihat kearah Sarah lalu menghubungi Dante.
“Ada apa kau menghubungiku lagi? Bukankah tadi kau sudah meneleponku?” ucap Dante.
“Gadis yang bersamaku ini ingin bicara dengan Bella.”
“Tuan bisakah aku bicara dengan kak Belinda?” tanya Sarah tiba-tiba.
“Kau benar ingin bicara dengan Belinda?” tanya Dante. ‘Ada apa denganku? Kenapa saat kau menyebut nama Belind aku merasakan kehangatan dihatiku? Sebenarnya tadi aku ingin mengatakan kalau kau tidak boleh bicara dengannya tapi karena kau menyebut nama itu….aku berikan ijin.’ gumamnya dalam hati.
“Iya, Tuan. Aku sangat ingin bicara dengan kakakku Belinda! Bisakah anda memberikan teleponnya pada kakak? Sebentar saja aku ingin mendengar suara kakakku. Aku khawatir padanya karena kakak sering sakit kalau tidak minum obat.”
‘Jadi kau juga tahu soal obat itu?’ Dante bergumam lagi.
“Dia sedang tidur. Tunggu sebentar biar aku membangunkannya.” ujar Dante yang tak tega.
Dante mendekati Bella yang tertidur pulas. “Hei bangunlah.” Sulit sekali membangunkannya. Kalau aku membangunkan Tatiana cukup memanggilnya sekali saja dia pasti langsung bangun.’ gumamnya.
“Aku tahu cara membangunkanmu. Mungkind dengan cara merangsangmu pasti langsung bangun.”
Tangan Dante pun menyentuh tubuh Bella dan meraba bagian bawahnya.
“Emmmm…..” lirih Bella.
“Dasar kau! Disentuh baru bangun!” celetuh Dante geram. Sedangkan Bella malah tersenyum senang.
Tapi dia masih saja tidak membuka matanya. “Bangun!” teriak Dante keras sehingga membuat Bella terlonjak dengan mata melotot menatap Dante. ‘Kenapa mendengar suaranya saja rasa kantukku langsung hilang padahal tadi aku menikmati sentuhannya.’
“Apa anda ingin aku layani,Tuan?”
“Pakai otakmu yang benar! Apa kau mau aku hukum lagi direndam di air dingin?”
“Tidak….tidak mau!” jawab Bella cepat. “Apa yang harus aku lakukan? Kenapa Tuan membangunkanku?”
“Bicaralah.” ujar Dante menyerahkan teleponnya.
“Barack siapa?” tanya Bella heran melihat nama dilayar ponsel itu.
“Kau tidak bicara dengan Barack tapi dengan wanita yang sedang bersamanya.”
“Halo!”
“Kakak….kakak…..ini aku Sarah! Apa kakak baik-baik saja?”
“Sarah? Kau ada dimana sekarang?” Bella merasa antusias mendengar suara adiknya.
“Iya kak Belinda, aku baik-baik saja. Pria yang bersamaku juga baik, dia tidak melakukan hal buruk padaku, kak.”
“Syukurlah. Aku sangat kahwatir kalau mereka mengambilmu untuk menggantikanku.” seru Bella. Hatinya jadi lega setelah mendengar kabar adiknya dalam keadaan baik dan aman.
“Kakak jangan khawatir ya, aku pasti dijaga dengan baik.” ucap Sarah.
“Baiklah. Kakak senang mendengar suaramu. Aku akan berterimakasih pada Tuan Dante yang sudah mengirim orang untuk menjagamu.”
“Iya sayang. Dia yang mengirimkan orang untuk melindungimu sekarang turuti saja orang-orang itu ya. Aku yakin mereka tidak akan menyakitimu. Tuan Dante sudah mengatakan selama aku bersikap baik maka dia tidak akan mecelakaimu.”
“Kakak aman disana? Dia tidak akan melukai kakak kan?”tanya Sarah cemas.
“Tidak apa-apa sayang. Kakak aman dan baik-baik disini, jaga kesehatanmu. Aku akan sedih kalau kau kembali dalam keadaan sakit dan kurus.”
“Hi hi hi hi. Tenang saja kak. Aku hanya memastikan kalau orang yang bersamaku ini benar. Aku bisa jaga diri jadi kakak jangan cemas ya.”
