
“Aku adalah orang yang ingin menghabisi Jeff Amadeo! Kau harus ingat itu Barack! Hanya aku yang boleh membunuhnya!” Dante memberi penekanan.
“Aku tahu Dante! Sekarang kau kembalilah ke mansion dan kita akan melakukan aksinya besok. Untuk hari ini biarlah sampai disini aksi kita! Aku pun butuh istirahat sekarang.” kata Barack.
“Mana bisa? Kau menyuruhku menunggu sampai besok?” Dante pun langsung protes. Dia tidak mau seperti ini, dia sudah merencanakan semuanya harus selesai barulah dia akan kembali ke mansionya. Dia tidak akan berhenti hari ini, dia paling tidak suka menunda-nunda pekerjaan apalagi masalah hari ini sudah sejak lama ditunggunya.
“Dante! Besok kita akan menyelesaikan ini. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu sekarang! Dan besok kau datang kesana! Aku akan mengirimkan detailnya padamu, tapi tidak bisa sekarang! Karena aku dalam perjalanan menuju ke Slovenia sekarang. Cobalah mengerti keadaan sekarang. Lagipula tempat itu penjagaannya cukup ketat jadi kau harus memikirkan cara menyerangnya. Tidak boleh gegabah Dante!”
‘Slovenia? Jadi disana Jeff akan bersembunyi? Baiklah, mungkin aku harus percaya pada Barack.’ gumam Dante mencoba untuk berpikir ulang tanpa mengikutkan emosinya. Dia harus berpikira cepat karena waktu yang terbatas sekarang untuk mempersiapkan penyerangan besok.
“Baiklah kalau begitu barack! Dan aku menunggu detail itu. Aku mau melihatnya dulu kalau aku tidak suka dan merasa ada kekurangan aku akan merubah rencananya.”
“Iya Dante! Aku tidak akan mengulangi kebodohanku kemarin! Aku akan membicarakan dulu dengan Manuel dan aku akan segera mengirimkan padamu. Setelah itu kita akan mendiskusikannya. Tapi diskusi singkat saja!”
“Baiklah. Kalau begitu aku kembali sekarang.” Dante pun mengakhiri pembicaraan.
“Ada masalah apa? Katakan padaku dan jangan buat aku mati penasaran.” kata Anthony.
“Sebentar Mark! Aku ingin memberitahu anak buahku yang menyetir mobil ini. Aku hanya memintanya membawa kita ke bandara.”
“Apa? Kita tidak langsung menolong Anna?” Anthony mulai gusar. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya kalau aku tidak segera menyusulnya?”
‘Aduh Anna! Ada apa dengan perasaanku ini? Apa aku memang menyukainya? Tapi dari dulu kami memang hanya sekedar teman saja. Apakah aku menyukainya lebih dari teman sehingga kekhawatiranku bahkan lebih daripada kekhawatiran pada diriku sendiri? Aduh…..aku hanya berharap Anna baik-baik saja.’ Anthony berbisik dihatinya.
Dia tidak paham dengan apa yang ada dihati dan pikirannya.
“Tenanglah Mark! Barack temanku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Dia akan melindungi wanitamu!” ucap Dante ingin menenangkan adiknya.
“Sssshhhh! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku sudah biasa dengan panggilan namaku Anthony! Kalau kau memanggilku seperti itu maka aku tidak akan mengenali namaku sendiri. Aku tidak akan mendengarmu kalau kau memanggilku dengan nama itu.”
Anthony masih bingung dengan nama panggilan yang disebutkan Dante padanya. Dia masih merasa asing dengan nama itu.
“Tapi namamu memang Mark! Dari kau kecil aku memanggilmu seperti itu. Termasuk mommy dan daddy juga memanggilmu dengan nama itu.”
“Iya itu memang nama masa laluku! Tapi aku tidak mungkin memakai nama itu sekarang Dante.” protesnya.
“Aku sudah terbiasa dengan nama Anthony! Kau harus paham itu.aku malah akan merindukan mommy dan daddy, aku malah tidak bisa mengerti apapun! Aku khawatir kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik apalagi kita sedang bekerja di lapangan.”
“Apa maksudmu berkata begitu?” Dante menatap serius pada adiknya.
“Dengar ya Dante! Aku sudah hidup selama dua puluh tujuh tahun dengan nama Anthony! Tiba-tiba kau mengganti namaku dengan panggilan Mark! Ini bukanlah hal yang mudah Dante. Biarkan aku terbiasa dulu dengan nama itu. Dan aku juga belum terbiasa memanggilmu kakak! Walaupun memang kita saudara sedarah tetap saja aku butuh waktu sejenak.”
“Biarkan aku terbiasa dulu dengan perubahan ini. Kalau perlu biarkan aku mengetes golongan darah kita supaya aku semakin yakin siapa diriku dan dirimu.”
Dante tidak langsung menjawab, dia masih menatap Anthony sambil mencerna semua permintaan Anthony tadi.
