PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 338. TARGET BARU


“Jangan ragukan aku soal itu. Apa kau meneleponku hanya untuk menanyakan hal sepele seperti itu?”


“Ya, hanya untuk memastikan kau tidak melakukan kesalahan!”


“Aku tahu apa yang harus kulakukan kakak! Kau tidak perlu kahwatir!”


“Bagus! Jangan buang waktumu Gabriella! Masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan!”


Gabriella mematikan teleponnya sambil memijat keningnya. “Semakin hari dia semakin anehdan dia semakin kejam saja! Dia berbeda dengan Rodrigo yang kukenal dulu yang suka bermain-main. Apa ini karena perbuatan kakakku?” ujar Gabriella.


Gabriella tidak bisa menjawab karena sebelum Jeff membawa Barack melakukan banyak hal, dia mencoba mengajari Baarck sesuatu dan ini tidak diketahui oleh Gabriella tapi semakin hari Barack memang semakin tidak bisa dikendalikan oleh Gabriella. Ini cukup mengerikan baginya ganya saja dia tidak mau menceritakan pada kakaknya itu.


“Eehh….kau sudah bangun Rodrigo? Aku kira kau masih tidur.” Gabriella keluar masih menggunakan bathrobe nya langsung menyapa Barack yang masih duduk ditempat tidur dengan posisinya santai bersandar di bantal sambil mengecek ponselnya.


“Kau lama sekali di kamar mandi. Kau tidak tahu mau kemana kita pagi ini?” pria yang diberi nama Rodrigo itu memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


“Aku tahu kalau kita harus menemui kakakku.” ucap Gabriella.


“Bagus!” hanya itu kata yang diucapkan oleh Barack aka Rodrigo lalu dia masuk ke kamar mandi.


“Rodrigo!” Gabriella menghentikan Barack dipintu sambil memegang tangannya.


“Apa yang kau ingin kan?”


“Ehm...aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya ingin bertanya padamu apakah sikap dinginmu ini akan selamanya begini?” tanya Gabriella yang merasa tidak nyaman lagi.


“Ya, bisa dibilang begitu!” jawab Barack.


“Kenapa? Kenapa kau setega ini padaku Rodrigo? Tidakkah kau tahu kalau aku benar-benar menyukaimu?” gabriella mencoba merayunya sambil menangis,


‘Tak pernah ada kepuasan yang diberikannya padaku! Tak ada kenikmatan. Aku ingin dia memberikanku kenikmatan itu. Apa dia tidak tertarik padaku?’ bisik hati Gabriella.


“Tidakkah kau tahu kalau aku menganggapmu itu seperti apa?” suara Barack terdengar meremehkan.


“Aku…..”


“Pergi kau! Siapkan makanan untukku! Kau paham maksudku? Statusmu dimataku itu apa?” ucap Barack menghentakkan tangannya lalu segera masuk ke kamar mandi dengan senyum sinis dia melirik kearah pintu kamar mandi yang sudah ditutupnya. Dia berdecak dan merasa jijik pada wanita tadi.


Dreeettt dreeettt dreeetttt


“Kenapa kau meneleponku?” jawab Barack sambil menyalakan air supaya suaranya tidak terdengar oleh orang diluar.


“Menanyakan kondisimu Barack!”


“Cih! Kau harap memangnya kondisiku seperti apa, hah?”


“Entahlah! Tapi aku berharap kau masih memiliki kepercayaannya.”


“Hahahaha! Aku rasa dia semakin percaya padaku dibandingkan denganmu untuk pekerjaan teknis di lapangan.” Barack tertawa pelan.


“Baguslah kalau begitu.”


“Memangnya kenapa? Apa kau takut kalau kepercayaannya semakin besar padaku dan kau terkalahkan?” ujar Barack lagi.


“Hei Barack! Hati-hati jika ucapanmu ini didengar sama orang lain.”


“Kurasa tidak! Harusnya kau yang berhati-hati kenapa kau meneleponku di tempat kau berada sekarang?”


“Aku hanya ingin mencoba menjelaskan desk job mu selanjutnya.” jawab pria diujung telepon lain.


“Ya! Rencana barunya targetnya adalah Dante Sebastian!”


“Hahahah.” Barack tertawa lagi.


“Apa yang akan kau rencanakan untuk pekerjaan baru ini?”


“Menurutmu?” Barack bertanya balik pada pria itu.


“Ayolah Barack! Kenapa kau tidak mau berbagi denganku? Aku bisa mempersiapkan semuanya lebih detail dan tidak terburu-buru seperti kemarin ketika kau meledakkan mobil White!”