“Baiklah, sayang. Hubungi aku satu kali seminggu ok?”
“Iya kak. Aku mengerti.”
“Kakak sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kakak dan aku doakan kakak selalu sehat.”
“Ya sudah kau tutup dulu teleponnya ya.”
“Kak! Kakak jangan menangis, aku sedih kalau kakak nangis.”
Dante yang terus memperhatikan Bella merasa terenyuh saat melihatnya menangis. ‘Dia sangat menyayangi adiknya sampai dia terisak seperti itu. Pantas saja gadis kecil itu jadi kelemahannya. Dia rela melakukan apapun demi menjaga adik kesayangannya.’ gumamnya. Kini dia semakin mengerti apa yang harus dilakukannya untuk wanita itu.
“Tuan, terimakasih sudah mengijinkanku bicara dengan adikku.” ujar Bella mengembalikan telepon Dante.
‘Sejujurnya aku sangat suka melihatmu tersenyum tapi aku tidak ingin mengingatnya. Senyummu dan wajahmu sangat mirip dengan Alex, anakmu. Anak kita.’ gumamnya karena tiba-tiba dia merindukan putra kesayangannya tapi setiap melihat Bella, rasa rindunya terobati meskipun masih menyakitkan baginya. ‘Semoga kau tidur tenang Alex. Maafkan daddy tidak bisa menemanimu malam ini karena aku harus bersama dengan ibu kandungmu. Aku harus menjaganya.’
“Apa aku senang sudah bicara dengan adikmu?” tanya Dante.
“Ya aku senang sekali karena adikku aman.” jawab Bella tersenyum manis.
“Tidurlah.”
“Aku?” tanya Bella heran. ‘Tadi aku tidur lelap dibangunkan, sekarang disuruh tidur lagi saat mataku sudah melek full.’ gerutunya dalam hati.
“Iya tidur lagi. Sekarang masih malam, kau masih punya waktu sekitar empat setengah jam lagi sampai jam enam pagi.”
“Kau tidak tidur?” tanya Bella pada Dante.
“Apa aku menyuruhmu bertanya? Apa aku tidak paham perintahku?”
“Ya aku paham. Kau menyuruhku tidur.”
“Lalu kenapa kau masih saja banyak bicara? Ayo cepat tidur!”
“Maaf Tuan Dante. Aku tidur sekarang.”
“Cepat tidur!”
Bagaimana aku mau tidur kalau mataku sudah tidak mengantuk lagi. Aku malah merindukan adikku ditambah lagi tadi caranya membangunkanku aneh, apa harus pakai cara begitu ya? Memangnya dia tidak bisa menggoyangkan badanku atau gulingkan saja aku sekalian biar terbangun. Tapi kalau dibangunkan dengan cara tadi, ujung-ujungnya aku malah jadi kepikiran lagi.’ bisik Bella.
Biasanya setiap malam dia mendapatkan kepuasannya tapi sudah tiga hari bersama Dante tanpa ada sentuhan sama sekali, ini sangat buruk baginya.
“Sedang apa kau? Aku menyuruhmu tidur bukan memandangi wajahku!”
“Aku tidak bisa tidur.”
“Kalau tidak bisa tidur lalu kau mau apa?”
“Aku mau ke dapur, boleh?” tanya Bella memberanikan diri.
“Tidak boleh! Awas saja kau kalau berani!”
“Aku lapar!” ujar Bella mencari alasan karena sebenarnya dia ingin mencari sesuatu untuk memenuhi hasratnya. Dia harus mencari alasan yang tepat tapi ternyata langsung ditolah oleh pria itu.
“Kau benaran lapar?” tanya Dante yang dijawab anggukan kepala Bella.
“Aku hanya makan kemarin pagi, makanan yang kau berikan pagi itu.” ucap Bella dengan senyum malu-malu.
“Kenapa kau tidak mencari makanan sendiri? Aku sudah menyiapkan makanan penuh di kulkas penthouseku! Kenapa kau tidak mengambilnya?”
“Karena kemarin aku senang sekali menemukan makanan kesukaanku, jadi kalau aku makan makanan lain apalagi makanan buatanku sendiri, maka rasanya tidak seenak makanan itu. Lebih baik aku tidak makan saja!”