“Aku mohon jangan marah padaku. Aku mengatakan ini bukan karena aku membencimu tetapi karena inilah yang sesuai dengan pikiranku.” Anthony kembali mengingatkan Dante.
“Aku mengerti.” Dante mengangguk.
“Aku tidak akan memaksamu untuk mengakuiku sebagai kakakmu. Tapi aku akan tetap menjagamu seperti adikku! Karena kau adalah adikku.”
Dante pun mengangguk. “Apa sekarang kau mengakui kalau kau mencintai wanita yang menyamar sebagai Bella itu?” sindir Dante.
“Fuuuh! Entahlah! Ini sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan mudah. Dari awal aku memang menyukainya saat aku masih di sekolah dulu. Tapi kami sudah merasa nyaman sebagai teman dan aku tidak mau merusak hubunganku dengannya apalagi dia mengatakan padaku kalau dia tidak mudah jatuh cinta pada pria dan dia lebih suka berteman.” kata Anthony menjelaskan.
“Itu yang membuatku ragu untuk mengatakannya lagipula kami memang sangat akrab. Jadi aku tidak mau membuat hubungan kami berantakan. Aku hanya ingin menjadi sahabat dimatanya.” entah kenapa disela percakapan itu malah Anthony jadi curhat pada Dante. Hal itu membuat Dante tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
‘Bodoh! Tapi aku memang merasakan hal yang sama dengan Bella. Di awal aku merasa kalau kami tidak mungkin bersama tapi akhirnya aku akan marah jika ada laki-laki yang mendekatinya. Kita sepertinya memang satu gen karena cara berpikir kita dalam hal mencintai seseorang itu sama Anthony!’ bisik hati dante saat ini.
“Dasar kau bodoh!” umpat Dante sambil menggelengkan kepalanya. “Lalu mau kau apakan anak presiden itu? Kau sudah bersamanya dan tidur dengannya iyakan?”
Dante meminta penjelasan tentang hubungan Anthony dengan wanita yang memiliki status sosial yang cukup tinggi itu.
“Entahlah! Aku tidak menyukainya, tidak ada perasaan apa-apa padanya.”
“Aku tidak tahu Dante! Aku akan memikirkan hal itu nanti.”
Dante pun tak lagi memaksa, dia tahu hubungannya dengan Anthony memang tidak akan mudah. Walaupun Anthony adalah adik kandungnya tapi mereka memang sudah lama tidak bertemu dan mereka pun sempat bermusuhan. Sehingga yang dilakukannya sekarang hanya duduk dibelakang mobil sambil menatap kearah pintu.
Dante tak lagi bicara sehingga suasana didalam peti kemas itu menjadi hening.
“Apa yang kau pandang Dante?” tanya Anthony sambil duduk disamping Dante.
“Pintu itu.”
“Iya aku tahu. Tapi kenapa kau memandang pintu itu dengan serius?”
“Anthony, aku tidak akan tahu apa yang ada dibalik pintu itu! Apakah orang yang mengejar kita, apakah ada orang yang akan membukakan pintu ini saat kita sudah sampai di bandara? Apakah justru pintu ini akan dibuka langsung oleh Tuhan karena ada sesuatu hal yang membuat nyawa kita melayang?”
“Hei kau jangan bicara hal yang mengerikan seperti itu Dante.” Anthony pun bergidik ngeri mendengar ucapan kakaknya yang diluar ekspektasinya.
“Karena inilah kehidupan Anthony.” ucap Dante sambil melirik adiknya yang masih terlihat stress karena masalah Anna yang dibawa pergi.
“Begitu menyeramkan kah hidupmu dante?”
“Bukan hanya hidupku yang menyeramkan bahkan hidupmu pun begitu tanpa kau menyadarinya. Berapa kali pria didalam itu berusaha membunuhmu? Kau tidak pernah tahu Anthony! Kadanga serigala bisa terlihat manis padahal sebenarnya mereka sedang menipu mangsanya.”
“Entahlah! Aku juga tidak tahu apakah dia ingin membunuhku atau tidak Dante.” ucap Anthony.
Dia menghela napas panjang lalu berkata lagi, “Kami tidak berhubungan cukup baik! Tapi aku menghormatinya, dia banyak memberikan pengajaran tentang militer dan dia berusaha menjadikanku seorang militer yang kuat sejak aku masih kecil.”
“Apa kau tidak pernah berpikir apa tujuannya melakukan itu semua padamu?” tanya Dante.
Dia merasa semakin gemas mendengar cerita Anthony.
“Tidak! Aku tidak tahu. Tapi aku bersyukur karena dia tidak membunuhku, Dante.”
“Kau terlalu baik Anthony! Daddy sering sekali bertengkar dengan mommy karena sifatnya yang terlalu lembut sama persis sepertimu.”
“Sudahlah jangan membahas itu lagi. Lalu sekarang kita mau kemana Dante?”