“Cih! Kau pikir aku mudah untuk bicara denganmu? Wanita ular didepan itu terus saja mengejarku.”


“Buat saja dia lelah dan buat dia tidur Barack! Kan mudah ?”


“Kau pikir itu mudah. Kenapa bukan kau saja yang menidurinya?” omel Barack kesal.


“Jangan sensitif padaku. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara padamu!”


“Apa kau pikir aku punya banyak waktu?” balas Barack.


“Ayolah Barack! Berikan jawaban padaku cepat! Waktu ku sangat terbatas ini.”


“Sudah kukatakan padamu. Biarkan semua ini menjadi urusanku. Kalau aku membutuhkanmu pasti aku akan menghubungimu. sama seperti kasus White! Ingat ya. Begini cara kerjaki dan aku tidak mau terlalu banyak bicara. Kau mengerti?”


“Tapi ini tentang Dante Sebastian!”


“Aku tahu tentang sahabatku itu. Serahkan saja semuanya padaku. Dan aku akan mengaturnya sebaik mungkin. Kau cukup menunggu sampai aku meminta bantuanmu.”


...*******...


Saat Tatiana sudah keluar dari hotel tempat pertemuannya dengan Jeff Amadeo.


“Kau memang yang terbaik Jeff! Kau benar-benar iblis yang sesungguhnya! Kau adalah yang terburuk Jeff. Lihatlah penyiksaan yang kau berikan pada tubuhku! Hahahaha!”


Tatiana merasa sangat senang mendapatkan semua luka-luka itu. Ada kegembiraan yang sangat dirindukannya, ada kepuasan yang sangat menyejukkan hatinya dan menentramkan semua gelora emosinya yang tidak terarah dan saat ini Tatiana bisa berpikir lebih jernih. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Senyum pun merekah dibibirnya yang merah.


“Untung saja aku bertemu denganmu dulu Jeff. Aku tidak bisa bayangkan kalau aku langsung pergi kerumah Dante dan membawa semua kekesalan ini. yang ada disana aku malah mempermalukan diriku sendiri. Setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak akan menjadi lemah lagi! Aku juga tidak akan mengiba belas kasihan padanya! Aku akan menunjukkan kemarahanku.”


“Seperti saran Jeff! Pokoknya aku harus membuat Dante emosi sampai kehilangan kontrol dirinya. Cukup itu saja yang harus kulakukan untuk mendapatkan Dante kembali!” Tatiana tersenyum memikirkan rencananya yang terpatri didalam benaknya.


“Kalau dengan cara ini kau bisa kembali padaku Dante! Maka akan kulakukan cara ini. Kau akan mengalami kesulitan hidup dengan semua luka-lukamu dan bisnismu yang hancur. Kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa menampungmu selain aku. Kau akan merasakan betapa pentingnya diriku dan bantuanku.!” Tatiana sudah membayangkan semua yang akan terjadi seperti yang sudah dijelaskan oleh Jeff tadi.


“Kalau sudah begitu, kau akan menuruti keinginanku Dante! Kau tidak bisa lagi melarangku dengan keinginanku tapi kau bisa menjadi boneka ku dirumah yang akan memanjakanku. Aku tidak akan bisa lagi menunjukkan taringmu dihadapanku! Aku akan mematahkan taring itu. Ini akan sangat menarik.”


Saat ini Tatiana sudah melajukan mobilnya cepat menuju kerumah Dante. Dan setelah menempun perjalanan selama satu jam, akhirnya dia tiba didepan pintu gerbang utama mansion Dante.


TIIINNNN….


Dengan angkuhnya Tatiana membunyikan klakson mobilnya. ‘Apa-apaan mereka? Kenapa tidak membuka gerbang rumahnya?’ bisik hati Tatiana dan saking kesalnya dia langsung membuka jendela mobilnya.


“Selamat pagi Nyonya.” seorang penjaga menyapanya.


“Begitukah caramu menyapaku? Buka pintunya!”  perintah Tatiana dengan ketus pada penjaga itu. ‘Mereka tidak pernah menyapaku seperti ini sebelumnya. Mereka langsung membukakan gerbang ketika aku datang. Apa-apaan ini? Apa aku sudah dianggap orang asing, Dante?’ kesal sekali Tatiana.


“Kami harus memeriksa mobil anda dulu Nyonya. Mohon maaf.”


“Apa katamu?” Tatiana memandang pria itu dengan tatapan marah. “Kau tidak tahu siapa aku? Apa kau amnesia hah?” teriak Tatiana. Ingin rasanya dia memukuli orang itu.